Muslihah (UAS) Arab Melayu

97 Lihat
  1. Arab melayu adalah tulisan yang menggunakan aksara/huruf arab (hijaiyah) dengan bahasa melayu. Dalam sejarah peradaban islam, tulisan yang dikenal ulama adalah tulisan yang digunakan dalam kitab al-qur’an ketika menyebarkan islam ke tanah melayu. Hal itu diperkenalkan oleh ulama para penyebar islam dengan menulis ajaran-ajaran islam termasuk melalui karya-karya kesusasteraan melayu-islam;seperti hikayat, syair dan sebagainya.
  2. Tulisan atau aksara melayu itu muncul bersamaan dengan penyebaran islam ke tanah melayu, yaitu sejak masa kerajaan samudera pasai di Aceh dan menyebar ke kerajaan melayu.-islam. Hal itu diperkenalkan oleh ulama para penyebar islam melalui karya-karya kesustraan melayu-islam.
  3. Pengetahuan dasar yang harus dimiliki dalam mempelajari huruf jawi ialah mengetahui semua kaedah atau tata cara menulis dan membaca tulisan huruf jawi. Diantaranya yang terpenting adalah: mengenal dan mampu menuliskan aksara jawi dalam semua bentuk perubahannya.
  4. Aksara adalah alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan dalam hubungannya dengan dunia melayu, khususnya Indonesia di tengah warisan kebudayaan Indonesia masa lalu. Kekayaan naskah itu mempunyai dimensi dan makna yang jauh lebih luas, karena merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan sikap budaya orang Indonesia. Berbagai sistem tulisan yang dipakai di Indonesia sepanjang sejarah masih kabur sejarahnya. Salah satu bahasa lokal yang paling banyak menerima pengaruh bahasa arab, khususnya pada peristilahan dan aksara adalah bahasa melayu yang kemudian diangkat menjadi bahasa nasional.
  5. Tradisi literasi dapat dipahami dalam dua cakupan. Yaitu melanjutkan tradisi lisan untuk tidak mengatakan menggantikannya dan revitalisasi tradisi literasi yang pernah berkembang sebelumnya. Dalam tradisi peradaban (tamadun) melayu tidak hanya dipenuhi oleh tradisi lisan dalam khazanahnya, tetapi juga ditinggalkan warisan literasi yang masih bisa dilihat sampai hari ini. Tradisi literasi melayu masih tetap dikaji sebagai khazanah nusantara agar terjadi proses dialektika sebagai kebutuhan kekinian yang semakin supermodern.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *