BAHASA ARAB FUSHA DAN AMIYAH SERTA PROBLEMATIKANYA

98 Lihat

BAHASA ARAB FUSHA DAN AMIYAH SERTA

PROBLEMATIKANYA

Achmad Tohe

Abstract: In modern Arab societies, the fusha and amiyah may be seen as a phenomenon of diglossia. The same phenomenon occurred in ancient Arab societies during the pre-Islamic periods, i.e., between dialects lo- caux of Arab tribes and the fusha as a lingua franca for cross-tribal com- munication. The difference is that dialects locaux in the pre-Islamic pe- riod was not regarded as misappropriation of the fusha or the standard language, but it was the amiyah for it. Today, the diglossia in modern Arab societies causes many crucial problems leading to emerging at- tempts to negate one another.

Key words: diglossia, Arabic dialects, fusha, amiyah.

Bahasa Arab telah melalui sejarah formatif dan perkembangan yang panjang. Masyarakat Arab pra Islam terdiri dari beberapa kabilah dan memiliki sejumlah ragam dialek bahasa (al-lahaja:t al-Arabiyah al-qadi:mah) yang berbeda-beda akibat perbedaan dan kondisi-kondisi khusus yang ada di masing-masing wilayah (Wafi, 1983:119). Berbagai dialek itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu al-Arabiyat al-bai:dah (bahasa Arab yang telah punah) dan al-Arabiyat al-ba:qiyah (bahasa Arab yang masih lestari). Al-Arabiyat al-bai:dah mencakup dialek-dialek bahasa Arab bagian utara Jazirah Arab dan sebagian dialek selatan. Sedangkan al- Arabiyat al-ba:qiyah adalah dialek yang dipergunakan dalam qashidah (bahasa puisi) jaman jahiliah atau pra-Islam, bahasa yang dipergunakan di dalam Al-Qur’an, dan bahasa Arab yang dikenal sampai hari ini (Ya’kub, 1982:118).

Achmad Tohe adalah Dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Al-Arabiyat al-ba:idah dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqu:sy (bahasa Arab prasasti) karena ragam bahasa ini tidak pernah sampai kepada kita kecuali melalui prasasti-prasasti yang belakangan ditemukan secara luas, dari Damaskus sampai wilayah Al-‘Ula di bagian utara Hijaz. Beberapa dialek yang tergolong al-Arabiyat al-ba:idah ini, misalnya, adalah dialek al-tsamudiyah, al-shafawiyah, dan al-lihyaniyah (Ya’kub, 1982:118-119).

Al-Arabiyat al-ba:qiyah adalah dialek yang selanjutnya disebut dengan al-Arabiyah, bahasa Arab seperti yang dikenal dan dipergunakan dalam pelbagai suasana formal hingga hari ini di berbagai belahan negara Arab. Dialek ini merupakan gabungan dari berbagai dialek yang berbeda, sebagian yang dominan berasal dari bagian utara jazirah Arab dan sebagian yang lain dari daerah selatan. Ragam bahasa inilah yang sekarang digunakan dalam berbagai tulisan berbahasa Arab, pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme. Dialek ini sudah tersebar luas di seluruh jazirah sejak masa pra- Islam dan menjadi lingua franca bagi masyarakat multikabilah.

Kedudukan bahasa Quraisy ini semakin kukuh sejak turunnya Al- Qur’an. Dialek ini terus berkembang seiring meningkatnya intensitas interaksi masyarakat Arab dari berbagai kabilah melalui pasar-pasar mereka yang sekaligus dijadikan pasar festival seni dan sastra. Pasar-pasar jaman pra-Islam seluruhnya berjumlah delapan, dan yang sangat terkenal sebagai ajang unjuk kebolehan para sastrawan dalam bidang puisi dan pidato adalah ukadz, majannah, marbad, dzulmajaz dan khaibar (Ya’kub, 1982:120).

Pertemuan dan interaksi antaranggota berbagai kabilah melalui perjalanan, perdagangan, dan festival seni dan sastra telah melahirkan sebuah lingua franca, bahasa pergaulan bersama (al-lughat al- musytarakah) yang dijadikan medium komunikasi lintas kabilah. Berbagai karya sastra di jaman ini menggunakan bahasa bersama itu sehingga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap kualitas sastrawan dan karyanya. Penilaian itu tentu akan sulit dilakukan jika masing-masing menggunakan bahasa lokalnya.

Ada sejumlah pandangan mengenai proses terbentuknya lingua franca antarberbagai kabilah yang memiliki berbagai dialek lokal itu: Pertama, pandangan bahwa di antara berbagai dialek kabilah itu, dialek Quraisy adalah yang paling fasih, dominan dan dipahami oleh berbagai kabilah di seluruh jazirah pada masa pra-Islam (Faris, 1963:52). Dialek Quraisy mengungguli dialek-dialek lain dan menjadi bahasa sastra lintas kabilah. Karena itu tidak mengherankan jika Al-Qur’an diturunkan menggunakan dialek Quraisy, dan Muhammad Saw yang diutus sebagai rasul juga berasal dari kabilah ini (Wafi, tt.:112). Kedua, pandangan bahwa dominasi dialek Quraisy terhadap dialek-dialek lain hanya terjadi di jaman pra-Islam, tetapi tidak demikian setelah datangnya Islam. Dominasi itu karena tempat tinggal kabilah Quraisy, Mekkah, menjadi tempat pelaksanaan ibadah haji, kota dagang dan pusat kesatuan politik yang otonom terhadap kekuatan-kekuatan lain. Kekuasaan politik, ekonomi dan agama itu memperkokoh dialek Quraisy di hadapan dialek-dialek lain (Husain, 1952:133-136). Ketiga, pandangan yang tidak mengakui dialek Quraisy sebagai lingua franca atau bahasa bersama bagi seluruh kabilah Arab. Menurut Al-Rajihi, asumsi bahwa dialek Quraisy adalah lingua fran ca bagi seluruh kabilah Arab hanya untuk mengagungkan kabilah Muhammad Saw sebagai rasul. Sebagai bukti, masyarakat Hijaz, dan suku Quraisy adalah salah satunya, cenderung meringankan bacaan hamzah, sedangkan kabilah lain membacanya dengan jelas. Sementara itu, pembacaan hamzah secara jelas di dalam warisan puisi pra-Islam maupun dalam qira:at (macam-macam cara membaca) Al-Qur’an lebih banyak ditemui dibanding pembacaannya yang lemah atau ringan (Al- Rajihi, 1973:119-121).

Terlepas dari ketiga pandangan di atas, hasil kajian-kajian kebahasaan menunjukkan bahwa; (1) di jazirah Arab selain dialek-dialek lokal, juga ditemui sebuah bahasa bersama lintas kabilah yang digunakan dalam karya- karya para sastrawan, digunakan di pasar-pasar dan perayaan-perayaan mereka, (2) ketika Islam datang, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa bersama itu agar dimengerti oleh seluruh kabilah, (3) di dalam bahasa Al- Qur’an ternyata didapati tidak hanya dialek Quraisy melainkan juga dialek kabilah-kabilah lain, seperti Hudzail, Tamim, Hamir, Jurhum, Midzhaj, Khatz’am, Qais ‘Aylan, Balharits bin Ka’b, Kindah, Lakhm, Judzam, Al-Aus, dan Al-Khazraj Thayyi’. Bahkan, ada yang mengatakan di dalam Al-Qur’an ditemukan lebih kurang lima puluh dialek, (4) dialek Quraisy adalah yang paling dominan di dalam Al-Qur’an berdasarkan kesepakatan para linguis, dan sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa jika terdapat perbedaan pendapat mengenai wahyu (ayat Al-Qur’an) yang hendak ditulis maka hendaknya ditulis dengan dialek Quraisy karena, menurut Rasul, Al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa ini (Ya’kub, 1982:124-126).

Sejak kedatangan Islam, kedudukan bahasa bersama (lingua franca) itu makin kokoh. Persepsi masyarakat mengenai ragam bahasa Arab pun mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya mereka menganggap bahasa Arab Al-Qur’an dan bahasa lokal sebagai setara, berikutnya penghargaan dan perhatian lebih ditujukan kepada bahasa bersama yang nota bene digunakan Al-Qur’an. Sebagai bahasa agama, di samping keunggulan obyektif yang dimiliki, bahasa Arab Al-Qur’an dianggap lebih pantas untuk digunakan. Sejak saat itu, tampak antusiasme yang besar dari masyarakat untuk mendalami dan mengkaji bahasa Al-Qur’an, bahasa bersama yang dinisbahkan kepada suku Quraisy itu.

Seiring dengan waktu, bahasa Arab Al-Qur’an dijadikan bahasa baku bagi seluruh kabilah di Jazirah Arab. Ratifikasi tata bahasa Arab didasarkan pada bahasa Al-Qur’an itu di samping fakta-fakta bahasa yang tersebar diberbagai karya para sastrawan. Lambat laun muncul asumsi bahwa bahasa yang baik adalah bahasa Al-Qur’an, dan yang berbeda darinya dianggap sebagai kelas dua, atau bahkan menyimpang.

Sadar atau tidak, pada gilirannya bahasa kabilab Quraisy menjadi patokan kebakuan dan pembakuan bahasa. Upaya penggiringan untuk hanya menggunakan bahasa Al-Qur’an yang nota bene adalah bahasa Quraisy memunculkan sejumlah masalah. Masyarakat yang berasal dari kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memiliki kesiapan dan kemampuan menggunakan bahasa Al-Qur’an secara baik dan benar. Akibatnya, terjadi sejumlah kesalahan dan fenomena penyimpangan bahasa ketika masyarakat mulai menggunakan bahasa Arab fusha. Praktik kesalahan dan penyimpangan berbahasa itu disebut lahn.

Istilah lahn ini dikenakan awalnya pada kesalahan dan ketidaktaatan pada i’rab, yaitu perubahan bunyi akhir kata karena perubahan kedudukannya dalam kalimat. Benih-benih lahn mulai muncul sejak jaman Nabi Muhammad Saw berupa perbedaan luknah (logat, cara berbicara) di kalangan sahabat. Misalnya, Bilal yang berbicara dengan logat Habasyi, Shuhaib dengan logat Romawi, Salman dengan logat Persia, dan seterusnya (Al-Rafi’i, 1974:234-5). Istilah lahn itu baru muncul setelah kedatangan Islam dan setelah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Qur’an menjadi bahasa baku. Nabi Muhammad diceritakan pernah memberikan peringatan keras terhadap orang yang melakukan lahn, yang diduga sebagai praktik lahn pertama (Kholisin, 2003:4).

Sejak dilakukan penaklukan ke luar jazirah Arab, seperti Romawi dan Persia, praktik lahn makin tak terelakkan. Permasalahannya semakin kompleks ketika masyarakat Arab mulai mencampuradukkan bahasa mereka dengan apa yang didengar dari bahasa orang-orang yang terarabkan (muta’arrabin) di negeri-negeri taklukan (AI-Rafi’i, 1974:235-7). Praktik lahn tidak hanya terjadi dalam bahasa lisan tetapi juga mulai merembet pada bahasa tulis, terutama sejak masa Umar bin Khatthab. Fenomena lahn ini makin meluas sejak dilakukannya penukilan buku-buku berbahasa Romawi dan Qibtiyah (Mesir) ke dalam bahasa Arab, dalam surat menyurat, dan lain sebagainya (Al-Rafi’i, 1974:238).

Maraknya praktik lahn tak pelak melahirkan kekhawatiran akan rusaknya kualitas dan orisinalitas bahasa Arab baku. Dalam kerangka mengantisipasi hal itu, Abu-1 Aswad al-Duali meletakkan dasar-dasar sintaksis bahasa Arab (usu:l al-nahw). Masyarakat umum yang peduli dengan kemurnian bahasa, tergerak untuk mempelajari tata bahasa, dan mengharuskan anak-anak mereka untuk dengan sungguh-sungguh juga mempelajarinya (Al-Rafi’i, 1974:239).

Ilmu Nahwu mulai berkembang luas, dan diajarkan di masjid-masjid. Tidak terbatas pada orang Arab asli, disiplin ilmu ini juga dipelajari oleh orang-orang non-Arab (mawa:li: dan muta’arribun) yang tinggal di negeri Arab. Ketersebaran ilmu ini, pada tingkat tertentu, telah mengeliminir lahn di kalangan masyarakat rendahan, semisal pekerja (muhtarifi:n) dan orang- orang pasar (ahl al-aswa:q). Oleh karena itu, ilmu nahwu dikenal sebagai milik para budak (mawa:li:) (AI-Rafi’i, 1974:239).

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa masyarakat Arab, terutama kalangan atas dan bangsawannya, memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap gejala lahn. Bagi mereka penyimpangan dan kesalahan berbahasa itu adalah aib. Atas dasar itu, segala upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah ini menjadi bukti keseriusan mereka dalam menjaga dan memelihara orisinalitas bahasa Arab.

Namun demikian, berbagai upaya untuk memelihara kemurnian bahasa itu tak kuasa membendung semakin meluasnya praktik lahn di dalam masyarakat. Interaksi dengan bangsa-bangsa ajam (non-Arab), telah menyebabkan banyak digunakannya kosakata asing (al-dakhil) dalam bahasa Arab yang pada gilirannya berpengaruh pada penggunaan bahasa masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Seiring dengan perkembangan jaman, di tengah masyarakat muncul sebuah ragam bahasa Arab yang disebut bahasa Arab amiyah di samping bahasa fusha yang telah mereka warisi sejak jaman pra-Islam.

Kemunculan bahasa amiyah ini telah melahirkan sejumlah problematika yang mendasar di kalangan masyarakat Arab. Tulisan ini akan mengkaji sejarah munculnya bahasa amiyah itu dan menjelaskan berbagai masalah yang menyertai dualisme bahasa -antara fusha dan amiyah- di kalangan masyarakat Arab.

Munculnya Bahasa Amiyah

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahasa Arab baku adalah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Qur’an dan nabi Muhammad Saw. Bahasa ini selanjutnya disebut sebagai bahasa Arab fusha. Hari ini bahasa Arab fusha adalah ragam bahasa yang ditemukan di dalam Al-Qur’an, hadis Nabi dan warisan tradisi arab. Bahasa fusha hari ini digunakan dalam kesempatan- kesempatan resmi dan untuk kepentingan kodifikasi karya-karya puisi, prosa dan penulisan pemikiran intelektual secara umum (Ya’kub, 1982:144). Sedangkan bahasa amiyah adalah ragam bahasa yang digunakan untuk urusan-urusan biasa sehari-hari. Bahasa amiyah ini, menurut kalangan linguis modern, dikenal dengan sejumlah nama, semisal; al-lughat al- amiyah, al-syakl al-lughawi al-da:rij, al-lahjat al-sya’i’ah, al-lughat al- mahkiyah, al-lahjat al-Arabiyah al-amiyah, al-lahjat al-da:rijah, al-lahjat al-amiyah, al-Arabiyah al-amiyah, al-lughat al-da:rijah, al-kala:m al-da:rij, al-kalam al-ami, dan lughat al-sya’b (Ya’kub, 1982:144-145).

Di jaman pra-islam, masyarakat Arab mengenal stratifikasi kefasihan bahasa. Kabilah yang dianggap paling fasih di banding yang lain adalah Quraisy yang dikenal sebagai surat al-Arab (pusatnya masyarakat Arab). Kefasihan bahasa Quraisy ini terutama ditunjang oleh tempat tinggal mereka yang secara geografis berjauhan dengan negara-negara bangsa non-Arab dari segala penjuru. Di bawah kefasihan Quraisy adalah bahasa kabilah Tsaqif Hudzail, Khuza’ah, Bani Kinanah, Ghathfan, bani Asad dan Bani Tamim, menyusul kemudian kabilah Rabi’ah, lakhm, Judzam, Ghassan, Iyadh, Qadha’ah, dan Arab Yaman, yang bertetangga dekat dengan Persia, Romawi dan Habasyah (Al-Rafi’i, 1974:252-253).

Kefasihan berbahasa itu terus terpelihara hingga meluasnya ekspansi Islam ke luar jazirah dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan masyarakat bangsa lain. Dalam proses interaksi dan berbagai transaksi sosial lainnya itu terjadi kesalingpengaruhan antarbahasa. Masyarakat ‘ajam belajar berbahasa Arab, dan masyarakat Arab mulai mengenal bahasa mereka. Intensitas interaksi tersebut lambat laun mulai berimbas pada penggunaan bahasa Arab yang mulai bercampur dengan beberapa kosakata asing, baik dengan atau tanpa proses pengaraban (ta’rib). Pertukaran pengetahuan antarmereka juga berpengaruh pada pertambahan khazanah bahasa Arab khususnya menyangkut hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui masyarakat Arab ketika hidup terisolasi dari bangsa lain. Masyarakat non-Arab juga kerap melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Arab. Fenomena ini kemudian makin meluas melalui transaksi- transaksi sosial, misalnya dalam aktivitas ekonomi di pasar-pasar terutama sejak abad ke-5 H. (Al-Rafi’i, 1974:244-245).

Ragam Bahasa Arab yang digunakan, terutama di pasar-pasar, pada gilirannya mulai menemukan ciri-ciri tersendiri dan meneguhkan identitasnya. “Bahasa pasaran” itu telah menjadi medium komunikasi yang dimengerti oleh berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Berbeda dengan ragam bahasa Arab fusha yang sarat muatan teologis sebagai bahasa agama, ragam bahasa “pasar” ini begitu ringan mengalir tanpa adanya aturan yang rumit yang harus diwaspadai.

Fenomena penyimpangan bahasa (lahn) adalah cikal bakal lahirnya bahasa amiyah, bahkan ia disebut sebagai bahasa amiyah yang pertama. Berbeda dengan dialek-dialek bahasa Arab yang digunakan di sejumlah tempat lokal, bahasa amiyah dianggap sebagai suatu bentuk perluasan bahasa yang tidak alami (Al-Rafi’i, 1974:234).

Bahasa Arab amiyah adalah bahasa yang “menyalahi” kaidah-kaidah orisinil bahasa fusha. Dengan kata lain, bahasa amiyah adalah “bahasa dalam penyimpangan” (lughat fi: al-lahn) setelah sebelumnya merupakan fenomena penyimpangan dalam (sebuah) bahasa (lahn fi: al-Lughat) (Al- Rafi’i, 1974:234). Secara perlahan tapi pasti bahasa amiyah terus berkembang hingga menjelma sebagai bahasa yang otonom dengan kaidah- kaidah dan ciri-cirinya sendiri. Bahasa amiyah di negeri-negeri (taklukan) Islam awalnya adalah lahn yang sederhana dan masih labil karena masyarakatnya masih memiliki watak bahasa Arab yang genuin. Karena itu, di awal kemunculannya, bahasa amiyah di kalangan masyarakat masih mempunyai rentangan antara yang lebih dekat dengan bahasa baku (fusha) sampai pada yang jauh darinya. Contoh daerah yang memiliki bahasa yang masih sangat dekat dengan bahasa baku itu sampai abad ke-3 H antara lain negeri Hijaz, Basrah dan Kufah (Al-Rafi’i, 1974:255).

Selanjutnya bahasa amiyah mulai menyebar di beberapa tempat semisal Syam, Mesir dan Sawad. Di beberapa tempat itu, bahasa Arab fusha sudah menerima kosa kata serapan dari Persia. Romawi, Qibtiyah dan Nabthiyah dalam jumlah yang cukup besar. Karena itu bahasa masyarakat mulai rusak dalam ukuran yang signifikan. Masyarakat mulai mencampuradukkan bahasa asli mereka dengan bahasa-bahasa serapan, tanpa melakukan pemilahan. Di antara kosakata serapan yang paling banyak diambil adalah kata benda (asma:?), sedangkan kata-kata ajektiva sedikit saja yang diadopsi. Banyaknya pengadopsian kata benda itu karena intensitas pemakaiannya lebih tinggi dibanding jenis kata yang lain (Al-Rafi’i, 1974:255).

Diglosia dalam Masyarakat Arab

Diglosia adalah sebuah penamaan yang diberikan pada gejala penggunaan dua ragam bahasa yang -sebenarnya- berasal dari satu bahasa induk dalam sebuah masyarakat pada waktu yang bersamaan. Fenomena diglosia dalam masyarakat Arab -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- sudah terjadi sejak jaman jahili atau pra-Islam. Masing-masing kabilah memiliki bahasa tersendiri di samping lugat musytarakah, sebuah bahasa pergaulan yang dianut oleh berbagai kabilah yang ada. Bahasa bersama (lughat musytarakah) ini lahir sebagai akibat dari hubungan perdagangan antarkabilah, perjalanan menunaikan ibadah haji dan lawatan-lawatan. Komunikasi antarindividu dalam sebuah kabilah cukup menggunakan bahasa kabilahnya sendiri. Tetapi ketika berhubungan dan berkomunikasi dengan anggota kabilah lainnya mereka menggunakan bahasa pergaulan bersama itu (Al-Rajihi, 1973:120). Hingga datangnya Islam fenomena diglosia ini masih terus berlangsung.

Sejak masa Islam dan setelah ekspansi kekuasaannya ke luar Jazirah Arab, fenomena tsunaiyat al-lughah atau diglossie yang semula hanya terjadi antara dialek lokal sebuah kabilah (lahaja:t al-qaba:il) dengan dialek bahasa bersama (al-lughat al-musytarakah), mulai bergeser antara bahasa fusha dengan bahasa amiyah. Diglosia bahasa fusha dan amiyah yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sejak munculnya ragam bahasa yang terakhir pada masa-masa ekspansi Islam yang pertama yaitu sejak terjadinya interaksi antara orang Arab dengan non-Arab (a’a:jim) (Ya’kub, 1982:147).

Di awal kemunculannya bahasa amiyah tidak memiliki ciri-ciri pembeda yang jelas dari bahasa fusha. Setelah beberapa waktu, ragam bahasa ini mulai menampakkan ciri-cirinya dalam hal bunyi, pola, susunan kalimat, sintaksis, cara pengungkapan, dan materi bahasanya secara umum. Mengenai hal itu dijelaskan Al-Jahidz ketika membahas bahasa masyarakat peranakan Arab (muwalladi:n) (Ya’kub, 1982:147).

Fenomena dualisme bahasa ini sempat diberikan penamaan yang kurang tepat, yaitu bilingualisme. Istilah ini mengandaikan adanya dua bahasa yang berbeda pada individu atau kelompok tertentu dalam waktu yang bersamaan dalam sebuah masyarakat. Tetapi sebagian orang menolak penamaan yang terakhir dalam kasus dualisme bahasa Arab fusha dan amiyah. Mereka beralasan bahwa dua ragam bahasa yang digunakan masyarakat Arab bukanlah bahasa yang sama sekali berbeda, seperti bahasa Arab dengan bahasa Perancis atau antara bahasa Jerman dan bahasa Turki. Bahasa fusha dan bahasa amiyah sesungguhnya merupakan ragam-ragam bahasa yang berasal dari satu bahasa induk. Perbedaan keduanya dianggap sebagai perbedaan yang parsial, bukan substansial. Untuk itu, istilah diglosia lebih tepat digunakan dalam kasus di atas (Ya’kub, 1982:145-146).

Fenomena diglosia serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat Arab, melainkan juga di kalangan bangsa-bangsa lain. Diglosia, menurut al-Hajj (1976:245), pada dasarnya merupakan kelanjutan dualisme akal dan perasaan pada manusia. Dalam setiap bahasa selalu ditemui bahasa ‘am dan bahasa fasih, meskipun intensitasnya dapat berbeda satu sama lain.

Diglosia antara bahasa fusha dan amiyah, terutama di dalam masyarakat Arab moderen, ditengarai mempunyai sejumlah dampak negatif Menurut Anis Farihah (Ya’kub, 1982:155) dampak negatif itu telah merambah ke berbagai bidang, antara lain pemikiran, pendidikan, kepribadian, moral, dan kegiatan sastra dan seni.

Dalam bidang pemikiran, pengaruh buruk diglosia itu tampak pada perhatian yang lebih pada bahasa sebagai media ekspresi ketimbang isi/substansi pemikiran ketika seseorang menuliskan gagasan-gagasannya. Waktu mereka banyak tersita “hanya” untuk memikirkan kesahihan (gramatikal) tulisan dan kesesuaiannya dengan aturan-aturan bahasa fusha yang berlaku. Kasus yang sama dialami juga oleh para penyiar, penceramah dan dosen ketika memberikan orasi spontan. Perhatian mereka lebih tercurahkan pada syakl (bentuk formal) bahasa dibanding al-makna (substansi) (Farihah, 1955:135-142).

Dalam bidang pendidikan, pengaruh diglosia terlihat pada lama waktu yang dibutuhkan seorang anak Arab dalam mempelajari bahasa Arab fusha dibanding anak berkebangsaan lain dalam mempelajari bahasanya. Keengganan orang untuk membaca, rumitnya pola-pola bahasa, dan ditinggalkannya bahasa fusha adalah hal-hal yang berpulang pada perbedaan fusha dan amiyah, khususnya tingkat kerumitan bahasa fusha dan fleksibilitas amiyah. Secara umum, masyarakat menganggap bahasa fusha tidak luwes dan kurang bersahabat dengan anak-anak (Farihah, 1955:143- 153).

Dalam bidang moral, diglosia telah mempengaruhi cara orang berperilaku dan bersikap. Dialosia telah melahirkan semacam kepribadian yang pecah (split personality) dan perasaan bersalah. Dalam suasana resmi, masyarakat Arab menggunakan bahasa fusha, sedang dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa amiyah yang selalu dicap dan diberi konotasi buruk (Farihah, 1955:159-163).

Dalam bidang al funun al jami:lah, khususnya drama/teater, diglosia telah dijadikan kambing hitam keringnya kesenian dan kesusasteraan. Tetapi di sisi lain, sebagian seniman dan sastrawan menganggap bahasa fusha kurang ekpresif dan responsif. Para pekerja seni berada dalam sebuah dilema. Di satu sisi, melalui karyanya, mereka dituntut menampilkan realitas kehidupan yang aktual dengan menggunakan bahasa fusha. Tetapi di lain sisi, mereka dihantui kengerian akan cercaan yang bakal diperolehnya jika menggunakan bahasa amiyah (Farihah, 1955:166).

Sikap para Pengkaji terhadap Diglosia

Terdapat perbedaan pandangan antarilmuwan dalam menyikapi diglosia. Secara umum perbedaan pandangan itu dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, pandangan yang menyatakan diglosia sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia. Kedua, pandangan yang menganggapnya sebagai “musibah besar” (Ya’kub, 1982:148). Salah satu bukti yang diajukan pandangan kedua adalah kebingungan berbahasa yang dialami siswa di dalam dan di luar sekolah. Di sekolah, seorang siswa dituntut untuk menggunakan bahasa fusha, sedang di luar sekolah mereka lebih banyak dan lebih menyukai bahasa amiyah.

Siswa baru mulai mempelajari bahasa fusha ketika ia mulai bersekolah. Dalam kehidupan di luar sekolah, mereka jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali menggunakannya. Pada gilirannya, diglosia ini telah menjadi sebab kurangnya siswa menikmati proses belajar-mengajar, dan merasa tidak betah berada di dalam kelas. Di samping itu, mempelajari bahasa fusha membutuhkan waktu yang cukup panjang. Berdasarkan itu, kelompok ini telah menjadikan diglosia sebagai kambing hitam dan faktor penyebab ketertinggalan masyarakat Arab (Ya’kub, 1982:148).

Berangkat dari keprihatinan di atas, maka dalam kelompok yang disebut terakhir ditemukan sejumlah usulan dengan arah yang beragam dalam merespon problematika diglosia di kalangan masyarakat Arab (Ya’kub, 1982:149-150), antara lain: (1) memilih bahasa fusha dan meninggalkan bahasa amiyah, (2) meninggalkan keduanya, dan menggantinya dengan bahasa asing lain yang lebih apresiatif terhadap pengetahuan, kebudayaan dan ekonomi, (3) mengambil kelebihan-kelebihan yang dimiliki bahasa fusha dan amiyah, (4) menciptakan ragam bahasa baru yang disebut dengan al-lahjat al-Arabiyah al-mahkiyah al-musytarakah, atau lughat al- mutaddibin fi: jami:’i al-aqtha:r al-Arabiyah, atau lughat mutsaqqafi:-l Arab, dan (5) memilih bahasa amiyah sebagai pengganti bahasa fusha untuk segala keperluan.

Seruan kepada Bahasa Amiyah

Seruan untuk menggunakan bahasa amiyah sebagai ganti bahasa fusha ini muncul pada tahun 1881, dipelopori oleh seorang berkebangsaan Jerman, Dr. Wilheim Spitta, direktur Dar al-Kutub Mesir saat itu. Seruan itu ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul Qawa:’id al-Arabiyat al-Amiyah fi: Misr (Aisyah, 1971:100). Pada tahun yang sama, majalah Al-Muqtathaf mengusulkan perlunya penulisan ilmiah menggunakan bahasa yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Menurut majalah ini, perbedaan antara bahasa lisan dan tulisan di masyarakat adalah penyebab ketertinggalan mereka. Seruan ini telah memancing kajian dan diskusi yang hangat di kalangan para pemikir (Ya’kub, 1982:151).

Pada tahun 1893, William Willcoks, seorang berkebangsaan Inggris melontarkan pemikiran mengenai lemahnya penemuan ilmiah di masyarakat Mesir karena penggunaan bahasa fusha dalam tulisan dan bacaan mereka. Untuk itu, ia menyarankan agar bahasa fusha ditinggalkan saja karena tingkat kesulitan dan kejumudannnya. Sebagai gantinya, ia menyerukan penggunaan bahasa amiyah.

Seruan serupa juga datang dari J. Seldon Wilmore, orang Inggris lain yang menjadi hakim di Mesir pada tahun 1901 melalui bukunya Al- Arabiyah al-Mahkiyah fi: Misr (Ya’kub, 1982:152). Seruan yang sama juga datang dari beberapa orang lain semisal Iskandar al-Ma’luf, Ahmad Luthfi al-Sayyid, Al-Ab Maru:n Ghisn, Anis Farihah, dan lain sebagainya (Ya’kub, 1982:153).

Secara garis besar, pemikiran-pemikiran yang mendasari berbagai seruan penggunaan bahasa amiyah dan meninggalkan bahasa fusha oleh Ya’kub (1982:154-155) digambarkan sebagai berikut:

Pertama, bahasa fusha adalah bahasa generasi yang telah lewat sehingga tidak mampu mengungkapkan realitas kehidupan mutakhir secara utuh. Berbeda dengan bahasa amiyah yang mudah dan banyak digunakan orang dalam keseharian mereka, bahasa fusha adalah bahasa yang baik pembelajaran maupun pengajarannya dianggap sulit karena tata bahasa dan kosa katanya yang sulit.

Di sisi lain, bahasa amiyah dikenal fleksibel dan lebih terbuka untuk menerima masukan dari bahasa asing secara apa adanya. Hal itu karena bahasa amiyah tidak lagi terikat pada i’rab, menggunakan bahasa yang secara nyata digunakan dalam praktik berbahasa bukan kata-kata yang sudah mati dan ditinggalkan, tidak lagi melestarikan konsep mutara:difa:t (sinomim) dan ad-dhadh (antonim) yang luar biasa banyaknya dan selama ini dijadikan salah satu kelebihan Arab fusha, meniadakan aturan qiyas (analogi) dalam melakukan derivasi kata dan justru membebaskannya dalam rangka mempercepat perluasan dan pertumbuhan bahasa Arab itu sendiri.

Kedua, kenyataan bahwa sebagian masyarakat muslim tidak menggunakan bahasa Arab dalam berbicara dan menulis. Oleh karenanya tidak perlu ada ketergantungan kepada bahasa Arab. Sedangkan bahasa Al- Qur’an, yang selama ini dijadikan alasan untuk tidak meninggalkan bahasa Arab fusha, tetap dilestarikan melalui para pakar agama dan bahasa.

Ketiga, asumsi bahwa berpegang kepada bahasa amiyah lebih efisien dan ekonomis dibanding waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mempelajari bahasafusha dan kaidah-kaidahnya.

Keempat, salah satu faktor penting penyebab ketertinggalan masyarakat adalah perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan. Penggunaan bahasa amiyah adalah solusi bagi ketertinggalan itu secara umum, dan bagi problem diglosia secara khusus, yang pada tingkat tertentu bisa jadi sudah sampai pada yang disebut bilingualisme.

Perlawanan terhadap Seruan Menuju Bahasa Amiyah

Ajakan untuk meninggalkan bahasa fush a dan menggantinya dengan bahasa amiyah memperoleh perlawanan yang tak kalah sengit dari kalangan yang ingin menjaga kelestariam bahasa fusha. Perlawanan itu dilakukan bukan semata-mata untuk menjaga warisan kebudayaan Arab tetapi juga untuk kepentingan agama dengan memelihara Al-Qur’an dan hadis sebagai rujukan utama Islam yang menggunakan bahasa fusha.

Kelompok pendukung bahasa fusha menyatakan bahwa seruan kepada bahasa amiyah membawa bahaya yang sangat besar. Di antara bahaya itu menurut Y a’kub (1982:169-170):

Pertama, seruan itu akan menghancurkan khazanah intelektual Arab dan tidak menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh ulama Arab terdahulu. Jika bahasa am iyah diberlakukan maka lambat laun bahasa fush a, termasuk di dalamnya Al-Qur’an dan Hadis, tidak akan dipahami lagi. Kasus yang hampir sama dialami oleh masyarakat di Inggris. Sebagian besar orang Inggris hari ini tidak mampu lagi memahami bahasa yang digunakan Shakespeare yang baru meninggal pada abad ke-17, apalagi bahasa orang-orang sebelumnya. Sedangkan masyarakat Arab hari ini masih sangat mungkin memahami kasidah-kasidah puisi Imri’il Qays dan rasail Al-Jahidz. Dalam hal ini, bahasa Arab dianggap lebih apresiatif dibanding bahasa Inggris.

Kedua, jika bahasa amiyah digunakan maka masyarakat Arab harus menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa itu. Jika penerjemahan itu dilakukan maka akan sebagian besar nuansa Al-Qur’an yang berbahasa Arab fusha itu akan hilang.

Ketiga, bahasa amiyah tidak dapat dijadikan pegangan karena di dalam dirinya terdapat begitu banyak ragam dan perbedaan. Masing-masing masyarakat dan tempat memiliki bahasa amiyah sendiri. Kesulitan terjadi ketika harus memilih bahasa mana yang akan dijadikan sebagai bahasa bersama.

Keempat, jika masing-masing kelompok masyarakat tetap bersikukuh dengan dialek lokalnya, maka hal itu tentu akan sangat melemahkan hubungan antara kelompok masyarakat Arab yang satu dengan yang lain. Bahasa fusha telah terbukti menjadi perekat yang efektif, bahkan salah satu yang terpenting, untuk menghindari terjadinya perpecahan masyarakat. Bahasa fusha telah menjadi simbol kesatuan masyarakat Arab itu sendiri. Kesatuan bahasa di kalangan mereka jauh lebih kuat dan bersifat mengikat daripada kesatuan politik. Hal itu tercermin dalam kasus, sebagai contoh, runtuhnya daulah Bani Abbasiyah. Meskipun saat itu Bani Abbasiyah terpecah ke dalam negara-negara kecil, maka bahasa fushalah yang tetap merekatkan semua elemen masyarakat Arab kala itu.

Di era Paskakemerdekaan, negara-negara Arab bersepakat mengenai perlunya Pan-Arab (qawmiyah) dan menjadikan bahasa fusha sebagai bahasa nasional. Atas dasar itu, maka penggunaan dialek-dialek lokal (amiyah) dianggap sebagai bersemangat regionalisme (iqlimiyah) yang menjadi penghalang persatuan dan kesatuan (Versteegh, 1997:196). Sementara itu, di beberapa negara Arab, bahasa amiyah dinilai sebagai salah satu unsur penting bagi penegasan identitas nasional (wathaniyah).

PENUTUP

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Di jaman jahiliah atau pra-Islam masyarakat memiliki bermacam-macam dialek akibat perbedaan tempat tinggal dan kebutuhan sosial-budaya masing- masing kabilah, (2) Pada gilirannya, dipelopori oleh kabilah Quraisy yang memiliki kekuasaan politik, ekonomi dan agama, seluruh kabilah Arab dapat merumuskan lingua franca yang dijadikan bahasa lintas kabilah, (3) Lingua franca antarkabilah Arab di jaman pra-Islam itu adalah bahasa fusha. Meskipun demikian dialek-dialek kabilah masih diakui keberadaannya, dan tidak disebut sebagai lahn atau penyimpangan bahasa, (4) Setelah datangnya Islam, masyarakat Arab lebih suka menggunakan bahasa fusha yang digunakan oleh Al-Qur’an dan hadis Nabi, dalam rangka makin memperkokoh persatuan antarmereka, (5) Sejak jaman Nabi Muhammad dan para sahabat Khulafaur Rasyidin sudah ditemui fenomena lahn atau penyimpangan berbahasa dalam bentuknya yang paling sederhana, yaitu kesalahan dalam i’rab, (6) Sejak dilakukannya ekspansi Islam ke luar jazirah Arab dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan orang ajam (non-Arab) maka terjadi penyimpangan bahasa yang semakin meluas, tidak saja dalam bahasa lisan tetapi juga bahasa tulis, (7) Untuk mengantisipasi meluasnya lahn itu mulai diletakkan dasar-dasar tata bahasa Arab (nahw), (8) Munculnya ilmu nahwi itu tetap tidak kuasa membendung perkembangan lahn sehingga melahirkan dialek-dialek (lokal) baru yang otonom yang disebut bahasa amiyah dengan kaidah-kaidahnya sendiri, (9) Pada jaman moderen di dalam masyarakat Arab gejala diglosia menjadi hal yang harus diterima, dengan adanya dua ragam bahasa Arab yang memiliki perbedaan cukup siginifikan sehingga menimbulkan berbagai masalah dalam berbagai bidang, (10) Karena bahasa amiyah dianggap lebih mudah, fleksibel dan aktual dibanding bahasa fusha maka timbullah seruan untuk menggunakannya dan meninggalkan bahasa fusha, (11) Tetapi seruan ini memperoleh perlawanan sengit dari sebagian masyarakat (bahkan jumlahnya mungkin lebih besar) yang mendukung pelestarian bahasa fusha sebagai bahasa agama dan bahasa persatuan, (12) Untuk mengatasi masalah itu perlu dilakukan perbaikan dalam hal pembelajaran bahasa Arab secara umum, khususnya mengenai penyajian tata bahasa Arab fusha yang lebih disederhanakan, memperbaiki strategi dan media pembelajarannya, memperbanyak buku- buku bacaan sederhana untuk anak dalam berbagai bidang dalam bahasa fusha, dan lain sebagainya. Wallahua’lam.

DAFTAR RUJUKAN

Aisyah, A. R. 1971. Lughatuna wa-1 Hayat. Mesir: Dar al-Ma’arif.

Al-Hajj, K. 1967. Fi: Falsafat al-Lughah. Beirut: Dar al-Nahar.

Al-Rafi’i, M. S. 1974. Tarikh Adab al-Arab. Juz 1. Beirut: Dar al-Kitab al- Arabi.

Ar-Rajihi, A. 1979. Fiqh al-Lughah fi-l Kutub al-Arabiyah. Beirut: Dar al- Nahdhah.

Farihah, A. 1955. Nahw Arabiyah Muyassarah. Beirut: Dar al-Tsaqafah.

Faris, I. 1963. Fiqh al-Lughat wa Sunan al-Arab fi: Kala:miha. Beirut: Muassasah Badran.

Husain, T. 1952. Fi-1 Adab al-Jahili. Mesir: Dar al-Ma’arif.

Kholisin. 2003. Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu. Jurnal Bahasa dan Seni, Tahun 31, Nomor 1, Februari 2003.

Versteegh, K. 1997. The Arabic Language. Edinburgh: Edinburgh Univer- sity Press.

Wafi, A. W. Tt. Fiqh al-Lughah. Mesir: Dar al-Nahdhah

Wafi, 1983. A1-Lughah wa-l-Mujtama’. Jeddah: Syarikat Maktabat Ukadz.

Ya’kub, Emil Badi’. 1982. Fiqh al-Lughat al-Arabiyah wa Khasha:isuha. Beirut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah.BAHASA ARAB FUSHA DAN AMIYAH SERTA
PROBLEMATIKANYA
Achmad Tohe
Abstract: In modern Arab societies, the fusha and amiyah may be seen as a phenomenon of diglossia. The same phenomenon occurred in ancient Arab societies during the pre-Islamic periods, i.e., between dialects lo- caux of Arab tribes and the fusha as a lingua franca for cross-tribal com- munication. The difference is that dialects locaux in the pre-Islamic pe- riod was not regarded as misappropriation of the fusha or the standard language, but it was the amiyah for it. Today, the diglossia in modern Arab societies causes many crucial problems leading to emerging at- tempts to negate one another.
Key words: diglossia, Arabic dialects, fusha, amiyah.
Bahasa Arab telah melalui sejarah formatif dan perkembangan yang panjang. Masyarakat Arab pra Islam terdiri dari beberapa kabilah dan memiliki sejumlah ragam dialek bahasa (al-lahaja:t al-Arabiyah al-qadi:mah) yang berbeda-beda akibat perbedaan dan kondisi-kondisi khusus yang ada di masing-masing wilayah (Wafi, 1983:119). Berbagai dialek itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu al-Arabiyat al-bai:dah (bahasa Arab yang telah punah) dan al-Arabiyat al-ba:qiyah (bahasa Arab yang masih lestari). Al-Arabiyat al-bai:dah mencakup dialek-dialek bahasa Arab bagian utara Jazirah Arab dan sebagian dialek selatan. Sedangkan al- Arabiyat al-ba:qiyah adalah dialek yang dipergunakan dalam qashidah (bahasa puisi) jaman jahiliah atau pra-Islam, bahasa yang dipergunakan di dalam Al-Qur’an, dan bahasa Arab yang dikenal sampai hari ini (Ya’kub, 1982:118).
Achmad Tohe adalah Dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
Al-Arabiyat al-ba:idah dikenal dengan sebutan Arabiyat al-nuqu:sy (bahasa Arab prasasti) karena ragam bahasa ini tidak pernah sampai kepada kita kecuali melalui prasasti-prasasti yang belakangan ditemukan secara luas, dari Damaskus sampai wilayah Al-‘Ula di bagian utara Hijaz. Beberapa dialek yang tergolong al-Arabiyat al-ba:idah ini, misalnya, adalah dialek al-tsamudiyah, al-shafawiyah, dan al-lihyaniyah (Ya’kub, 1982:118-119).
Al-Arabiyat al-ba:qiyah adalah dialek yang selanjutnya disebut dengan al-Arabiyah, bahasa Arab seperti yang dikenal dan dipergunakan dalam pelbagai suasana formal hingga hari ini di berbagai belahan negara Arab. Dialek ini merupakan gabungan dari berbagai dialek yang berbeda, sebagian yang dominan berasal dari bagian utara jazirah Arab dan sebagian yang lain dari daerah selatan. Ragam bahasa inilah yang sekarang digunakan dalam berbagai tulisan berbahasa Arab, pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme. Dialek ini sudah tersebar luas di seluruh jazirah sejak masa pra- Islam dan menjadi lingua franca bagi masyarakat multikabilah.
Kedudukan bahasa Quraisy ini semakin kukuh sejak turunnya Al- Qur’an. Dialek ini terus berkembang seiring meningkatnya intensitas interaksi masyarakat Arab dari berbagai kabilah melalui pasar-pasar mereka yang sekaligus dijadikan pasar festival seni dan sastra. Pasar-pasar jaman pra-Islam seluruhnya berjumlah delapan, dan yang sangat terkenal sebagai ajang unjuk kebolehan para sastrawan dalam bidang puisi dan pidato adalah ukadz, majannah, marbad, dzulmajaz dan khaibar (Ya’kub, 1982:120).
Pertemuan dan interaksi antaranggota berbagai kabilah melalui perjalanan, perdagangan, dan festival seni dan sastra telah melahirkan sebuah lingua franca, bahasa pergaulan bersama (al-lughat al- musytarakah) yang dijadikan medium komunikasi lintas kabilah. Berbagai karya sastra di jaman ini menggunakan bahasa bersama itu sehingga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap kualitas sastrawan dan karyanya. Penilaian itu tentu akan sulit dilakukan jika masing-masing menggunakan bahasa lokalnya.
Ada sejumlah pandangan mengenai proses terbentuknya lingua franca antarberbagai kabilah yang memiliki berbagai dialek lokal itu: Pertama, pandangan bahwa di antara berbagai dialek kabilah itu, dialek Quraisy adalah yang paling fasih, dominan dan dipahami oleh berbagai kabilah di seluruh jazirah pada masa pra-Islam (Faris, 1963:52). Dialek Quraisy mengungguli dialek-dialek lain dan menjadi bahasa sastra lintas kabilah. Karena itu tidak mengherankan jika Al-Qur’an diturunkan menggunakan dialek Quraisy, dan Muhammad Saw yang diutus sebagai rasul juga berasal dari kabilah ini (Wafi, tt.:112). Kedua, pandangan bahwa dominasi dialek Quraisy terhadap dialek-dialek lain hanya terjadi di jaman pra-Islam, tetapi tidak demikian setelah datangnya Islam. Dominasi itu karena tempat tinggal kabilah Quraisy, Mekkah, menjadi tempat pelaksanaan ibadah haji, kota dagang dan pusat kesatuan politik yang otonom terhadap kekuatan-kekuatan lain. Kekuasaan politik, ekonomi dan agama itu memperkokoh dialek Quraisy di hadapan dialek-dialek lain (Husain, 1952:133-136). Ketiga, pandangan yang tidak mengakui dialek Quraisy sebagai lingua franca atau bahasa bersama bagi seluruh kabilah Arab. Menurut Al-Rajihi, asumsi bahwa dialek Quraisy adalah lingua fran ca bagi seluruh kabilah Arab hanya untuk mengagungkan kabilah Muhammad Saw sebagai rasul. Sebagai bukti, masyarakat Hijaz, dan suku Quraisy adalah salah satunya, cenderung meringankan bacaan hamzah, sedangkan kabilah lain membacanya dengan jelas. Sementara itu, pembacaan hamzah secara jelas di dalam warisan puisi pra-Islam maupun dalam qira:at (macam-macam cara membaca) Al-Qur’an lebih banyak ditemui dibanding pembacaannya yang lemah atau ringan (Al- Rajihi, 1973:119-121).
Terlepas dari ketiga pandangan di atas, hasil kajian-kajian kebahasaan menunjukkan bahwa; (1) di jazirah Arab selain dialek-dialek lokal, juga ditemui sebuah bahasa bersama lintas kabilah yang digunakan dalam karya- karya para sastrawan, digunakan di pasar-pasar dan perayaan-perayaan mereka, (2) ketika Islam datang, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa bersama itu agar dimengerti oleh seluruh kabilah, (3) di dalam bahasa Al- Qur’an ternyata didapati tidak hanya dialek Quraisy melainkan juga dialek kabilah-kabilah lain, seperti Hudzail, Tamim, Hamir, Jurhum, Midzhaj, Khatz’am, Qais ‘Aylan, Balharits bin Ka’b, Kindah, Lakhm, Judzam, Al-Aus, dan Al-Khazraj Thayyi’. Bahkan, ada yang mengatakan di dalam Al-Qur’an ditemukan lebih kurang lima puluh dialek, (4) dialek Quraisy adalah yang paling dominan di dalam Al-Qur’an berdasarkan kesepakatan para linguis, dan sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa jika terdapat perbedaan pendapat mengenai wahyu (ayat Al-Qur’an) yang hendak ditulis maka hendaknya ditulis dengan dialek Quraisy karena, menurut Rasul, Al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa ini (Ya’kub, 1982:124-126).
Sejak kedatangan Islam, kedudukan bahasa bersama (lingua franca) itu makin kokoh. Persepsi masyarakat mengenai ragam bahasa Arab pun mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya mereka menganggap bahasa Arab Al-Qur’an dan bahasa lokal sebagai setara, berikutnya penghargaan dan perhatian lebih ditujukan kepada bahasa bersama yang nota bene digunakan Al-Qur’an. Sebagai bahasa agama, di samping keunggulan obyektif yang dimiliki, bahasa Arab Al-Qur’an dianggap lebih pantas untuk digunakan. Sejak saat itu, tampak antusiasme yang besar dari masyarakat untuk mendalami dan mengkaji bahasa Al-Qur’an, bahasa bersama yang dinisbahkan kepada suku Quraisy itu.
Seiring dengan waktu, bahasa Arab Al-Qur’an dijadikan bahasa baku bagi seluruh kabilah di Jazirah Arab. Ratifikasi tata bahasa Arab didasarkan pada bahasa Al-Qur’an itu di samping fakta-fakta bahasa yang tersebar diberbagai karya para sastrawan. Lambat laun muncul asumsi bahwa bahasa yang baik adalah bahasa Al-Qur’an, dan yang berbeda darinya dianggap sebagai kelas dua, atau bahkan menyimpang.
Sadar atau tidak, pada gilirannya bahasa kabilab Quraisy menjadi patokan kebakuan dan pembakuan bahasa. Upaya penggiringan untuk hanya menggunakan bahasa Al-Qur’an yang nota bene adalah bahasa Quraisy memunculkan sejumlah masalah. Masyarakat yang berasal dari kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memiliki kesiapan dan kemampuan menggunakan bahasa Al-Qur’an secara baik dan benar. Akibatnya, terjadi sejumlah kesalahan dan fenomena penyimpangan bahasa ketika masyarakat mulai menggunakan bahasa Arab fusha. Praktik kesalahan dan penyimpangan berbahasa itu disebut lahn.
Istilah lahn ini dikenakan awalnya pada kesalahan dan ketidaktaatan pada i’rab, yaitu perubahan bunyi akhir kata karena perubahan kedudukannya dalam kalimat. Benih-benih lahn mulai muncul sejak jaman Nabi Muhammad Saw berupa perbedaan luknah (logat, cara berbicara) di kalangan sahabat. Misalnya, Bilal yang berbicara dengan logat Habasyi, Shuhaib dengan logat Romawi, Salman dengan logat Persia, dan seterusnya (Al-Rafi’i, 1974:234-5). Istilah lahn itu baru muncul setelah kedatangan Islam dan setelah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Qur’an menjadi bahasa baku. Nabi Muhammad diceritakan pernah memberikan peringatan keras terhadap orang yang melakukan lahn, yang diduga sebagai praktik lahn pertama (Kholisin, 2003:4).
Sejak dilakukan penaklukan ke luar jazirah Arab, seperti Romawi dan Persia, praktik lahn makin tak terelakkan. Permasalahannya semakin kompleks ketika masyarakat Arab mulai mencampuradukkan bahasa mereka dengan apa yang didengar dari bahasa orang-orang yang terarabkan (muta’arrabin) di negeri-negeri taklukan (AI-Rafi’i, 1974:235-7). Praktik lahn tidak hanya terjadi dalam bahasa lisan tetapi juga mulai merembet pada bahasa tulis, terutama sejak masa Umar bin Khatthab. Fenomena lahn ini makin meluas sejak dilakukannya penukilan buku-buku berbahasa Romawi dan Qibtiyah (Mesir) ke dalam bahasa Arab, dalam surat menyurat, dan lain sebagainya (Al-Rafi’i, 1974:238).
Maraknya praktik lahn tak pelak melahirkan kekhawatiran akan rusaknya kualitas dan orisinalitas bahasa Arab baku. Dalam kerangka mengantisipasi hal itu, Abu-1 Aswad al-Duali meletakkan dasar-dasar sintaksis bahasa Arab (usu:l al-nahw). Masyarakat umum yang peduli dengan kemurnian bahasa, tergerak untuk mempelajari tata bahasa, dan mengharuskan anak-anak mereka untuk dengan sungguh-sungguh juga mempelajarinya (Al-Rafi’i, 1974:239).
Ilmu Nahwu mulai berkembang luas, dan diajarkan di masjid-masjid. Tidak terbatas pada orang Arab asli, disiplin ilmu ini juga dipelajari oleh orang-orang non-Arab (mawa:li: dan muta’arribun) yang tinggal di negeri Arab. Ketersebaran ilmu ini, pada tingkat tertentu, telah mengeliminir lahn di kalangan masyarakat rendahan, semisal pekerja (muhtarifi:n) dan orang- orang pasar (ahl al-aswa:q). Oleh karena itu, ilmu nahwu dikenal sebagai milik para budak (mawa:li:) (AI-Rafi’i, 1974:239).
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa masyarakat Arab, terutama kalangan atas dan bangsawannya, memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap gejala lahn. Bagi mereka penyimpangan dan kesalahan berbahasa itu adalah aib. Atas dasar itu, segala upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah ini menjadi bukti keseriusan mereka dalam menjaga dan memelihara orisinalitas bahasa Arab.
Namun demikian, berbagai upaya untuk memelihara kemurnian bahasa itu tak kuasa membendung semakin meluasnya praktik lahn di dalam masyarakat. Interaksi dengan bangsa-bangsa ajam (non-Arab), telah menyebabkan banyak digunakannya kosakata asing (al-dakhil) dalam bahasa Arab yang pada gilirannya berpengaruh pada penggunaan bahasa masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Seiring dengan perkembangan jaman, di tengah masyarakat muncul sebuah ragam bahasa Arab yang disebut bahasa Arab amiyah di samping bahasa fusha yang telah mereka warisi sejak jaman pra-Islam.
Kemunculan bahasa amiyah ini telah melahirkan sejumlah problematika yang mendasar di kalangan masyarakat Arab. Tulisan ini akan mengkaji sejarah munculnya bahasa amiyah itu dan menjelaskan berbagai masalah yang menyertai dualisme bahasa -antara fusha dan amiyah- di kalangan masyarakat Arab.
Munculnya Bahasa Amiyah
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahasa Arab baku adalah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Qur’an dan nabi Muhammad Saw. Bahasa ini selanjutnya disebut sebagai bahasa Arab fusha. Hari ini bahasa Arab fusha adalah ragam bahasa yang ditemukan di dalam Al-Qur’an, hadis Nabi dan warisan tradisi arab. Bahasa fusha hari ini digunakan dalam kesempatan- kesempatan resmi dan untuk kepentingan kodifikasi karya-karya puisi, prosa dan penulisan pemikiran intelektual secara umum (Ya’kub, 1982:144). Sedangkan bahasa amiyah adalah ragam bahasa yang digunakan untuk urusan-urusan biasa sehari-hari. Bahasa amiyah ini, menurut kalangan linguis modern, dikenal dengan sejumlah nama, semisal; al-lughat al- amiyah, al-syakl al-lughawi al-da:rij, al-lahjat al-sya’i’ah, al-lughat al- mahkiyah, al-lahjat al-Arabiyah al-amiyah, al-lahjat al-da:rijah, al-lahjat al-amiyah, al-Arabiyah al-amiyah, al-lughat al-da:rijah, al-kala:m al-da:rij, al-kalam al-ami, dan lughat al-sya’b (Ya’kub, 1982:144-145).
Di jaman pra-islam, masyarakat Arab mengenal stratifikasi kefasihan bahasa. Kabilah yang dianggap paling fasih di banding yang lain adalah Quraisy yang dikenal sebagai surat al-Arab (pusatnya masyarakat Arab). Kefasihan bahasa Quraisy ini terutama ditunjang oleh tempat tinggal mereka yang secara geografis berjauhan dengan negara-negara bangsa non-Arab dari segala penjuru. Di bawah kefasihan Quraisy adalah bahasa kabilah Tsaqif Hudzail, Khuza’ah, Bani Kinanah, Ghathfan, bani Asad dan Bani Tamim, menyusul kemudian kabilah Rabi’ah, lakhm, Judzam, Ghassan, Iyadh, Qadha’ah, dan Arab Yaman, yang bertetangga dekat dengan Persia, Romawi dan Habasyah (Al-Rafi’i, 1974:252-253).
Kefasihan berbahasa itu terus terpelihara hingga meluasnya ekspansi Islam ke luar jazirah dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan masyarakat bangsa lain. Dalam proses interaksi dan berbagai transaksi sosial lainnya itu terjadi kesalingpengaruhan antarbahasa. Masyarakat ‘ajam belajar berbahasa Arab, dan masyarakat Arab mulai mengenal bahasa mereka. Intensitas interaksi tersebut lambat laun mulai berimbas pada penggunaan bahasa Arab yang mulai bercampur dengan beberapa kosakata asing, baik dengan atau tanpa proses pengaraban (ta’rib). Pertukaran pengetahuan antarmereka juga berpengaruh pada pertambahan khazanah bahasa Arab khususnya menyangkut hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui masyarakat Arab ketika hidup terisolasi dari bangsa lain. Masyarakat non-Arab juga kerap melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Arab. Fenomena ini kemudian makin meluas melalui transaksi- transaksi sosial, misalnya dalam aktivitas ekonomi di pasar-pasar terutama sejak abad ke-5 H. (Al-Rafi’i, 1974:244-245).
Ragam Bahasa Arab yang digunakan, terutama di pasar-pasar, pada gilirannya mulai menemukan ciri-ciri tersendiri dan meneguhkan identitasnya. “Bahasa pasaran” itu telah menjadi medium komunikasi yang dimengerti oleh berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Berbeda dengan ragam bahasa Arab fusha yang sarat muatan teologis sebagai bahasa agama, ragam bahasa “pasar” ini begitu ringan mengalir tanpa adanya aturan yang rumit yang harus diwaspadai.
Fenomena penyimpangan bahasa (lahn) adalah cikal bakal lahirnya bahasa amiyah, bahkan ia disebut sebagai bahasa amiyah yang pertama. Berbeda dengan dialek-dialek bahasa Arab yang digunakan di sejumlah tempat lokal, bahasa amiyah dianggap sebagai suatu bentuk perluasan bahasa yang tidak alami (Al-Rafi’i, 1974:234).
Bahasa Arab amiyah adalah bahasa yang “menyalahi” kaidah-kaidah orisinil bahasa fusha. Dengan kata lain, bahasa amiyah adalah “bahasa dalam penyimpangan” (lughat fi: al-lahn) setelah sebelumnya merupakan fenomena penyimpangan dalam (sebuah) bahasa (lahn fi: al-Lughat) (Al- Rafi’i, 1974:234). Secara perlahan tapi pasti bahasa amiyah terus berkembang hingga menjelma sebagai bahasa yang otonom dengan kaidah- kaidah dan ciri-cirinya sendiri. Bahasa amiyah di negeri-negeri (taklukan) Islam awalnya adalah lahn yang sederhana dan masih labil karena masyarakatnya masih memiliki watak bahasa Arab yang genuin. Karena itu, di awal kemunculannya, bahasa amiyah di kalangan masyarakat masih mempunyai rentangan antara yang lebih dekat dengan bahasa baku (fusha) sampai pada yang jauh darinya. Contoh daerah yang memiliki bahasa yang masih sangat dekat dengan bahasa baku itu sampai abad ke-3 H antara lain negeri Hijaz, Basrah dan Kufah (Al-Rafi’i, 1974:255).
Selanjutnya bahasa amiyah mulai menyebar di beberapa tempat semisal Syam, Mesir dan Sawad. Di beberapa tempat itu, bahasa Arab fusha sudah menerima kosa kata serapan dari Persia. Romawi, Qibtiyah dan Nabthiyah dalam jumlah yang cukup besar. Karena itu bahasa masyarakat mulai rusak dalam ukuran yang signifikan. Masyarakat mulai mencampuradukkan bahasa asli mereka dengan bahasa-bahasa serapan, tanpa melakukan pemilahan. Di antara kosakata serapan yang paling banyak diambil adalah kata benda (asma:?), sedangkan kata-kata ajektiva sedikit saja yang diadopsi. Banyaknya pengadopsian kata benda itu karena intensitas pemakaiannya lebih tinggi dibanding jenis kata yang lain (Al-Rafi’i, 1974:255).
Diglosia dalam Masyarakat Arab
Diglosia adalah sebuah penamaan yang diberikan pada gejala penggunaan dua ragam bahasa yang -sebenarnya- berasal dari satu bahasa induk dalam sebuah masyarakat pada waktu yang bersamaan. Fenomena diglosia dalam masyarakat Arab -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- sudah terjadi sejak jaman jahili atau pra-Islam. Masing-masing kabilah memiliki bahasa tersendiri di samping lugat musytarakah, sebuah bahasa pergaulan yang dianut oleh berbagai kabilah yang ada. Bahasa bersama (lughat musytarakah) ini lahir sebagai akibat dari hubungan perdagangan antarkabilah, perjalanan menunaikan ibadah haji dan lawatan-lawatan. Komunikasi antarindividu dalam sebuah kabilah cukup menggunakan bahasa kabilahnya sendiri. Tetapi ketika berhubungan dan berkomunikasi dengan anggota kabilah lainnya mereka menggunakan bahasa pergaulan bersama itu (Al-Rajihi, 1973:120). Hingga datangnya Islam fenomena diglosia ini masih terus berlangsung.
Sejak masa Islam dan setelah ekspansi kekuasaannya ke luar Jazirah Arab, fenomena tsunaiyat al-lughah atau diglossie yang semula hanya terjadi antara dialek lokal sebuah kabilah (lahaja:t al-qaba:il) dengan dialek bahasa bersama (al-lughat al-musytarakah), mulai bergeser antara bahasa fusha dengan bahasa amiyah. Diglosia bahasa fusha dan amiyah yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sejak munculnya ragam bahasa yang terakhir pada masa-masa ekspansi Islam yang pertama yaitu sejak terjadinya interaksi antara orang Arab dengan non-Arab (a’a:jim) (Ya’kub, 1982:147).
Di awal kemunculannya bahasa amiyah tidak memiliki ciri-ciri pembeda yang jelas dari bahasa fusha. Setelah beberapa waktu, ragam bahasa ini mulai menampakkan ciri-cirinya dalam hal bunyi, pola, susunan kalimat, sintaksis, cara pengungkapan, dan materi bahasanya secara umum. Mengenai hal itu dijelaskan Al-Jahidz ketika membahas bahasa masyarakat peranakan Arab (muwalladi:n) (Ya’kub, 1982:147).
Fenomena dualisme bahasa ini sempat diberikan penamaan yang kurang tepat, yaitu bilingualisme. Istilah ini mengandaikan adanya dua bahasa yang berbeda pada individu atau kelompok tertentu dalam waktu yang bersamaan dalam sebuah masyarakat. Tetapi sebagian orang menolak penamaan yang terakhir dalam kasus dualisme bahasa Arab fusha dan amiyah. Mereka beralasan bahwa dua ragam bahasa yang digunakan masyarakat Arab bukanlah bahasa yang sama sekali berbeda, seperti bahasa Arab dengan bahasa Perancis atau antara bahasa Jerman dan bahasa Turki. Bahasa fusha dan bahasa amiyah sesungguhnya merupakan ragam-ragam bahasa yang berasal dari satu bahasa induk. Perbedaan keduanya dianggap sebagai perbedaan yang parsial, bukan substansial. Untuk itu, istilah diglosia lebih tepat digunakan dalam kasus di atas (Ya’kub, 1982:145-146).
Fenomena diglosia serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat Arab, melainkan juga di kalangan bangsa-bangsa lain. Diglosia, menurut al-Hajj (1976:245), pada dasarnya merupakan kelanjutan dualisme akal dan perasaan pada manusia. Dalam setiap bahasa selalu ditemui bahasa ‘am dan bahasa fasih, meskipun intensitasnya dapat berbeda satu sama lain.
Diglosia antara bahasa fusha dan amiyah, terutama di dalam masyarakat Arab moderen, ditengarai mempunyai sejumlah dampak negatif Menurut Anis Farihah (Ya’kub, 1982:155) dampak negatif itu telah merambah ke berbagai bidang, antara lain pemikiran, pendidikan, kepribadian, moral, dan kegiatan sastra dan seni.
Dalam bidang pemikiran, pengaruh buruk diglosia itu tampak pada perhatian yang lebih pada bahasa sebagai media ekspresi ketimbang isi/substansi pemikiran ketika seseorang menuliskan gagasan-gagasannya. Waktu mereka banyak tersita “hanya” untuk memikirkan kesahihan (gramatikal) tulisan dan kesesuaiannya dengan aturan-aturan bahasa fusha yang berlaku. Kasus yang sama dialami juga oleh para penyiar, penceramah dan dosen ketika memberikan orasi spontan. Perhatian mereka lebih tercurahkan pada syakl (bentuk formal) bahasa dibanding al-makna (substansi) (Farihah, 1955:135-142).
Dalam bidang pendidikan, pengaruh diglosia terlihat pada lama waktu yang dibutuhkan seorang anak Arab dalam mempelajari bahasa Arab fusha dibanding anak berkebangsaan lain dalam mempelajari bahasanya. Keengganan orang untuk membaca, rumitnya pola-pola bahasa, dan ditinggalkannya bahasa fusha adalah hal-hal yang berpulang pada perbedaan fusha dan amiyah, khususnya tingkat kerumitan bahasa fusha dan fleksibilitas amiyah. Secara umum, masyarakat menganggap bahasa fusha tidak luwes dan kurang bersahabat dengan anak-anak (Farihah, 1955:143- 153).
Dalam bidang moral, diglosia telah mempengaruhi cara orang berperilaku dan bersikap. Dialosia telah melahirkan semacam kepribadian yang pecah (split personality) dan perasaan bersalah. Dalam suasana resmi, masyarakat Arab menggunakan bahasa fusha, sedang dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa amiyah yang selalu dicap dan diberi konotasi buruk (Farihah, 1955:159-163).
Dalam bidang al funun al jami:lah, khususnya drama/teater, diglosia telah dijadikan kambing hitam keringnya kesenian dan kesusasteraan. Tetapi di sisi lain, sebagian seniman dan sastrawan menganggap bahasa fusha kurang ekpresif dan responsif. Para pekerja seni berada dalam sebuah dilema. Di satu sisi, melalui karyanya, mereka dituntut menampilkan realitas kehidupan yang aktual dengan menggunakan bahasa fusha. Tetapi di lain sisi, mereka dihantui kengerian akan cercaan yang bakal diperolehnya jika menggunakan bahasa amiyah (Farihah, 1955:166).
Sikap para Pengkaji terhadap Diglosia
Terdapat perbedaan pandangan antarilmuwan dalam menyikapi diglosia. Secara umum perbedaan pandangan itu dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, pandangan yang menyatakan diglosia sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia. Kedua, pandangan yang menganggapnya sebagai “musibah besar” (Ya’kub, 1982:148). Salah satu bukti yang diajukan pandangan kedua adalah kebingungan berbahasa yang dialami siswa di dalam dan di luar sekolah. Di sekolah, seorang siswa dituntut untuk menggunakan bahasa fusha, sedang di luar sekolah mereka lebih banyak dan lebih menyukai bahasa amiyah.
Siswa baru mulai mempelajari bahasa fusha ketika ia mulai bersekolah. Dalam kehidupan di luar sekolah, mereka jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali menggunakannya. Pada gilirannya, diglosia ini telah menjadi sebab kurangnya siswa menikmati proses belajar-mengajar, dan merasa tidak betah berada di dalam kelas. Di samping itu, mempelajari bahasa fusha membutuhkan waktu yang cukup panjang. Berdasarkan itu, kelompok ini telah menjadikan diglosia sebagai kambing hitam dan faktor penyebab ketertinggalan masyarakat Arab (Ya’kub, 1982:148).
Berangkat dari keprihatinan di atas, maka dalam kelompok yang disebut terakhir ditemukan sejumlah usulan dengan arah yang beragam dalam merespon problematika diglosia di kalangan masyarakat Arab (Ya’kub, 1982:149-150), antara lain: (1) memilih bahasa fusha dan meninggalkan bahasa amiyah, (2) meninggalkan keduanya, dan menggantinya dengan bahasa asing lain yang lebih apresiatif terhadap pengetahuan, kebudayaan dan ekonomi, (3) mengambil kelebihan-kelebihan yang dimiliki bahasa fusha dan amiyah, (4) menciptakan ragam bahasa baru yang disebut dengan al-lahjat al-Arabiyah al-mahkiyah al-musytarakah, atau lughat al- mutaddibin fi: jami:’i al-aqtha:r al-Arabiyah, atau lughat mutsaqqafi:-l Arab, dan (5) memilih bahasa amiyah sebagai pengganti bahasa fusha untuk segala keperluan.
Seruan kepada Bahasa Amiyah
Seruan untuk menggunakan bahasa amiyah sebagai ganti bahasa fusha ini muncul pada tahun 1881, dipelopori oleh seorang berkebangsaan Jerman, Dr. Wilheim Spitta, direktur Dar al-Kutub Mesir saat itu. Seruan itu ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul Qawa:’id al-Arabiyat al-Amiyah fi: Misr (Aisyah, 1971:100). Pada tahun yang sama, majalah Al-Muqtathaf mengusulkan perlunya penulisan ilmiah menggunakan bahasa yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Menurut majalah ini, perbedaan antara bahasa lisan dan tulisan di masyarakat adalah penyebab ketertinggalan mereka. Seruan ini telah memancing kajian dan diskusi yang hangat di kalangan para pemikir (Ya’kub, 1982:151).
Pada tahun 1893, William Willcoks, seorang berkebangsaan Inggris melontarkan pemikiran mengenai lemahnya penemuan ilmiah di masyarakat Mesir karena penggunaan bahasa fusha dalam tulisan dan bacaan mereka. Untuk itu, ia menyarankan agar bahasa fusha ditinggalkan saja karena tingkat kesulitan dan kejumudannnya. Sebagai gantinya, ia menyerukan penggunaan bahasa amiyah.
Seruan serupa juga datang dari J. Seldon Wilmore, orang Inggris lain yang menjadi hakim di Mesir pada tahun 1901 melalui bukunya Al- Arabiyah al-Mahkiyah fi: Misr (Ya’kub, 1982:152). Seruan yang sama juga datang dari beberapa orang lain semisal Iskandar al-Ma’luf, Ahmad Luthfi al-Sayyid, Al-Ab Maru:n Ghisn, Anis Farihah, dan lain sebagainya (Ya’kub, 1982:153).
Secara garis besar, pemikiran-pemikiran yang mendasari berbagai seruan penggunaan bahasa amiyah dan meninggalkan bahasa fusha oleh Ya’kub (1982:154-155) digambarkan sebagai berikut:
Pertama, bahasa fusha adalah bahasa generasi yang telah lewat sehingga tidak mampu mengungkapkan realitas kehidupan mutakhir secara utuh. Berbeda dengan bahasa amiyah yang mudah dan banyak digunakan orang dalam keseharian mereka, bahasa fusha adalah bahasa yang baik pembelajaran maupun pengajarannya dianggap sulit karena tata bahasa dan kosa katanya yang sulit.
Di sisi lain, bahasa amiyah dikenal fleksibel dan lebih terbuka untuk menerima masukan dari bahasa asing secara apa adanya. Hal itu karena bahasa amiyah tidak lagi terikat pada i’rab, menggunakan bahasa yang secara nyata digunakan dalam praktik berbahasa bukan kata-kata yang sudah mati dan ditinggalkan, tidak lagi melestarikan konsep mutara:difa:t (sinomim) dan ad-dhadh (antonim) yang luar biasa banyaknya dan selama ini dijadikan salah satu kelebihan Arab fusha, meniadakan aturan qiyas (analogi) dalam melakukan derivasi kata dan justru membebaskannya dalam rangka mempercepat perluasan dan pertumbuhan bahasa Arab itu sendiri.
Kedua, kenyataan bahwa sebagian masyarakat muslim tidak menggunakan bahasa Arab dalam berbicara dan menulis. Oleh karenanya tidak perlu ada ketergantungan kepada bahasa Arab. Sedangkan bahasa Al- Qur’an, yang selama ini dijadikan alasan untuk tidak meninggalkan bahasa Arab fusha, tetap dilestarikan melalui para pakar agama dan bahasa.
Ketiga, asumsi bahwa berpegang kepada bahasa amiyah lebih efisien dan ekonomis dibanding waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mempelajari bahasafusha dan kaidah-kaidahnya.
Keempat, salah satu faktor penting penyebab ketertinggalan masyarakat adalah perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan. Penggunaan bahasa amiyah adalah solusi bagi ketertinggalan itu secara umum, dan bagi problem diglosia secara khusus, yang pada tingkat tertentu bisa jadi sudah sampai pada yang disebut bilingualisme.
Perlawanan terhadap Seruan Menuju Bahasa Amiyah
Ajakan untuk meninggalkan bahasa fush a dan menggantinya dengan bahasa amiyah memperoleh perlawanan yang tak kalah sengit dari kalangan yang ingin menjaga kelestariam bahasa fusha. Perlawanan itu dilakukan bukan semata-mata untuk menjaga warisan kebudayaan Arab tetapi juga untuk kepentingan agama dengan memelihara Al-Qur’an dan hadis sebagai rujukan utama Islam yang menggunakan bahasa fusha.
Kelompok pendukung bahasa fusha menyatakan bahwa seruan kepada bahasa amiyah membawa bahaya yang sangat besar. Di antara bahaya itu menurut Y a’kub (1982:169-170):
Pertama, seruan itu akan menghancurkan khazanah intelektual Arab dan tidak menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh ulama Arab terdahulu. Jika bahasa am iyah diberlakukan maka lambat laun bahasa fush a, termasuk di dalamnya Al-Qur’an dan Hadis, tidak akan dipahami lagi. Kasus yang hampir sama dialami oleh masyarakat di Inggris. Sebagian besar orang Inggris hari ini tidak mampu lagi memahami bahasa yang digunakan Shakespeare yang baru meninggal pada abad ke-17, apalagi bahasa orang-orang sebelumnya. Sedangkan masyarakat Arab hari ini masih sangat mungkin memahami kasidah-kasidah puisi Imri’il Qays dan rasail Al-Jahidz. Dalam hal ini, bahasa Arab dianggap lebih apresiatif dibanding bahasa Inggris.
Kedua, jika bahasa amiyah digunakan maka masyarakat Arab harus menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa itu. Jika penerjemahan itu dilakukan maka akan sebagian besar nuansa Al-Qur’an yang berbahasa Arab fusha itu akan hilang.
Ketiga, bahasa amiyah tidak dapat dijadikan pegangan karena di dalam dirinya terdapat begitu banyak ragam dan perbedaan. Masing-masing masyarakat dan tempat memiliki bahasa amiyah sendiri. Kesulitan terjadi ketika harus memilih bahasa mana yang akan dijadikan sebagai bahasa bersama.
Keempat, jika masing-masing kelompok masyarakat tetap bersikukuh dengan dialek lokalnya, maka hal itu tentu akan sangat melemahkan hubungan antara kelompok masyarakat Arab yang satu dengan yang lain. Bahasa fusha telah terbukti menjadi perekat yang efektif, bahkan salah satu yang terpenting, untuk menghindari terjadinya perpecahan masyarakat. Bahasa fusha telah menjadi simbol kesatuan masyarakat Arab itu sendiri. Kesatuan bahasa di kalangan mereka jauh lebih kuat dan bersifat mengikat daripada kesatuan politik. Hal itu tercermin dalam kasus, sebagai contoh, runtuhnya daulah Bani Abbasiyah. Meskipun saat itu Bani Abbasiyah terpecah ke dalam negara-negara kecil, maka bahasa fushalah yang tetap merekatkan semua elemen masyarakat Arab kala itu.
Di era Paskakemerdekaan, negara-negara Arab bersepakat mengenai perlunya Pan-Arab (qawmiyah) dan menjadikan bahasa fusha sebagai bahasa nasional. Atas dasar itu, maka penggunaan dialek-dialek lokal (amiyah) dianggap sebagai bersemangat regionalisme (iqlimiyah) yang menjadi penghalang persatuan dan kesatuan (Versteegh, 1997:196). Sementara itu, di beberapa negara Arab, bahasa amiyah dinilai sebagai salah satu unsur penting bagi penegasan identitas nasional (wathaniyah).
PENUTUP
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Di jaman jahiliah atau pra-Islam masyarakat memiliki bermacam-macam dialek akibat perbedaan tempat tinggal dan kebutuhan sosial-budaya masing- masing kabilah, (2) Pada gilirannya, dipelopori oleh kabilah Quraisy yang memiliki kekuasaan politik, ekonomi dan agama, seluruh kabilah Arab dapat merumuskan lingua franca yang dijadikan bahasa lintas kabilah, (3) Lingua franca antarkabilah Arab di jaman pra-Islam itu adalah bahasa fusha. Meskipun demikian dialek-dialek kabilah masih diakui keberadaannya, dan tidak disebut sebagai lahn atau penyimpangan bahasa, (4) Setelah datangnya Islam, masyarakat Arab lebih suka menggunakan bahasa fusha yang digunakan oleh Al-Qur’an dan hadis Nabi, dalam rangka makin memperkokoh persatuan antarmereka, (5) Sejak jaman Nabi Muhammad dan para sahabat Khulafaur Rasyidin sudah ditemui fenomena lahn atau penyimpangan berbahasa dalam bentuknya yang paling sederhana, yaitu kesalahan dalam i’rab, (6) Sejak dilakukannya ekspansi Islam ke luar jazirah Arab dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan orang ajam (non-Arab) maka terjadi penyimpangan bahasa yang semakin meluas, tidak saja dalam bahasa lisan tetapi juga bahasa tulis, (7) Untuk mengantisipasi meluasnya lahn itu mulai diletakkan dasar-dasar tata bahasa Arab (nahw), (8) Munculnya ilmu nahwi itu tetap tidak kuasa membendung perkembangan lahn sehingga melahirkan dialek-dialek (lokal) baru yang otonom yang disebut bahasa amiyah dengan kaidah-kaidahnya sendiri, (9) Pada jaman moderen di dalam masyarakat Arab gejala diglosia menjadi hal yang harus diterima, dengan adanya dua ragam bahasa Arab yang memiliki perbedaan cukup siginifikan sehingga menimbulkan berbagai masalah dalam berbagai bidang, (10) Karena bahasa amiyah dianggap lebih mudah, fleksibel dan aktual dibanding bahasa fusha maka timbullah seruan untuk menggunakannya dan meninggalkan bahasa fusha, (11) Tetapi seruan ini memperoleh perlawanan sengit dari sebagian masyarakat (bahkan jumlahnya mungkin lebih besar) yang mendukung pelestarian bahasa fusha sebagai bahasa agama dan bahasa persatuan, (12) Untuk mengatasi masalah itu perlu dilakukan perbaikan dalam hal pembelajaran bahasa Arab secara umum, khususnya mengenai penyajian tata bahasa Arab fusha yang lebih disederhanakan, memperbaiki strategi dan media pembelajarannya, memperbanyak buku- buku bacaan sederhana untuk anak dalam berbagai bidang dalam bahasa fusha, dan lain sebagainya. Wallahua’lam.
DAFTAR RUJUKAN
Aisyah, A. R. 1971. Lughatuna wa-1 Hayat. Mesir: Dar al-Ma’arif.
Al-Hajj, K. 1967. Fi: Falsafat al-Lughah. Beirut: Dar al-Nahar.
Al-Rafi’i, M. S. 1974. Tarikh Adab al-Arab. Juz 1. Beirut: Dar al-Kitab al- Arabi.
Ar-Rajihi, A. 1979. Fiqh al-Lughah fi-l Kutub al-Arabiyah. Beirut: Dar al- Nahdhah.
Farihah, A. 1955. Nahw Arabiyah Muyassarah. Beirut: Dar al-Tsaqafah.
Faris, I. 1963. Fiqh al-Lughat wa Sunan al-Arab fi: Kala:miha. Beirut: Muassasah Badran.
Husain, T. 1952. Fi-1 Adab al-Jahili. Mesir: Dar al-Ma’arif.
Kholisin. 2003. Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu. Jurnal Bahasa dan Seni, Tahun 31, Nomor 1, Februari 2003.
Versteegh, K. 1997. The Arabic Language. Edinburgh: Edinburgh Univer- sity Press.
Wafi, A. W. Tt. Fiqh al-Lughah. Mesir: Dar al-Nahdhah
Wafi, 1983. A1-Lughah wa-l-Mujtama’. Jeddah: Syarikat Maktabat Ukadz.
Ya’kub, Emil Badi’. 1982. Fiqh al-Lughat al-Arabiyah wa Khasha:isuha. Beirut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *