STRATEGI PEMELAJARAN AKTIF UNTUK KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS BAHASA ARAB

163 Lihat

STRATEGI PEMELAJARAN AKTIF UNTUK KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS BAHASA ARAB

 

Sahkholid Nasution dan Zulheddi

sahkholidnasution@uinsu.ac.id Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak:

Pemelajaran bahasa Arab, baik keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis di berabagai jenis dan jenjang pendidikan masih berfokus pada nahwu. Imlikasinya pemelajaran menjadi monoton, kurang kontekstual, kurang menarik, kurang interaktif, dan kurang komunikatif. Langkah yang dapat dimbil adalah pengajar/guru/dosen harus dapat menampilkan pelajaran bahasa Arab dengan metode dan strategi yang menarik. Tulisan ini mendeskripsikan sejumlah metode dan strategi pembelajaran bahasa Arab yang dianggap tepat untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis peserta didk dalam bahasa Arab. Tulisan ini bersifat konseptual dengan metode deskriptif analisis. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ditemukan sejumlah strategi aktif dalam pemelajaran membaca bahasa Arab yaitu Strategi Mencari Pasangan, Strategi Kepala Bernomor, Strategi Jigsaw, dan Strategi Mengurutkan Cerita/Teks. Sementera sejumlah strategi aktif dalam pemelajaran maharah kitabah adalah Mengisi Pesan Gambar, Variasi, Menulis Kenangan, dam Menulis Pengalaman Mengerikan.

Kata Kunci: Keterampilan Membaca, Keterampilan Menulis, Bahasa Arab, Strategi Pemelajaran Aktif.

 

Abstract:

Learning Arabic, both listening, speaking, reading and writing skills in various types and levels of education are still focused on nahwu. The implication is that learning becomes monotonous, less contextual, less

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

attractive, less interactive, and less communicative. The step that can be taken is that the teacher/lecturer must be able to display Arabic lessons with interesting methods and strategies. This paper describes a number of methods and strategies for learning Arabic that are considered appropriate for improving students’ reading skills and writing skills in Arabic. This paper is conceptual with descriptive analysis method. It can be concluded that found a number of active strategies in learning to reading Arabic skills, namely the Strategy to Find a Partner, the Numbered Head Strategy, the Jigsaw Strategy, and the Story/Text Sorting Strategy. While a number of active strategies in learning writing skills are Filling Picture Messages, Variations, Writing Memories, and Writing Horrifying Experiences.

Keywords : Reading skills; writing skills; arabis language; active learning strategy.

 

 

P

PENDAHULUAN

emelajaran bahasa Arab di berbagai jenis dan jenjang pendi- dikan di tanah air, baik keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis, masih banyak berbasis struktural. Peng- ajarannya masih berfokus pada nahwu. Imlikasinya pemelajaran men- jadi abstrak, monoton, kurang kontekstual, kurang menarik, kurang interaktif, dan kurang komunikatif. Langkah yang dapat diambil adalah pengajar/guru/dosen harus mampu menampilkan pelajaran Bahasa Arab dengan strategi mutaakhir yang efektif dan menarik. Siswa/mahasiswa dilibatkan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga mereka merasa senang dan nyaman dalam pemelajaran bahasa Arab. (Effendi: 2001: 416). Hal ini dapat ditempuh dengan menerapkan model-model pemelajaran aktif dan kooperatif. Nurhadi dkk, (2004: 64) menyatakan bahwa salah satu keunggulan dari pemelajaran kooperatif adalah dapat meningkatkan motivasi belajar

intrinsik peserta didik.

Keterampilan berbahasa dapat diperoleh dengan pembiasaan (Suyitno: 1986, 15). Pembiasaan itu sendiri wujud pelaksanaannya adalah latihan berulang kali dalam program repetisi yang termasuk dalam unsur-unsur metode. Gagasan yang diungkapkan dengan bahasa dapat dilambangkan dengan tulisan, sebagai lambang bunyi. Karena itu, pada dasarnya keterampilan berbahasa itu hanya ada dua, yakni

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

keterampilan menyimak dan berbicara. Keterampilan membaca dan menulis itu hanya pernyataan tentang gambaran bila bahasa itu dilam- bangkan dengan tulisan. Bahasa itu sendiri adalah lafal (ucapan) (al- Ghalâyaini, 1973: 4), atau bunyi-bunyi (Hijâzi, 1968: 4), atau sistem lambang berupa bunyi atau ucapan yang dikeluarkan seseorang dari daerah  artikulasinya  (Fiddaroini,  1998:  4),  atau   ﻋﻦ ﻗﻮم ﮐﻞ ﺑﻬﺎ ﻳﻌﱪ أﻟﻔﺎظ

أﻏﺮاﺿﻬﻢ (Ibn Jinîy, 1952, Jilid I: 33).

Dari beberapa definisi di atas dapat diketahui bahwa para pakar linguistik tidak berbeda perbedaan dalam menjelaskan konsep bahasa. Karena itu, dapat dikatakan bahasa adalah “Sistem lambang bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri bersama anggota masyarakat lainnya.” (Sahkholid Nasution, 2017: 32).

Tulisan ini ingin merespon masalah di atas, dengan mengetengah- kan model pemelajaran Aktif-Kooperatif sebagai solusi alternatif dalam pemelajaran bahasa Arab, khususnya pemelajaran keterampilan mem- baca  (ﻗﺮاءة)  dan  menulis  (ﻛﺘﺎﺑﺔ).  Pada  akhirnya  “imeg  negatif”  oleh banyak orang terhadap bahasa Arab “sebagai bahasa yang sulit” dapat dikikis secara bertahap, sehingga upaya “pembumian” Bahasa Arab di Tanah Air dapat berhasil maksimal.

PEMBAHASAN

ﻣﻬﺎرة اﻟﻘﺮاءة Pemelajaran  1.

  1. اﻟﻘﺮاءة Pengertian

Membaca adalah materi memahami bacaan atau disebut juga sebagai fahm al-maqru’, yaitu mengenali dan memahami isi sesuatu yang tertulis dengan melafalkan atau mencernanya dalam hati. (Hermawan, 2011: 116).

Membaca (اﻟﻘﺮاءة) merupakan keterampilan menangkap makna dalam simbol-simbol bunyi tertulis yang terorganisir menurut sistem tertentu. Alat indera penglihatan (mata) sangat memiliki peran penting  dalam  proses  tesebut.  Namun  اﻟﻘﺮاءة (membaca)  bukanlah sekedar proses kerja dari indra mata dan alat ujar saja. Tetapi ia juga merupakan aktivitas Aqliyah, meliputi: pola berpikir, meng- analisis, menilai, problem-solving, dsb.

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  1. Jenis – Jenis اﻟﻘﺮاءة

Cara membaca dapat dibagi kepada dua:

)اﻟﻘﺮاءة اﻟﺠﻬﺮﺑﻴﺔ( nyaring Membaca  1)

Yaitu membaca dengan melafalkan symbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca. Bentuk membaca seperti ini lebih tepat diberikan kepada pelajar tingkat pemula.

)اﻟﻘﺮاءة اﻟﺼﺎﻣﺘﺔ( Diam Membaca  2)

Yaitu membaca dengan tidak melafalkan symbol-symbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca. (Al-Khalîfah, 2003: 67).

  1. Tujuan pemelajaran اﻟﻘﺮاءة

Menurut Al-Khalifah (2003: 60) tujuan pembelajran qir’ah adalah sebagai berikut:

.1 ﺗﻨﻤﻴﺔ ﻗﺪرة اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻋ$ اﻟﻘﺮاءة، وﺳﺮﻋﺘﻪ ﻓﻴﻬﺎ، وﺟﻮدة اﻟﻨﻄﻖ، وﺗﻤlﻴﻞاﻟﻤﻌﲎ.

.2 ﺗﻨﻤﻴﺔ ﻗﺪرة اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻋ$ ﻓﻬﻢ اﻟﻤﻘﺮوء ﻓﻬﻤﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ، وﺗﻤşﻴﺰه اﻷﻓﮑﲝر اﻷﺳﲝﺳﻴﺔ

واﻟﺜﺎﻧﻮﻳﺔ.

.3 ﺗﺰوﻳﺪ   ﻠﻢ ﺑﺤ اﻟﺼﻤﻴﻠﺘﺔﻌ واﻓﺮة وﻣﺘﺠﺪدة ﻣﻦ اﻟﻤﻔﺮدات اﻟﻠﻐﻮﻳﺔ، واﻟﱰﻛﻴﺐ اﻟﺠﻴﺪة،

واﻟﻌﺒﺎرات اﻟﺠﻤﻴﻠﺔ.

.4 ﺗﻨﻤﻴﺔ ﻣﻴﻞ اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ إﱃ اﻟﻘﺮاءة، ودﻓﻌﻪ إﱃ اﻹﻃﻼع ﻋ$ اﻧﺘﺠﺘﻪ ﻗﺮاﺋﺢ اﻷدﺑﺎءوﻋﻘﻮل

اﻟﻌﻠﻤﺎء ﺑﻤﺎ ﻳﻮﺳﻊ أﻓﻘﻪ وﻳﻨç ﺛﻘﺎﻓﺘﻪ.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa pemelajaran membaca tidak hanya sekedar siswa mampu membaca tek ansikh, tetapi diharapkan siswa dapat memahami kandungan teks dan mampu menumbuhkan motivasinya dalam membaca teks lain.

  1. Beberapa Strategi Aktif dalam Pemelajaran اﻟﻘﺮاءة
    • Strategi Mencari Pasangan

Strategi ini salah satu dari jenis model pemelajaran kooperatif, dikembangkan oleh Curran (1974). Keunggulan dari teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengesai suatu konsep, topik atau bacaan dalam suasana yang menyenangkan. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan beberapa kata/kalimat sesuai dengan materi ﻗﺮاءة;
  2. Setiap siswa mendapat sebuah kartu;
  3. setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya;
  4. Siswa bergabung dengan siswa lain yang memegang kartu yang
  • Strategi Kepala Bernomor

Strategi ini salah satu dari jenis model pemelajaran kooperatif, dikembangkan oleh Kagan (1992). Strategi ini memberikan kesem- patan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan memper- timbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, stategi ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat bekerja sama. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Siswa dibagi perkelompok (4-5 ±). Setiap siswa dalam kelompok mendapat satu nomor soal;
  2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok menger- jakannya;
  3. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawab- annya;
  4. Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama
  • Strategi Jigsaw

Strategi ini salah satu dari jenis model pemelajaran kooperatif, dikembangkan oleh Aronson dkk. Strategi ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Strategi ini cocok untuk semua kelas. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan men- jadi empat bagian;
  2. Guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas;
  3. Siswa dibagi dalam kelompok berempat atau sesuai kebutuhan;
  4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua;

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  1. Siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka masing- masing;
  2. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca/ dikerjakan masing-masing. Siswa bisa saling berinter- aksi untuk saling melengkapi;
  3. Khusus untuk bagian membaca, guru membagikan bagian teks yang belum terbaca kepada masing-masing Siswa mem- baca bagian tersebut;
  4. Kegiatan terakhir dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh
  • Strategi Mengurutkan Cerita/ Teks

Strategi ini dianggap salah satu dari jenis model pemelajaran aktif, dimana siswa dilatih untuk mengingat dan kerja sama dan sama-sama berkerja dalam kelompoknya untuk menyusun teks bacaan bahasa Arab.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Guru menyiapkan beberapa cerita yang telah di potong- potong per kalimat/pragraf.
  2. Teks cerita secara lengkap diperlihatkan terlebih dahulu kepada siswa dalam waktu yang tidak
  3. Siswa (baik individu maupun kelompok) disuruh mengurut- kan potongan kalimat/
  4. Setelah urutannya ditemukan, masing-masing siswa (baik individu maupun kelompok) disuruh membaca teks secara utuh.
  5. Guru memberikan klarifikasi. (Asrori, 2009: 74-75 dengan berbagai modifikasi) .
  1. Pemelajaran Maharah Kitabah
    1. اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ Pengertian

Secara etimologi kata “اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ” merupakan bentuk indefinite dari ﻓﻌﻞ “ﻛﺘﺐﻳﻜﺘﺐ –  ﻛﺘﺎﺑﺔ,”  yang  arti  awalnya  adalah  menggambungkan  se- suatu dengan sesuatu yang lain atau menjahit. (Abbâs, 1985, Jilid I: 4). Secara terminology ditemukan beberapa pengertian dari para pakar, diantarnya; Hermawan (2011: 151) menyatakan, keteram-

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

pilan adalah “Kemampuan dalam mendeskripsikan atau mengunkap- kan isi pikiran, mulai dari aspek yang sederhana seperti menulis kata-kata sampai kepada aspek yang kompleks yaitu mengarang.” Oleh karena itu, menulis merupakan materi yang diungkapkan dalam bentuk tulisan dengan harap para siswa memiliki kemampuan membuat kalimat-kalimat bahasa Arab sekaligus memantapkan mereka dalam menguasai suatu tema mulai dari mengungkapkan pikiran yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks seperti mengarang.

Oleh  karena  itu,  اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ merupakan  keterampilan  berbahasa  yang sedikit rumit dibanding dengan keterampilan-keterampilan bahasa yang lain, karenanya keterampilan ini harus diurutkan setelah periode pelajaran yang menekankan pada bunyi aspek menyimak dan bicara.

Yang menjadi masalah, اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ sering dipahami hanya sebatas meng- kopi  (ﻧﺴﺦ)  dan  mengeja  (tahajju’ah).  Padahal  اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ sebenarnya juga mencakup beragam proses kognitif untuk mengungkap apa yang diinginkan seseorang. Dengan demikian, keterampilan ini merupakan latihan mengatur ide-ide dan pengetahuan lalu menyam- paikan dalam bentuk simbol-simbol huruf. Akan tetapi pelajaran

اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ sebenarnya juga sangat tergantung pada bagaimana situasi dan kondisi belajar atau peserta didiknya.

Diantara para pemerhati bahasa banyak yang menafikan penting- nya fungsi tata bahasa dalam mempelajari bahasa asing bahkan diantara mereka juga mengatakan bahwa pelajaran tata bahasa bukanlah hal yang memiliki urgenitas tinggi dalam pemelajaran bahasa dan bahkan tidak dibutuhkan dalam pemelajaran berbicara. (al-Nâqah, 1985: 163).

Menulis merupakan salah satu keterampilan penting dalam pem- belajaran bahasa Arab. Jika berbicara merupakan sarana untuk berkomunikasi aktif dengan orang lain sehingga ia dapat meng- ungkapkan perasaan dan pemikirannya dan membaca merupakan alat yang digunakan orang untuk mengetahui sesuatu yang terjadi pada masa-masa sebelumnya, maka menulis merupakan suatu aktifitas untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya dan spe- sialisasi keilmuannya kepada publik karena dari hasil tulisannya baik berupa buku maupun sekedar naskah opini dan makalah

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

singkat, pembaca dapat mengetahui kualitas keilmuan yang ia miliki dari spesialisasi keilmuannya.

Ada empat hal pokok dalam pelaksanaan pemelajaran menulis:

  1. Menulis huruf
  2. Menulis kata-kata dengan huruf-huruf yang
  3. Menyusun susunan kalimat berbahasa Arab yang dapat dipahami.

Menggunakan susunan kalimat dalam bahasa Arab tersebut dalam beberapaalinea sehingga mampu mengungkapkan inti pesan dari penulis.

  1. Jenis-Jenis Kitabah

Untuk memperoleh hasil yang efektif dari pelaksanaan pempe- lajaran اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ, maka perlu di ketahui bahwa aktivitas menulis yang dimaksud terbagi menjadi tiga hal, yaitu:

  • Dikte (Al-Imlâ’), meliputi:

Menurut Mahmūd (1985: 157) imlak adalah menuliskan huruf- huruf sesuai posisinya dengan benar dalam kata-kata untuk  menjaga terjadinya kesalahan makna.

  1. Imla’ Hijaiy.

Dalam pemelajaran ini, seorang siswa disuruh untuk menulis huruf-huruf hijaiyyah yang tersusun dalam suatu kosa kata yang terdapat pada buku pelajarannya atau tertulis di papan tulis, dan akan lebih baik jika ketika ditulis di papan tulis dengan menggunakan kapur tulis/pena warna warni agar lebih memudahkan siswa meniru tulisan tersebut. (Al-Dihan, tt: 8). Proses ini tentunya sudah tidak lagi dipakai di Madrasah Aliyah.

  1. Imla’ Manqūl atau disebut juga dengan Imla’ Mansūkh.

Untuk tahap awal, pemelajaran menulis yang diberikan kepada siswa adalah memberikan latihan meniru tulisan kalimat pendek yang ada di buku atau papan tulis.

  1. Imla’ Manzūr

Dalam tahap ini, pelajaran menulis yang diberikan melalui tugas membaca beberapa alinea dalam teks kemudian diperintah- kan kepada siswa untuk menulis ulang hasil bacaannya dan

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

mengarahkan tata cara penulisannya yang baik tanpa melihat tulisan.

  1. Imla’ Istimâ’i

Dalam tahap ini siswa diperdengarkan kata-kata/kalimat/ teks yang dibacakan, lalu menulisnya. Imla’ ini tentu lebih sulit dibanding dengan imla’ manzūr, karena teks yang ditulis tidak pernah dilihat sebelumnya. Oleh karena itu, imla’ ini dapat diberikan setelah menguasi imla’ manzūr.

  1. Imla’ Ikhtibâriy.

Dalam tahap ke empat ini, dibutuhkan kemampuan pen- dengaran yang optimal, kemampuan menghafal serta kemam- puan menulis yang ia dengar dengan baik, karena dalam pemelajaran ini, seorang guru membacakan beberapa teks Arab kemudian disuruh tulis kepada siswa tanpa harus melihat teks yang ada. (al-Naqah, 1985: 247).

  • Mengarang (Al –Insyâ’).

Dalam aktivitas pemelajaran menulis, dapat dibagi menjadi tiga ketegori utama, yaitu menulis terkontrol atau terbimbing dan menulis bebas. Menulis terkontrol berada pada tahap pertama sedangkan menulis bebas pada tahap terakhir.

  1. اﻟﻤﻮﺟﺔ اﻹﻧﺸﲝء atau اﻟﻤﻘﻴﺪ اﻹﻧﺸﲝء (Menulis Terkontrol). Yaitu mem- buat kalimat atau prograf sederhana dengan bimbingan tertentu berupa pengarahan. Dalam aktivitas menulis pada tahap ini, seorang siswa banyak membutuhkan kontrol dari seorang guru, sehingga dengan demikian peranan guru dalam

tahap ini masih sangat dominan. Berikut ini beberapa aktivitas menulis terkontrol yang diberikan oleh guru:

  • ﺗﺒﺪﻳﻞ (Mengganti/merubah).
  • اﻟﻔﺮاغ إﻣﻺ (Mengisi bagian yang kosong).
  • Membuat kalimat lengkap tertentu berdasarkan
  • اﻷﺳﺌﻠﺔ ﻋﻦ اﻹﺟﺎﺑﺔ (Menjawab pertanyaan) tentang bacaan;
  • اﻟﺼﻮر وﺻﻒ (Menggunakan gambar) untuk diceritakan;
  1. اﻟﺤﺮ اﻹﻧﺸﲝء (Menulis Bebas). Aktivitas menulis bebas siswa meru- pakan aktivitas tahap terakhir yang memberikan kebebasan

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

kepada siswa untuk mengaktualisasikan hasil pola pikiran- nya dalam bentuk tulisan. (Azîz, 1996: 138).

Mengarang bebas adalah membuat kalimat atau pragraf tanpa pengarahan, contoh, kalimat yang tidak lengkap dan sebagainya.

  1. Tujuan Umum Pemelajaran اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ

Al-Khalifah dan Amin (2003: 298) mendeskirpsikan tujuan pembe- lajaran اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ secara umum sebagai berikut:

.1 ﺗﺪرﻳﺐ اﻟﻄﻼب ﻋ$ ﻛﺘﺎﺑﺔ اﻟﮑﻠﻤﺎت ﺑﺼﻮرة ﺻﺤﻴﺤﺔ، ﻓﺬﻟﻚ ﻳﻌ@ اﻟﺘﻌﺒﲑ اﻟﻜﺘﺎﰊ

ﻗﻴﻤﺔ ﰱ ﻧﻈﺮ اﻟﻘﺎرئ، ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻄﻲ اﻧsﺒﺎﻋﺎ ﻋﻦ اﻟﮑﲝﺗﺐ.

.2 ﺗﺪرﻳﺐ اﻟﻄﺎﻟﺐ ﻋ$ ﺗﻨﻈﻴﻢاﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﰱ ﺳﻄﻮر وﺟﻤﻞ وﻓﻘﺮات.

.3 ﻣﺴﲝﻋﺪة  ﻟﺐ اﻋﻟ$ﻄاﺎﺳﺘﺨﺪام ﻋﻼﻣﺎت اﻟﱰﻗﻴﻢ ﰱ ﻛﺘﺎﺑﺘﻪ ﺑﺼﻮرة ﺻﺤﻴﺤﺔ.

وزاد ﻣﻨﻬﺎ ﻋﺎﻣﺮ ﺑﺎﻷﻫﺪاف اﻟﺘﺎﻟﻴﺔ:

.4 ﺗﻤﺮس اﻟﺤﻮاس اﻹﻣﻼﺋﻴﺔ ﻋ$ اﻹﺟﺎدة واﻹﺗﻘﺎن، وﻫﺬه اﻟﺤﻮاس ﻫﻲ: اﻷذن اﻟﱴ

ﺗﺴﻤﻊ ﻣﺎ ﻳﻤ$، واﻟﻴﺪ اﻟﱴ ﺗﻜsﺒﻪ، واﻟﻌﲔ اﻟﱴ ﺗﻠﺤﻆ أﺷﮑﲝل اﻟﺤﺮوف وﺗﻤﻴﺰ ﺑşﻨﻬﺎ. .5 ﺗﻮﺳﻴﻊ ﺧﱪات اﻟﻄﻼب اﻟﻠﻐﻮﻳﺔ، وإﻛﺴﲝﺑﻬﻢ ﻣﻬﺎرات ﺟﺪﻳﺪة ﺑﺎﺳﺘﻌﻤﺎل ﻋﻼﻣﺎت

اﻟﱰﻗﻴﻢ ﰱ ﻣﻮاﺿﻌﻬﺎ.

.6 ﺗﻤﺮﻳﻦ اﻟﻄﻼب ﻋ$ اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﰱ ﺳﺮﻋﺔ ووﺿﻮ حوإﺗﻘﺎن. 88-89) 2000: (‘Amir,

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa menulis merupakan aktifitas untuk mengungkapkan isi pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, dari sederatan keterampilan ber- bahasa, keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan teratas dan membutuhkan penguasaan secara memadai terhadap keteram- pilan-keterampilan sebelumnya (istima’, muhadatsah dan qiraah).

Jika dipahami kutipan dan beberapa pendapat yang lain tentang tujuan umum pemelajaran menulis adalah sebagai berikut:

  1. Mampu menulis huruf hijaiyyah dan mengetahui hubungan harakat dengan
  2. Dapat menulis kata-kata dalam bahasa Arab dengan mengguna- kan huruf-huruf yang terpisah dan bersambung serta mengetahui perbedaan huruf ketika di awal, di tengah dan di akhir
  3. Memahami dengan baik dan benar teori penulisan bahasa

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  1. Mengetahui bentuk-bentuk tulisan (nask, riq’ah, dsb).
  2. Mampu menulis dari kanan ke
  3. Mengetahui tanda baca dengan baik dan
  4. Mampu mengaktualisasikan fikirannya dalam bahasa tulisan dengan susunan kalimat yang
  5. Mampu menulis sesuai dengan susunan tata bahasa Arab yang baik dan
  6. Mampu mengggunakan susunan kalimat yang sesuai dengan alur
  7. Mampu mengungkapkan dengan cepat apa yang terlintas dalam benaknyadengan bahasa tulisan yang baik dan benar
  1. Beberapa Strategi Aktif dalam Pemelajaran Materi اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ
    1. Mengisi Pesan Gambar

Mengisi Pesan Gambar merupakan salah satu strategi dalam menciptakan pemelajaran aktif, khususnya dalam pemelajaran keterampilan menulis. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Guru menyiapkan gambar cerita dan diperbanyak untuk sejumlah kelompok / regu.
  2. Prosedur:
    • Gambar yang sudah disiapkan dibagikan kepada setiap kelompok;
    • Setiap kelompok membuat cerita berdasarkan gambar yang ada;
    • Setiap kelompok membacakan cerita yang mereka tulis kepada kelompok
    • Kelas mendiskusikan hasil kerja mereka
  3. Variasi: Cerita bergambar dapat dibuat sendiri oleh guru atau diambil dari buku-buku komik, majalah, koran atau internet. Dalam hal ini, pesan yang ditulis pada cerita bergambar itu di tutup (dihapus) kemudian di foto copy/ditampilkan. (Asrori, 2009: 74-75) .
  4. Menulis Kenangan:

Menulis Kenangan merupakan salah satu strategi dalam mencipta- kan pemelajaran aktif, khususnya dalam pemelajaran keterampilan menulis. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  1. Guru menyiapkan sejumlah topik yang dapat dijadi- kan bahan bagi siswa dalam menulis kenangannya.
  2. Prosedur:
    • Gambar meminta siswa menulis kenangan atau kesan ter- tentu tentang suatu hal;
    • Tekankan pada siswa bahwa yang dipentingkan adalah gagasan yang dikemukakan, sedangkan kesalahan bahasa tidak begitu dipermasalahkan;
    • Setelah waktu yang disediakan habis, siswa menyerah- kan kesan yang telah ditulis kepada guru;
    • Guru mengambil secara acak salah satu lembar kenangan lalu meminta seorang siswa untuk membacakannya;
    • Guru memberi komentar umum terhadap karya siswa tersebut dan memilih salah satunya untuk bahan pada minggu berikutnya. (Ur & Wright sebagaimana dikutip oleh Asrori, 2015: 90).
  3. Variasi: Cerita bergambar dapat dibuat sendiri oleh guru atau diambil dari buku-buku komik, majalah, koran atau internet. Dalam hal ini, pesan yang ditulis pada cerita bergambar itu di tutup (dihapus) kemudian di foto copy/ditampilkan. (Asrori, 2015: 74-75) .
  1. Menulis Pengalaman Mengerikan

Menulis pengalaman mengerikan merupakan salah satu strategi dalam menciptakan pemelajaran aktif, khususnya dalam pem- belajaran keterampilan menulis. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

    • Guru menyiapkan suatu permulaan cerita horror yang menarik yang harus dikembangkan oleh siswa;
    • Siswa menyiapkan selembar kertas dan
  1. Prosedur:
    • Jelaskan bahwa tugas guru adalah mengembangkan atau melanjutkan cerita mengerikan yang didiktekan guru;
    • Diktekan permulaan cerita yang telah dipersipkan kepada siswa yang duduk paling belakang;

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

  • Berikan waktu 2-5 menit kepada siswa-siswa tersebut untuk mengembangkan cerita yang telah didiktekan kepadanya;
  • Setelah 2-5 habis, setiap siswa yang duduk dibelakang diminta menggulung atau melipat kertasnya dari atas, sehingga menutup semua teks kecuali baris terakhir, dengan syarat bisa dipahami;
  • Kertas cerita diserahkan kepada siswa yang ada di depannya;
  • Setiap siswa yang menerima kertas cerita, segera menulis lanjutan cerita selama 1-2 menit berdasarkan baris ter- akhir yang terlihat;
  • Begitu seteruskan, setiap 1-2 menit, kertas cerita dilipat dan diserahkan kepada siswa di depannya untuk dilan- jutkan;
  • Setelah cerita dikembangkan oleh siswa yang ada di baris terdepan, masing-masing siswa (baris terderpan) diminta membaca dengan keras cerita yang ada ditangannya. (Asrori, 2015: 93).

KESIMPULAN

Membaca dan menulis merupakan dua keterampilan berbahasa yang membutuhkan penguasaan yang baik terhadap dua keterampilan sebelumnya, yaitu mendengar dan berbicara. pemelajarannya juga membutuhkan model, pendekatan, strategi dan metode pemelajaran aktif. Karena pada prinsipnya setiap keterampilan membutuhkan pem- biasaan, sementara pembiasaan membutuhkan keaktifan. Oleh karena itu, agar siswa menguasai kedua keterampilan ini dengan baik, guru harus mengajarkannya dengan memakai strategi dan metode yang membuat siswa aktif dan partisipatif.

Disisi lain, pemilihan strategi dan metode pemelajaran, khusus- nya di Madrasah, sangat tergantung kepada kesesuaiannya dengan Kompertensi Inti, Kompetensi Dasar, dan Materi pemelajaran. Oleh karena itu, pilihlah strategi dan metode yang sesuai dengan Kompertensi Inti, Kompetensi Dasar, dan Materi pemelajaran, agar tujuan pem- belajaran dapat dicapai secara maksimal.

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

DAFTAR PUSTAKA

‘Amir, Fakhruddin, (2000), Thuruq Al-Tadrîs al-Khâssah Bi Al-Lughah al-‘Arabiyah wa Al-Tarbiyah al-Islâmiyah, Kairo: Alam al-Kutub.

Abbâs, Fadhl Hasan, (1985), Al-Balâgah Funûnuhâ Wa Afnânuhâ,

Ammân: Dâr al-Furqân, Jilid I.

Al-Dihân, Abd Al-Rahmân ‘Abd Latif dan Mamduh Nur al-Din ‘Abd Rabb al-Nabiy, Muzdakkirah fi Tadris al-Kitâbah, Jakarta: Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wa al-Arabiyah bi Indunisiyah, tt.

Al-Ghalayaini, Musthafâ, (1973), Jami’ al-Durūs al-‘Arabiyah (Beirut: Sida).

Al-Khalîfah, Hasan Ja’fah, (2003), Fushūl Fi Tadrîsi Al-Lughah al- Arabiyah, (Ibtidaiy–Mutawassth–Tsanawiy), Riyadh: Maktabah al-Rusyd.

Al-Nâqah, Mahmūd Kâmil, (1985), Ta’lîm al-Lughah al-Arabiyah li al- Nâtiqîna bi Lughât Ukhrâ, Makkah al-Mukarramah, Jâmi’ah Umm al-Quro.

Asrori, Imam, (2015), Aneka Permainan: Penyegar pemelajaran Bahasa Arab, Surabaya: Hilal Pustaka.

Fiddaroini, Saidun, (1998) Bahasa dan Sastra dalam Penelitian, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.

Hermawan, Acep, (2011), Metodologi pemelajaran Bahasa Arab, Jakarta, Remaja Rosda Karya.

Hidayat, D., (2010), Pelajaran Bahasa Arab Untuk Madrasah Aliyah Kelas X,XI,XII, Semarang: PT. Toha Putra, Jilid I.

Hijâzi, Mahmūd, (1968), Al-Lughah al-‘Arabiyah ‘Abra al-Qurūn, (t.k.: Saqafat).

Ibrâhim, Abd al-‘Alim, (1978), Al-Muwajjih al-Fanniy li Mudarrisi al- Lughah al-‘Arabiyah Kairo: Dar al-Ma’arif.

Jinîy, Ibn, (1952), Al-Khashâish, Beirût: Dâr al-Kitâb al-‘Arabiyah, Jilid I.

Nababan, Sri Utari Subyakto, (1993), Metode Pengajaran Bahasa, Jakarta: Gramedia.

Nasution, Sahkholid (2017), Pengantar Linguistik Bahasa Arab, Sidoarjo: Lisan Arabi.

Nurhadi, dkk.(2004), pemelajaran Kontekstual dan Peranannya Dalam KBK, Malang: UM Press.

The Dynamic of Islamic Education in South East Asia

 

Suyitno, (1986), Teknik Pengajaran Apresiasi Sastra dan Kemampuan Bahasa, Yogyakarta: Hanindita.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *