ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH

574 Lihat

 

ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH

 

NAMA: HASMANI (211853)

KELAS: A2

PRODI : MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

 

Dosen : SATRIO,M.A

 

 

                                            STAIN SULTAN ABDURAHMAN

                                                     KEPULAUAN RIAU

                                                                       2021

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Mata Kuliah ulumul qur’an yang berjudul ilmu muhkam dan mutasyabih

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Dosen Mata kuliah ulumul qur’an kami yang telah membimbing serta mengarahkan kami semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata, Kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya, Mohon maaf apabila ada kekurangan Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Sekian dan terima kasih.

 

 

Tanjung Batu Kundur, 3 Oktober 2021
Penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I

       PENDAHULUAN1

  1. Latar Belakang Masalah1
  2. Rumusan Masalah1
  3. Tujuan Masalah1

 

        BAB II

              PEMBAHASAN

  1. Pengertian Muhkam Dan Mutasyabih2
  2. Karakteristik Muhkam Dan Mutasyabih3
  3. Pendapat Para Ulama tentang Muhkam Dan Mustayabih3
  4. Penyebab Ayat Muhkam Dan Mutasyabih4
  5. Macam-Macam Ayat Muhkam Dan Mutasyabih6

 

         BAB III

             PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

        DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Karena itu, untuk memahami hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an diperlukan  pemahaman dalam kebahasaan. Para ulama’ yang ahli dalam bidang ushul fiqh, telah mengadakan penelitian secara sesama terhadap nash-nash al-Qur’an, lalu hasil penelitian itu diterapkan dalam kaidah-kaidah yang menjadi pegangan umat Islam guna memahami kandungan al-Qur’an dengan benar.

Adapun ilmu yang mempelajari tentang muhkam dan mutasyabih adalah Ilmu muhkam wal Mutasyabih. Ilmu ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan pendapat ulama tentang adanya hubungan ayat atau surat yang lain. Sementara yang lain mengatakan bahwa didalam Al-Qur’an ada ayat atau surat yang tidak berhubungan. Oleh karenanya, suatu ilmu yang mempelajari ayat atau surat Al-Qur’an cukup penting kedududkannya. Sementara itu muhkam dan mutasyabih adalah Sebuah kajian yang sering menimbulkan kontroversial dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, karena perbedaan ’interpretasi’ antara ulama mengenai hakikat muhkam dan mutasyabih.

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Apa yang dimaksud dengan muhkam dan mutasyabih?
  3. Bagaimana karakteristik muhkam dan mutasyabih?
  4. Bagaimana para pendapat para ulama tentang ayat muhkam dan mutasyabih?
  5. Apa penyebab adanya ayat muhkam dan mutasyabih?
  6. Apa saja macam-macam ayat muhkam dan mutsyabih?

 

  1. TUJUAN
  2. Mengetahui pengertian muhkam dan mutasyabih.
  3. Mengetahui karakteristik muhkam dan mutasyabih.
  4. Mengetahui pendapat para ulama tentang muhkam dan mutasyabih.
  5. Mengetahui penyebab adanya ayat muhkam dan mutasyabih.
  6. Megetahui macam-macam ayat muhkam dan mutasyabih.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN MUHKAM DAN MUTASYABIH

Muhkam berasal dari kata Ihkam, yang berati kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara terminologi, Muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh, yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Sedangkan secara terminoligi Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelas maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, maknanya yang tersembunyi dan memerlukan keterangan tertentu, atau hanya Allah yang mengetahuinya.

Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil ataupun tidak. Sedangkan ayat-ayatmutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf-huruf muqatha’ah. (Kelompok Ahlussunnah) Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.

Mayoritas Ulama Ahlul Fiqh yang berasal dari pendapat Ibnu Abbas mengatakan, lafadz muhkam adalah lafadz yang tak bisa ditakwilkan melainkan hanya satu arah/segi saja. Sedangkan lafadz yang mutasyabbih adalah lafadz yang bisa ditakwilkan dalam beberapa arah/segi, karena masih samar.

Menurut Ibnu Abbas, Muhkam adalah ayat yang penakwilannya hanya mengandung satu makna. Sedangkan Mutasyabihat adalah ayat yang mengandung pengertian bermacam-macam.. Menurut Imam as Suyuthi muhkam adalah suatu yang jelas artinya, sedangkan mutasyabih adalah sebaliknya.

Sedangkan menurut Manna’ Al-Qaththan, Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain. Sedangkan Mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain. Dengan demikian muhkam adalah ayat yang terang makna serta lafaznya dan cepat di pahami. Sedangkan Mutasyabih, ialah ayat-ayat yang bersifat global yang memerlukan ta’wil dan yang sukar dipahami.

  1. KARAKTERISTIK MUHKAM DAN MUTASYABIH

Banyaknya perbedaan pendapat mengenai muhkan dan mutasyabih, menyulitkan untuk membuat sebuah kriteria ayat yang termasuk muhkan dan mutasyabih.

J.M.S Baljon mengutip pendapat Zamakhsari yang berpendapat barwa yang termasuk kriteria ayat-ayat muhkam adalah apabia ayat-ayat tersebut berhubungan dengan hakikat (kenyataan). Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah yang menuntut penelitian.

Ar-Raghib al-Ashfihani memberikan kriteria ayat-ayat muhkam dan mutasyabih sebagai berikut :

  1. Muhkam
  2. Yakni ayat-ayat yang membatalkan ayat-ayat yang lain
  3. Ayat-ayat yang menghalalkan atau membatalkan ayat-ayat lain.
  4. Ayat-ayat yang mengandung kewajiban yang harus diimani dan diamalkan.
  5. Mutasyabih
  6. ayat-ayat yang tidak diketahui hakikat maknanya seperti tibanya hari kiamat.
  7. Ayat-ayat yang dapat diketahui maknanya dengan sarana bantu baik dengan hadits atau ayat muhkam.
  8. Ayat yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang dalam ilmunya, sebagaimana diisyaratkan dalam doa Rosululloh untuk ibnu Abbas “Ya Alloh, karuniailah ia ilmu yang mendalam mengenai agama dan limpahkanlah pengetahuan tentang ta’wil kepadanya,”.

 

  1. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

Dalam al-Qur’an sering kita temui ayat-ayat mutasyabihat yang penjelasannya memerlukan penjelasan dari ayat-ayat yang lain. Mengenai hal tersebut, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Antara lain :

  1. Ulama golongan Hanafiyah mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang jelas petunjuknya, dan tidak mungkin telah dinasikh kan. Sedang lafadz mutasyabih adalah lafadz yang sama maksud petunjuknya sehingga tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Sebab lafadz mutasyabih itu termasuk hal-hal yang diketahui Allah saja artinya. Contohnya seperti hal-hal yang ghaib.
  2. Mayoritas ulama golongan ahlu fiqh yang berasal dari pendapat sahabat Ibnu Abbas mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang tidak bisa dita’wil kecuali satu arah. Sedangkan lafadz mutasyabih adalah artinya dapat dita’wilkan dalam beberapa segi, karena masih sama.
  3. Madzhab salaf, yaitu para ulama dari generasi sahabat. Mereka berusaha untuk mengimaninya dan menyerahkan makna serta pengertiannya hanya kepada Allah SWT. Bagi kaum salaf, ayat – ayat mutasyabihat tidak perlu dita’wilkan. Sebab yang mengetahui hakikatnya hanyalah Allah SWT, mereka hanya berusaha mengimaninya.
  4. Madzhab khalaf, seperti Imam Huramain. Mereka berpendapat bahwa ayat – ayat mutasyabihat harus ditetapkan maknanya dengan pengertian yang sesuai dan sedekat mungkin dengan dzat-Nya. Mereka menta’wil lafdz istiwa’ (besemayam) dengan maha berkuasa menciptakan sesuatu tanpa susah payah. Kalimat ja’a rabbuka (kedatangan Allah) dalam Qs. Al-Fajr: 22, dita’wilkan dengan kedatangan perintah-Nya.

 

  1. SEBAB-SEBAB TERJADINYA AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

Sebab adanya ayat Muhkam dan Mutasyabih ialah karena Allah SWT menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat – ayat yang Muhkam dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan ayat yang Mutasyabih.

Imam Ar-Raghib Al- Asfihani  dalam kitabnya Mufradatil Qur’an menyatakan bahwa sebab adanya kesamaran dalam Alquran terdapat 3 hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Kesamaran dari aspek lafal saja. Kesamaran ini ada dua macam, yaitu sebagai berikut:
  2. Kesamaran dari aspek lafal mufradnya, karena terdiri dari lafal yang gharib (asing), atau yang musyatarak (bermakna ganda), dan sebagainya.
  3. Kesamaran lafal murakkab disebabkan terlalu ringkas atau terlalu luas. Contoh tasyabuh (kesamaran) dalam lafal murakkab terlalu ringkas, terdapat di dalam surah An-Nisa ayat 3:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat…”

Ayat di atas sulit diterjemahkan. Karena takut tidak dapat berlaku adil terhadap anak yatim, lalu mengapa disuruh menikahi wanita yang baik-baik, dua, tiga atau empat. Kesukaran itu terjadi karena susunan kalimat ayat tersebut terlalu singkat.

 

  1. Kesamaran dari aspek maknanya, seperti mengenai sifat-sifat Allah SWT, sifat-sifat hari kiamat, surga, neraka, dan sebagainya. Semua sifat-sifat itu tidak terjangkau oleh pikiran manusia.
  2. Kesamaran dari aspek lafal dan maknanya. Kesamaran ini ada lima aspek, sebagai berikut:
  3. Aspek kuantitas (al-kammiyyah),seperti masalah umum atau khusus. Contohnya, ayat 5 surah At-Taubah:

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ

Artinya: “Maka bunuhlah kaum musyrikin itu di manapun kalian temukan mereka itu”.

Di sini batas kuantitasnya yang harus dibunuh masih samar.

  1. Aspek cara (al-kaifiyyah), seperti bagaimana cara melaksanakan kewajiban agama atau kesunahannya. Contohnya, ayat 14 surah Thoha:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: “dan dirikanlah shalat ubtuk mengingat aku (allah)”

Dalam ayat ini terdapat kesamaran, dalam hal bagaimana cara salat agar dapat mengingatkan kepada Allah SWT.

  1. Aspek waktu, seperti batas sampai kapan melaksanakan sesuatu perbuatan. Contohnya, dalam ayat 102 surat Ali Imran:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Dalam ayat ini terjadi kesamaran, sampai kapan batas taqwa yang benar-benar itu.

  1. Aspek tempat, seperti tempat mana yang dimaksud dengan balik rumah, dalam ayat 189 surah Al-Baqarah:

وليس البر بآن تآتوا البيو ت من ظهور ها (البقة:)

Atinya: “Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah, juga samar”.

Tempat mana yang dimaksud dengan baliknya rumah, juga samar.

  1. MACAM-MACAM AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH
  2. Ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT.
  3. Ayat-ayat yang Mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam. Seperti pencirian mujmal, menentukan mutasyarak, mengqayyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib.
  4. Ayat-ayat Mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apa lagi orang awam. Hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui Allah SWT dan orang-orang yang rosikh (mendalam) ilmu pengetahuan.

 

 

BAB II

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Muhkam merupakan ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. Sedangkan Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelas maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan keterangan tertentu, atau hanya Allah yang mengetahuinya Sebab adanya ayat Mutasyabih ialah karena Allah SWT menjadikan demikian. Imam Ar-Raghib Al- Asfihani  dalam kitabnya Mufradatil Qur’an menyatakan bahwa sebab adanya kesamaran dalam Alquran terdapat 3 hal, yaitu sebagai berikut:Kesamaran dari aspek lafal saja, kesamaran dari aspek maknanya, kesamaran dari aspek lafal dan maknanya.

  1. SARAN

Bagi semua umat Islam, agar kiranya untuk lebih memahami ‘Ulumul Qur’an lebih mendalam agar bertambah pula iman kita. Dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan,Acep. 2011. “Ulumul Quran”.Bandung : Remaja Rosdakarya

Jalal, Abdul. 2008. “Ulumul Qur’an”. Surabaya: Dunia Ilmu

Marzuki, Kamaluddin. 1992. “Ulumul Qur’an”.  Bandung: Remaja Rosdakarya

Muhammad,Syaih Jamil.1995. “Bagaimana Memahami Al-Quran”. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar

http://juniskaefendi.blogspot.com/2019/11/makalah-ulumul-quran-tentang-al-muhkam.html

diakses pada tanggal 3 Oktober 2021 pukul 12.29 WIB

http://myrealblo.blogspot.com/2015/11/ulumul-quran-al-muhkam-wal-mutasyabih.html?m=1

Diakses Pada Tanggal 3 Oktober 2021 pukul 15.47 WIB

https://ebdaaprilia.wordpress.com/2013/05/21/makalah-ulumul-quran-muhkam-mutasyabih/

Diakses Pada Tanggal 3 Oktober 2021 pukul 15.53 WIB

 

 

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *