Wakaf Dan Kepedulian Sosial Oleh Satrio,M.A Dosen STAIN SAR Kepri

293 Lihat

TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU :

Dibulan suci Ramadhan di samping kita menunaikan zakat,meberikan infaq,sadaqah juga takkala pentingnya Berwakaf .Wakaf merupakan salah satu istilah yang dekat dengan agama Islam. Namun, masih banyak yang belum memahami arti wakaf hukum dan syaratnya.

Bahkan, Allah SWT memuliakan seseorang yang memberikan wakaf. Hal itu sesuai dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputus lah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya, dan anak soleh yang mendoakannya.”

 

 Pengertian Wakaf

Pengertian wakaf menurut bahasa dan istilah adalah al habs (menahan) dan at-tasbil (menyalurkan) untuk bahasa.

Kemudian menurut istilah, wakaf adalah menahan suatu barang, dan menyalurkan manfaatnya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Contoh wakaf adalah mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid, atau mewakafkan rumahnya untuk kepentingan para penuntut ilmu, atau semisalnya.Maka yang punya harta lebih tanah di mana mana mari juga gunakan untuk wakaf sebagai bekal nantik di akhirat disaat harta tak berguna lagi,yang akan mengalir pahalanya adalah salah satu wakaf tanah.Tanah di wakafkan untuk kepentingan ummat seperti pembangunan Masjid,Pondok Tahfiz,Pondok Al Quran dan lain sebagainya.

  • Hukum Wakaf

Wakaf hukumnya adalah amalan sunnah yang dianjurkan. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT dalam Al Quran surat Yasin ayat 12 yang berbunyi

Arab: اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

Latin: innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn

Artinya: Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).

Dari ayat di atas, Syaikh Prof Dr Khalid bin Ali Al-Musyaiqih berkata, “Di antara bekas yang ditinggalkan oleh orang yang telah wafat adalah wakaf.”

Sehingga, secara umum  wakaf juga termasuk dalam bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, seperti dalam Quran surat Al Ma’idah ayat 2

Arab: وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ

Latin: wa ta’awanu ‘alal-birri wat-taqwa

Artinya: Dan tolong-menolong lah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.

 
  • Rukun dan Syarat Wakaf

Ada empat rukun dalam berwakaf, yakni orang yang berwakaf (al-waqif), benda yang diwakafkan (al-mauquf), orang yang menerima manfaat waqaf (al-mauquf ‘alaihi), dan terakhir lafadz atau ikrar wakaf (sighah).

Syarat wakaf pada orang yang melaksanakannya, benda yang diwakafkan, orang yang menerima, hingga ucapan lafadz berbeda-beda. Adapun seperti di bawah ini

-Syarat orang yang berwakaf, yakni memiliki secara penuh harta tersebut, berakal, baligh, dan mampu bertindak secara hukum (rasyid).

-Syarat benda yang akan diwakafkan pertama adalah barang berharga, barang yang diketahui jumlahnya, dimiliki oleh orang yang berwakaf, dan benda yang berdiri sendiri atau tidak melekat pada harta lain.

-Syarat orang yang menerima manfaat wakaf adalah orang Muslim, merdeka, dan kafir zimmi untuk tertentu. Sedangkan, untuk tidak tertentu adalah orang yang menerima harus menjadikan wakaf untuk kebaikan yang dengannya dapat mendekatkan diri kepada Allah. Wakaf hanya ditujukan untuk kepentingan Islam saja.

-Syarat wakaf yang terakhir berkaitan dengan isi ucapan. Pertama, ucapan harus menunjukkan kekal (ta’bid). Tidak sah bila ucapan dengan batas tertentu. Kedua, ucapan harus dapat direalisasikan. Lalu ucapan bersifat pasti dan keempat tidak diikuti syarat yang bisa membatalkan.

Bila semua telah dipenuhi, maka wakaf telah sah. Orang yang melakukan wakaf tidak dapat lagi menarik kembali harta yang telah diwakafkan.

 Hukum Dasar Menjual Harta Wakaf

Pada dasarnya subtansi dari berwakaf adalah menginfaqkan harta dijalan Allah, dengan menahan harta tersebut atau mengkekalkan pokoknya, dan menyalurkan manfaatnya secara terus menerus. Sebagaimana petunjuk nabi SAW kepada Umar bin Khattab ketika Umar mendapatkan perkebunan kurma sebagai ghanimah pasca perang Khaibar.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رضي الله عنهما – قَالَ أَصَابَ عُمَرُ – رضي الله عنه – أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا. قَال : فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بَهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيل اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيل وَالضَّيفِ وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُل مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيَطْعَمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ )رواه البخاري)1

”Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Umar bin al-

Khattâb mendapat sebidang tanah di khaibar. Beliau mendatangi Rasulullah SAW meminta pendapat beliau,”Ya Rasulallah, aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah aku dapat harta lebih berharga dari itu sebelumnya. Lalu apa yang anda perintahkan untukku dalam masalah harta ini?”. Maka Rasulullah SAW berkata,”Bila kamu mau, bisa kamu tahan pokoknya dan kamu bersedekah dengan hasil panennya. Namun dengan syarat jangan dijual pokoknya (tanahnya), jangan dihibahkan, jangan diwariskan”. Maka Umar ra bersedekah dengan hasilnya kepada fuqara, dzawil qurba, para budak, ibnu sabil juga para tetamu. Tidak mengapa bila orang yang mengurusnya untuk memakan hasilnya atau memberi kepada temannya secara makruf, namun tidak boleh dibisniskan.”

Dalam hadis ini nabi secara tegas memberi syarat, melarang mengubah harta benda wakaf yang telah diwakafkan, menjualnya, mewariskannya atau bahkan hanya sekedar menghibahkannya.

  1. Jumhur

Berdasarkan hadis di atas, maka jumhur ulama bersepakat harta wakaf tidak boleh dijual. Ketika seseorang berwakaf menurut jumhur ulama, telah lepaslah kepemilikan harta tersebut dari si wakif untuk selama-lamanya, dan berpindah kepemilikannya sepenuhnya kepada Allah. Karena menurut jumhur ulama akad wakaf bersifat lazim, tidak bisa dibatalkan dikemudian hari. Sehingga wakif ataupun nazhir pengelola tidak punya hak apa-apa lagi terhadap harta wakaf, melainkan hanya sekedar mengelolakannya dan mengoptimalkan manfaatnya serta memberdayakannya untuk disalurkanmanfaatnya untuk umat, namun tidak boleh kembali menarik harta tersebut, membisniskannya untuk keperluan pribadi, menjualnya, mewariskan dan menghibahkannya.

  1. Abu Hanifah

Abu Hanifah sedikit berbeda pendapat dengan jumhur ulama terkait boleh atau tidaknya menjual harta wakaf. Beliau dalam hal ini membolehkan jika seorang wakif menarik kembali harta wakafnya atau menjualnya jika hal tersebut atas keinginan wakif sendiri semasa hidupnya. Karena bagi beliau akad wakaf sifatnya tidak lazim, dia seperti akad ’ariyah (Pinjam), dimana dalam akad pinjam seseorang meminjamkan hartanya kepada orang lain, pada saat itu subtansinya dia memberikan manfaat pada orang lain, tapi dari segi kepemilikan harta tersebut tetap menjadi milik dia, suatu saat jika dia ingin menarik atau meminta kembali, maka sah dan boleh saja. Begitu pula dalam wakaf menurut Abu Hanifah, kepemilikan harta wakaf ketika diwakafkan masih sepenuhnya hak wakif, hanya manfaatnya yang dia sedekahkan kepada orang lain. Yang artinya wakif masih punya kewenangan sepenuhnya terhadap harta wakafnya. Baik dia ingin menjualnya, atau hanya mewakafkannya untuk batasan waktu tertentu, silahkan saja dengan syarat itu dilakukan oleh wakif sendiri semasa hidupnya. Ketika wakif sudah

meninggal maka kewenangan ini tidak berlaku buat yang lain, nazhir atau ahli warisnya tidak dapat menarik atau menjual harta wakaf tersebut kalau tidak ada perintah atau ikrar dari si wakif selama hidupnya. Hakikat wakaf yang sebenarnya menurut Abu Hanifah adalah mensedekahkan manfaat barang bukan ’ain (fisik)barangnya.

Hukum di atas terkait kalau harta wakaf dijual secara mutlak, secara umum para ulama mengharamkan, berdasarkan hadis Nabi SAW. Namun bagaimana hukum terhadap kasus harta wakaf yang sudah tidak produktif, tidak memberi manfaat lagi, atau harta wakafnya telah rusak, seperti bangunan masjid telah lapuk, sehingga mengharuskan adanya perubahan, direnovasi, atau dipindahkan posisisnya ke tempat lain, seperti ditukar guling atau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah istibdal. Harta wakafnya akhirnya dijual tapi tidak semata-mata dijual begitu saja, melainkan menjual harta wakaf, kemudian hasilnya dibelikan kembali aset wakaf yang baru. Contoh,menjual tanah wakaf yang usang, atau tidak berfungsi seperti awal di wakafkan, kemudian hasil penjualannya dibelikan tanah wakaf kembali, di tempat yang lain yang lebih produktif atau menghasilkan manfaat, atau menjual masjid, jika masjid sudah tidak ada lagi orang yang shalat disana, bolehkah dipindahkan ke tempat lain agar dapat berfungsi seperti sedia kala dibangun dan diwakafkan? Kesemuanya dilakukan bertujuan agar manfaat dan pahala orang yang telah berwakaf dapat terus mangalir.

 Dengan berwakaf sudah mendapatkan pahala untuk tabungan akhirat,jangan sampai wakaf yang sudah di tunaikan akan menjadi hilang pahalanya karna sikap kita sendiri dengan menjual dan sebagainya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *