POLA-POLA PENGGUNAAN KATA ISIM DAN FI’IL DALAM AL-QUR’AN

30 Lihat

POLA-POLA PENGGUNAAN KATA ISIM DAN FI’IL DALAM AL-QUR’AN*

Ridhoul Wahidi
Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan Riau
email : giantiwahidi@gmail.com
*Naskah diterima: 16 September 2014, direvisi: 21 Oktober 2014, disetujui: 21 November 2014.

Abstract
The aim of this paper is to examine the use of the word isim and ϔi’il in the Qur’an. This research
method is to process data related to the books of ϔi’il and isim that have relevance aspect to the
language of the Qur’an. Among the results of this study are: the nature of isim is not only a noun,
but also adjectives, state, pronouns, appoint, name, and mashdar. Isim divided into seven categories
there are (mudzakkar, muannats, simplex, mutsanna, and plural, and ma’rifat nakirah, munsharif and
ghair munsharif, maqshur and manqush, jamid and musytaq, mu’rab and mabni). While ϔi’il consists of
three parts, (simple past ϔi’il madhi, simple present ϔi’il mudhari ‘, and simple future ϔi’il amr).
Keywords: isim (nomina), ϔiʻil (verba), al-Qur’an

ملخصالبحث
تتناول هذهالمقالةبحثا ࢭيأنماطاستخدام كلمۘܣالاسم والفعل ࢭيالقرآن. ويتبع هذا البحثأسلوبجمع
البيانات ومعالجْڈا من الكتب المتعلقة ٭ڈا، ولكلمۘܣ اسم وفعل أهمية ك؄رى ࢭي تنمية لغويات القرآن. وتثبت
نتائج البحثأن طبيعةاسم ليستلمعۚܢ الاسم فقط، لكٔڈا تشمل معۚܢ الصفة،والحال،والإشارة،والمصدر.
وينقسم الاسم ࢭيالقرآن إڲىسبعةأقسام: المذكروالمؤنث؛والمفردوالمثۚܢوالجمع؛والنكرةوالمعرفة؛والمنصرف
وغ؈رالمنصرف؛والمقصوروالمنقوص؛والاسم الجامد والمشتق،والمعربوالمبۚܣ. ويتكون الفعل من ثلاثةأجزاء،
وۂيالفعل الماعۜܣ،والفعل المضارع ،وفعل الأمر.
النقاطالحاكمة: الفعل، الاسم، القرآن

Abstrak
Tulisan ini mengkaji pola-pola penggunaan kata isim dan ϔiʻil di dalam al-Quran sebagai kajian
nahwu terapan. Penggunaan kata isim dapat diklasiϐikasikan menjadi tujuh, yaitu (1) mudzakkar
dan muʼannats, (2) mufrad, mutsannâ, dan jamak, (3) nakirah dan maʻrifat, (4) munsharif dan ghair
munsharif, (5) maqshur dan manqush, (6) jâmid dan musytaq, (7) muʻrab dan mabnî. Sedangkan,
penggunaan ϔiʻil selalu relevan dengan waktu (kala) yang mengikatnya, yaitu: ϔiʻil mâdhi (kata kerja
kala lampau), ϔiʻil mudhâriʻ (kata kerja kala sedang/akan), dan ϔiʻil amr (kata perintah untuk berbuat
sesuatu [kala akan])
Kata Kunci: kata isim, kata ϔiʻil, al-Qur’an

*Naskah diterima: 16 September 2014, direvisi: 21 Oktober 2014, disetujui: 21 November 2014.
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

Pendahuluan

Kitab suci al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. merupakan sumber petunjuk dan ilham abadi bagi tingkah laku manusia, baik individual maupun kolektif. Ia juga merupakan pedoman yang sangat dibutuhkan manusia dalam mencapai kehidupan yang berdasarkan keadilan, kebenaran, kebajikan, dan moral yang tinggi. Kitab suci ini dapat memuaskan “kehausan” ilmu pengetahuan para sarjana dan pemikir dari berbagai latar belakang studi. Sejarah mencatat, selama berabad-abad, mereka mencoba mengambil sifat al Qur’an yang menakjubkan itu dari sudut pandang bahasa dan kesusastraannya. Mereka juga berusaha memahami makna yang kaya demi mengungkap kebenaran yang mendalam tentang alam dan kehidupan yang termaktub di dalamnya. Al-Qur’an sungguh telah memukau banyak orang dari berbagai tingkat intelektual, karena kandungannya yang sarat pesan nilai moral, sikap, dan watak yang dapat dijadikan petunjuk bagi kehidupan untuk berbagai era dan zaman. Al-Qur’an sungguh telah menunjukkan kepada mereka tentang kecermatannya yang mendalam, keindahan tulisannya, serta sifat menakjubkannya yang tidak dapat diragukan lagi.1 Bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an adalah bahasa Arab sehingga bahasa Arab menjadi sumber utama pengetahuan tentang Islam atau sarana pokok untuk emahami isi dan kandungan kitab suci umat Islam. Bahasa al-Qur’an, sebagaimana disepakati oleh ulama, adalah bahasa yang melemahkan (iʻjâz) atau mengungguli

1 Abdullah Abbas Nadwi, Learn The Language of The Holy Qur’an, Ter. Tim Redaksi Penerbit Mizan, Belajar Mudah Bahasa Al-Qur’an (Bandung: Mizan,1992), h. 15

bahasa apa pun yang menandinginya. Karena itu, bagian-bagian yang tersusun di dalamnya memiliki makna yang mendalam, termasuk susunan kalimat yang terbentuk dari al-asmâ’ (kata benda, nama) dan alafʻâl (kata kerja, verba). Masing-masing isim dan ϔiʻil yang terdapat di dalam al-Qur’an,dengan demikian, mengandung makna tersendiri yang spesifik. Artikel ini mengkaji pola-pola penggunaan kata isim dan ϔiʻil di dalam alQur’an dengan pendekatan ilmu nahwu terapan. Karena bersifat terapan, kaidahkaidah bahasa Arab tidak akan dijelaskan secara detail tetapi hanya sebagai keterangan tambahan. Dalam kajian ini, penulis mengumpulkan data dari bukubuku yang terkait dengan kaidah bahasa Arab yang mengatur ketentuan isim dan ϔiʻil, lalu menelaah penggunaannya di dalam alQuran, dan menyesuaikan maknanya antara fakta penggunaan dalam bahasa Arab dan penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Kata Isim dan Ciri-Cirinya Isim (kata benda) adalah kata yang
menunjukkan benda, nama, sifat, tempat atau kata kerja yang dibendakan.2 Contohnya, kata samâwât, ardh, rahmah, yaum al-qiyâmah, dan alladzîna pada QS alAnʻâm (6): 12 berikut.
قُلْ لِّمَنۡ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ‌ؕ قُلْ لِّلّٰهِ‌ؕ كَتَبَ عَلٰى نَفۡسِهِ الرَّحۡمَةَ ‌ ؕ ؕ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ اِلٰ يَوۡمِ الۡقِيٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيۡهِ‌ ؕ اَلَّذِيۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya: Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.ˮKatakanlah: “Kepunyaan Allah.ˮ Dia telah

 

1 Abdullah Abbas Nadwi, Learn The Language of The Holy Qur’an, Ter. Tim Redaksi Penerbit Mizan, Belajar Mudah Bahasa Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992), h. 15

2 Salimuddin A. Rahman, dkk Tata Bahasa Arab Untuk Mempelajari Al Qur’an (Bandung: SinarBaru, 1990), h. 3.

254|Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an
Vol. I, No. 2, Desember 2014 | ISSN : 2356-153X

menetapkan atas Diri-Nya kasih saying.3 Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tiada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya itu
tidak beriman.”4
Ciri-ciri isim, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Âjurûmiyyah, adalah sebagai berikut:5
1. Kata yang berharakat tanwîn
Contohnya, kata nâr[un] hâmiyat[un] (QS 101: 11)
نَارٌ حَامِيَة ١١
Artinya: api yang sangat panas.

2. Kata yang dibubuhi alif dan lâm atau /al-/(ال)
Contohnya, kata al-qâriʻah, al-farâsy, almab ʻûts, al-jibâl, al-ʻihn, dan al-manfûsy
(QS 101: 3-5).

وَمَآ أدْرَﯨٰكَ مَا ٱلْقَارِعَةُ ﴿ ٣﴾ يَوْمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُكَٱلْفَرَاشِ ٱلمبَْثُوثِ(٤) وَتَكُونُ ٱلْجِبَالُ كَٱلْعِهْنِ ْٱلم﴾ نَفُوشِ (٥)
Artinya: Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gununggunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

3. Kata yang didahului kata depan (huruf jarr)
Contohnya, kata rabbihî yang didahului ilâ (QS 78: 39) dan kata al-naʻim yang didahului ʻan (QS 102: 7) sebagai berikut
ذٰلِکَ الۡیَوۡمُ الۡحَقُّ ۚ فَمَنۡ شَآءَ اتَّخَذَ اِلٰی رَبِّہٖ مَاٰبًا
Artinya: Itulah hari yang pasti terjadi. Barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (39)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ
Artinya: Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).(8)

Pola Penggunaan Kata Isim dalam al-Qur’an

Di dalam kaidah bahasa Arab, kata isim bukan hanya merujuk pada kata benda, melainkan juga mencakup kata sifat, keadaan, kata ganti, kata tunjuk, nama, dan mashdar (kata dasar). Secara umum, polapola penggunaan kata isim di dalam al- Qurʼan dapat diklasifikasikan menjadi tujuh
macam, yaitu:

1. Mudzakkar (laki-laki) dan muʼannats (perempuan)
Contohnya, kata Isâ (mudzakkar) dan Maryam (muʼannats) dalam QS 19: 34, kata dzarrah (muʼannats) dalam QS 99: 7, kata al-nafs, al-anf, al-udzun, dan al-sinn, (semuanya muʼannats) dalam QS 5: 45.
ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ
(34) Artinya: Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantahan tentang kebenarannya.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
(7)Artinya: Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

3 Maksudnya: Allah Telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya. 4 Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan akal-Pikirannya, tidak mau beriman. 5 Moch. Anwar, Ilmu Nahwu, Terjemahan Matan Al Ajrumiyyah dari dari ‘Imrity Berikut Penjelasannya (Bandung: Sinar Baru Algensindo,2007), h. 6.

Ridhoul Wahidi |255
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيْهَآ اَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْاَنْفَ بِالْاَنْفِ وَالْاُذُنَ بِالْاُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّۙ وَالْجُرُوْحَ قِصَاصٌۗ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهٖ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهٗ ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
(45) Artinya: Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas)-nya, maka pelepasan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

2. Mufrad, mutsannâ, dan jamak (tunggal, dua, dan banyak)
Contohnya, kata ahad (mufrad) dalam QS 112: 1, kata jannatân (mutsannâ) dalam QS 55: 46, dan kata arbâb (jamak taksîr) juga muʼminûn (jamak mudzakkar sâlim) dalam QS 3:64.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
(1) Artinya: Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.”
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ
(46) Artinya: Dan bagi orang yang takut pada saat menghadapi Tuhannya (diberi) dua surga.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Artinya: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan di antara kami dan kamu, bahwa kita hanya menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah.ˮ Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).ˮ

3. Nakirah (umum) dan Maʻrifat(khusus)
Nakirah ialah isim yang menunjukkan arti umum, sedangkan maʻrifat ialah isim yang menunjukkan arti tertentu. Contohnya, kata shudûrahum dan tsiyâbahum (maʻrifat
karena disandarkan pada isim lain, yakni kata ganti /hum/) dalam QS 11: 5, kata hudâ (nakirah) dan kata alkitâb (maʻrifat) dalam QS 2: 2, kata faqîr (nakirah), al-anbiyâʼ (maʻrifat),dan adzâb al-harîq (maʻrifat) dalam QS 3: 181, dan kata muhammad (maʻrifat) dan rasûl (nakirah) dalam QS 3: 144.

أَلَآ إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا۟ مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
Artinya: Ingatlah! Sesungguhnya mereka (orang munafik) itu memalingkan dada

256 | Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an
                                                                                                                                                          Vol. I, No. 2, Desember 2014 | ISSN : 2356-153X

mereka untuk menyembunyikan diri darinya (Muhammad) 7. Ingatlah! Ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya: Kitab {8} (al-Qurʼan) ini tiada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. {9}

لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ

Artinya: Sungguh, Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: Sesunguhnya Allah itu miskin dan kami kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): Rasakanlah olehmu azab yang membakar.

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ ۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔا ۗوَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ

Artinya: Muhammad itu hanyalah seorang rasul. Sungguh, sebelumnya beberapa orang rasul telah berlalu{10}. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

4. Munsharif (bertanwin) dan Ghair Munsharif (tidak bertanwin)
Isim munsharif ialah isim yang menerima tanwân, sedangkan ghair munsharif tidak menerima tanwin.
Contohnya, kata waliyy[an] dan nashîr[an] (munsharif) dalam QS 4: 75 dan kata shafrâʼu (tidak bertanwin) dalam QS 2: 69

وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا….

Artinya: … dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu!

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۗ قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاۤءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ

7 Maksudnya: menyembunyikan perasaan permusuhan dan kemunaϐikan mereka terhadap nabi Muhammad s.a.w. 8  Tuhan menamakan al-Qur’an dengan alKitâb yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa al-Qur’an diperintahkan untuk ditulis. 9 Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintahNya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.10 Maksudnya, nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. rasul-rasul sebelumnya telah wafat. ada yang wafat Karena terbunuh ada pula yang karena sakitmbiasa. Karena itu nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul terdahulu itu. Saat perang Uhud berkecamuk tersiarlah berita bahwa nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita Ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu, orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau nabi Muhammad itu seorang nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Allah lalu menurunkan ayat Ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat pada hari wafatnya nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibn al-Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan nabi itu. (Sahih Bukhari bab ketakwaan Sahabat).
Ridhoul Wahidi 257
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاۤءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ….

Artinya: … Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya lagi menyenangkan orangorang yang memandangnya.

5. Maqshûr (diakhiri alif maqshûrah) dan Manqûsh (diakhiri yâ’)
Isim maqshûr ialah isim yang diakhiri dengan alif maqshûrah. Harakat akhir isim ini tidak berubah, meskipun kedudukan isim itu berubah, baik rafaʻ, nashab, atau jarr. Contoh isim maqshûr ialah kata shafa dalam QS 2: 158, serta kata mûsâ dan isâ dalam QS 3: 84.

…اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ

Artinya:” Sesungguhnya Shafâ dan Marwa adalah sebagian syiar Allah….”

…وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ…

Artinya: “… dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka….”

Isim manqûsh ialah isim yang diakhiri dengan yâʼ. Isim ini tidak berubah harakat akhirnya dalam keadaan rafaʻ dan jarr, tetapi dalam keadaan nashab, huruf yâʼ-nya berharakat fathah. Contohnya, kata hâdin dalam QS 13: 7 dan kata hâdiyan dalam QS 25: 31.

اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرٌ وَّلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ …

Artinya: “… Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِيْنَۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَّنَصِيْرًا

Artinya: “Seperti itulah Kami telah mengadakan bagi tiap nabi seorang musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan penolong.”

6. Jâmid (Baku) dan Musytaqq (Turunan)
Jâmid ialah isim yang baku, tidak diturunkan dari kata dasar. Contoh isim jâmid (baku) ialah kata hijârah dan sijjîl dalam QS 105: 4, sedangkan contoh isim musytaqq (turunan) ialah kata maʼkûl (diturunkan dari kata dasar a/ka/la) dalam QS 105: 5, kata al-maghdhûb (diturunkan dari kata dasar gha/dha/ba) dalam QS 1: 7, dan kata al-dhâllîn(dari dha/l/la) dalam QS 66: 1.

{5}رۡمِيۡهِمۡ بِحِجَارَةٍ مِّنۡ سِجِّيۡلٍ {4}فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ مَّاۡكُوۡلٍ

Artinya:” Yang melempari mereka dengan  batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Artinya:” jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.11

7. Muʻrab (menerima iʻrâb) dan Mabnî (tidak menerima iʻrâb)
Muʻrab ialah isim yang menerima perubahan harakat akhir, sedangkan

11 Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
258 | Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an
Vol. I, No. 2, Desember 2014 | ISSN : 2356-153X

mabnî ialah yang tidak menerima perubahan harakat/bunyi di akhir kata. Contoh isim muʻrab ialah kata khair[un], khair[an] dan khair[in] dalam QS 93: 4, dan kata kitâb[a] dan kitâb[u], kata taʼwîlihu dan taʼwîlahu dalam QS 3: 7.

وَ لَلۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ الۡاُوۡلٰی

Artinya: “Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan):”. 12

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ

 

Artinya: … Barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah  Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah, ayat 158)

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Artinya: … dan apa saja harta yang baik yang kamu naϔkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Baqarah, ayat 272)

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya: “Dialah yang menurunkan alKitab (al-Qurʼan) kepada kamu, di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamât.13 Itulah pokok-pokok isi al-Qurʼan (ummal-kitâb) dan yang lain (ayat-ayat) utasyâbihât.14 Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat yang mutasyâbihât darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari taʼwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui taʼwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam
ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.ˮ Yang dapat mengambil pelajaran (darinya) hanyalah orang-orang yang berakal. Menurut tata bahasa Arab, kalimat lengkap/sempurna yang dibentuk dari isim disebut dengan Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal). Kalimat seperti ini memiliki mubtada’ sebagai subjek atau pokok kalimat, dan khabar sebagai predikatnya.”15

Kata Fi’il dan Klasifikasinya Fiʻil (kata kerja) adalah kata yang menunjukkan perbuatan yang terikat oleh waktu (kala) tertentu. Ditinjau dari waktu peristiwa perbuatan, Fiʻil dibagi menjadi 3

12 Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia. 13 Ayat yang muhkamât ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. 14 Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyâbihât: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal gaib, misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lainlain. 15 Abdullah Abbas Nadwi, Learn The Language of The Holy Qur’an… h. 39. Baca juga Ichwan, Nor, Memahami Bahasa Al Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 66.
Ridhoul Wahidi | 259
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

(tiga), yaitu: Fiʻil mâdhi (perbuatan di kala lampau), Fiʻil mudhâriʻ (perbuatan di kala sedang/akan), Fiʻil amr (perintah berbuat sesuatu [kala akan]). Contoh kata Fiʻil ialah kata khalaqa (Fiʻil mâdhi) dalam QS 96: 2, kata yashlâ (Fiʻil mudhâriʻ) dalam QS 111: 3, serta kata sabbih dan istaghFir (Fiʻil amr) dalam QS 110: 3.16

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ

Artinya: “Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.”

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.”

Pola Penggunaan Kata Fi’il dalam al-Qur’an
Pola-pola penggunaan Fiʻil (kata kerja) didalam al-Qurʼan terdiri dari tiga kelompok berikut:
1. Kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang telah lalu atau yang disebut Fiʻil Mâdhî. Contohnya katakata khalaqa, jaʻala, anzala, akhraja, dan qashashnâhum, sebagaimana yang digarisbawahi, pada QS 96: 2, QS 2: 22, QS 4: 164, QS 2: 34, dan QS 17: 1 berikut ini.

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutusekutu bagi Allah, {17} padahal kamu mengetahui.”

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang telah kami kisahkan mereka kepadamu dahulu, dan rasulrasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan, Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. {18}

2. Kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang sedang berlangsung atau yang akan dating, disebut Fiʻil mudhâriʻ. Contohnya kata-kata yasjudu, yastakbirûn, yukhriju[hum], yukhrijûna[hum], yusabbihu, yahtahziʼu, yamuddu, seperti digaris bawahi pada QS 16:49, QS 2: 257, QS 62: 1, QS 2: 15, dan QS 18: 56 berikut ini.

16 Salimuddin A. Rahman, dkk. Tata Bahasa Arab… h. 3 17 Maksudnya, segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya. 18 “Allah berbicara langsung dengan nabi Musa a.s.” merupakan keistimewaan nabi Musa a.s., dan Karena nabi Musa a.s. disebut: Kalîmullah sedang rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. dalam pada itu nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari mi’rajnya.
260| Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an
Vol. I, No. 2, Desember 2014 | ISSN : 2356-153X

وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ دَآبَّۃٍ وَّالۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ ہُمۡ لَا یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ

Artinya:” Dan kepada Allah sajalah segala sesuatu yang berada di langit dan semua  makhluk yang melata di bumi bersujud (terus menerus) dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.”

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Artinya:”Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, raja yang Mahasuci, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

اَللّٰهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Artinya: “Allah akan membalas olokolokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”

3. Kata kerja yang menunjukkan perintah melakukan sesuatu atau disebut fiʻil amr. Contohnya kata-kata uskun, kulâ, sabbih, istaghfir seperti yang digarisbawahi pada QS 2: 35, QS 56: 96, dan QS 110: 3 berikut ini.

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: “Dan, Kami berfirman: “Hai Adam, berdiamlah kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini,{19} yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.ˮ

فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Mahabesar.”

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.”

Dari penelaahan penulis terhadap pola-pola penggunaan kata fiʻil di dalam al-Quran, maka ditemukan bahwa kebanyakan kata kerja (fiʻil) terdiri dari tiga huruf yang merupakan akar katanya. Tiga huruf tersebut berupa konsonan, yaitu فعل/) f/ʻ/l/) yang terdiri dari + ل + ف ع . Kata-kata bentukan (jadian, turunan) selanjutnya dipengaruhi oleh pergantian tiga konsonan tersebut dengan huruf ‘illat (alif, wawu, ya), konsonan ganda,

19 Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab al-Qur’an dan Hadis tidak menerangkannya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tetapi itu adalah nama yang diberikan setan.
Ridhoul Wahidi | 261
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

atau hamzah. Sedangkan, kalimat yang tersusun dari kata kerja (fiʻil) dalam bahasa Arab disebut jumlah fiʻliyyah (kalimat verbal).20

Penggunaan Kata Isim dan Maknanya/Terjemahnya
Isim menunjukkan suatu benda, orang, peristiwa, tempat kejadian dan keadaannya, alat melakukan perbuatan, sifat, pembendaan kata kerja, dan sebagainya.21 Tiap kata isim memiliki tempat tersendiri yang tidak bisa dipertukarkan satu dengan yang lain untuk menghadirkan makna yang sama.22 Maksudnya, apabila ada dua atau lebih ayat yang menggunakan isim yang sama, maka hakikat makna yang dikandung oleh isim tersebut dapat berbeda karena perbedaan redaksi kalimat dan konteksnya. Berikut di antara ϐirman-ϐirman Allah yang menggunakan kata isim dengan maknanya. Namun, kata-kata isim itu kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan kata kerja, bukan dengan makna isim (benda/peristiwa/pembendaan).

وَتَحْسَبُهُمْ اَيْقَاظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌ ۖوَّنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖوَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيْدِۗ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَّلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Artinya: “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal tidur; dan Kami balik balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu
akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. (Al-Kahϐi, ayat 18) Ayat tersebut menggambarkan tentang keadaan anjing ashhâbul-kahfi ketika mereka tertidur dalam gua. Anjing itu dalam keadaan terlentang selama mereka tidur. Penggunaan isim dalam ayat di atas lebih menggambarkan keadaan anjing yang tetap sepanjang waktu.23 Kata isim yang digunakan adalah aiqâzhan, ruqûd, al-yamîn, al-syimâl, al-washîd, dan ruʻban yang diterjemahkan dengan tetap menggunakan arti isim. Akan tetapi, pada
kata bâsithun dan firâran, dua kata tersebut diterjemahkan dengan makna fiʻil, yaitu  (bâsithun) mengunjurkan dan (firâran) dengan melarikan diri. Penggunaan makna
isim dengan terjemah yang mirip dengan kata kerja (fiʻil) ini dimungkinkan karena  bâsith adalah isim sifat yang mengandung makna kerja, sedangkan firâran disesuaikan dengan konteks.  Contoh lainnya adalah pada QS alHujurât ayat 15 berikut

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Iman adalah hakikat yang harus tetap berlangsung di dalam jiwa seseorang,

20 Abdullah Abbas Nadwi, Learn The Language of The Holy Qur’an… h. 49 dan 61 21 Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Dana Bhakti Pmimayasa, 2003), h. 157-163 22 Azizah Fuwal, al-mukjam al-Mufashshal, juz 1 (Beirut: Darul Kutub, 1992), h. 41623 Manna’ al-Qaththan, Mubahits ϔi ulum alQur’an, terj. Muzakir (Jakarta: Litera Antanusa, 1997), hlm. 286. Baca juga Dahlan, Drs. Abdurrahman M. A, Kaidah-kaidah Penafsiran Al Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), h. 60.
262 | Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an
Vol. I, No. 2, Desember 2014 | ISSN : 2356-153X

selama keadaan menghendaki, seperti halnya ketakwaan, kesabaran, dan sikap sukur. Penggunaan isim mu’minûn (orangorang yang beriman) menggambarkan
keadaan pelakunya terus berlangsung dan berkesinambungan. Sebab, iman terjadi secara berproses. Kata mu’min diterjemahkan sebagai orang yang beriman (digunakan kata kerja ʻberimanʼ, bukan percaya), karena adanya proses keimanan tersebut. Contoh berikutnya adalah kata-kata isim yang terkandung dalam QS al-Ahzâb ayat 35 berikut

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذَّاكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,{24} laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, lakilaki dan perempuan yang sabar, laki-lakidan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, lakilaki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Pengertian sifat-sifat islam, iman, taat, dan seterusnya, di dalam ayat di atas mengandung semua sifat yang relevan. Semakin sempurna makna sifat itu terkandung (terhimpun) di dalam diri seseorang, semakin sempurna pula bentuk ampunan dan pahala yang akan diperolehnya. Sebaliknya, berkurangnya cakupan nilai-nilai sifat di dalam diri seseorang akan mengurangi pula ganjaran pahala dan ampunan yang akan diterima dari Allah. Bahkan, jika makna dari sifat itu tidak dimiliki seseorang, ia tidak mendapat ampunan dan pahala dari Allah Swt. Kecilnya balasan hukuman kejahatan dan kenaifan yang akan diterima seseorang bergantung pada seberapa besar makna sifat itu terdapat dalam dirinya. Contoh lainnya adalah penggunaan kata al-ʻashr, al-insân, khusr, al-shâlihât, al-haqq, dan al-shabr berikut.

{3}وَالْعَصْرِۙ{1} اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ{2}  اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Kata al-insân pada ayat di atas menunjuk pada semua jenis manusia berdasarkan ketentuan makna alif-lâm (al-) untuk menghabiskan semua jenis (istighrâq aljins). Dengan demikian, semua manusia pada akhirnya akan merugi kecuali yang disebutkan oleh ayat berikutnya. Kaidah aliflâm (al-) tersebut perlu juga diperhatikan
terutama ketika memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan al-asmâʼ al-husnâ (nama-

24 Yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orangorang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.
Ridhoul Wahidi | 263
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

nama [Allah] yang indah) yang banyak ditemukan dalam al-Qur’an. Memahami makna-makna al-asmâʼ al-husnâ adalah  salah satu bagian dari memahami ʻulûm al-Qur’ân (ilmu-ilmu al-Qur’an), bahkan dapat dikatakan memahami tujuan utama al-Qur’an sendiri. Contoh lain penggunaan kaidah alif-lâm (al-) di atas terdapat dalam Surah al-Mâ’idah (5): 2 berikut.

…وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ….

Artinya:” … dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelangggaran…”

Kata al-birr pada ayat di atas menggunakan huruf alif-lâm (al-). Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat mengatakan bahwa pengertiannya mencakup semua makna kebaikan. Demikian juga dengan kata al-taqwâ. Ia mencakup semua bentuk sikap dan perbuatan takwa, baik itu dalam sikap takut melanggar aturan maupun takut melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Kata al-itsm (dosa) yang terdapat dalam ayat di atas mengandung arti setiap pekerjaan yang dilarang, yang akan mengakibatkan hukuman dan menyebabkan manusia termasuk kelompok pendurhaka Tuhan. Makna kata al-ʻudwân (permusuhan) ialah semua jenis permusuhan terhadap manusia yang berkaitan dengan pertumpahan darah, harta, dan harga diri. Kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan makna pelanggaran terhadap
tatanan masyarakat dari batasan-batasaan aturan yang diterapkan Allah. Kata al-maʻrûf di dalam al-Qur’an digunakan untuk menunjukkan pengertian semua yang dikenal sebagai baik dan indah ditinjau dari perspektif hukum Islam dan nalar rasional. Lawan katanya adalah almunkar, yaitu semua yang tidak dinilai baik menurut hukum Islam, nalar rasional, al-sû’ (keburukan), dan al-fahisyah (kekejian dan kekotoran). Di dalam al-Qur’an, kita banyak menemukan beragam bentuk kata sifat yang
menggunakan huruf alif-lâm (al-) dengan makna istighrâq al-jins, yaitu menghabiskan semua jenis/arti yang dikandung oleh kata tersebut.

Penggunaan Fi’il dan Maknanya/Terjemahnya
Berikut disajikan contoh-contoh ayat yang redaksinya menggunakan fiʻil dan ayat yang redaksinya menggunakan fiʻil dan isim dalam waktu yang sama. Pada QS Al-Baqarah ayat 274:

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Artinya: “Orang-orang yang menaϔkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Kata yunfiquna (menafkahkan) pada ayat di atas menunjukkan keberadaannya sebagai tindakan yang bisa ada dan juga bisa tidak atau sebagai sesuatu yang temporal. Apabila seseorang melakukan pekerjaan, ia memperoleh pahala, dan jika ia meninggalkannya, maka ia tidak memperoleh pahala. Ayat yang kedua adalah QS Asy-Syuʻarâʼ
ayat 78-81.

264 | Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)

Artinya:” Yaitu (Tuhan) yang telah menciptakan aku, Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit,
Dialah yang menyembuhkan aku.” Kata khalaqa (menciptakan) menunjukkan perbuatan penciptaan pada waktu yang lampau karena bentuknya fiʻil mâdhi, sedangkan kata kerja yahdî[n], yuthʻimu[nî], yasqî[n], dan yasyffî[n] dalam rangkaian ayat tersebut menunjukkan perbuatan yang terus berangsung pada waktu sekarang. Selanjutnya, ketentuan lain yang penulis temukan dalam penggunaan kata isim adalah apabila kata isim disebutkan secara tersendiri (terpisah), maka akan menunjukkan pengertian umum.25 Artinya, jika ditemukan di dalam al-Qur’an kata isim secara tersendiri, maka ia menunjukkan arti umum. Akan tetapi, jika kata itu disebutkan bersamaan dengan kata lain sebagai penjelasnya, maka pengertian isim menjadi terbatas pada yang dijelaskan saja. Contohnya ialah kata îmân yang sering disebutkan secara tersendiri dalam beberapa ayat, dan dikaitkan dengan amal saleh atau sifat-sifat mulia dalam beberapa ayat lainnya. Berdasarkan kaidah ini, kata îmân yang disebutkan secara tersendiri menunjuk arti umum. Adapun kata iman yang disertai penyebutan amal saleh, ia menunjukkan pengertian keimanan yang berkaitan perbuatan hati, yaitu makrifat, pembenaran, i’tikad, dan keyakinan. Sementara itu, kataamal saleh yang mengiringinya menunjuk pengertian pelaksanaan semua syariat,
baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Contoh selanjutnya adalah al-faqîr dan al-miskîn seperti dalam QS At-Taubah ayat 60 berikut

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muʼallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orangorang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Makna al-faqîr ialah orang yang sangat membutuhkan bantuan tetapi ia tidak memiliki apa-apa, atau orang yang memiliki harta tetapi sama sekali tidak memadai untuk menutupi kebutuhannya. Sedangkan al-miskîn ialah orang yang membutuhkan lebih besar daripada yang dimilikinya (keadaan orang miskin lebih baik daripada orang fakir).

Simpulan

Penelitian tentang pola-pola penggunaan kata isim dan ϔiʻil dalam al-Qur’an dapat dikategorikan sebagai kajian nahwu terapan  dalam perspektif al-Qur’an. Karena sifatnya terapan, maka kaidah-kaidah nahwu (tata bahasa Arab) tidak diulas secara tegas. Kaidah-kaidah ini hanya diposisikan sebagai keterangan penjelasan.

25 Baca penjelasan Abdul Rahman Dahlan, Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an (Bandung:  Mizan, 1997), h. 74-77.
Ridhoul Wahidi | 265
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban

Dari telaah yang dilakukan, penulis menemukan bahwa hakikat isim dalam perspektif al-Qur’an bukan dimaksudkan semata untuk kata benda. Kata isim juga mencakup kata sifat, keadaan, kata ganti, kata tunjuk, nama, dan mashdar (kata dasar) atau pembendaan. Penggunaan kata isim dalam al-Qur’an dapat diklasiϐikasikan menjadi tujuh bagian atau kelas, yaitu (1) mudzakkar dan muʼannats, (2) mufrad, mutsannâ, dan jamak, (3) nakirah dan maʻrifat, (4) munsharif dan ghair munsharif, (5) maqshur dan manqush, (6) jâmid dan musytaq, (7) muʻrab dan mabnî. Selanjutnya, hakikat fiʻil adalah perbuatan yang terikat dengan waktu tertentu. Pola-pola penggunaan fiʻil
disesuaikan dengan keterikatan waktu (kala) yang menyertai fiʻil tersebut, yaitu pola penggunaan fiʻil madhi (kata kerja kala lampau), fiʻil mudhâriʻ (kata kerja kala
sedang/akan), dan fiʻil amr (kata perintah melakukan perbuatan [kala akan]). Kata isim (benda) dan fiʻil (kerja) dalam al-Qur’an merujuk makna yang spesifik sesuai jenis dan bentuk kata tersebut. Akan tetapi, ada juga kata isim yang diartikan  atau diterjemahkan dengan mendekati makna kata kerja. Selain itu, apabila kata isim disebutkan secara terpisah, maka menunjukkan pengertian umum, sedangkan apabila kata isim disebutkan bersamaan dengan kata lain sebagai penjelasnya, maka pengertian isim menjadi terbatas pada yang dijelaskan saja.

Daftar Rujukan

Anwar, Moch., Ilmu Nahwu, Terjemahan Matan Al-Âjrumiyyah dan ‘Imrity Berikut Penjelasannya,
Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007.
Chirzin, Muhammad, Al-Qur’an dan Ulumul-Qur’an, Yogyakarta: Dana Bhakti Primayasa,
2003.
Dahlan, Abdul Rahman, Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1997.
Ibn Taisir, al-Muzakkar wa al-Muʼannas dalam al-Maktabah al-Syamilah.
Ichwan, Mohammad Noor, Memahami Bahasa Al-Qur’an: Reϔleksi atas Persoalan Linguistik,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Nadwi, Abdullah Abbas, Learn The Language of The Holy Qur’an, Terj. Tim Redaksi Penerbit
Mizan, Belajar Mudah Bahasa Al Qur’an, Bandung: Mizan, 1992.
al-Qaththan, Manna’ Khalil, Mabâhits fi ʻUlûm al-Qur’ân, terj. Muzakir, Studi Ilmu-Ilmu Al
Qur’an, Jakarta: Litera Antanusa, 1997.
Rahman, Salimuddin A. dkk, Tata Bahasa Arab untuk Mempelajari al-Qur’an, Bandung: Sinar
Baru, 1990.
al-Shadiqy, Muhammad Ali bin ‘Alan, ʻUlum al-Lughah wa al-Maʻâjim, Beirut: Dâr al- Nasyr,
2001.

266 | Pola-Pola Penggunaan Kata Isim dan Fi’il dalam Al-Qur’an

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *