(Development and Maintenance of Arabic through Education in Islamic Education Institutions in Indonesia) Pengembangan Dan Pemertahanan Bahasa Arab Melalui Pendidikan Di Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia

64 Lihat

(Development and Maintenance of Arabic through Education in Islamic
Education Institutions in Indonesia)
Pengembangan Dan Pemertahanan Bahasa Arab Melalui Pendidikan Di Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia

Sembodo Ardi Widodo
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Email: drsembodo.widodo@uin-suka.ac.id

DOI: 10.14421/almahara.2020.062-03

Abstract
Arabic grew and developed in various parts of Indonesia along with the entry of Islam into the archipelago. The entry of Islam in Indonesia brought Islam’s teachings as contained in Arabic, which was integrated into Islamic law. This research is oriented to describe the development of the Arabic language, spread and maintain it in various educational institutions, both formal and nonformal in Indonesia, and map it anthropologically. This research is library research using a descriptive-qualitative approach. Sources of data in this study come from classical and contemporary books related to the development of Arabic in Indonesia. This research data analysis technique refers to Miles and Huberman’s analysis model, which consists of several stages, starting from data reduction, data presentation, and verification or concluding. The results of this study indicate that the entry of Islam and scholars in Indonesia has contributed significantly to Arabic use. Besides, madrasah, pesantren, and course institutions as formal and non-formal institutions substantially contribute to the spread and maintenance of Arabic in Indonesia. Pesantren emphasizes two development functions, namely the development of a comprehensive academic aspect through various sciences related to Arabic and cultural aspects through the lives of students and kyai in the pesantren. Meanwhile, madrasas tend to play a role in developing and disseminating Arabic in an academic-communicative manner. Meanwhile, learning Arabic in a language village as implemented in Pare Kediri emphasizes the practical aspects of mastering Arabic in everyday life. The Arabic learning process is taught by including language skills, which include listening skills, speaking skills, reading skills, and writing skills. Anthropologically, it is known that the development of Arabic through cultural teaching occurs in Islamic boarding schools and madrasas, which are now included in formal education. Through cultural learning, it occurs in community-managed language villages that fall into the category of non-formal education.
Keywords: Progress, development, development, maintenance, Arabic

Abstrak
Bahasa Arab tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Indonesia seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Masuknya agama Islam di Indonesia membawa ajaran Islam di mana terkandung di dalamnya bahasa Arab yang menyatu dalam syariat Islam. Penelitian ini diorientasikan untuk mendeskripsikan perkembangan bahasa Arab, upaya penyebaran dan pemertahannya di berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non formal di Indonesia sekaligus memetakannya secara antropologis. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini bersumber pada kitab klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Arab di Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model analisis Miles dan Huberman yang terdiri dari beberapa langkah yang dimulai dengan proses reduksi data, penyajian data dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masuknya agama Islam dan ulama di Indonesia turut membawa andil yang besar pada eksistensi penggunaan bahasa Arab. Selain itu, madrasah, pesantren dan lembaga kursus sebagai lembaga formal dan non formal yang memiliki kontribusi yang kuat pada penyebaran dan pemertahanan eksistensi bahasa Arab di Indonesia. Pesantren menekankan pada dua fungsi pengembangan, yaitu pengembangan pada aspek akademis secara komprehensif melalui berbagai ilmu yang terkait dengan bahasa Arab dan aspek budaya melalui kehidupan santri dan kyai di pesantren. Sedangkan madrasah cenderung berperan dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Arab secara akademis-komunikatif. Sementara itu, pembelajaran bahasa Arab di kampung bahasa seperti yang dilaksanakan di kampung Pare Kediri lebih menekankan pada aspek penguasaan bahasa Arab secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajarannya, bahasa Arab diajarkan dengan mencakup unsur keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Adapun secara antropologis, diketahui bahwa pengembangan bahasa Arab melalui teaching cultures terjadi di pesantren dan madrasah yang sekarang ini masuk dalam kategori pendidikan formal, sedangkan lewat learning cultures terjadi di kampung bahasa yang dikelola masyarakat yng masuk dalam kategori pendidikan non-formal.
Kata Kunci: Perkembangan, Pengembangan, Pemertahanan, Bahasa Arab

A. Pendahuluan
Dinamika perkembangan zaman mendorong munculnya persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kunci utama untuk bisa berada di puncak tangga persaingan ini. Sejalan dengan gairah tersebut, maka bahasa asing mempunyai fungsi sebagai alat tranformasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berorientasi untuk mempercepat jalannya proses pembangunan suatu negara. Fungsi bahasa asing juga sebagai alat untuk mentransformasi informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang diimplementasikan dalam dimensi komunikasi akademik. Adanya persaingan global di masa sekarang ini menuntut penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Arab secara aktif bagi semua pemangku kepentingan, baik secara tulisan maupun lisan. Hal tersebut didengungkan dalam upaya untuk mempromosikan, mempublikasikan dan menyebarkan ilmu-ilmu yang menggunakan bahasa Arab seperti halnya tafsir Al-Qur’an dan hadits, fiqh dan ushul-fiqh, tasawuf, dan sejarah perkembangan agama-agama, ataupun bidang keilmuan sains yang ditransformasikan dengan menggunakan bahasa Arab. Konsekuensinya adalah para pelajar, khususnya mahasiswa di negeri ini dituntut mempelajari bahasa Arab guna menunjang kemampuan berbahasa Arab yang baik secara lisan dan tulisan.
Di samping mempelajari bahasa Arab sebagai produk yang telah jadi, penting kiranya untuk mengetahui sejarah perkembangan bahasa Arab yang berkaitan dengan sejarah munculnya bahasa Arab, leksikografi, sejarah ilmu nahwu dan balaghah, ragam bahasa Arab yaitu bahasa fusha dan Amiyah, serta sejarah dan eksistensi pendidikan bahasa Arab di berbagai negara. Dengan mengetahui proses penyempurnaan bahasa Arab yang dilakukan oleh tokoh-tokoh terdahulu, dapat menambah kecintaan dan kekaguman kita dalam mempelajari bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an. Sebagai bahasa Al-Qur’an, bahasa Arab kini memiliki perhatian dalam dunia pendidikan terutama bagi kaum muslimin. Dengan menguasai bahasa Arab dapat menghindarkan kita dari pemahaman yang salah dan parsial akibat kesalahan menerjemahkan dan menafsirkan ajaranajaran agama yang bersumber dari kitab berbahasa Arab. Selain lembaga pendidikan formal yang terus menerus melakukan pengembangan dalam bidang kurikulum bahasa Arab, lembaga-lembaga kursus non formal banyak bermunculan dalam rangka menunjang pendidikan formal. Munculnya lembagalembaga kursus ini juga sebagai sarana bagi masyarakat luas untuk bisa mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab dewasa ini tidak hanya bisa didapatkan di lembaga pendidikan formal layaknya madrasah dan pesantren tetapi juga non formal sebagaimana lembaga kursus yang telah bersemai dengan tawaran beragama metode.
Dalam perspektif lain, bahasa secara sosiologis-antropologis dipakai sebagai media komunikasi dan dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya baik melalui “learning society maupun teaching society”. Artinya bahwa sistem kebahasaan itu harus dipelajari oleh setiap penutur bahasa tertentu. Hal ini dilatarbelakangi karena bahasa tidak serta merta diwariskan secara biologis dari generasi ke generasi berikutnya saja, di mana konvensi bahasa sendiri diturunkan dengan diajarkan dan dipelajari. Di lain sisi, bertahan atau tidaknya suatu bahasa dan kesejarahan bahasa terjadi karena hubungannya dengan tradisi atau etnik tertentu. Atribut kesejarahan ini mengajukan pertanyaan apakah bahasa itu tumbuh atau tidak melalui pemakaian oleh kelompok etnik atau sosial tertentu.3
Terkait dengan perkembangan ajaran agama Islam yang masuk ke berbagai wilayah di Indonesia sendiri sangatlah besar dampaknya terhadap pembelajaran bahasa Arab sampai saat ini. Hal ini bisa kita lihat perwujudannya dengan adanya perhatian terhadap bahasa Arab untuk tetap dihidupkan keberadaannya baik itu di lingkungan pesantren, madrasah, pendidikan formal ataupun non formal. Pesantren dan madrasah itu sendiri merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi basis utama pengembangan bahasa Arab di Indonesia pada tingkat dasar dan atas, selain juga perguruan tinggi untuk tingkat pengembangan lebih lanjut.
Pesantren dan madrasah mempunyai aksentuasi yang berbeda dalam mengembangkan bahasa Arab. Pesantren memerankan dua fungsi pengembangan, yaitu pengembangan dan penyebaran pada aspek akademis secara komprehensif dan aspek budaya, sedangkan madrasah lebih berperan dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Arab secara akademis.
Berdasarkan pada fenomena di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana sesungguhnya perkembangan bahasa Arab, upaya penyebaran dan pemertahanannya di berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non formal di Indonesia. Di awal pemaparannya, penelitian ini akan mendeskripsikan perkembangan bahasa Arab kemudian dilanjutkan dengan pengembangan dan pemertahan bahasa arab di pesantren, madrasah dan lembaga kursus serta ditutup dengan pemetaan teori pendidikan bahasa Arab. Pemaparan ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang memadai dan mampu mengembangkan khazanah keilmuan di bidang studi bahasa Arab.
B. Pembahasan Perkembangan Bahasa Arab
Secara historis, bahasa Arab telah banyak mengalami perubahan dan penyempurnaan. Bahasa Arab dari aspek kemunculannya berasal dari bahasa semit (samiyah). Istilah bahasa Samiyah pertama kali diberikan oleh Scholozer sebagai sebutan bagi sekumpulan bahasa yang dihubungkan kepada salah satu nama anak Nabi Nuh AS yaitu Sam. Kemudian bahasa Arab terus menerus mengalami perkembangan dengan munculnya stsndarisasi bahasa Arab fusha dan kesusasteraannya, serta seiring dengan turunnya Al-Qur’an yang membawa begitu banyak kosakata baru.
Seiring dengan turunnya al-Quran sebagai kitab suci umat Islam bahasa Arab terus mengalami peenyempurnaan terutama dalam bidang tata bahasa. Hal ini dikarenakan terjadi banyaknya lahn di kalangan kaum muslimin, juga dikarenakan terdapat huruf yang memiliki bentuk yang sama sehingga sulit untuk membedakan antara yang satu dengan lainnya, sehingga dilakukan solusi dengan memberikan tanda titik sebagai pembeda huruf yang sama.
Salah satu hal penting dalam perkembangan bahasa Arab yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan saat ini adalah bidang leksikologi. Leksikologi merupakan bagian dari ilmu yang membahas makna kosa kata. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar bahasa Arab fusha tetap terjaga dan tidak punah karena mayoritas pada masa itu hidup secara nomaden, buta huruf dan menyenangi bahasa lisan. Kemudian ilmu perkamusan dimulai oleh Khalil, yaitu suatu tata bahasa terbesar dan sastra abad kedua hijriyah. Dia yang menemukan, membuat teori dan menyusun kamus yang berjudul Al-‘Ain. Dengan adanya kamus ini, maka bahasa fusha dapat tetap terjaga. Karena fenomena sekarang ini menunjukkan bahwa bahasa Arab yang digunakan orang Arab saja dalam kesehariannya adalah bahasa Amiyah (bahasa gaulnya orang Arab) dan bukan lagi bahasa fusha sebagaimana yang kita pelajari sekarang.
Bahasa Arab masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke nusantara ini. Menurut kesimpulan “Seminar Masuknya Islam ke Indonesia di Medan tahun 1963”, Islam masuk ke Indonesia sudah semenjak abad pertama tahun Hijriyah atau antara abad ke 7 dan 8 Masehi. Daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatra, dan setelah terbentuknya Islam maka raja Islam yang pertama berada di Aceh. Bahasa Arab dibawa ke wilayah Nusantara oleh kalangan pedagang muslim dari negeri Arab dan Persia. Keberadaan bahasa Arab di wilayah Nusantara sudah mencapai 12 abad lebih. Selama rentang waktu yang lama itu, bahasa Arab sudah mengalami dinamika pasang surut. Bahasa Arab pernah mewujudkan eksistensinya sebagai bagian yang sngat penting dalam ekspresi dan komunikasi budaya antar suku-suku bangsa di Indonesia.
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila terjadi perpaduan antara bahasa Arab dengan kebudayaan daerah tertentu, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Jawa. Dalam masyarakat jawa terdapat budaya sekaten yang pada awalnya merupakan persembahan sesaji kepada para dewa, disertai dengan mantra-mantra, sekaligus untuk menghormati arwah para leluhur. Namun seiring dengan datangnya Islam, sekaten menjadi perayaan untuk memperingati maulud nabi dan merupakan kepanjangan dari bahasa Arab syahadatain. Selain itu penggunaan kosakata Arab atau bahkan dengan menggunakan kata dalam al Qur’an juga terjadi dalam pemberian nama anak seperti, Ahmad, Zulaikha, Rahman, Rahim, Habibi dan lain sebagainya.
Selain itu, daerah Jambi misalnya, merupakan daerah yang masih mempertahankan bahasa Arab Jawi, Pegon, atau Arab Melayu. Bahkan pemerintah mengharuskan pemakaiannya pada setiap papan nama dan gapura instansi Aksara Arab Melayu selain Aksara Latin-Bahasa Indonesia. Padahal adanya huruf Pegon ini dahulunya adalah tulisan Arab yang diadopsikan ke dalam bahasa Melayu dan masih dipertahankan hingga saat ini. Hal itu menunjukkan bahwa keberadaan bahasa Arab sebagai bahasa agama sudah menyatu dan mendapatkan perhatian dari masyarakat di tanah air. Selain di Indonesia, bahasa Arab juga mulai mendapatkan perhatian dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Filipina dan Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kini bahasa Arab telah menjadi bahasa internasional yang harus diikuti perkembangannya oleh setiap negara, bahkan secara khusus, telah dilakukan berbagai pertemuan tingkat dunia untuk membahas eksistensi bahasa Arab. Indonesia menjadi salah satu pemangkunya.
Di Indonesia, eksistensi bahasa Arab dan huruf Arab pernah menjadi tulisan kebanggaan yang digunakan di daerah kesultanan Islam di Nusantara. Di sisi lain, munculnya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua yang di dalamnya juga mengajarkan bahasa Arab menjadi salah satu wujud perkembangan bahasa Arab di Indonesia. Namun demikian, pada saat memasuki era penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, keadaan tersebut memberi pengaruh negatif pada perkembangan bahasa Arab selanjutnya. Pemerintah kolonial Belanda melakukan upaya untuk melemahkan keberadaan umat Islam di Indonesia dengan mengganti huruf Arab dengan huruf latin dan berusaha secara sistematis melemahkan pengaruh penggunaan bahasa Arab di Indonesia. Pada masa kolonial ini eksistensi bahasa Arab di Indonesia terus mengalami kemerosotan fungsi dan hanya dipertahankan dan dipelajari di berbagai pondok pesantren di Indonesia secara eksklusif.
Pengembangan Dan Pemertahanan Bahasa Arab Di Pesantren
Telaah terkait dengan keilmuan di pesantren tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan peran bahasa Arab di dalamnya. Pesantren merupakan lembaga yang mempertahankan kitab-kitab berbahasa Arab sebagai rujukan dalam pengajaran. Pilihan pesantren dalam mempertahankan penggunaan referensi kitab-kitab klasik menumbuhkan ketertarikan dan kepercayaan masyarakat akan kualitas lulusan. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa ketika referensi yang digunakan berbahasa Arab, tentunya para santri juga dibekali dengan pengetahuan bahasa Arab yang memadai. Sehingga dunia pesantren tetap bertahan di tengah persaingan lembaga-lembaga pendidikan saat ini.
Pondok pesantren juga merupakan lembaga dan wahana pendidikan agama sekaligus sebagai komunitas santri yang “ngaji” ilmu agama Islam. Keberadaan pesantren mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 13 -17 M.,dan di Jawa pada abad ke 15 – 16 M.
Dalam perjalanannya, sejarah telah mencatat pesantren terbagi ke dalam dua jenis poros besar yakni pesantren salaf (tradisional) dan khalaf (modern). Pesantren salaf merupakan lembaga pendidikan yang mempertahankan eksistensi pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau salaf yang kebanyakan berbahasa Arab sebagai inti pendidikan. Sementara itu, pesantren khalaf dirumuskan sebagai lembaga pendidikan Islam ala pesantren yang memasukkan materi atau pelajaran umum yang mengikuti model kurikulum madrasah atau sekolah yang dikembangkan, atau dengan kata lain, ia merupakan pesantren yang menyelenggarakan di dalamnya kurikulum model madrasah atau sekolah umum.
Pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren salafiyah (tradisional), dimaksudkan untuk menguasai bahasa Arab itu sendiri secara keilmuan dan alat untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu keislaman secara umum seperti Alqur’an, hadis, fiqih, usul fiqih, tauhid, dan akhlak yang notabene ditulis dalam bahasa Arab. Sementara untuk pesantren modern, pembelajaran bahasa Arab lebih ditekankan ke aspek akademis dan komunikasi-aktif yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan penerapan disiplin yang ketat.
Secara umum, pembelajaran bahasa Arab di pesantren di Indonesia dilaksanakan melalui berbagai jalur dan metode, seperti jalur kelas atau klasikal, jalur pengajian, dan jalur diskusi. Metode yang sering digunakan adalah metode ceramah, tanya-jawab, diskusi, dan hafalan. Sementara itu, kitab-kitab yang diajarkan seperti Nahwu al-Wadhih, al-Jurumiyah, Imrithi, al-Amtsilah alTashrifiyah, Ibnu Aqil, dan Alfiyah.
Kitab nahwu yang paling elementer yang diajarkan di pesantren adalah kitab
Nahwu al-Wâdlih. Kemudian disusul secara meningkat dengan kitab Jurumiyah, ‘Imrîthi, Ibn Aqîl, dan Alfiyah. Dari segi struktur penulisan, kitab Nahwu al-Wâdlih dimulai dengan al-Maudlû’, al-Amtsilah, al-Bahts, al-Qâ’idah, dan Tamrînât. Kitab ini ditulis dengan pola bahasa yang sederhana (tidak berbentuk nazham) dan disertai dengan contoh-contoh kongkrit penerapan al-Qâ’idah al-Nahwiyah-nya dalam susunan kalimat yang jelas dan singkat sehingga relatif mudah dipahami oleh para santri. Struktur logikanya bersifat induktif, dari contoh-contoh kalimat ke penjelasan menuju definisi yang sifatnya umum. Ini berbeda dengan kitab alJurûmiyah. Dalam al-Jurûmiyah pembahasannya berbentuk konsep umum yang disertai langsung dengan contoh-contoh dalam satu kalimat (susunan) dengan berbagai keterangan penjelas yang cukup mendalam. Sedangkan dalam al-Nahwu al-Wadlih, antara al-Amtsilah, al-Bahts, dan al-Qâ’idah terpisah-pisah. Dengan kata lain, contoh-contoh dalam satu susunan sendiri, pembahasan dalam satu susunan sendiri, dan demikian juga dengan definisinya, namun demikian ketiganya saling berhubungan. Dalam hal pembahasan (al-Bahts) khususnya, keterangannya sangat singkat, padat, namun tidak sedetail penjelasan dalam al-Jurûmiyah. Dari sini, tampak bahwa kitab al-Jurûmiyah lebih “luas” dari kitab Nahwu al-Wâdlih walaupun masing-masing disertai dengan contoh-contoh konkrit.
Dari kedua kitab tersebut, kemudian meningkat kepada kitab ‘Imrîthi. Kitab ini bisa dikatakan bersifat “abstrak”, karena jarang diberikan contoh-contoh kongkrit dari tema-tema pokoknya dalam bentuk kalimat. Di samping itu, susunan kitabnya berbentuk nazham. Sementara itu, objek kajiannya meliputi; alKalâm, al-I’râb, ‘Alâmah al-I’râb, al-Nakirah wa al-Ma’rifah, al-Af’âl, I’râb al-Fi’l, Marfû’ât al-Asmâ’, Nâib al-Fâ’il, al-Mubtada’ wa al-Khabar, Kâna wa Akhawâtuhâ, Inna wa Akhawâtuhâ, Zhanna wa Akhawâtuhâ, al-Na’t, al-‘Athf, al-Taukîd, al-Badl, Manshûbât al-Asmâ`, al-Mashdar, al-Zharf, al-Hâl, al-Tamyîz, al-Istitsnâ’, Lâ al-‘Amilah ‘Amala Inna, al-Nidâ`, al-Maf’ûl min Ajlihi, al-Maf’ûl ma’ahu, Makhfûdlât al-Asmâ`, dan al-Idlâfah.
Penulisan kitab dalam bentuk nazham ini, pada satu sisi akan memudahkan orang untuk menghafalnya, namun pada sisi lain, akan menjadi sulit untuk dimengerti kandungan dan maknanya, sehingga pada gilirannya dimensi hafalan menjadi lebih dominan dari pada dimensi pemahaman.
Perpindahan dari al-Nahwu al-Wâdlih, al-Jurumiyah, lalu ke ‘Imrîthi menunjukkan suatu perpindahan cara kerja epistemologis dari logika induktif ke bentuk pembahasan yang terintegrasi antara konsep umum dan contoh-contoh riilnya yang disusun dalam bentuk prosa menuju kepada pembahasan atau telaah yang masih berwujud konsepsi global atau masih bersifat abstrak dalam bentuk nazham. Karena ketatnya berpijak pada nazham, kadang-kadang merubah struktur urutan. Kalau dalam al-Nahwu al-Wâdlih misalnya, pembahasan tentang fi’l dimulai dari fi’l madlî, mudlari’, dan fi’l amr, namun tidaklah begitu dalam ‘Imrîthi. Urutannya menjadi fi’l madlî, fi’l amr, dan fi’l mudlâri’.
Kitab Ibn ‘Aqîl yang merupakan syarah kitab Alfiyah menempati level selanjutnya. Ibn ‘Aqîl didahulukan pengajarannya dengan pertimbangan bahwa kitab syarah atas Alfiyah ini dipandang sebagai kitab untuk memudahkan santri dalam memahami Alfiyah, dan Alfiyah itu sendiri adalah puncaknya kitab nahwu. Apa yang menarik dalam kedua kitab ini adalah adanya dinamika, baik dalam materi maupun metode. Pada aspek materi jelas ada penambahan dan pengayaan informasi, sedangkan pada aspek metodenya terjadi lompatan dari bentuk nazham ke bentuk prosa yang relatif lebih mudah dipahami. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dari contoh berikut, yaitu dalam menjelaskan tentang macam-macam fi’l (kata kerja). Dalam Alfiyah disebutkan:
Siwâhumâ-l-harfu kahal wa fî wa lam * fi’lun mudlâri’un yalî lam kayasyam
Wa mâdli-l-af’âli bi-t-tâ’ miz wa sim * bi-n-nûni fi’la-l-amri in amrun fuhim
Syarahnya: Ini menunjukkan bahwa al-Harf berbeda dengan al-Ism dan alFi’l, yaitu kosong dari Alâmât al-Asmâ` dan Alâmât al-Af’âl seperti hal, fî, dan lam. Hal ini juga memberi pengertian bahwa al-Harf terdiri dari dua macam; 1) Mukhtash yang berlaku untuk fî dan lam, seperti Zaidun fî al-Dâr (dalam Asmâ’), dan lam yaqum Zaidun (dalam Af’âl). 2) Ghairu Mukhtash, seperti Hal Zaidun Qâ’imun, dan Hal Qâma Zaidun (bisa dalam Asmâ` dan Af’âl).
Kemudian, al-Fi’l terdiri dari Mâdlî, Mudlâri’, dan Amr. Al-Fi’l al-Mudlâri’ bisa dimasuki lam, seperti yasyum, lam yasyum. Selanjutnya, Fi’l al-Mâdlî bisa diikuti dengan tâ` , maksudnya tâ` untuk Fâ’il. Sedangkan tanda untuk Fi’l al-Amr adalah menerima nûn al-Taukîd, seperti Idlrib, Idlribna.
Fungsi syarh di sini, selain untuk menjelaskan makna per kalimat, juga untuk memberi penjelasan di balik yang zhahir, yakni menambah keterangan baru yang lebih rinci, seperti keterangan tentang Mukhtash dan Ghairu Mukhtash sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Ditinjau dari segi materi, kitab Alfiyah bisa dikatakan lebih lengkap dari kitab-kitab sebelumnya. Kitab ini, selain materi kajiannya lebih banyak dan luas, juga lebih sulit dipahami jika dibandingkan dengan kitab-kitab nahwu sebelumnya.
Pengembangan Dan Pemertahanan Bahasa Arab Di Madrasah
Kurikulum bahasa Arab yang berlaku di madrasah mengalami perubahan sesuai dengan keputusan pemerintah pusat. Dalam sejarah perkembangannya, kurikulum bahasa Arab mengikuti model kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum 2006 dan terakhir kurikulum 2013. Pada setiap masanya bahasa Arab terus mencoba membenahi diri terutama dalam hal materi, materi yang awalnya kurang memperhatikan kebutuhan stakeholders dan peserta didik, dicoba dirubah sesuai dengan kebutuhannya baik personal maupun sosial dengan tidak melupakan kondisi peserta didik dalam setiap jenjangnya.
Kurikulum itu sendiri merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum merupakan acuan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Suatu kurikulum tentunya akan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman serta tuntutan kebutuhan keilmuan yang dibutuhkan masyarakat. Sejalan dengan kondisi tersebut, kurikulum yang dipakai di madrasah juga mengalami beberapa kali perkembangan. Hal ini juga berarti bahwa kurikulum bahasa Arab di madrasah telah mengalami perubahan dan perkembangan. Kurikulum bahasa Arab sudah mengalami perubahan sebanyak 5 kali dari kurikulum, 1984, 1994, KBK, KTSP dan kurikulum 2013. Hal ini menunujukkan bahwa pemerintah memiliki harapan agar pembelajaran bahasa Arab menjadi semakin baik dan sesuai dengan kebutuhan perserta didik dalam tuntutan jaman yang semakin tinggi ini dengan tujuan supaya lembaga pendidikan di negeri ini banyak melahirkan sumber daya manusia yang mahir berbahasa Arab yang merupakan salah satu bahasa komunikasi dan pergaulan international.
Keberadaan bahasa Arab di madrasah memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan alat komunikasi. Target pengajarannya adalah untuk mengembalikan pengajaran bahasa Arab kepada fungsi komunikasi. Oleh karenanya, penyusunan kurikulum bahasa Arab madrasah tahun 1984 dan 1994 berdasarkan beberapa hal yaitu, tujuan pengajaran bahasa Arab, bahan pengajaran bahasa Arab, pendekatan pengajaran bahasa Arab, metode pengajaran bahasa Arab, tehnik pengajara bahasa Arab, dan evaluasi pengajaran bahasa
Arab.
Dalam masa ini tujuan pengajaran Bahasa Arab terdiri atas tujuan pendidikan Nasional dan tujuan kurikuler. Secara Nasional Bahasa Arab memiliki tujuan yang sama dengan mata pelajaran lain yaitu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kurikulum Madrasah Aliyah misalnya, Garis – Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk mata pelajaran bahasa Arab dinyatakan bahwa “bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi, memahami Al-Qur’an dan Hadits, memahami buku- buku agama, dan menguasai sejumlah perbendaharaan kata tertentu”.
Dari sisi metodologis, pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan dengan dua varian metode, tradisional dan modern. Metode tradisional merupakan metode konvensioanl yang hanya menekankan pada penguasaan materi dan cenderung berpusat pada sang guru, seperti halnya yang biasa diakukan di pondok pesantren. Dengan berkembangnya arus teknologi perlu kiranya dikembangkan sistem pembelajaran bahasa Arab supaya tidak terkesan berpusat pada guru, namun perlu adanya model-model pembelajaran aktif dan inovatif. Model pembelajaran aktif-inovatif yang dapat dijadikan sebagai model pembelajaran bahasa Arab, misalnya: 1) model pembelajaran kontekstual yang mendorong guru supaya menghubungkan materi yang diajarkan dengan kondisi dunia nyata, sehingga memotivasi siswa untuk mampu membuat relasi antara pengetahuan yang telah dimilikinya dan penerapan bahasa Arab dalam kehidupan mereka sehari-hari. 2) Model pembelajaran kooperatif yaitu dengan menggunakan pendekatan yang terfokus pada penggunaan kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dengan cara saling menukar pengetahuan bahasa Arab untuk mencapai tujuan belajar. 3) Model pembelajaran kuantum yang memanfaatkan teknologi multimedia dalam menyampaikan materi bahasa Arab sehingga mampu menciptakan proses belajar yang menyenangkan, kreatif, dan tidak monoton. 4) Model pembelajaran terpadu yang memungkinkan si pembelajar baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Melalui pembelajaran dicoba untuk memadukan beberapa pokok bahasan dan bisa mendapatkan pengalaman secara langsung, sehingga bisa menambah dorongan dan kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan terkait berbagai hal yang dipelajarinya.
Dalam KBK, kurikulum 2004, pelajaran Bahasa Arab yang diajarkan di madrasah selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa Arab juga berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan yang dipakai untuk alat pengembangan diri peserta didik dalam bidang komunikasi dan ilmu pengetahuan. Untuk memenuhi itu, maka pada masa ini, tujuan pembelajaran lebih difokuskan pada kompetensi. Kompetensi tujuan dalam KBK adalah kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan, kompetensi rumpun pelajaran, kompetensi dasar, hasil belajar, serta indikator hasil belajar. Sementara itu, mata pelajaran bahasa Arab meliputi unsur keterampilan makro berbahasa Arab yang mencakup keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Selanjutnya, kurikulum bahasa Arab masuk dalam model KTSP, kurikulum tahun 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini merupakan kurikulum yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP merupakan pengembangan dari KBK, di mana pengembangannya didasarkan pada Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan berpedoman pada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang disesuaikan dengan satuan pendidikan, potensi daerah, kondisi sosial budaya masyarakat dan diri peserta didik dalam penyusunan silabus dan perumusan Rencana Pelaksanann Pendidikan.
Dalam KTSP, kurikulum bahasa Arab diarahkan untuk mendorong, membimbing, membina, mengembangkan kemampuan, dan menumbuhkan sikap positif baik secara reseptif maupun produktif. Sementara itu, dari aspek kemahiran kebahasaan, KTSP tidak berbeda dengan KBK, yaitu dengan mendahulukan kemahiran menyimak (istima’), kemahiran berbicara (kalam), kemahiran membaca (qiraah), dan kemahiran menulis (kitabah).
Kurikulum bahasa Arab di madrasah selanjutnya masuk dalam model kurikulum 2013. Model kurikulum berupaya mengintegrasikan semua mata pelajaran dengan kehidupan sosial. Materi yang diperoleh dari sekolah, pada akhirnya dapat diimplementasikan secara jelas dan nyata dalam kehidupan. Dengan demikian peserta didik diharapkan lebih lekat dengan materi dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembangan Bahasa Arab Di Lembaga Kursus
Bahasa Arab sebagai ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari di lembagalembaga pendidikan Islam formal, akan tetapi bahasa Arab juga dipelajari di lembaga-lembaga kursus non formal. Lembaga kursus biasanya didirikan oleh seorang yang langsung mengajar di lembaga tersebut dan terdapat banyak sekali di setiap wilayah Indonesia. Di antara lembaga kursus bahasa Arab yang terkenal dan yang sudah kita ketahui adalah yang berada di Pare, Kediri.
Pare terkenal sebagai kampung bahasa, di mana dalam kampung ini terdapat berbagai lembaga kursus bahasa, dan yang paling populer adalah kampung Inggris, namun demikian banyak bahasa asing lainnya yang di pelajari di kampung ini seperti bahasa Arab.
Program yang dilaksanakan oleh lembaga ini atau secara umum setiap lembaga mempunyai 2 program yang pasti yaitu qawaid dan muhadatsah.
a. Qawaid
Qaidah berasal dari bahasa arab yaitu قاعدة jamaknya قواعد ma’nanya, مثال, قانون أساس yang artinya alas bangunan, aturan, undangundang, contoh. Bahasa yang benar bukanlah berdasarkan qaidah, tetapi qaidah didasarkan pada bahasa yang benar, karena pembicaraanlah yang lebih dahulu ada, kemudian dari bahasa itulah disuusn qaidah. Anak kecil ingin berbicara dengan bahasa yang ingin ia pelajari dan mampu bercakapcakap dengan bahasa itu sebelum ia mempelajari qaidahnya. Karena itu kurang baik seorang guru memulai mementingkan pengajaran nahwu dan lain-lainnya dengan mengabaikan bahasanya itu sendiri. Akan tetapi seorang guru harus memperbanyak pelajaran muhadatsah, muthalaah sebelum mempelajari qawaid, karena pelajaran itulah yang membantu kesuksesan guru dalam mengajarkan qaidah.
Qaidah yang dipelajari di lembaga kursus di Pare dimulai dengan kitab kecil yaitu Matan Jurumiyah. Kitab tersebut biasa dilengkapi dengan kitab yang lain seperti Syarah Dahlan dan lain-lain. Pengajarannya sangat terstruktur mulai dari bab kalam dan seterusnya, dan biasanya kitab tersebut dibagi menjadi 3 bagian, bagian pertama qawaid ula, kedua qawaid tsani dan ketiga qawaid tsalits.
Qawaid ula mempelajari tentang kalam, i’rob, isim ghairu munsharif, amil jawazim, nawashib, al af’al, ma’rifat, nakirah dan ilmu sharef. Qawaid tsani mempelajari tentang marfu’atil asma’, amil nawasikh, mansubatil asma’, makhfudhatil asma’, tawabi’ dan ilmu sharef. Lalu qawaid tsalits menuntut murid bisa meng’irab dan meng’idal kalimat arab.
Qawaid ula, tsani dan tsalits mempunyai durasi waktu tersendiri, biasanya yang dipakai adalah bulanan. Qawaid ula ditempuh dengan durasi waktu satu bulan, qawaid tsani juga satu bulan dan qawaid tsalits satu bulan. Setiap akhir bulan diadakan ikhtibar/imtihan untuk mengetahui kemampuannya dan diberikan sertifikat. Bagi yang belum mendapat hasil yang memuaskan, diharuskan mengulang kembali sampai mendapatkan hasil yang memuaskan. Tingkatan nilai yang dipakai adalah tingkatan mumtaz, jayyid jiddan, jayyid, maqbul, qabih dan qabih jiddan.
b. Muhadatsah
Muhadatsah berasal dari bahasa Arab yaitu محادثة yang artinya bercakap-cakap atau berbicara . Berbicara merupakan aktivitas berbahasa aktif dari seorang pemakai bahasa untuk mengungkapkan atau mengekspresikan diri secara lisan. Dalam konteks pengertian ini berbicara adalah bagian dari kemampuan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif. Oleh karena itu berbicara menunutut kemampuan penguasaan atas beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa .
Metode yang digunakan di lembaga kursus pada program muhadatsah adalah:
1) Guru memilih topik yang sesuai dengan pemikiran tingkat umur murid
2) Guru memilih kata atau kalimat yang sesuai dengan pengetahuan murid
3) Guruh menyuruh murid menghafal kosa kata tersebut dengan artinya sehingga bisa diucapkan tanpa melihat
4) Guru menyebut kosa kata secara acak dan murid menyebutkan artinya
5) Guru memberikan hukuman kepada murid yang tidak bisa menjawab sebagai motivasi
Selain memberikan kosa kata, guru juga menggunakan kitab muhadatsah sebagai rujukan, baik kitab muhadatsah yang dikarang langsung oleh pendiri lembaga tersebut maupun kitab dari luar. Sama seperti qawaid, muhadatsah juga mempunyai bagian yaitu muhadatsah ula, muhadatsah tsani, dan muhadatsah tsalits. Bedanya hanya pada jumlah kosa kata yang diberikan. Muhadatsah tsani dan tsalits mempunyai kosa kata yang lebih banyak dari pada muhadatsah ula.
Setiap tingkat muhadatsah memiliki target, target muhadatsah ula adalah menguasai mufradat sehari-hari disertai dengan pembuatan contoh di dalam kalimat dan latihan dasar-dasar muhadatsah (percakapan) dengan mendengarkan kaset orang Arab asli. Target muhadatsah tsani adalah murid dituntut aktif berbicara seperti ceramah, bercerita, debat, mengarang, dan menyimpulkan cerita dari kaset. Target muhadatsah tsalits adalah murid akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang bahasa Arab ilmiah atau modern dan bahasa Arab pasaran yang sangat membantu ketika membaca koran atau majalah berbahasa Arab dan berbicara langsung dengan orang Arab asli.
Setiap muhadatsah ula, tsani dan tsalits juga mempunyai durasi waktu, yaitu masing-masing satu bulan, dan di akhir bulan akan diadakan ikhtibar untuk mengetahui kemampuan murid dan diberikan sertifikat. Bagi yang memperoleh hasil yang belum memuaskan akan mungulang kembali sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Durasi belajarnya 1 jam setangah per hari untuk setiap hari kecuali hari Minggu.
Selain dua program di atas, ada juga program yang tidak semua lembaga kursus mempunyai program tersebut, misalnya; Pertama; Ikla atau Toafl; program ini mempelajari tentang soal-soal bahasa Arab. Dalam program ini ada tiga bagian yang dipahami yaitu paham apa yang didengar, paham apa yang dibaca dan paham tata susunan bahasa Arab. Kedua; qiroatul kitab; program ini hanya membahas tentang cara membaca kitab, guru tidak bertanya lagi tentang qaidah karena biasanya yang mempelajari program ini adalah yang sudah paham qaidah bahasa Arab. Ketiga; tarjamatul kitab; progarm ini melatih murid untuk menerjemahkan kitab, sama dengan program qiroatul kitab, yang difokuskan adalah bagaimana cara menerjemahkan kitab secara benar dan sesuai dengan qaidah bahasa Arab.
Kampung bahasa Pare mempunyai program asrama. Program asrama ini dilaksanakan pada malam hari. Adapun program asramanya sebagai berikut:
1) Menghafal juz ‘amma dan artinya serta menghafal bacaan dalam shalat; karena kita sebagai umat Islam shalat dengan menggunakan bahasa Arab maka kita dituntut untuk memahami ayat Al qur’an sehingga kita bisa menghayati dan khusu’. Jadi secara tidak langsung pada waktu kita shalat kita juga belajar bahasa Arab, program ini biasanya diadakan setelah shalat maghrib.
2) Menghafal hiwar; dalam bercakap sehari-hari, murid tidak cukup menghafal mufradat saja tanpa diucapkan. murid juga dituntut untuk mengucapkannya dalam bercakap sehari-hari, akan tetapi banyak dari mereka yang sulit menyusun mufradat yang dihafalnya, sehingga dengan menghafal hiwar, murid bisa meniru percakapan yang ada dalam teks. Program ini biasanya diadakan setelah shalat subuh.
3) Menghafal amtsilatut tashrifiyah; banyak dari kata bahasa Arab yang hampir sama huruf dan susunannya, ada juga yang fiil madhi dan mudharinya berbeda, tetapi dalam mashdarnya sama. Dengan menghafal tashrif, murid mampu membedakan setiap kata yang hampir sama huruf dan cara pengucapannya. Program ini biasanya diadakan setelah shalat subuh.
4) Darsil idhofi; karena murid sebagai manusia yang mudah lupa, maka dia mesti mengulanginya. Program ini menuntut semua murid aktif, karena setiap diadakan program ini, murid secara bergantian memimpin diskusi pelajaran yang telah dipelajari pada hari itu. Program ini diadakan setelah shalat isya.
5) Musyahadah; menonton merupakan kesenangan setiap anak, maka di dalam kesenangannya itu dimasukkan program yang sifatnya mendidik. Musyahadah ini menggunakan proyektor dan yang ditampilkan biasanya film para sahabat, ulama’ yang mengggunakan bahasa Arab. Setelah itu setiap murid disuruh menulis inti dari cerita yang ditonton. Program ini diadakan sekali dalam seminggu.
6) Masrohiyah; pada program ini setiap murid dituntut menjadi aktor dengan judul drama yang berkaitan dengan Islam, misalnya kisah nabi atau ulama’ terdahulu. Bahasa yang dipakai dalam drama ini adalah bahasa Arab. Program ini biasanya dipertandingkan.
Selain program di atas, terdapat program yang tidak semua bisa melaksanakannya, yaitu iqob yang sifatnya mendidik. Jika ada dari murid yang melanggar peraturan seperti terlambat masuk kelas atau tidak masuk, maka akan dihukum. Hukumannya bukan yang menyakiti akan tetapi menghafal mufradat atau muhadharoh. Jadi walaupun dia melanggar peraturan, dia sekaligus bisa belajar dari hukumannya.
Dewasa ini, suatu keahlian atau keterampilan tertentu tidak hanya bisa didapatkan dari pendidikan formal, tetapi juga pada lembaga pendidikan non formal. Bahkan kini pendidikan formal berperan sebagai penunjang pendidikan formal. Sama halnya dengan bahasa Arab, kini telah banyak sekali lembaga-lembaga kursus bahasa Arab, seperti halnya lembaga kursus yang berkembang di Pare Kediri. Lembaga-lembaga kursus bahasa Arab di Pare Kediri memiliki spesifikasi tersendiri, ada yang berfokus pada gramatikal seperti nahwu dan sharaf, kalam, ataupun yang berfokus untuk tes ikla’. Lembaga ini telah dikenal dan dipercayai kualitasnya, sehingga lembaga kursus di Pare Kediri ini menjadi tempat yang diminati mahasiswa katika musim liburan atau pun masyarakat umum yang ingin belajar bahasa Arab sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing.
Seiring dengan kesuksesan lembaga kursus di Pare ini, menginspirasi para pecinta bahasa Arab untuk mendirikan lembaga kursus yang serupa, seperti halnya yang muncul di sekitar kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Terdapat beberapa lembaga kursus bahasa yang didirikan seperti RIJ (Rumah Inggris Jogja : pare van jogja) dan JCC (Jogja Course Center).
Selain itu, ada keberlangsungan proses pembelajaran bahasa Arab di Masjid Kampus Perguruan Tinggi Islam. Hal tersebut menggambarkan bahwa urgensi bahasa Arab menjadikan proses pembelajaran di ruang kelas perkuliahan harus diperluas ke sudut-sudut yang lebih bisa terjangkau oleh masyarakat luas. Lembaga-lembaga penyedia fasilitas pembelajaran bahasa Arab bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa yang ingin belajar bahasa, baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab di luar perkuliahan. Lembaga-lembaga yang diorientasikan untuk membekali pengetahuan bahasa Arab ini juga diperuntukan untuk masyarakat umum. Para pemateri dalam lembaga kursus tersebut mayoritas mahasiswa UIN yang merupakan Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dan juga mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa antar lembaga pendidikan mempunyai hubungan simbiosis mutualisme yang ditunjukkan dengan adanya lembaga yang menyediakan produk pengajar bahasa Arab dan didistribusikan untuk mengajar bahasa Arab di lembaga yang lainnya.
Dengan maraknya lembaga pendidikan bahasa Arab, membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk senantiasa mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa tekstualitas agama dan bahasa komunikasi hubungan antar negara. Oleh karenanya, penguasaan bahasa Arab merupakan hal penting dilakukan oleh masyarakat Indonesia dan tidak hanya dibatasi penggunaanya hanya untuk kepentingan normatif keagamaan belaka.
Analisis Pemetaan Teori Pendidikan Bahasa Arab
Penyebaran bahasa Arab dan perkembangan pendidikan bahasa Arab dari waktu ke waktu dan dari tempat atau wilayah ke wilayah lainnya dapat diletakkan dalam kerangka teori pendidikan “learning cultures dan teaching cultures” atau “kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar”. Teori ini lahir dalam kajian antropologi pendidikan yang dicetuskan oleh M. Mead. Dia menegaskan bahwa dalam learning cultures warga masyarakat belajar dengan menggunakan cara yang tidak resmi, yakni dengan mengambil peran dalam kegiatan rutin sehari-hari, dari mana mereka mendapatkan berbagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang mereka butuhkan agar bisa hidup dengan layak dalam masyarakat dan kebudayaan mereka sendiri. Masyarakat semacam ini biasanya kecil dan sederhana. Sedangkan dalam teaching cultures, warga masyarakat memperoleh pelajaran dari anggota atau warga-warga yang lain yang dinilai lebih tahu dan lebih menguasai yang sering kali dilakukan dalam berbagai pranata pendidikan yang formal atau resmi, di mana mereka mendapatkan segala pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang mereka butuhkan.
Perkembangan bahasa Arab pada awal pertumbuhannya berlangsung secara “learning cultures” di mana penyebaran bahasa Arab masih dilakukan secara tidak resmi, secara lisan yang terintegrasi dalam kehidupan rutin sehari-hari sebagai media komunikasi masyarakat Arab pada waktu itu. Pada masa Jahiliyah atau masa pra-Islam, bahasa Arab berkembang selain berlangsung secara “learning cultures” yang berkembang secara natural dalam komunikasi sehari-hari, ada indikasi adanya penyebaran bahasa Arab ke wilayah “teaching cultures” yaitu dengan lahirnya pengajaran bahasa Arab “semi formal” melalui kegiatan festifal syair Arab yang diadakan di pasar Ukaz, majanah, dan Zul Majah.
Penyebaran bahasa Arab ke berbagai wilayah berjalan pararel dengan kemajuan, perkembangan, dan perluasan wilayah kekuasaan umat Islam baik yang terjadi pada masa Rasulullah, masa sahabat, Daulah Umaiyah, Daulah Abbasiyah, hingga masa sekarang ini. Terjadinya proses asimilasi, sosialisasi dan percampuran orang-orang Arab dengan penduduk asli mendorong penyebaran bahasa Arab secara masif. Tidak hanya itu, bahkan pada masa daulah Abbasiyah, bahasa Arab fusha telah menjadi bahasa tulisan untuk kegiatan dan keperluan administrasi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Bahasa Arab sudah mulai diajarkan lewat buku-buku sehingga bahasa Arab fusha semakin berkembang dan semakin meluas.
Pada masa sekarang ini, di berbagai negara, termasuk Indonesia, pengembangan bahasa Arab melalui pendidikan sudah banyak dilakukan dalam model teaching cultures melalui pendidikan formal di sekolah Islam, madrasah atau pesantren yang telah menerapkan sistem klasikal, meskipun demikian, masih ada beberapa warga masyarakat yang mempertahan dan mengembangkan bahasa Arab secara leaning cultures dalam bentuk kampung atau masyarakat belajar seperti yang telah diterapkan di kampung Pare Kediri.
Pesantren dan madrasah adalah lembaga pendidikan Islam formal yang menjadi basis utama pengembangan dan pemertahanan bahasa Arab di Indonesia pada tingkat dasar dan menengah (MI, MTs, dan MA) selain juga perguruan tinggi untuk tingkat pengembangan lebih lanjut. Pesantren dan madrasah berbeda aksentuasi dalam penguasaan dan pengembangan bahasa Arab. Pesantren menekankan pada dua fungsi pengembangan, yaitu pengembangan pada aspek akademis secara komprehensif melalui berbagai ilmu yang terkait dengan bahasa Arab dan aspek budaya melalui kehidupan santri dan kyai di pesantren. Sedangkan madrasah cenderung berperan dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Arab secara akademis-komunikatif. Sementara itu, pembelajaran bahasa Arab di kampung bahasa seperti yang dilaksanakan di kampung Pare Kediri lebih menekankan pada aspek penguasaan bahasa Arab secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.
C. Simpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan terkait perkembangan bahasa Arab di Indonesia dan upaya penyebaran dan pemertahannya di berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Secara historis, bahasa Arab tumbuh di berbagai wilayah Indonesia seiring dengan masuknya para pedagang dari Arab dan Persia ke Nusantara. Mereka turut berperan dalam memperkenalkan bahasa Arab kepada masyarakat setempat. Masuknya agama Islam di Indonesia membawa ajaran Islam di mana terkandung di dalamnya bahasa Arab yang menyatu dengan ajaran atau syariat Islam.
Munculnya ulama muslim di Indonesia yang sebagian dari mereka telah belajar di negeri Arab dan pulang mendirikan lembaga pendidikan pesantren ikut memperkokoh eksistensi penggunaan bahasa Arab di masyarakat Indonesia, terutama di kalangan kyai dan santri di pesantren. Di sinilah bahasa Arab mendapatkan pijakan yang kuat dalam mengembangkan dan mempertahankannya lewat pengajaran kitab-kitab kuning dan terutama sekali kitab-kitab terkait bahasa Arab seperti kitab Nahwu al-Wadhih, al-Jurumiyah, Imrithi, al-Amtsilah al-Tashrifiyah, Ibnu Aqil, dan Alfiyah.
Selain itu, seiring dengan perkembangan kelembagaan pendidikan Islam, bahasa Arab diajarkan juga di berbagai madrasah di Indonesia. Kurikulum bahasa Arab yang diajarkan di madrasah mengikuti model kurikulum yang dikembangkan di Indonesia seperti kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum 2006 dan kemudian kurikulum 2013. Pelajaran Bahasa Arab yang diajarkan di madrasah selain berfungsi sebagai alat komunikasi, juga berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan yang dipakai untuk alat pengembangan diri peserta didik dalam bidang komunikasi dan ilmu pengetahuan. Mata pelajaran bahasa Arab mencakup unsur keterampilan makro berbahasa Arab yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Selain pesantren dan madrasah, lembaga kursus bahasa Arab juga turut andil dalam penyebaran, pengembangan dan pemertahanan bahasa Arab di Indonesia. Belakangan ini telah banyak lembaga kursus atau kampung bahasa yang muncul di Indonesia, seperti Kampung Bahasa di Pare, Kediri dan lembaga-lembaga kursus lainnya. Maraknya lembaga pendidikan bahasa Arab membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk senantiasa mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa tekstualitas agama dan bahasa komunikasi hubungan antar individu, antar bangsa dan antar negara.
Jika dipetakan dalam kerangka teori antropologi pendidikan, penyebaran bahasa Arab di Indonesia bisa dipilah menjadi “learning cultures dan teaching cultures” atau “kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar”. Pengembangan bahasa Arab lewat teaching cultures terjadi di pesantren dan madrasah yang sekarang ini masuk dalam kategori pendidikan formal, sedang lewat learning cultures terjadi di kampung bahasa dan sebagian di lembaga-lembaga kursus yang dikelola oleh masyarakat.

Daftar Pustaka
A Chaedar Alwasilah, Pengantar Sosiologi Bahasa (Bandung: Angkasa, 1989)
Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press, 2009)
Abu bakar Muhammad, Pengajaran Bahasa Arab (Surabaya: Usaha Nasional, 1981)
Alî al-Jârim, and Musthafâ Amîn, Al-Nahwu Al-Wâdlih, 3rd edn (Mesir: Mathba’ah al-Ma’ârif)
Andriani, Asna, ‘Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab Dalam Pendidikan Islam’,
Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam, 3.1 (2015), 39–56
<https://doi.org/10.21274/taalum.2015.3.01.39-56>
Ibnu ‘Aqîl, Syarh Al-‘Alâmah Ibn ‘Aqîl ‘ala Alfiyah Ibnu Mâlik (Pekalongan: Raja Murah)
Ibnu Mâlik, Alfiyah (Surabaya: Al-Hidayah)
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi II (Jakarta: UI Press, 1990)
Mahfud Junaedi, and dkk, Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan Konsep Dan Implementasinya Di Madrasah (semarang: Kerjasama MDC Jateng)
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, 1st edn (Jakarta: Mahmud Yunus Wa Dzurriyyah, 2007)
Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren Di Indonesia (Jakarta: Dharma Bakti, 1982)
Muhtarom, Reproduksi Ulama Di Era Global (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)
Munip, Abdul, ‘Tantangan Dan Prospek Studi Bahasa Arab Di Indonesia’, Al
Mahāra: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 5.2 (2020), 303–18
<https://doi.org/10.14421/almahara.2019.052.08>
Muradi, Ahmad, ‘Tujuan Pembelajaran Bahasa Asing (Arab) Di Indonesia’, Jurnal Al Maqoyis, I.Vol 1, No 1 (2013) (2013), 128–37 <http://jurnal.iainantasari.ac.id/index.php/maqoyis/article/view/182>
Nasution, Sahkholid, ‘Metode Konvensional Dan Inkonvensional Dalam Pembelajaran Bahasa Arab’, Jurnal Ilmiah Didaktika, 12.2 (2012), 259–71 <https://doi.org/10.22373/jid.v12i2.452>
Nur Sholeh, and Ulin Nuha, Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab: Analisis Dan Panduan Kurikulum Bahasa Arab Sesuai KTSP Untuk Madrasah Aliyah (Yogyakarta: Diva Press, 2013)
Rosyadi, Faiq Ilham, ‘Istikhdām Tiknulujiyyā Al Ma’lūmāt Wa Al Ittishālāt Fî Ta’llum Al Lughah Al ‘Arabiyyah Fî Al Jāmi’Ah Al Islāmiyyah’, Al Mi’yar: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa Arab Dan Kebahasaaraban, 3.1 (2020)
<https://doi.org/10.35931/am.v2i2.200>
‘Sejarah Perkembangan Bahasa Arab’
Sholah Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013)
Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif (Surakarta: Yuma Pustaka – FKIP UNS, 2010)
Syaikh Abdullâh bin Ahmad al-Fâkihî, Syaikh Abdullâh Bin Ahmad Al-Fâkihî (semarang: Toha Putra)
Syaikh Syarafuddîn Yahya al-‘Imrîthi, Nazham Al-‘Imrîthi (Surabaya: Al-Hidayah)
Syukur Prihantoro (Ed.), Kilas Balik Sejarah Pendidikan Bahasa Arab Di Nusantara Dan Mancanegara (Yogyakarta: CV Sunrise, 2015)
Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press, 2008) Wahyutomo, Perguruan Tinggi Pesantren (Jakarta: Gema Insani Press, 1997) http://Arabionline.blogspot.com/2012/02/pasang-surut-bahasa-Arab-diindonesia.html.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *