Manusia Islam Dan agama

236 Lihat

MAKALAH

Manusia agama dan islam

KELOMPOK 1

NAMA :

Iqbal Pradana         (190564201034)
Evita Fitria Sukma (190564201008)
Nissah                   (190564201010)

Fakultas  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prodi Hubungan Internasional

Dosen  Pembimbing :   Satrio M.A

Tahun  Ajaran  :  2019/2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan pengerjaan makalah yang berjudul ”Manusia dan Agama”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.                                                      

Kami sebagai penyusun menyadari   bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

                                                                          TanjungPinang, 06 September 2019

                                                                                                               Penyusun

DAFTAR ISI

COVER ………………………………………………………..  I

KATA PENGANTAR ………………………………………..  II

DAFTAR ISI …………………………………………………. III

BAB I : PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah   …………………………………..   4

BAB II : PEMBAHASAN

A. MANUSIA

Pengertian manusia …………………………………….. 5
Ciri – ciri manusia ………………………………………  5
Tujuan penciptaan manusia…………………………….   6
Kedudukan manusia……………………………………   6-7

B. HAKIKAT MANUSIA

Hakikat manusia secara umum ………………………… 7
Hakikat manusia menurut Al- Qur’an …………………. 8

C. AGAMA

Pengertian agama ………………………………………. 8
Syarat – syarat agama ………………………………….. 8
Unsur – unsur agama …………………………………… 9
Fungsi agama …………………………………………… 9

D. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA …………..9

 BAB III PENUTUPAN

A. Kesimpulan …………………………………………………..  10

 DAFTAR PUSTAKA  …………………………………………. 11

iii

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Manusia dan Agama merupakan masalah yang sangat penting, karena keduanya mempunyai pengaruh besar dalam pembinaan generasi yang akan datang, yang tetap beriman kepada Allah dan tetap berpegang pada nila-nilai spiritual yang sesuai dengan agama-agama samawi (agama yang datang dari langit ataua gama wahyu).

Agama merupakan sarana yang menjamin kelapangan dada dalam individu dan menumbuhkan ketenangan hati pemeluknya. Agama akan memelihara manusia dari penyimpangan, kesalahan dan menjauhkannya dari tingkah laku yang negatif. Bahkan agama akan membuat hati manusia menjadi jernih halus dan suci. Disamping itu, agama juga merupakan benteng pertahanan bagi generasi muda muslim dalam menghadapi berbagai aliran sesat.

 Agama juga mempunyai peranan penting dalam pembinaan akidah dan akhlak dan juga merupakan jalan untuk membina pribadi dan masyarakat yang individu-individunya terikat oleh rasa persaudaraan, cinta kasih dan tolong menolong.

BAB II

PEMBAHASAAN

        A.      MANUSIA

    1.    Pengertian Manusia dalam Alqur’an

Istilah kunci yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk pada pengertian manusia menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan ann-nas.

Kata basyar menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk biologis (QS Ali ‘Imran :47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.

Kata al-insan, Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS Al-Ahzab :72), kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij :19-21) dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr :28-29). Semua konteks al-insan ini menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.

Kata an-nas dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya tidak (QS Al-Baqarah :8)

Dari uraian ketiga makna untuk manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk biologis, psikologis dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan hak maupun kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum yang berlaku (sunnatullah).

2. Ciri – ciri Manusia

Manusia dibandingkan makhluk lain mempunyai ciri, antara lain, ciri utamanya adalah :

1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam berbentuk baik, ciptaan tuhan yang paling sempurna. “Sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At tin [95]:4)
2. Manusia diciptakan tuhan untuk menjadi khalifah nya di bumi. Hal itu dinyatakan Allah dalam firman-nya. Di dalam surat al-baqarah [2]:30
3. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya dalam firman-nya yang kini dapat dibaca dalam Al-Quran surat At-Thur [52]:21 “Setiap manusia terikat (dalam arti bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.”
4. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan makhluk lainnya. Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk.

   

   

 3.   Tujuan Penciptaan Manusia

Manusia diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian ibadah di sini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat pada umumnya, yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba  Allah. Berbuat sesuai dengan kehendak dan kesukaan (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya

          4.   Kedudukan Manusia

           

            Kedudukan manusia yang dimaksud di sini adalah konsep yang menunjukkan hubungan manusia dengan Allah dan dengan lingkungannya. Ayat-ayat yang relevan dengan masalah tersebut adalah antara lain :

          1. Q.S.Fathir, 35/43:39

Ayat 39-41: Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi dan penjelasan tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya.

  هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلا مَقْتًا وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلا خَسَارًا (٣٩)

 “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barang siapa kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan mereka. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kerugian mereka belaka.”

                      2. Q.S Az-Zariyat, 51/67:56

1. Manusia Sebagai Khalifah

         

          Kedudukannya manusia sebagai khalifah. Dijelaskan bahwa Allah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Penegasan ini mengisyaratkan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan.  Selanjutnya ayat tersebut juga mengingatkan bahwa siapa yang ingkar, khususnya mengingkari Tuhan yang telah menjadikan khalifah, maka ia sendiri yang menanggung akibat pengingkarannya itu berupa kemurkaan Tuhan dan kerugian bagi dirinya sendiri.

    2. Manusia Sebagai Pembangun

         

          Kedudukan manusia sebagai pembangun peradaban berdasarkan firman Tuhan yang telah di kemukakan, yakni Huwaansya’akum min al-ardh wa’sta’marakumfiha, “Dia telah menghidupkan kamu di bumi dan memberi kamu kesukaan memakmurkannya (menjadikan kamu sebagai pembangun kemakuran).”

   

           

               B.       HAKIKAT MANUSIA

    Hakikat manusia secara umum adalah sebagai berikut :

   1.    Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

    2.    Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya serta mampu menentukan nasibnya.

    3.    Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

    4.    Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati

    5.    Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas

    6.    Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.

    7.    Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

    8.    Makhluk yang berfikir. Berfikir adalah bertanya, bertanya berarti mencari jawaban, mencari jwaban berarti mencari kebenaran.

   

            Hakikat Manusia Menurut Al-Qur’an

        Al-Qur’an memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan penuh dosa.

    Al-Quran justru memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (positif, haniif).

         C.      AGAMA

1. Pengertian Agama

 Agama menurut bahasa sansekerta, agama berarti tidak kacau (a=tidak gama=kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Didunia baratter dapat suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu: religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian , perbuatan ini berupa usaha atau  sejenis  per ibadatan yang dilakukan  secara  berulang  ulang.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungan nya.

 Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu  addiin yang berarti:  hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan  gambaran bahwa “addiin” merupakan pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi  ketaat anter sebut (Moh.Syafaat,1965).

 

Dan secara umum, Agama adalah suatu system ajaran tentang Tuhan, dimana penganut-penganut nya melakukan tindakan-tindakan ritual,  moral atau social atas dasar aturan-aturan-Nya.

     2.    Syarat-Syarat Agama

          a.    Percaya dengan adanya Tuhan

          b.    Mempunyai kitab suci sebagai pandangan hidup umat-umatnya

          c.    Mempunyai tempat suci

          d.   Mempunyai Nabi atau orang suci sebagai panutan

          e.    Mempunyai hari raya keagamaan

   

   

3.    Unsur-Unsur Agama

Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:

      1.     Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi

     2.     Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.

     3.     Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan ajaran agam.

     4.     Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.

     5.     Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama

    4.    Fungsi Agama

•      Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok

•       Mengaturtata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan                 manusia.

•       Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah

•       Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan

•       Pedoman perasaan keyakinan

•       Pengungkapan estetika (keindahan)

•       Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama

       

  D. HUBUNGAN  MANUSIA DENGAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN

  Agama dan kehidupan beragama merupakan unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan dan sistem budaya umat manusia. Sejak awal manusia berbudaya, agama dan kehidupan beragama tersebut telah menggejala dalam kehidupan, bahkan memberikan corak dan bentuk dari semua perilaku budayanya. Agama dan perilaku keagamaan tumbuh dan berkembang dari adanya rasa ketergantungan manusia terhadap kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka harus berkomunikasi untuk memohon bantuan dan pertolongan kepada kekuatan ghaib tersebut, agar mendapatkan kehidupan yang aman, selamat dan sejahtera. Tetapi “apa” dan “siapa” kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan tersebut, dan bagaimana cara berkomunikasi dan memohon peeerlindungan dan bantuan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka hanya merasakan adanya kebutuhan akan bantuan dan perlindunganya. Itulah awal rasa agama, yang merupakan desakan dari dalam diri mereka, yang mendorong timbulnya perilaku keagamaan. Dengan demikian rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah” manusia.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

 Sehingga dapat di simpulkan bahwa agama sangat di perlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi lebih  bermakna.
 Manusia hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya dihadapan Allah sebagai Hamba Allah dan fungsinya didunia sebagai khalifah Allah), mengantur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah. Rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah” manusia.

DAFTAR PUSTAKA

     Drs.Fathoni Ahmad Miftah, M.Ag, Pengantar Studi Islam, 2001,  Semarang, Gunung Jati.

Supadie Didiek Ahmad,dkk. Pengantar Studi Islam, 2011 , Jakarta, Rajawali Pers.

http://almanhaj.or.id/content/3191/slash/0/karakteristik-agama-islam/Muhaiman dkk,

Muhaiman Dimensi-Dimensi Studi Islam, 1994, Surabaya,Karya Abditama

Syukur Amin Prof. Dr. H. M., MA, Pengantar Studi Islam, 2010, Semarang, Pustaka Nuun

Buku Pendidikan Agama Islam

Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H.

Memupuk Kepercayaan Islam Sebagai Yang Paling Benar

Ahmas Faiz Asifuddin

18 Nopember 2004

iii

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *