Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Sumatra Barat Akan Gelar Halal Bi Halal Undang Satrio,M.A Dosen STAIN SAR Kepri

157 Lihat

TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Sumatra Barat dalam rangka mempererat silaturahin sesama Civitas Akademika dan keluarga besar FK Kedokteran Unand.Dalam agenda Halal bi Halal kali ini mendatangkan Satrio,M.A Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau juga Mahasiswa Program Doktor UIN STS Jambi.Acara di gelar melalui daring Zoom Meeting pada Hari Jumat 21 / 5 /2021 pukul 09.00 s d 10.30 WIB.

Adapun acara ini langsung Dekan FK Kedokeran Unand Dr.dr.Afriwardi ,SH.Sp.KO,M.A yang menghubungi Satrio,M.A melalui via Whatsap dan di ditinjak lanjuti Wakil Dekan Dr.Hardi,MHID ,PhD.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak/ Ibu Yth,
Dekan FK-UNAND mengundang seluruh civitas akademika; Senat, Guru Besar, Dosen, Koordinator tata Usaha dan Subkoordinator, Tenaga Kependidikan, dan Dharma Wanita FK-Unand
untuk bersama-sama menghadiri Kajian Silaturrahmi Ba’da Idil Fitri (Halal bi Halal) FK-UNAND, yang akan diadakan pada:
Hari/Tanggal : Jumat/ 21 Mei 2021
Waktu : 09.00-10:30 WIB

Melalui Zoom Meeting
Meeting ID : 857 9972 2614
Pascode : 123

atau klik Link Join Zoom Meeting:
https://us02web.zoom.us/j/85799722614?pwd=eVdsYjVWUFNNS3hrUGprejBJWUlFUT09

Tertanda,
Dekan

ISTIQAMAH BAKDA RAMADHAN DALAM UKHUWAH DAN IBADAH

OLEH SATRIO

Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Mahasiswa Program Doktor UIN Sultan Taha Saifudin Jambi

 

Segala puji kita aturkan kehadirat  Allah atas semua nikmat,karunia yang masih bersama kita,semoga senantiasa mampu kita rawat,jaga dan lestarikan di luar bulan Ramadhan sholawat dan salam semoga tetap tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat serta pengikutnya.

Halal bi Halal di identik dengan maaf,Presiden Sukarno ketika menhadapi Belanda bersatulah semua suku seluruh Indonesia,Tetapi ketika Jepang sudah tunggang langgang lintang pukang meninggalkan Indonesia ini sesama  kita cakar cakaran,maka beliau membuat konsiliasi Nasional semua harus hadir memperbaiki umat yang tercabik cabik,Maka Beliau minta ide kepada Wahab KH Hasbullah pimpinan Nahdatul Ulama kira kira yang cocok apa nama acaranya ,Gimana acaranya silaturahim,Silaturahim sudah umum tak ada yang unik biasa saja . Berkelahi haram,bertengkar haram caci maki haram,maka lawan dari haram adalah halal .Makanan yang kita makan ,minuman yang kita munum ragu hati kita tapi kalau sudah ada halal tenang hati kita.Begitu juga Bapak Ibu ketika pergi ke Mekah lalu beli pakain halal halal,Apa maknanya barang Saya ambil ,Uang Saya di ambil setelah ini kita tidak ada sangkut paut lagi HALAL BI HALAL Begitulah agak agaknya HALAL BI HALAL .

Banyak juga sekarang orang tebar maaf palsu,kamu sudah maafkan dia ,sudah,sudah lama kumaafkan ,kenapa tadi nampak sama saya tidak salaman,Saya sudah lama maafkan dia ,tetapi menengok mungka dia mau muntah Saya ,Belum…Maaf artinya bebas,lepas,tapi kalau masih marah berarti belum.

 Kemudian Umat Islam baru saja selesai melaksanakan tugas yang berat yaitu ibadah puasa Ramadhan. Tugas berat itu bukan karena kita tidak makan, minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, tapi karena kita telah menahan hawa nafsu baik pikiran maupun yang bersemayam di hati. Bersyukurlah karena kita dapat melaksanakan ibadah puasa itu dengan baik selama satu bulan penuh dan kita sekarang telah kembali menjadi fitrah.

Pasca Ramadhan bukan berarti kita bebas dari pengendalian hawa nafsu, justru kita diuji sejauh mana kualitas kita di mata Tuhan. Setelah melalui ujian sebulan penuh di bulan penuh berkah, kita setidaknya memiliki beberapa “tugas” yang telah menanti.

Pertama, Kita harus menjaga serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dalam surat AI-Baqaroh ayat 21 Allah berfirman“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu, dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Ayat ini bisa kita jadikan semacam alarm, pengingat bahwa kita ada di dunia ini ada yang menciptakan, melindungi dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya.

Kedua, Kita harus Istiqamah memelihara persaudaraan (ukhuwwah). Setelah kita saling maaf memaafkan (melakukan halal bi halal) kita harus pelihara ukuwah.Ada tiga ukhuwah yang harus kita jaga, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-sesama orang Indonesia), dan ukhuwah basyariyah/insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia). Jika tiga ukhuwah ini sudah membekas di dalam diri seorang pasca ramadhan, maka kita menjadi hamba Allah yang bersaudara, tidak saling menganiaya, tidak saling mengecewakan, tidak saling menghina, tidak saling meneror dan tidak saling membunuh.

Ketiga, Tugas yang ketiga pasca Ramadhan adalah Istiqamah meningkatkan ibadah dan amal shaleh.Ibadah dan amal saleh harus dilakukan secara terus menerus (langgeng) dilakukan secara Mudawamah. Penjabaran dari Ibadah dan amal saleh tentu sanga luas dan beragam. Ibadah kepada Sang Pencipta tentu banyak cara dan bentuknya, dari mulai Shalat, haji dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan amal saleh? Nabi Muhammad SAW, telah memberi contoh kepada kita bahwa amal saleh bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Untuk bramal saleh tidak musti dengan biaya mahal, tidak musti dengan kerja keras, juga tidak musti dengan waktu  khusus. Di era modern dan keterbukaan informasi ini, amal saleh sangat diperlukan dan bisa dilakukan dengan mudah, asal kita mau!

Contohnya, selalulah menyampaikan ucapan yang baik, baik itu ucapan secara langsung yang keluar dari mulut maupun ucapan dalam bentuk tulisan. Kadangkala ucapan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (semisal status media sosial) lebih luas dampaknya karena bisa dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang. Oleh karena itu, selalunya berucap yang baik.

Guru kita, ustadz, kyai atau orang tua kita sering mencontohkan, salah satu implementasi amal saleh adalah mau menyingkirkan kerikil/batu atau apapun yang merintangi jalan. Ini adalah contoh yang maknanya sangat luas. Bisa jadi memang untuk anak kecil, pesan itu bisa dimaknai secara harfiah. Namun bagi manusia dewasa tentu maknanya tidak sebatas memindahkan batu dari tengah jalan ke pinggiran.

Rintangan di jalan bagi seorang polisi bisa dimaknai sebagai kemacetan dan tugas amal salehnya adalah melancarkan jalan raya. Bagi seorang guru, dosen atau ustadz, rintangan bisa dimaknai kebodohan seseorang sehingga tugasnya adalah membagi ilmunya agar seseorang tercerahkan serta terhalang dari rintangan itu. Bagi seorang karyawan atau pegawai, rintangan bisa dimaknai pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan seorang diri, oleh karena itu yang lainnya bisa membantu “menyingkirkan rintangan” itu dengan mengulurkan tangan untuk memberi bantuan atau kerjasama.

Amal saleh selanjutnya yang bisa kita lakukan sehari-hari adalah tersenyum kepada sesama, kepada teman, atasan, bawahan, rekan kerja atau bahkan kepada tamu yang belum kita kenal siapa dia. Dalam Islam, hubungan sesama manusia sangat diperhatikan. Seseorang bisa disebut mulia jika bersikap baik terhadap sesama manusia. Oleh sebab itu senyum nilainya sama dengan bersadaqah.

Sudah tidak diragukan lagi, banyak riwayat yang menceritakan bahwa semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati. Sang pemberi Syafaat itu bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, termasuk tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Bahkan dalam suatu riwayat at-Tirmidzi disebutkan “siapa saja yang mengharapkan Nabi Muhammad pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas”.

Sudahkah kita bersikap demikian? Begitulah sedikit makna amal saleh, tentu masih banyak makna yang bisa kita lekatkan kepadanya. Sekali lagi ramadhan telah berlalu, apakah atsar ramadhan membekas di keseharian kita, itu tergantung dengan kita sendiri.

Apakah puasa kita diterima Allah SWT? mari kita berdoa serta membuktikan diri bahwa kita pantas disebut manusia yang benar-benar kembali fitri dan puasa kita telah menumbuhkan rasa kasih sayang sesama umat manusia.

Suasana hari raya Idul Fitri masih menyelimuti kita. Kebahagiaan dan kegembiraan masih lekat terasa karena setiap muslim merasakan limpahan karunia dan rahmat Allah SWT. Seandainya bukan karena kewajiban untuk masuk kerja, maka suasana tersebut masih berlangsung sebab manusia memiliki kecenderungan untuk memperpanjang masa bahagia.

Namun telah menjadi fenomena umum jika Ramadhan berlalu, maka ketaatan di dalam menjalankan ibadah dan aneka kebajikan menjadi menurun dan melemah. Jumlah jemaah shalat lima waktu dipastikan drastis menurun. Kesemarakan orang-orang dalam berinfak berkurang. Kelembutan hati dan perilaku yang memancar di bulan Ramadhan menjadi sirna.

Padahal kesemua kebiasaan baik tersebut tidak seharusnya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Idealnya kebiasaan baik Ramadhan mampu menghiasi 11 bulan lain di luar Ramadhan, karena perintah shalat berjamaah, berinfak dan berbuat kebajikan serta bersikap lemah lembut dengan sesama manusia adalah akhlak Islam sepanjang zaman. Bahkan semua perilaku kebaikan tersebut merupakan pemberian (minhah) dari Allah SWT guna merepresentasikan diri seorang muslim sebagai hamba terpilih dan contoh yang mudah bagi manusia di sekelilingnya.

Jika kita perdetail, paling tidak terdapat empat kebiasaan (habit) kebajikan yang ditinggalkan oleh madrasah ramadhan, yaitu: puasa di siang hari, shalat sunah di malam hari, membaca Al-Qur’an di sela-sela puasa dan shalat malam, serta mensegerakan diri dalam perbuatan kebajikan. Keempat kebiasaan tersebut jika mampu diistiqamahkan di luar Ramadhan, niscaya akan menjadi akhlak kaum muslim sepanjang zaman.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Istiqomah dalam Ibadah

Hendaknya kita berusaha istiqomah dalam ibadah. Amalan yang sedikit tetapi istiqomah itu lebih baik daripada banyak tetapi hanya sesaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mari kita isi seluruh hidup kita dengan ibadah kepada Allah, berpindah dari satu kebaikan kepada kebaikan yang lain.  Kita bertaqwa kepada Allah kapan pun dan dimana pun kita berada. Jangan sampai saat di bulan Ramadhan kita menjadi seorang yang begitu dekat dengan ketaqwaan, tetapi di luar Ramadhan sangat jauh darinya. Rasulullah bersabda,

اتقي الله حيثما كنت، وأتباع السيئة الحسنة تمحوها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Tirmidzi, hasan shahih) 

 Diantara Cara agar Istiqomah Ibadah

Banyak cara agar kita bisa istiqomah dalam beribadah kepada Allah. Hal yang terpenting adalah menghadirkan dalam hati kita pengagungan terhadap Allah dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Jika hati kita dipenuhi dengan pengagungan terhadap Allah maka kita akan ringan melakukan ibadah dan mudah pula untuk istiqomah mengerjakannya.  Kita melakukan ibadah dengan penuh keikhlasan dan cinta pada Allah, bukan sekedar melepaskan beban kewajiban (ibadah) dari diri kita.

Diantara cara agar kita dapat istiqomah dalam ibadah adalah dengan mencari lingkungan dan teman-teman yang baik. Lingkungan yang baik akan mendukung kita untuk melakukan ibadah. Untuk itu hendaknya kita berusaha selalu dekat dengan masjid. Dekat dengan masjid akan membuat kita rindu dengan ibadah. Menghadiri sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid bagi laki-laki atau menghadiri majelis dzikir/ilmu.

Yang tak kalah penting agar kita bisa istiqomah dalam ibadah adalah dengan banyak berdo’a kepada Allah. Kita berdo’a agar diberi kekuatan dan keistiqomahan dalam ibadah. Diantara do’a yang bisa kita baca adalah do’a yang sering Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR Tirmidzi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *