Bekal Idul Fitri Berdasarkan Anjuran Rasulullah SAW Oleh Satrio,M.A

213 Lihat

TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU :

BEKAL IDUL FITRI BERDASARKAN ANJURAN RASULULLAH SAW

Oleh : Satrio

Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Mahasiswa Program Doktor UIN STS Jambi.

Tampa terasa besok Kamis 13 / 5 / 2021 kita akan merayakan hari kemenangan setelah satu bulan penuh berjuang menahan haus dan lapar dan segala yang membatalkan ibadah puasa.Kini hari kemenangan itu akan kita sambut dengan penuh gembira setelah penantian panjang dan mempersipkan diri dengan bekal yang di anjurkan Rasulullah SAW .Nah dan bagaimana Idul Fitri tahun ini kita lalui dengan tetap mematuhi anjuran pemerintah karna meningkatnya wabah covid 19 .

 Anas bin Malik ra berkata bahwa orang-orang jahiliyah punya dua hari dalam setiap tahun dimana mereka bermain-main untuk merayakannya. Ketika Rasulullah saw tiba hijrah di Madinah, beliau bersabda: “Dahulu kalian punya dua hari untuk merayakan, lalu Allah menggantinya bagi kalian yang lebih baik, yaitu hari Fithri dan hari Adha. (HR. An-Nasai’)

Kemudian Tentunya hari raya Idul Fithri yang dimaksud itu adalah hari setelah ummat Islam berpuasa satu bulan di bulan ramadhan, hari yang penuh dengan nilai-nilai spiritual dan kebahagiaan. Dari malam hari raya takbiran antar masjid sudah saling sahut, paginya ummat Islam bersama-sama melaksanakan rangkaian ibadah shalat sunnah Idul Fithri, dan setelah itu biasanya masing-masing bersuka cita dengan saling maaf-memaafkan.

Terlebih biasanya di hari itu para keluarga berkumpul, mudik lebaran menjadi agenda nasional hampir-hampir diseluruh pulau yang ada di negeri kita ini, itu semua dimaksudkan agar bisa berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman pada momen hari raya Idul Fithri.Nah di tahun ini karna meningkat dengan tajam wabah covid 19 maka mudik di larang oleh pemerintah pusat,daerah demi menjamin pemutusan mata rantai wabah covid.Maka sholat Id di beberapa tempat lainna ada yang di tiadakan,ada tetap di lanjutkan tapi dengan tetap mematuhi anjuran pemerintah sesuai protokol kesehatan.

 Kita akan bahas Idul Fitri adalah gabungan dari dua kata dalam bahsasa Arab, yaitu id (عيد) dan fithr (فطر). Id itu pada asalnya pecahan dari kata al-aud berarti kembali yang juga bisa berarti berulang karena terjadinya bukan hanya sekali tapi berulang-ulang sedangkan kata fithr berarti makan atau berbuka. Sehingga gabungan dari dua kata ini berarti kembali makan atau kembali berbuka setelah satu bulan lamanya berpuasa di bulan ramadhan.

Walaupun ada sebagian orang yang memaknainya dengan kembali fitrah (suci) atas dasar bahwa fithr diartikan dengan fitrah. Hal demikian boleh juga dibenarkan sebagai doa dan harapan yang dijanjikan oleh Allah swt melalui sabda baginda Rasulullah saw:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan kepada kalian puasa ramadhan dan saya membuat sunnah untuk shalat pada malamnya maka siapa yang berpuasa dan shalat dengan

penuh keimanan dan perhitungann dia akan keluar dan terbebas dari dosanya seperti hari dimana dia dilahirkan oleh ibunya. (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)

Kapan Idul Fithri?

Jika ditanya kapan Idul Fithri maka pasti jawabannya adalah tanggal 1 syawal pada setiap tahun Hijriyah. Namun penetapan kapan 1 syawal itulah yang kadang tidak satu kata, ini sama halnya dengan penentuan kapan 1 ramadhan.

Biasanya di negri kita ini keputusna resmi kapan 1 syawal akan merujuk kepada hasil keputusan sidang itsbat yang dilakukan oleh Kementrian Agama

Republik Indonesia, setelah sebelumnya dilakukan usaha baik secara hitungan ilmu falak (hisab) maupun observasi (ru’yat) diberbagai belahan bumi Indonesia, baik dengan mata kepala telanjang maupun dengan menggunakan alat canggih lainnya.Kapan Idul Fitri menunggu pengumuman resmi dari Mentri Agama RI.Dimana di sana banyak terdapat ahlinya mulai NU,Perti,Muhammadiyah dan ormas lainnya.

Apa Sunnah-sunnah dan  Idul Fithri yang mesti kita lakukan

  1. Takbiran

Allah swt berfirman:        

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Menurut Ibnu Katsir ayat inilah yang menjadi sandaran para ulama fiqih sebagai dalil adanya takbiran ketika ibadah Ramadhan telah berakhir

Makna sempurnakan di sini terdapat dua yaitu pertama sempurnakan bilangan puasamu ,berpuasa itu satu bulan penuh bias saja 29 hari atau 30 hari lalu yang kedua adalah  sempurnakan semangat puasamu maksudnya adalah walaupun Ramadhan sudah selsai tetapi di luar Ramadhan kita tetap juga berpuasa ,lidah kita tetap berpuasa dari hal yang membicarakan orang lain,Di luar Ramadhan kaki kita tetap berpuasa dari hal melangkahkan kaki kita ke tempat yang tidak baik dan setrusnya.

Dalam hadits Rasulullah saw berikut:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ العِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ البِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الحُيَّضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ اليَوْمِ وَطُهْرَتَهُ

Dari Ummu Athiyyah ra berkata: “Kami dahulu diperintahkan untuk keluar

hingga para gadis juga keluar dan perempuan yang sedang haidh pun keluar rumah, mereka berada dibelakang jamaah shalat, mereka bertakbir sebagaimana jamaah lain bertakbir, mereka berdoa dengan doa para jamaah, mereka berharap keberkahan hari itu. (HR. Bukhari)

Sehingga dari malam hari raya pun sudah boleh untuk takbiran, dengan meninggikan suara, baik di masjid-masjid, di rumah-rumah, di jalan-jalan, termasuk yang sedang dalam perjalan mudik; diatas motor, didalam mobil, dalam pesawat terbang, diatas perahu/kapal, , itu semua dilakukan untuk syiar serta memberi tahu masyarakat lain bahwa Ramadhan telah selesai.Tetapi di suaana covid 19 ini karena melonjaknya korban sampai meninggal dunia ini merupakan menjadi perhatian bersama melalui pemerintah.Bahwa Surat edaran dari Gubernur tidak ada takbir keliling ,mudik dan lain sebagainya untuk menekan angka korban wah pandemi ini.Mari banyak melakukan takbir di Masjid ,Surau dan di rumah dengan menjaga 3 M,Memakai masker,Mencuci tangan dan menjaga jarak tentunya agar syiar Idul Fitri dapat dan memutus tali rantai covid bias di realisasikan.

2.Menghidupkan Malam Idul Fithri

Menghidupkan malam Idul Fithri maksudnya adalah tetap mengisinya dengan ibadah-ibadah yang selama ramadhan sudah dibangun, jangan sampai ada kesan bahwa saat matahari terakhir ramadhan terbenam saat itu terbenam jugalah segala kebaikan yang sudah dirajut selama ramadhan.

Membaca Al-Quran, shalat tahajjud, shalat witir, berdzikir, apalagi shalat maghrib berjamah, isyak berjamah dan subuh berjamaah adalah hal tidak boleh hilang seiring bergantinya bulan dari ramadhan menuju syawal.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ تَعَالَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ حِينَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Siapa yang shalat pada malam dua hari raya berharap ridha Allah maka tidakakan mati hantinya pada saat hat-hati manusia lain mati. (HR. Ibnu Majah)

Secara khusus Imam As-Syafi’i berkata:

إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Sesungguhnya akan dikabulkan doa pada lima malam: Malam jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fithri, awal malam bulan rajab dan pada malam nishfu syakban.

Imam As-Syafi’i menambahkan bahwa beliau mendapati kabar bahwa penduduk Madinah pernah ramai-ramai berkumpul di masjid pada malam lebaran, mereka berdoa dan berdzikir kepada Allah swt. Apapun bentuk ibadahnya, lanjut Imam As-Syafi’i, yang jelas beliau menyukainya, walaupun yang demikian bukanlah sebuah kewajiban.

  1. Mandi dan Memakai Pakaian Terbaik

Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat ke tempat shalat, dalilnya adalah hadits nabi

Muhammad saw berikut:

عَنِ ابْنِ عَباَّسٍ قاَلَ:كَانَ رَسُولُ اللهِ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى

Dari Ibnu Abbas raberkata bahwa Rasulullah saw mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Hibban)

Disunnahkan juga untuk mengenakan pakaian yang terbaik di hari itu, khsusunya untuk pakain shalat, baik peci, baju koko/gamis, sarung, celana juga mukenah. Rasulullah saw sendiri melakukan hal yang sama:

كَانَ لِلنَّبِيِّ جُبَّة يَلْبَسُهَا فيِ العِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

Dari Jabir ra bahwa Nabi saw memiliki jubah yang dikenakannya pada saat dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Al-Baihaqi)

Imam As-Syafi’i meriwayatkan sebuah hadits lainnya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةَ فِي كُلِّ عِيدٍ

Bahwa nabi Muhammad saw pada setiap lebaran selalu memakai pakaian hibarah (HR. As-Syafi’i)

4.Pergi dan Pulang Shalat

Disunnahkan untuk mengambil rute yang berbeda antara jalan pergi dan pulangnya. Dasarnya adalah perilaku Rasulullah saw:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Rasulullah saw ketika hari lebaran mengambil jalan yang berbeda (pulan dan pergi) (HR. Bukhari)

Perihal apa alasan nabi Muhammad saw mengambil jalan yang berbeda, memang tidak ditemukan penjelasan khsusus, namun ada beberapa penafsiran, diantara tafsiran itu adalah apa yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi:

  1. Nabi memilih jalan pergi lebih panjang ketimbang jalan pulang karena perginya dinilai lebih utama.
  2. Nabi memilih jalan yang berbeda karena dikedua jalan itu nabi saw bersedekah.
  3. Nabi memilih jalan berbeda karena pada saat pergi nabi sudah menghabiskan semua harta untuk disedekahkan dan pulangnya mengambil jalan yang berbeda agar tidak adalagi yang meminta-minta.
  4. Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk memberikan penghormatan kepada penduduk yang tinggal didua jalan itu.
  5. Nabi mengambil jalan yang berbeda agar kedua jalan itu memberikan kesaksian kepada nabi saw.
  6. Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk mengajari kedua penduduk dan memberikan fatwa kepada mereka.
  7. Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk menakut-nakuti orang munafiq.
  8. Nabi mengambil jalan yang berbeda agar tidak diketahui jalan pulangnya oleh orang-orang munafiq yang mungkin mengintainya untuk menyakiti beliau.
  9. Nabi mengambil jalan yang berbeda untuk memunculkan sifat tafa’ul (optimis) atas perubahan kondisi ke suasana ampunan dan ridha Allah.
  10. Nabi mengambil jalan berbeda karena jalan pertama saat pulang sesak, ramai, dan padat, sehingga beliau pulangnya megambil jalan yang berbeda

  Demikianlah bekal untuk menuju menyambut hari kemenangan di hari yang fitrah ssesuai dengan anjuran Rasulullah yang mesti kita cermati untuk di amalkan agar betul betul setiap apa yang kita kerjakan sesuai tuntunan nabi kita Muhammad SAW.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *