Sejarah Tasawuf di Indonesia dan Tokoh-Tokohnya

90 Lihat
MAKALAH
“SEJARAH TASAWUF DI INDONESIA DAN TOKOH-TOKOHNYA”
Dosen Pembimbing : Satrio, M.A

 

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 9
RIZKY ARYADANESA (201498)
RUSLAN (201493)
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
STAIN SULTAN ABDURRAHMAN KEPULAUAN RIAU
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan-perkembangan tasawuf di Indonesia erat kaitannya dengan budaya-budaya bangsa Indonesia yang bersifat mistik, tasawuf dapat berkembang secara cepat dalam penyebarannya. Tasawuf merupakan bagian dari metode penyebaran ajaran Islam yang sangat mempunyai kemiripan dalam metode pendekatan-pendekatan agama Hindu-Buddha yang merupakan sistem keagamaan masyarakat Indonesia sebelum Islam. Kemiripan dalam metode pendekatan dengan latihan kerohanian, inilah yang kemudian mempermudah berkembangnya tasawuf di Indonesia. Tasawuf merupakan alat dari salah satu persebaran Islam di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di nusantara merupakan jasa para sufi.
Tasawuf merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kajian Islam di Indonesia. Sejak masuknya Islam ke Indonesia, unsur tasawuf telah mewarnai kehidupan keagamaan di masyarakat, bahkan hingga saat ini pun nuansa tasawuf masih terlihat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan keagamaan dari sebagian kaum muslim di Indonesia. Hal ini terbukti dengan semakin maraknya kajian Islam di bidang ini dan juga melalui gerakan di bidang tarekat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia?
2. Siapa sajakah tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia?
3. Apa pengaruh dan pengamalan tasawuf di Indonesia?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia.
2. Untuk mengetahui siapa saja tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh dan pengamalan tasawuf di Indonesia.

 

BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH PERKEMBANGAN  TASAWUF  DI  INDONESIA
Membahas perkembangan tasawuf di Indonesia, tidak lepas dari pengkajian proses Islamisasi di kawasan ini. Sebab, penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi.
Dari sekian banyak naskah lama yang berasal dari Sumatera, baik yang ditulis dari bahasa Arab dan bahasa Melayu, berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf merupakan unsur yang sangat dominan dalam masyarakat pada masa itu. Di Sumatera bagian utara terdapat empat sufi terkemuka, antara lain:
  1. Hamzah Fansuri (17 Masehi) yang terkenal dengan tulisan Asrar Al-‘Arifin dan Syarab Al-‘Asyikin, serta beberapa kelompok puisi sufi.
  2. Syamsudin Pasai penulis buku Jauhar Al-Haqoriq dan Mirat Al-Qulub. Dia adalah murid dan pengikut Hamzah Fansuri yang mengembangkan doktrin Wahdat l-Wujud Ibn Arabi.
  3. Abd Rauf Singkel (1639M) adalah seorang pengikut Ordo Syattariyah, karyanya berjudul Mira’at Ath-ThullabI.
  4. Nuruddin Ar-Raniri (1644M) penulis Bustan As-Salatin.
Sejak berdirinya kerajaan Islam Pasai, kawasan Pasai menjadi titik sentral penyebaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatera dan pesisir utara Pulau Jawa. Islam tersebar di ranah Minangkabau atas upaya Syaikh Burhanuddin Ulakan (1693M), murid Abdur Rauf Singkel, yang terkenal dengan Syaikh Tarekat Syattariyyah.
Ulama-ulama besar yang muncul kemudian di daerah ini, pada umumnya berasal dari didikan Syaikh Ulakan, seperti Tuanku Nan Ranceh, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Pasaman, Tuanku Lintau dan lain-lain.
Penyebaran Islam ke Pulau Jawa,  juga berasal dari kerajaan Pasai, terutama atas jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoro yang ketiganya adalah abituren Pasai. Melalui keuletan itulah berdiri kerajaan Islam Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah.
Perkembangan Islam selanjutnya digerakkan oleh Wali Songo atau Wali Sembilan. Sebutan itu sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada derajat “Wali”. Para wali bukan saja berperan sebagai penyiar Islam, melainkan mereka juga ikut berperan kuat pada pusat kekuasaan kesultanan. Karena posisi itulah mereka mendapat gelar Susuhunan yang biasa disebut Sunan.
B. TOKOH-TOKOH TASAWUF DI INDONESIA
  1. Syeikh Hamzah Fansuri
Kiranya namanya di nusantara, kalangan ulama dan sarjana penyelidik keislaman tidak asing lagi. Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat behwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Samsudin Sumatrani adalah tokoh sufi yang sepaham dengan al-Hallaj, faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain adalah seirama. Syeikh Hamzah Fansuri diakui salah seorang pujangga islam yang sangat populer di zamannya, sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesusteraan Melayu dan Indonesia. Namanya tercatat sebagai tokoh kaliber besar dalam perkembangan islam dinusantara dari abadnya hingga abad ini.
Sufi yang jelas-jelas berpengaruh luar biasa dalam kehidupan intelektual al-Fansuri adalah Muhyidin ibnu ’Arabi. Akan tetapi, karya-karya al-Fansuri juga menunjukkan bahwa dia akrab dengan ide-ide para sufi semisal al-Jilli (wafat 832 H/ 1428 M), Aththar (wafat 618 H/ 1221 M), Rumi (wafat 672H/1273M).

 

  1. Syeikh Yusuf Makasari
Seorang tokoh sufi yang agung yang tiada taranya, berasal dari Sulawesi ialah Syeikh Yusuf Makasari. Beliau dilahirkan pada 8 Syawal 1036 H atau bersamaan dengan 3 Juli 1629 M, yang berarti belum beberapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar Islam ke Sulawesi (yaitu Datuk Ri Banding dan kawan-kawannya dari Minangkabau). Untuk diri sebesar ini selain ia dinamakan dengan Muhammad yusuf diberi gelar juga dengan ”Tuanku Salamaka”, ”Abdul Mahasin”, ”Hidayatullah”.
Dalam salah satu karangannya beliau menulis diujung namanya dengan bahasa arab ”al-Mankasti” yaitu mungkin yang beliau maksudkan adalah ”Makassar” yaitu nama kota di Sulawesi Selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang diganti pula dengan ”Ujung Pandang” yaitu mengambil nama yang lebih tua dari pada nama Makasar.
Naluri atau fitrah pribadinya sejak kecil telah menampakkan diri cinta akan pengetahuan keislaman, dalam tempo relatif singkat al-Qur’an 30 juz telah tamat dipelajarinya. Setelah lancar benar tentang al-Qur’an dan mungkin beliau termasuk seorang penghafal maka dilanjutkannya pula dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang ada hubungannya dengan itu. Dimulainya dengan ilmu nahwu, ilmu sharaf kemudian meningkat hingga keilmu bayan, mani’, badi’, balaghah dan manthiq.
Beriringan dengan ilmu-ilmu yang disebut ”ilmu alat” itu beliau belajar pula ilmu fiqih, ilmu ushuludin, dan ilmu tasawuf. Ilmu yang terakhir ini nampaknya seumpama tanaman yang ditanam ditanah yang subur. Kiranya lebih serasi pada pribadinya. Namun walaupun demikian adanya tiadalah dapat dibantah bahwa Syeikh Yusuf juga mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, seumpama ilmu hadist dan sekte-sektenya, juga ilmu tafsir dalam berbagai bentuk dan coraknya, termasuk ”ilmu asbaabun nuzul ”, ”ilmu tafsir”. Karangan-karangan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati yang berbahasa arab mungkin merupakan salinan tulisan tangan telah diserahkan oleh Haji Muhammad Nur (salah seorang keturunan khatib di Bone dan mungkin adalah keturunan Syeikh Yusuf sendiri).
Kitab-kitabnya antara lain :
Ar-Risalatun Naqsabandiyyah, Fathur Rahman, Zubdatul Asraar, Asraaris Shalaah, Tuhfatur Rabbaniyyah, Safinatunnajah, Tuhfatul Labiib.

 

  1. Syeikh Abdul Rauf as-Singkili
Nama lengkapnya Abdul Rauf Singkel dalam ejaan bahasa arab disebut ’Abd ar-Rauf bin ’Ali al-Jawiyy al-Fansuriyy as-Sinkilyy, selanjutnya akan disebut Abdurrauf. Ia adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil (Singkel) di wilayah pantai barat laut Aceh. Hingga saat ini tiak ada data pasti mengenai tanggal dan tahun kelahirannya. Akan tetapi menurut hipotesis Rinkes, Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1615 M. Rinkes mendasarkan dugaannya setelah menghitung mundur dari saat kembalinya Abdurrahman dari tanah Arab ke Aceh pada 1661M.
Abdurrahman wafat pada tahun 1693M dan dimakamkan disamping makam teuku Anjong yang dianggap paling keramat di aceh, dekat kuala sungai Aceh. Oleh karena itulah di Aceh ia dikenal dengan sebutan Teuku di Kuala. Berkat kemasyurannya, nama Abdurrauf diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh, yaitu Univeraitas Syiah Kuala.
Abdul Rauf telah menghasilkan berbagai karangan yang mencakup bidang fiqih, hadist, tasawuf, tafsir al-Qur’an, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Beberapa karangan yang dihubungkan dengan Abdurrauf dibidang tasawuf antara lain: Tanbih al-Masyi al-Manshub Ila Thariq al-Qusyassyiyy (pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyasyiyy, bahasa arab) ’Umdah al-Muhtajin Ila Suluk Maslak al-Mufarridin (pijakan bagi orang-orang yang menempuh jalan tasawuf, bahasa melayu).
  1. Nuruddin Ar-Raniri
Nuruddin Ar-Raniri lahir di kota Ranir Pantai Gujarat, India. Tahun kelahirannya tidak di ketahui tetapi banyak ahli yang memperkirakan ia lahir di akhir abad 16. Guru yang paling berpengaruh adalah Abu Nafs Sayyid Imam bin ‘Abdullah bin Syaiban, seorang guru Tarekat Rifa’iyah. Ar-Raniri merupakan tokoh pembaharuan Islam di Aceh. Pembaharuan utamanya adalah memerangi aliran Wujudiyyah yang dianggap aliran sesat. Karya-karya beliau antara lain Ash-Shirath Al-Mustaqim, Bustan As-Salatin fi DzikirAl-Awwalin wa Al-Akhirin, Durrat Al-Farra’idh bi Syarhi Al’Aqa’id, Syifa Al-Qulub.
Mengenai ketuhanan, Ar-Raniri berupaya menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibn Arabi. Ia berpendapat ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahir dari hakikat batin yaitu Allah SWT sebagaimana yang dimaksud Ibn Arabi. Tetapi hakikatnya alam ini tidak ada yang ada adalah wujud Allah Yang Esa. Jadi ia berpendapat bahwa alam ini tidak bisa dikatakan berbeda dengan Allah atau bersatu dengan Allah, alam ini merupakan tajalli Allah SWT.

 

  1. Syeikh Nawawi Al-Bantani
Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang.
Dalam bidang tasawuf ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok. Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut.
Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat. Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

 

  1. Hamka
Hamka, atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (lahir di Kampung Molek, ManinjauSumatera BaratIndonesia pada 17 Februari 1908-24 Juli 1981) adalah seorang penulis dan ulama terkenal Indonesia. Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Beliau melibatkan diri dengan pertubuhan Muhammadiyah dan menyertai cawangannya dan dilantik menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah. Beliau melancarkan penentangan terhadap khurafat, bida’ah, thorikoh kebatinan yang menular di Indonesia.
Oleh karena itu, beliau mengambil inisiatif untuk mendirikan pusat latihan dakwah Muhammadiyah. Sebagai realisasi dari upayanya memurnikan kembali ajaran tasawuf, Hamka menulis beberapa karya yang berkenaan dengan tasawuf. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok pikirannya, sebagaimana yang terdapat dalam bukunya, Tasawuf Moderen.
  • Tentang Harta Benda dan Kekayaan
  • Al-Qana’ah
  • Tawakkal

 

 

  1. Wali Songo
Wali Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah Jawa, mempunyai andil yang besar dalam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Walisongo dikelompokan menjadi 2 yaitu :
  • Tasawuf Sunni
  • Tasawuf Falsafi

 

 

  1. Syeikh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatraaniy
Beliau adalah seorang keturunan ulama, ayahnya bernama Abdullah as-Sumatri, dan mendapat pendidikan kesufian dari Syekh Hamzah Pansuri. Syamsuddin Sumatrani dikenal dengan nama Syamsuddin Pasai. Ia pernah belajar Ilmu Tasawuf pada syekh Hamzah Pansuri dan Sunan bonang di Jawa.Dia lebih giat menulis buku tasawuf daripada gurunya (Hamzah Pansuri), dan keberhasilannya karena ditunjang oleh dana yang memadai.
Tentang Allah, Syamsuddin Sumatrani mengajarkan bahwa Allah itu Esa adanya, Qadim, dan Baqa. Tentang Penciptaan. Menggambarkan tentang penciptaan dari Dzat yang mutlak. Tentang manusia ia berpendapat bahwa manusia seolah-olah semacam objek ketika Tuhan menzahirkan sifatnya. Semua sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia ini hanyalah sekedar penggambaran sifat-sifat Tuhan dan tidak bearti bahwa sifat-sifat Tuhan itu sama dengan sifat yang dimiliki manusia.

 

  1. Syeikh Abdus Shamad Al-Falimbani
Ia termasuk seorang Shufi, putra dari seorang Ulama Tasawuf yang terkemuka di zamannya, bernama Syekh Abdul Jaiil bin Abdil Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdan Al- Yaman. Dari beberapa ungkapannya, ia sering mengatakan; seorang Shufi tidak boleh belajar dan berdzikir saja, tetapi ia harus tampil membela agama Islam dengan perjuangan pisik. Karena itu, ia gugur di medan peperangan ketika ia turut memimpin pasukan Muslim melawan Siam (Muanthai) yang hendak melenyapkan agama Islam.
Mengenai kitab karangannya yang memuat ajaran Tasawuf antara lain : Shiraatul Muriid Fi-Bayaan Kalimatir Tauhid, Hidaayatus Saalikiin, Siyaarus Saalikin (empat jilid), Urwatul Wutsqaa, Nashiihatul Muslim Wa-Tadzkratul Mu’minin Fi-Sabilillah, Ratiib Syekh abdish Shamaad Al-Falimbaaniy.

 

  1. Syeikh Burhanuddin
Beliau merupakan penduduk asli Minangkabau, lahir pada tahun 1056 H/1646 M dan meninggal pada bulanSyafar 1111 H/1693 M. Murid dari Syekh Abdul Ra‟uf Singkel yang berpaham Syafi‟I, Beliau mendirikan madrasah dan mengajar di ulakan,diantara murid-murid yang pernah belajar dengan beliau adalah; Tuanku Mansingan Nan Tuo, Tuanku Imam Bonjol.

 

 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejak berdirinya kerajaan Islam Pasai, kawasan Pasai menjadi titik sentral penyebaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatera dan pesisir utara Pulau Jawa. Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi. Adapun tokoh-tokoh sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia adalah Hamzah Fansuri, al-Raniri, Abd. Rauf Sinkel, Abd Shamad al-Palembani, Sheh Yusuf al-Makassari, Nawawi al-Bantani, dan Hamka. Dari tokoh-tokoh tersebut di atas Islam di Indonesia berkembang dan dapat di terima oleh masyarakat bangsa Indonesia, walau tidak bisa di pungkiri ada perbedaan dan pertentangan di antara ajaran seorang sufi yang satu dengan tokoh sufi yang lain.
B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca, khususnya kepada dosen pembimbing untuk mengkritik makalah ini yang bersifat konstruktif, kami ucapkan terima kasih.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *