Nabi Pernah Menceraikan Istri Istrinya Sebab Tidak Patuh kepada Nabi Dan Sebelum Surat Thalaq Turun

189 Lihat

TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU :

Oleh Satrio

Tafsir dan Asbabul Nuzul Surat Ath-Thalaq ayat 1-4 

Surat At-Talaq

يٰۤاَيُّهَا النَّبِىُّ اِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَآءَ فَطَلِّقُوۡهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحۡصُوا الۡعِدَّةَ ‌ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمۡ‌ ۚ لَا تُخۡرِجُوۡهُنَّ مِنۡۢ بُيُوۡتِهِنَّ وَلَا يَخۡرُجۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ يَّاۡتِيۡنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ‌ ؕ وَتِلۡكَ حُدُوۡدُ اللّٰهِ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَعَدَّ حُدُوۡدَ اللّٰهِ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهٗ‌ ؕ لَا تَدۡرِىۡ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذٰ لِكَ اَمۡرًا
1. Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.
فَاِذَا بَلَغۡنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمۡسِكُوۡهُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ اَوۡ فَارِقُوۡهُنَّ بِمَعۡرُوۡفٍ وَّاَشۡهِدُوۡا ذَوَىۡ عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ وَاَقِيۡمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ يُوۡعَظُ بِهٖ مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ ۙ وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا
2. Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,
وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا
3. dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
وَالّٰٓـىٴِۡ يَٮِٕسۡنَ مِنَ الۡمَحِيۡضِ مِنۡ نِّسَآٮِٕكُمۡ اِنِ ارۡتَبۡتُمۡ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشۡهُرٍ وَّالّٰٓـىٴِۡ لَمۡ يَحِضۡنَ‌ ؕ وَاُولَاتُ الۡاَحۡمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنۡ يَّضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّ ‌ؕ وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مِنۡ اَمۡرِهٖ یُسْرًا
4. Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.
  Asbabun nuzul dan Tafsir At-Thalaq ayat 1
Di dalam tafsir As-Shabuni disebutkan bahwa al-Kalabi berkata sebab turunnya ayat ini ialah, bahwa Rasulullah saw. marah kepada Hafsah karena Nabi merahasiakan suatu perkara kepadanya tetapi kemudian ia bocorkan kepada Aisyah lalu ia ditalak kemudianturun ayat ini.
 Banyak perempuan yang mendamba-dambakan menjadi Istri Rasulullah SAW Beberapa bahkan menghibahkan dirinya untuk Nabi SAW. Namun di samping itu, ternyata Rasulullah SAW pernah menceraikan Istrinya diantara istri istri yang di ceraikan  Rasulullah SAW yaitu:

1.Aliyah binti Dzibyan

Nama lengkapnya Aliyah binti Dzibyan bin Amr bin Auf bin Abd bin Abi Bakr bin Kilab al-Kilabiyah. Perempuan dari Bani Rabiah ini dikenal sebagai ummul masaakin (Ibu orang-orang miskin), karena kegemarannya dalam bersedekah.

Rasulullah SAW pernah menikahinya tapi kemudian menceraikannya. Setelah bercerai dengan Rasulullah, Aliyah kemudian dinikahi oleh sepupunya dan melahirkan keturunan darinya. Ketika itu ayat tentang larangan menikahi istri-istri Nabi belum turun, sehingga menikahi perempuan yang pernah dinikahi Nabi masih diperbolehkan.

2.Umaimah binti Nu’man al-Jauniyah

Pertemuan Rasulullah Saw dengan Umaimah berawal dari perjalanannya bersama para sahabat. Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Said al-Khudri berkisah “Kami pergi bersama Rasulullah Saw, hingga sampailah di suatu perkebunan yang bernama Syauth. Kami berhenti di antara dua kebun. Kemudian Rasulullah Saw bersabda “Duduklah di sini”.

Maka kami pun dipersilahkan untuk singgah di rumah yang ada di kebun kurma milik Umaimah binti Nu’man bin Syarohil. Ketika itu ia sedang bersama pelayannya. Maka ketika Rasulullah Saw mendatanginya beliau berkata “Berikanlah dirimu untukku”. Namun Umaimah justru menjawab “Apakah pantas apabila seorang ratu memberikan dirinya kepada seseorang yang bukan raja?”

Setelah resmi menjadi istri Rasulullah Saw, beliau pun mendekatinya seraya menjulurkan tangannya kepadanya. Namun Umaimah menjauh seolah-olah tak menyukainya, ia lalu berkata “Aku berlindung kepada Allah darimu”. Maka beliau pun bersabda “Sesungguhnya engkau telah berlindung dengan Dzat Yang Maha Agung, maka kembalilah kepada keluargamu”.

Maka Rasulullah Saw pun keluar dari kamarnya dan menceraikannya sebelum menggaulinya, beliau kemudian menemui Abu Usaid dan berkata “Berikanlah ia dua baju dari Persia dan kembalikanlah ia kepada keluarganya”.

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa namanya ialah Asma binti Nu’man, begitu pula disebutkan dalam kitab al-Ishabah fii tamyiiz ash-shahabah. Namun ada perbedaan pendapat mengenai sebab perceraiannya dengan Rasulullah SAW.

3.Amrah binti Yazid bin al-Jaun

Rasulullah SAW pernah menikahi Amrah binti Yazid namun kemudian beliau menceraikannya sebelum menggaulinya. Adapun sebab perceraiannya dikarenakan Amrah memiliki penyakit kusta. Ada pula yang mengatakan bahwa Amrah lah yang berlindung kepada Allah dari Nabi. Rasulullah SAW kemudian menceraikannya dan memerintahkan Usamah bin Zaid untuk memberikan tiga pakaian kepada Amrah.

4.Hafsah Binti Umar

Hafsah adalah putri sulung Umar bin Khattab, buah hati dari pernikahannya dengan Zainab binti Mazh’un, adik kandung Utsman bin Mazh’un, salah seorang cendekiawan Arab zaman Jahiliyyah yang kemudian menjadi sahabat Nabi. Hafsah lahir beberapa hari setelah Fathimah, putri bungsu Rasulullah lahir. Bertepatan dengan peristiwa dibangunnya Ka’bah kembali oleh orang-orang Quraisy setelah roboh karena banjir, atau kira-kira 5 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad.

Hafsah besar dengan mewarisi sikap ayahnya. Kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Ia juga pandai membaca dan menulis di saat budaya tersebut tidak lazim dimiliki oleh kaum perempuan. Hafsah pernah ditunjuk Abu Bakar untuk membantu proses pengumpulan mushaf-mushaf al-Qur’an, karena waktu itu ia termasuk salah seorang sahabiyah yang hafal keseluruhan al-Qur’an.

Ketika Hafsah semakin dewasa, seorang pemuda shalih bernama Khunais bin Hudzafah al-Sahami melamarnya. Umar menerima lamaran pemuda itu atas puterinya dan Hafsah pun sangat bahagia. Mereka akhirnya menikah. Namun kebahagian Hafsah dan Khunais tidak berlangsung lama. Allah menghendaki Khunais terbunuh secara syahid di Badar.

Peristiwa itu membuat Hafsah sangat berduka. Umar tak menyangka puterinya telah menjadi janda diusiannya yang belum genap 20 tahun. Sampai pada suatu hari, kesedihan Umar tak terbendung lagi. Ia keluar dari rumah puterinya dalam keadaan menangis tersedu-sedu sambil mempercepat jalannya untuk pulang. Tak disangka di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Utsman bin Affan yang waktu itu berstatus duda, karena Ruqayyah binti Rasulullah telah wafat mendahuluinya. Lalu Umar menawarkan Hafsah kepada Utsman. Namun Utsman menolak dengan mengatakan, “Aku belum ingin menikah saat ini.”

Untuk itu, Umar mendatangi Abu Bakar dan menawarkan Hafsah kepadanya. Umar berharap sahabat dekatnya itu tidak menolak tawarannya. Namun Abu Bakar justru diam dan tidak menjawab apa-apa. Menghadapi sikap kedua sahabatnya itu, Umar kecewa bercampur marah. Kesedihannya bertambah teringat nasib puterinya. Kemudian Umar menemui Rasulullah dan mengadukan kekecewaannya. Maka Rasulullah bersabda kepadaya, “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman. Dan Utsman akan menikah dengan perempuan yang lebih baik dari Hafsah.”

Umar begitu bahagia mendengar sabda tulus dari Nabinya. Ini pertanda bahwa ada laki-laki terbaik yang akan menggantikan posisi Khunias di hati puterinya. Namun Umar masih bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki terbaik itu. Tapi itu tak digubris, yang terpenting bagi Umar, Rasulullah telah menyiapkan laki-laki terbaik untuk puterinya.

Itu artinya, duka Hafsah akan segera terobati. Hingga suatu hari, Rasulullah datang ke rumahnya dan bermaksud melamar Hafsah. Kebahagiaan tampak dari wajah Umar. Senyum lebar mulutnya tak tertahan lagi. Ia segera memberitahu kabar gembira tersebut kepada sahabat-sahabatnya.

Pertama kali yang Umar temui adalah Abu Bakar. Abu Bakar memberi selamat dan menyampaikan permohonan maafnya. Ia berkata, “Umar bin Khattab, sahabatku, jangan marah. Sungguh aku mendengar Rasulullah menyebut nama Hafsah. Hanya saja aku tidak mau membuka rahasia beliau. Seandainya Rasulullah menolak Hafsah, pasti akau akan menikahinya.”

Umar mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda ia menerima permohonan maaf Abu Bakar. Ia juga sadar bahwa alasan penokan Utsman untuk menikahi Hafsah karena Utsman masih berduka kehilangan istrinya, Ruqayyah dan bermaksud menyunting adiknya, Ummu Kultsum sehingga nasabnya terus menyambung dengan Rasulullah.

Rasulullah pun menikah dengan Hafsah pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyyah. Dan beliau juga menikahkan puterinya, Umu Kultsum dengan Utsman bin Affan pada bulan Jumadil Akhir di tahun yang sama.

Di rumah Rasulullah, Hafsah ditempatkan di kamar bersama Aisyah dan Saudah. Namun kehidupan bukanlah sinetron, yang dapat direkayasa. Selalu ada ujian dalam kehidupan, agar seseorang menjadi dewasa. Dan kedewasaan itu akan menghasilkan kearifan dalam memandang kehidupan. Demikian yang dialami Hafsah bersama Rasulullah.

Berawal dari sikap cemburu Hafsah kepada Mariyah Qibthiyah, menyebabkan Rasulullah harus marah kepadanya. Mariyah adalah istri Rasulullah yang merupakan gadis budak pemberian raja Muqauqis dari Mesir. Kata Qibthiyyah yang disematkan di belakang namanya adalah karena Mariyah adalah mantan Kristen aliran Koptik. Meski sudah memeluk Islam, dia tetap dikenal dengan nama Mariyah Qibthiyah.

Rasulullah marah kepada Hafsah ketika suatu hari Mariyah datang menemui Rasulullah di rumah Hafsah. Saat itu Hafsah tidak ada di rumah, karena sedang pergi ke rumah ayahnya untuk suatu keperluan. Begitu Hafsah datang, dan pintu kamar tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalam, Hafsah menangis penuh amarah tak kuasa menahan cemburu.

Rasulullah berusaha membujuk dan meminta maaf. Bahkan beliau mengharamkan Mariyah baginya dan bersumpah untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Mariyah. Namun beliau meminta agar Hafsah merahasiakan kejadian tersebut.

Apa dikata. Cemburu yang menguasai diri Hafsah membuatnya lupa daratan. Ia memberitahukan kejadian itu kepada Aisyah, dan dengan cepatnya berita itu menyebar, hingga sampai kepada Rasulullah. Maka, beliau sangat marah. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah kejadian itu, Rasulullah menceraikannya.

Namun karena Allah tidak menginginkan perceraian itu, beberapa hari kemudian Rasulullah merujuknya, karena Jibril mendatanginya dan menyuruh beliau untuk mempertahankan Hafsah sebagai istrinya karena Hafsah adalah wanita yang banyak berpuasa dan banyak ibadahnya. JIbril berkata, “Jangan ceraikan Hafsah, karena ia adalah wanita yang banyak berpuasa dan beribadah dan ia akan menjadi istrimu di surga.”

Kisah ini disarikan dari  “Umm al-Mukminin Hafsah binti Umar bin al-Khatthab” 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *