UPAYA MENUMBUHKAN SELF-CONFIDENCE BERBICARA BAHASA ARAB MAHASISWA MELALUI GRUP WHATSAPP

42 Lihat

UPAYA MENUMBUHKAN SELF-CONFIDENCE BERBICARA BAHASA ARAB MAHASISWA MELALUI GRUP WHATSAPP

Halimatus Sa`diyah Pusat Pengembangan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: halimamamaliem@gmail.com

Abstract

This research study is focused on how efforts to foster self-confidence speak Arabic through Whatsapp groups in PKPBA UIN Maliki Malang? The purpose of the study is to describe efforts to foster self-confidence in PKPBA UIN Maliki Malang students in speaking Arabic through Whatsapp groups. The positive results that contributed to this research are positive things that can be used by educators in the use of Whatsapp group as an effort to foster confidence for students to speak Arabic, train students to dare to speak Arabic, and become one of the source of thought for speaking skills learning strategies in PKPBA UIN Maliki Malang. Based on the above objectives, this research is a qualitative type with data collection techniques: observation, and documentation. While the data is descriptive and analyzed inductively. From this research, a finding was found that self-confidence in students to speak Arabic can be grown with the use of Whatsapp groups.

Abstrak

Kajian penelitian ini adalah berfokus pada bagaimana upaya menumbuhkan selfconfidence berbicara bahasa Arab mahasiswa melalui grup Whatsapp di PKPBA UIN Maliki Malang? Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan upaya menumbuhkan self-confidence pada mahasiswa PKPBA UIN Maliki Malang dalam berbicara bahasa Arab melalui grup Whatsapp. Hasil positif yang menjadi kontribusi dari penelitian ini adalah hal positif yang dapat dimanfaatkan oleh para pendidik dalam penggunaan grup Whatsapp sebagai salah satu upaya menumbuhkan rasa percaya diri bagi para mahasiswa untuk berbicara bahasa Arab, melatih mahasiswa untuk berani berbicara dengan bahasa Arab, dan menjadi salah satu sumber pemikiran strategi pembelajaran Maharah al-Kalam di PKPBA UIN Maliki Malang.

Kata Kunci: Self-Confidence, Berbicara Bahasa Arab, Grup Whatsapp

PENDAHULUAN

Secara psikologis, mahasiswa berada pada tingkat remaja fase akhir yaitu usia 18 sampai 25 tahun. Pada fase ini, seorang mahasiswa atau remaja berada di tingkat intelektual yang tinggi, cerdas dan kritis ketika berpikir serta memiliki perencanaan dan cepat ketika bertindak. Secara fisik, mahasiswa sudah tidak merasa terganggu dengan kondisi fisiknya. Rasa tanggung jawab, mandiri dan memiliki kebebasan emosional. Dengan demikian, yang dimaksud dengan mahasiswa adalah individu yang tergolong pada usia 18 sampai 25 tahun yang sedang aktif menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi dengan tingkat kecerdasan yang tinggi serta emosional yang bebas. Mahasiswa akan memiliki tingkat stress tersendiri ketika mengalami perubahan tingkatan dari siswa di sebuah sekolah menengah atas menuju kampus. Penyebab utama dari terjadinya hal tersebut adalah adanya perbedaan antara lingkungan di sekolah dan di dunia kampus. Mahasiswa diperkenalkan dengan struktur kampus yang bersifat kelompok sebaya dan penilaian prestasi secara individu. Kampus sebagai tempat menimba pengalaman baru bagi seorang mahasiswa menjadi masa penemuan intelektual dan pertumbuhan kepribadian. Pada fase ini pulalah, mahasiswa mulai memupuk kepercayaan dirinya (self-confidence) dalam mengungkapkan pendapat, ide dan gagasan kepada sekitarnya. Bagi mahasiswa yang belum memiliki rasa percaya diri, maka mahasiswa tersebut perlu diingatkan bahwa percaya diri hanya akan tumbuh dari dalam dirinya sendiri dan hanya mahasiswa itu sendiri yang dapat mengatasinya, karena percaya diri akan berpengaruh pada tingkat prestasinya.1 Remaja yang memiliki self-confidence, dapat diketahui melalui beberapa karakter yang muncul, yaitu memiliki keyakinan pada diri sendiri, optimis, mandiri, mempunyai sikap tenang, positive thingking, tidak takut gagal, berani mencoba, mencintai-menghargai diri sendiri, betanggung jawab dan suka berkomunikasi. Upaya untuk menumbuhkan kepercayaan diri dapat dilakukan dengan terus memberikan motivasi agar remaja tersebut tetap berupaya

1 Siti Nur Deva Rahman Hubungan Tingkat Rasa Pede Dengan Hasil Belajar. (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. 2010). h,13.

menerima kelebihan dan kekurangannya serta memberikan reward atas keberhasilannya. Pendidikan di perguruan tinggi membuat kreatifitas mahasiswa untuk terus berkualitas. termasuk dalam bidang komunikasi. Mahasiswa adalah intelektual muda yang akan menjadi pemimpin negeri ini kelak. Kemampuan berkomunikasi menjadi tumpuan bagi mahasiwa sebagai modal di masyarakat. Masyarakat akan menerima mahasiswa yang mampu mengkomunikasikan berbagai hal dengan baik. Bekal ilmu komunikasi juga terkait dengan pengenalan pada bahasa asing. Bahasa asing akan menjadikan mahasiswa sebagai seseorang yang memiliki nilai lebih dibandingkan orang atau alumnus lain yang tidak memiliki ketrampilan pada bahasa asing. Bagi mahasiswa muslim, maka bahasa Arab akan menjadi “senjata” pengetahuan serta ilmu yang bermanfaat ketika mahasiswa tersebut berada di dunia kerja. Sebuah instansi atau lembaga akan menerima calon pegawainya yang memiliki kemampuan istimewa dibandingkan calon pegawai yang biasa-biasa saja. Dalam dunia kerja, mahasiswa yang memiliki penguasaan bahasa Arab, akan berpeluang lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya. Perusahaan akan berpikir ulang jika menolak calon pegawai yang memiliki kemampuan unggul di bidang lainnya. Realita inilah yang mengantarkan bahasa Arab tetap mempunyai peminat yang terus bertambah. Mahasiswa yang berketrampilan bahasa Arab secara aktif (berbicara) akan membantunya dalam mengenal agama, budaya dan identitas kepribadiannya. Meskipun demikian, berbicara dengan bahasa Arab tidaklah mudah bagi para penutur non-Arab. Selain problem intern pada bahasa Arab yang memang berbeda dengan bahasa Indonesia, kesulitan juga dikarenakan faktor ekstern yang terkait dengan rasa takut salah dan tidak percaya diri. Pembelajaran bahasa Arab sama halnya dengan pembelajaran bahasa yang lainnya. Konsistensi, inovasi dan kreatifitas harus tetap dikembangkan.

Mahasiswa zaman sekarang berada pada zaman millenial yang teridentifikasi dengan kesehariannya selalu bersama smart-phone. Sehingga, pembelajaran bahasa Arab akan tetap eksis sesuai dengan perkembangan zaman. Keberadaan media sosial yang ada menjadi alat komunikasi alternatif yang dapat dimanfaatkan bagi para dosen dalam pembelajaran. Dengan menggunakan media komunikasi yang sudah familiar di kalangan mahasiswa, maka tidak akan ada alasan bahwa belajar bahasa Arab itu sulit. Meskipun demikian, tidak sedikit mahasiswa yang baru belajar bahasa Arab itu kehilangan percaya diri dan merasa cemas ketika diminta untuk berbicara dengan bahasa Arab. Kondisi ini pula yang dirasakan oleh para mahasiswa PKPBA UIN Maliki Malang. Berdasarkan hasil wawancara dengan mahasiswa, bagi mereka berbicara dengan bahasa Arab bagaikan uji nyali dan dibutuhkan keberanian ekstra agar kalimat yang diungkapkan dapat lancar tersampaikan serta tidak menimbulkan rasa malu apabila di dalam komunikasi tersebut terdapat kesalahan kaidah bahasa. Problem kurangnya kepercayaan diri yang terjadi pada mahasiswa PKPBA UIN Malang dalam berbicara dengan bahasa Arab, membutuhkan alternatif solusi untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan mengupayakan tumbuhnya self-confidence mahasiswa berbicara bahasa Arab melalui grup Whatsapp. Kegiatan berkomunikasi secara grup atau berkelompok dengan menggunakan fasilitas aplikasi yang ada di smart phone mereka, maka akan memposisikan mahasiswa untuk ikut aktif berkomunikasi secara berkala. Apabila hal tersebut dilakukan secara intens, maka tanpa disadari dan tanpa paksaan, mahasiswa akan menyampaikan pendapatnya di dalam grup dengan rasa penuh percaya diri. Penelitian-penelitian yang terkait dengan media Whatsapp telah banyak dikaji, baik yang terkait dengan pembelajaran bahasa Arab ataupun yang terkait dengan pembelajaran pada umumnya. Diantaranya adalah penelitian yang dibahas oleh Edi Suryadi, dkk tentang pengaruh Whatsapp pada kedisiplinan peserta didik dalam belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Analis Kimia YKPI Kota Bogor. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya penggunaan Whatsapp yang intens di kalangan para siswa di sekolah tersebut tahun 2016/2017, sehingga yang ingin diketahui oleh peneliti adalah tingkat kedisiplinan siswa dalam belajar.

Hasil dari penelitian ini adalah Whatsapp memberikan pengaruh yang kuat terhadap siswa untuk belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu dikarenakan mayoritas siswa memakai Whatsapp ketika pembelajaran, sehingga fokus dan kedisipinan siswa melemah.2 Penelitian yang juga mengkaji tentang media Whatsapp adalah penelitian yang dilakukan oleh Kartikawati pada tahun 2017. Penelitian tersebut menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok control. Penelitian ini berfokus pada ada atau tidaknya pengaruh implementasi metode GI (Group Investigation) dengan Whatsapp Messenger sebagai mobile learning terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dalam penelitian tersebut menjelaskan, bahwa kemampuan berpikir kritis pada kelompok eksperimen lebih baik daripada pada kelompok control.3 Selain dua penelitian di atas, terdapat pula penelitian yang dikaji oleh Prajana. Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa pembelajaran dapat memanfaatkan Whatsapp, karena Whatsapp mendukung adanya pembelajaran berbasis elektronik atau elearning.4 Berkaitan dengan pembelajaran berbasisis elektronik/E Learning selain Whatsapp ada juga yang bernama Google Classroom yang tentunya penggunaannya sedikit berbeda dengan Whatsapp. Kalau Google Classroom peserta harus mempunyai akun email Gmail yang aktif5 dan ini berbeda dengan Whatsapp yang hanya memerlukan nomor HP yang aktif saja. Tidak hanya itu perbedaannya juga terletak banyaknya fitur yang ada di Google Classroom terhubung dengan Google Form yang didalamnya banyak sekali

2 Suryadi, Edi; M. Hidayat Ginanjar, M. Priyatna. Penggunaan Sosial Media Whatsappdan Pengaruhnya Terhadap Disiplin Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Di Smk Analis Kimia Ykpi Bogor). Edukasi Islam, Jumal Pendidikan Islam Vol.07, No. 1. DOI: 10.30868/EI.V7I01.211. 2018. h, 1-20

3 Kartikawati, Sulistyaning dan Hendrik Pratama. Pengaruh Penggunaan WhatsApp Messenger Sebagai Mobile Learning Terintegrasi Metode Group Investigation Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis. JUPITER (Jurnal Pendidikan Teknik Elektro) E-ISSN: 2477-8354. Volume 2, Nomor 2. 2017. h, 33-38.

4 Prajana, Andika. Pemanfaatan Aplikasi Whatsapp dalam Media Pembelajaran di UIN ar-Raniry Banda Aceh. Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Volume 1, Nomor 2, Oktober 2017. h, 122-133. 5 Hasan, Hasan. “ تعليم اللغة العربية بوسيلة Google Classroom” 1 (2019): 96–104. Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab dan Pembelajarannya di Era Milenial http://proceedings.uinsby.ac.id/index.php/KPBA/article/view/151

fitur-fitur yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran khususnya bahasa Arab.6
Selain itu, penelitian yang terkait dengan Whatsapp adalah penelitian yang dilakukan oleh Khusnaini, dkk pada tahun 2017. Fokus dari penelitian ini adalah deskripsi dari urgensi penggunaan aplikasi Whatsapp pada pembelajaran Mata Kuliah Penilaian Pendidikan Fisika. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan, bahwa Whatsapp memberikan pengaruh yang positif pada keaktifan diskusi mahasiswa, baik ketika tatap muka di dalam kelas maupun pembelajaran jarak jauh atau daring.7 Adapun penelitian Drakel terkait prilaku mahasiswa dalam menggunakan media sosial, disebutkan bahwa sebagian besar mahasiswa Fispol Unsrat senantiasa menggunakan media sosial, baik ketika terjadi proses belajar mengajar maupun diluar KBM serta sebagian tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa adalah bersumber dari google.com, sedangkan perilaku mahasiswa yang menggunakan media social di dalam kelas, terlihat cenderung memilih duduk di pojok dan paling belakang.8 Dari berbagai penelitian yang diperoleh keterangan bahwa Whatsapp dan media social dapat dipergunakan di dalam proses pembelajaran atau di luar pembelajaran pada mata kuliah atau mata pelajaran selain bahasa. Adapun penelitian ini, berfokus pada usaha pengajar atau dosen dalam menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa untuk berbicara dengan bahasa asing (bahasa Arab) dengan menggunakan media grup Whatsapp yang tidak asing bagi kalangan mahasiswa.

Self-Confidence E. Koswara menyebutkan, “Teori Maslow menjelaskan adanya lima kebutuhan pada manusia, yaitu kebutuhan pokok fisiologis, kebutuhan terhadap rasa aman, kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, dan dua

6 Dony Ahmad Ramadhani. “Evaluasi Pengajaran Bahasa Arab Dengan Media Online Di Perguruan Tinggi.” PBA STIQ Amuntai 2, no. 1 (April 2019). https://jurnal.stiqamuntai.ac.id/index.php/al-miyar/article/view/105. https://doi.org/10.35931/am.v2i1.105

7 Khusaini, Agus Suyudi, Winarto dan Sugiyanto. Optimalisasi Penggunaan WhatsApp dalam Perkuliahan Penilaian Pendidikan Fisika. JRKPF UAD Vol.4 No.1. 2017. h, 1-6

8 Drakel, Wahyuni Januarti Maria Heny Pratiknjo, Titiek Mulianti. Perilaku Mahasiswa dalam Menggunakan Media Sosial di Universitas Sam Ratulangi Manado. HOLISTIK, Tahun XI No. 21A / Januari-Juni 2018. h, 1-19.

kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan harga diri dan kebutuhan penghargaan dari orang lain. Self-confidence (rasa percaya diri), kemandirian, perasaan edukatif dan kebebasan indvidu adalah bagian-bagian dari penghargaan terhadap harga diri. Sedangkan kedudukan, nama baik, prestise, mampu serta produktif adalah bagian-bagian yang terkait dengan penghargaan orang lain”.9 Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa mahasiswa adalah remaja yang berada pada masa remaja akhir. Pada masa ini, remaja melewati berbagai fase psikologi sejak masa anak-anak. Bagi remaja, salah satu aspek kepribadian yang penting dalam dirinya adalah self-confidence atau rasa percaya diri. Pembentukan kematangan rasa percaya diri remaja juga terjadi adanya rangsangan eksternal remaja itu sendiri.10 Selain bertambahnya fungsi intelektual, remaja juga mengalami pertambahan pada fungsi social. Dalam kondisi ini, remaja dilanda pada keadaan jiwa yang bimbang, ragu dan situasi kecemasan ketika harus berinteraksi dengan orang lain.11 L. Crow & A.Crow menambahkan, “Seharusnya keragu-raguan itu tidak boleh disimpan pada diri, termasuk pada diri remaja. Apabila keraguan atau kecemasan itu disimpan, maka dapat menimbulkan ketidakpercayaan pada diri sendiri. Jika sebaliknya, maka remaja tersebut dapat mempunyai pandangan yang jernih kepada orang lain. Dan apabila kepercayaan diri itu tetap ada pada diri remaja, maka remaja tersebut mampu memiliki kekuatan dan semangat”.12 Remaja Muslim hendaknya juga belajar untuk menjadi remaja yang kuat, tangguh dan percaya diri seperti Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu: عن أبي هريرة رض ي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كل خير، اخرص على ماينفعك، واستعن بالله ولاتعجز، وإن أصابك ش يء فلا

9 E. Koswara. Teori-Teori Kepribadian Psikoanalisis, Behaviorisme, Humanistik. (Bandung: PT. Eresco. 1991). h, 124-126.

10 Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja. (Jakarta: Raja Grafindo. 2005). h, 71-74

11 L. Crow dan A. Crow. Psychology Pendidikan. (Yogyakarta: Nur Cahaya. 2005). h, 166.

12 L. Crow dan A. Crow. Psychology Pendidikan …… h, 30.

فإن لو تفتح عمل الشيطان.” (أخرجه ، ر الله وماشاء فعل ّ ولكن قل: قد ، تقللو أني فعلت كان وكذا وكذا مسلم)

Dari hadits diatas, Nabi menjelaskan bahwa: Allah SWT lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah, meskipun antara mukmin lemah dan mukmin kuat terdapat kelebihan pada keduanya (HR. Muslim). Sehingga, self-confidence adalah salah satu kebutuhan penghargaan terhadap diri, termasuk kebutuhan yang dibutuhkan bagi seorang remaja. Dengan menjaga rasa percaya diri tersebut, remaja akan menjadi mahasiswa yang selalu bersemangat. Bagi remaja Muslim, menjaga rasa percaya diri dapat diperoleh dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.

Berbicara Bahasa Arab Di dalam interaksi sosial pada kehidupan, manusia membutuhkan bahasa. Bahasa tersebut yang menjadi wasilah (alat atau perantara) komunikasi antar individu. Komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan tulis maupun lisan. Dengan jalinan komunikasi, manusia dapat dengan mudah mengerti orang lain, dapat menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, ide dan informasi kepada orang lain. Bahasa yang dipergunakan manusiapun beragam, termasuk bahasa Arab. Menilik pada sejarah, maka bahasa Arab adalah bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Semit. Sebagian besar penuturnya adalah penduduk negeri Afrika Utara dan Timur Tengah. Bahasa Arab memiliki karakter tersendiri, seperti dari segi bentuk huruf, penulisan huruf yang ditulis dari kanan, pelafalan huruf, adanya dialek yang variatif serta ciri-ciri lain yang menjadi khas dari bahasa Arab. Ciri khusus itulah yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa internasional, selain dikarenakan umat Islam juga wajib mempelajarinya, karena bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam, yaitu alQuran dan hadits. Indonesia, sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk muslim yang tidak sedikit, mengantarkan bahasa Arab sebagai bahasa yang menarik untuk dikuasai, dipelajari dan diajarkan. Dalam hubungan negara, bahasa Arab juga menjadi bahasa penting di Indonesia, yaitu sebagai alat jalinan hubungan internasional dan diplomasi. Hal ini dikarenakan bahasa Arab telah menjadi salah satu bahasa resmi di PBB yang diresmikan pada tahun 1973.

Pengenalan bahasa Arab di Indonesia telah masuk pada dunia pendidikan, baik formal maupun non-formal. Seperti di taman pendidikan alquran, diniyah, pondok pesantren dan madrasah-madrasah. Pengajaran bahasa Arab tersebut juga sampai pada tingkat perguruan tinggi, yaitu mahasiswa. Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi pemahaman dan penanaman kepada generasi muda tentang pentingnya bahasa Arab di kancah dunia internasional. Pada ketrampilan berbicara, mahasiswa diajak untuk lebih aktif dalam menyampaikan pikirannya secara lisan. Kegiatan ini sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa, bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang harus dipraktikkan, dilatihkan dan dibiasakan, bukan hanya sekedar teori. Sehingga, dengan komunikasi lisan dan pembicaraan dua arah, bahasa akan menampakkan fungsinya sebagai sarana komunikasi.13 Ketrampilan dalam berbicara asing dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menyampaikan ide, pikiran, perasaan, pertanyaan dan ungkapan-ungkapan yang diekspresikan secara secara lisan kepada orang lain dalam bentuk kalimat-kalimat bukan bahasa ibunya. Hal ini termasuk dalam bahasa Arab, ketrampilan berbicara dalam bahasa Arab disebut dengan maha>rah al kala>m .

Grup Whatsapp Pembelajaran berbasis eletronik atau disebut dengan e-learning merupakan aktifitas belajar dengan menggunakan fasilitas internet serta memanfaatkan piranti elektronik yang berfungsi sebagai alat atau media dalam proses belajar mengajar. Adapun definisi dari e-learning, diantaranya, bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan piranti dan rangkaian elektronik, seperti internet yang difungsikan untuk membantu dalam penyampaian konten pelajaran, bimbingan maupun interaksi antara pendidik dan peserta didik.14

13 Ahmad Fuad Effendy. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. (Malang: Misykat. 2009). h, 139.

14 Munir. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. (Bandung: Alfabeta. 2009). h, 114.

Definisi di atas menunjukkan bahwa e-learning tidak dapat terlepas dari hardware atau perangkat keras, semisal laptop, komputer bahkan smartphone. Di samping itu, e-learning juga terkait dengan jaringan internet yang merupakan salah satu infrastruktur dalam pembelajaran berbasis elektronik ini. Terkait dengan infrastruktur, fasilitas teleconference juga dibutuhkan jika diinginkan adanya komunikasi jarak jauh dengan bertatap muka langsung. 15 Dengan melakukan e-learning, juga mengisyaratkan bahwa pembelajaran dapat dilakukan dimana saja, kapanpun dan dapat menembus batas ruang dan waktu. Sehingga, interaksi di dalam kelas, antara guru dan siswa atau dosen dengan mahasiswa dalam pembelajaran dengan menggunakan IT ini menjadi berkurang. Dalam hal ini, disebutkan bahwa kata elektronik dalam e-learning adalah cara mendigitalkan materi pembelajaran agar tersimpan dalam bentuk elektronik yang dapat membantu pelajar dalam peningkatan kualitas penyelesaian tugas belajar. Adanya media pembelajaran adalah sebagai alat untuk membantu prses belajar mengajar. Tidak semua media pembelajaran dapat dipergunakan pada setiap materi atau tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik harus tepat ketika memilih dan memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Dari pendapat para pakar pendidikan, media pembelajaran diartikan sebagai berbagai alat yang dapat memberikan dorongan, rangsangan dan motivasi bagi peserta didik, sehingga menimbulkan keinginan untuk terus belajar.16 Efektifitas dalam sebuah pembelajaran, juga dapat dipengaruhi oleh media pembelajaran yang dipergunakan secara tepat. Dengan penggunaan media pembelajaran secara inovatis dan kreatif dapat membantu peserta didik dalam penyerapan materi, peningkatan performance, dan penerimaan proses belajar yang lebih banyak. Prosentase tingkat pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dimiliki oleh peserta didik adalah lebih besar pada mereka yang menggunakan visual (mata) dan pengalaman secara langsung daripada yang menggunakan indera yang lain.17

15 Anitah, Sri. Media Pembelajaran. (Surakarta: LPP UNS dan UNS Press. 2011). h, 127.

16 Maksudin. Media Pembelajaran Bahasa Arab. Jurnal Al-`Arabiyah. Vol. 2, No.l. 2006. h, 2 17 Soemarto, Soenjoyo Dirjo. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pokok

Pikiran. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003). h, 75.

Hamid, dkk menjelaskan, “Pemanfaatan terhadap penggunaan media, maka akan menjadi salah satu pendorong dan penyemangat peserta didik dalam proses belajar dan menuntut ilmu. Para peserta didik menyambut pembelajaran dengan senang dan suka hati. Kondisi inilah yang mampu menjadikan situasi belajar lebih terpatri dalam benak peserta didik”. Dengan demikian, peran media dalam pembelajaran sangat penting, karena media mampu menarik perhatikan peserta didik dan menjadikan proses pembelajaran terpusat pada siswa atau mahasiswa (student centered).18 Perkembangan internet sampai saat ini di Indonesia, hampir separuh masyarakat Indonesia telah menjadi pengguna internet. Harga internet yang tidak lagi mahal, menjadikan konsumennya terus mengalami peningkatan. Apalagi, hal ini didukung dengan adanya smartphone yang semakin canggih. Sehingga, kebutuhan masyarakat terhadap internet juga meningkat. Pada tahun 2016, data menyebutkan, bahwa pelajar yang telah memiliki akses internet sebesar 69,8 persen.19 Menurut Hadi, “Whatsapp adalah salah satu bagian dari smartphone yang digunakan dalam pembelajaran berbasis teknologi atau disebut dengan elearning. Aplikasi Whatsapp mempermudah pengiriman pesan dengan dasar blackberry messenger tanpa ada biaya pesan atau SMS. Pengaktifan Whatsapp itu dengan menggunakan fasilitas koneksi internet. Fasilitas yang terdapat dalam Whatsapp adalah komunikasi secara online, pengiriman file, tukar menukar foto, video dan audio atau recorder”.20 . Ada enam indikator pada penggunaan Whatsapp, yaitu kelompok diskusi, share lokasi, Whatsapp Web, pengiriman undangan dan informasi serta telephon. Chatting dengan menggunakan Whatsapp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu japri (jaringan pribadi) dan grup. Japri adalah komunikasi dengan Whatsapp antara dua individu saja, sedangkang grup adalah pengiriman pesan kepada satu kelompok atau komunitas. Dalam sebuah pembelajaran,

18 Hamid, Abdul dkk. Pembelajaran Bahasa Arab (Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. (Malang: UIN Malang Press. 2008). h, 170.

19 Aji, Singgih Hutomo. Pengembangan Aplikasi Layanan Pesan Instan Whatsapp Sebagai Sumber Belajar Mandiri Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Pokok Efek Rumah Kaca Peserta Didik Kelas Xi Sma N 1 Purwokerto. Skripsi. (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 2018). h, 5.

20 Hadi, Baskoro. Pemanfaatan Aplikasi Whatsapp Pada Pembelajaran Berbasis Blended Learning Di SMKN 1 Sragen. Makalah. Sragen. 2016. h, 7.

Whatsapp grup inilah yang sering dipergunakan, terutama pada materi pembelajaran yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antar anggota kelas. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini berjenis kualitatif, yaitu penelitian yang dipergunakan ketika peneliti adalah instrumen yang utama dan fokus terhadap interaksi manusia dengan tafsiran dan bahasa. Jenis ini dianggap sesuai dengan penelitian ini, karena memiliki sifat yang alami dan adanya keutuhan yang cocok dengan kajian penelitian, yakni upaya menumbuhkan self-confidence pada mahasiswa PKPBA UIN Maliki Malang dalam berbicara bahasa Arab. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan pengamatan berperan serta (participant observation) dan catatan dokumen. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan triangulasi, data tersebut didapatkan dengan sifat deskriptif.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini menghasilkan beberapa data yang dapat dipaparkan, yaitu terkait dengan cara penggunaan grup Whatsapp, sebagai upaya atau usaha dosen dalam memupuk rasa percaya diri mahasiswa PKPBA UIN Maliki dan data tentang self-confidence mahasiswa dalam berbicara bahasa Arab melalui grup Whatsapp. Pada data tentang upaya atau usaha dosen dalam memupuk rasa percaya diri mahasiswa PKPBA UIN Maliki ditemukan rencana pembelajaran yang disiapkan dosen sebelum, ketika pembelajaran dan setelah pembelajaran maha>rah al kala>m dipelajari. Hal ini menjadikan mahasiswa siap belajar dan lebih aktif dalam pembelajaran. Adapun data yang terkait dengan selfconfidence mahasiswa dalam berbicara bahasa Arab melalui grup Whatsapp, terdapat kesesuaian antara kepercayaan diri mahasiswa dengan penggunaan grup Whatsapp dalam pembicaraan menggunakan bahasa Arab. Rencana pembelajaran ketrampilan berbicara bahasa Arab yang digunakan sebagai upaya menumbuhkan self-confidence dengan media grup Whatsapp adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan sebelum pembelajaran:

a. Membuat grup WA

b. Setiap mahasiswa di add di grup

c. Menyepakati aturan, yaitu setiap anggota grup harus menyampaikan apapun dalam bentuk lisan dalam grup dan bagi mahasiswa yang tidak menyampaikan inspirasinya lewat grup, maka harus menyampaikannya lewat tatap muka langsung di depan kelas d. Tema atau topic pembicaraan disepakati dalam pertemuan di dalam kelas sebelumnya 2. Kegiatan ketika pembelajaran: a. Dosen mengawali aktifitas kalam di grup dengan salam dan apersepsi atau pertanyaan sederhana b. Setiap mahasiswa merespon c. Pembicaraan dimulai dengan tema yang telah disepakati,misalkan tentang daily activities (الحياة اليومية), maka setiap mahasiswa akan menjelaskan apa yang dikerjakan seharian tersebut. 3. Kegiatan di akhir pembelajaran: a. Setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya atau menyanggah pembicaraan temannya dalam grup b. Dosen memberikan evaluasi, reward (misalkan berupa ucapan mumtaz) bagi mahasiswa yang kalamnya meningkat dan bagus dan saran pembenahan bagi mahasiswa yang masih mengalami salah pengucapan ataupun tata bahasanya Terkait dengan rasa percaya diri, dengan menggunakan grup Whatsapp, komunikasi bahasa Arab mahasiswa PKPBA semakin aktif, terbukti adanya ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimat yang intens disampaikan dalam grup. Ungkapan serta kalimat yang disampaikan pun bervariasi. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan self-confidence pada mahasiswa. Meskipun, masih didapati mahasiswa yang perlu diingatkan untuk menyampaikan pendapatnya dalam grup dengan bahasa Arab, karena masih ada mahasiswa yang menyampaikannya dengan bahasa Indonesia. Dalam penelitian ini, juga ditemukan adanya kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan grup Whatsapp sebagai sarana yang membantu dalam pertumbuhan maharah al-kalam mahasiswa. Kelebihan tersebut, antara lain: rasa malu atau takut mahasiswa dalam berkomunikasi mulai terminimalisir, karena komunikasi lisan terjalin tanpa tatap muka langsung dan komunikasi

lisan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Namun, kekurangan dari grup Whatsapp ini adalah kendala secara teknis, seperti paketan data internet yang kurang, sumber wifi yang mengalami gangguan, kekuatan memori HP yang minim atau adanya anggota kelas yang belum mempunyai program Whatsapp. Meskipun demikian, kekurangan-kekurangan tidak menjadi kendala yang berarti apabila para mahasiswa telah memiliki tekad yang kuat, bahwa mereka harus berani berbicara bahasa Arab dengan terus mencoba dan berlatih. Sehingga, dengan sendirinya, mahasiswa menyadari pentingnya grup Whatsapp, yang menjadikan mereka turut memberikan solusi jika terjadi kendala teknis.

SIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa self-confidence dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan, terutama dilakukan oleh diri sendiri. Termasuk rasa percaya diri kepada mahasiswa. Selanjutnya, upaya yang dilakukan dosen adalah bersifat motivasi dari luar yang juga akan memberikan pengaruh terhadap mahasiswa, terutama pada pola berbahasa. Dengan menyesuaikan psikologi mahasiswa dan teknologi yang sedang disukai di mahasiswa, Whatsapp adalah salah satu media yang mempermudah mahasiswa dalam mempraktekkan bahasa Arab. Tanpa ada rasa takut, mahasiswa dalam grup Whatsapp leluasa untuk mencoba menyampaikan pendapatnya secara lisan. Sehingga, maha>rah al kala>m dalam bahasa Arab tidak menjadi beban bagi mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Aji, Singgih Hutomo. Pengembangan Aplikasi Layanan Pesan Instan Whatsapp Sebagai Sumber Belajar Mandiri Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Pokok Efek Rumah Kaca Peserta Didik Kelas Xi Sma N 1 Purwokerto. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 2018 Anitah, Sri. Media Pembelajaran. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press. 2011.

Drakel, Wahyuni Januarti Maria Heny Pratiknjo, Titiek Mulianti. Perilaku Mahasiswa dalam Menggunakan Media Sosial di Universitas Sam Ratulangi Manado. HOLISTIK, Tahun XI No. 21A / Januari-Juni 2018.

E. Koswara. Teori-Teori Kepribadian Psikoanalisis, Behaviorisme, Humanistik. Bandung: PT. Eresco. 1991.

Effendy, Ahmad Fuad. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat. 2009.

Hadi, Baskoro. Pemanfaatan Aplikasi Whatsapp Pada Pembelajaran Berbasis Blended Learning Di SMKN 1 Sragen. Makalah. Sragen. 2016.

Hasan, Hasan. “ تعليم اللغة العربية بوسيلة Google Classroom” Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab dan Pembelajarannya di Era Milenial http://proceedings.uinsby.ac.id/index.php/KPBA/article/view/151. 2019.

Hamid, Abdul dkk. Pembelajaran Bahasa Arab (Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media. Malang: UIN Malang Press. 2008.

Kartikawati, Sulistyaning dan Hendrik Pratama. Pengaruh Penggunaan WhatsApp Messenger Sebagai Mobile Learning Terintegrasi Metode Group Investigation Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis. JUPITER (Jurnal Pendidikan Teknik Elektro) E-ISSN: 2477-8354. Volume 2, Nomor 2, Edisi September 2017DOI 10.12928/jrkpf.v4i1.6462 Khusaini, Agus Suyudi, Winarto dan Sugiyanto.

Optimalisasi Penggunaan WhatsApp dalam Perkuliahan Penilaian Pendidikan Fisika. JRKPF UAD Vol.4 No.1 April 2017 DOI: 10.12928/jrkpf.v4i1.6462 L. Crow dan A. Crow. Psychology Pendidikan. Yogyakarta: Nur Cahaya. 2005 Maksudin.

Media Pembelajaran Bahasa Arab. Jurnal Al-`Arabiyah. Vol. 2, No.l. 2006

Munir. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta. 2009

Prajana, Andika. Pemanfaatan Aplikasi Whatsapp dalam Media Pembelajaran di UIN ar-Raniry Banda Aceh. Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Volume 1, Nomor 2, Oktober 2017 DOI: 10.22373/cs.v1i2.1980

Rahman, Siti Nur Deva. Hubungan Tingkat Rasa Pede Dengan Hasil Belajar. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. 2010.

Ramadhani. Dony Ahmad “Evaluasi Pengajaran Bahasa Arab Dengan Media Online Di Perguruan Tinggi.” PBA STIQ Amuntai 2, no. 1 (April 2019). https://jurnal.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-miyar/article/view/105. DOI 10.35931/am.v2i1.105 Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo. 2005.

Soemarto, Soenjoyo Dirjo. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pokok Pikiran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.

Suryadi, Edi; M. Hidayat Ginanjar, M. Priyatna. Penggunaan Sosial Media Whatsappdan Pengaruhnya Terhadap Disiplin Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Di Smk Analis Kimia Ykpi Bogor). Edukasi Islam, Jumal Pendidikan Islam Vol.07, No. 1. DOI: 10.30868/EI.V7I01.211. 2018

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *