WUDHU, TAYAMUM, MANDI BESAR

727 Lihat

MAKALAH

WUDHU, TAYAMUM, MANDI BESAR

OLEH :

FEBBY AGUNG NUGRAHA (201607)

DOSEN PENGAMPU :

SATRIO, M.A

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

STAIN SULTAN ABDURRAHMAN KEPULAUAN RIAU

TAHUN 2021

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita sehingga tugas karya tulis makalah ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW berserta para pengikutnya yang setia menemani hingga akhir zaman.

Tugas makalah yang diberi judul “Wudhu, Tayamum, Mandi Besar” ini adalah salah satu karya tulis yang terbentuk dari hasil kemandirian di mana tugas ini merupakan tugas Fiqih Ibadah.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Al-Ustadz Satrio, M.A selaku dosen kuliah Fiqih Ibadah serta berbagai pihak yang berbagi pengetahuannya dalam penyelesaian makalah ini.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurang spesifiknya informasi yang didapatkan penulis karena hanya mengandalkan pengamatan dilingkungan sekitar, dan media informasi internet sebagai bahan penyusunan makalah ini. Pada akhirnya makalah ini dapat diselsaikan meskipun masih terdapat banyak kekurang. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun, penulis harapkan dalam kemajuan dimasa mendatang. Harapan penulis semoga makalah ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Tanjungpinang, 24 Desember  2021

Penulis

PEMBAHASAN

Islam sebagai agama sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk selalu menjaga kebersihan baik kebersihan dirinya maupun kebersihan sekitarnya. Juga menjaga kebersihan lahir maupun kebersihan batin. Menjaga kebersihan lahir/ luar dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi untuk membersihkan batin dari hadas hanya dapat dilakukan sesuai dengan apa yang telah digariskan Tuhan melalui Nabi-Nya. Ketika seseorang hendak berhubungan dengan Tuhannya harus dalam keadaan bersih baik bersih lahirnya dari segala macam najis maupun bersih batin atau jiwanya dari hadas baik hadas yang besar maupun hadas kecil. Menghilangkan hadas besar adalah dengan cara mandi atau tayammum, sedangkan untuk menghilangkan hadas kecil adalah dengan berWudhu atau tayammum. Kesemuanya telah diatur tentang tatacara pelaksanaannya, syarat rukunnya, maupun segala hal yang berkaitan dengannya.

WUDHU

Wudhu adalah salah satu cara untuk menghilangkan hadas kecil. Wudhu dilakukan apabila hendak melaksanakan salat ataupun ibadah-ibadah lain yang mana dalam ibadah tersebut diperlukan suci dari hadas kecil. Wudhu adalah membersihkan anggota tertentu, atau pekerjaan tertentu yang diawali dengan niat, yaitu membasuh muka, tangan, dan kaki serta mengusap kepala. Adapun yang menjadi dalil bagi diwajibkannya Wudhu hadis “Allah tidak menerima salat kamu sekalian ketika mempunyai hadas sehingga kamu sekalian berwudhu”

Rukun Wudhu

Adapun yang menjadi rukun dari Wudhu adalah sebagai berikut:

  1. Niat;

Niat secara bahasa adalah menyengaja (al-qasdu), sedangkan niat menurut syara’ adalah menyengaja melakukan suatu hal atau suatu pekerjaan dibarengi dengan melakukan pekerjaan tersebut. Orang yang berWudhu dengan melakukan pekerjaan berWudhu dibarengi dengan niat dalam hatinya. Dalam hatinya niat menghilangkan hadas kecil karena Allah SWT.

  1. Membasuh muka

Rukun kedua dari rukun Wudhu membasuh muka, maksudnya adalah membasahi muka atau mengalirkan air ke muka. Dalam membasuh muka maka seluruh bagian muka harus yakin terbasuh, yaitu mulai dari tempat tumbuhnya rambut sampai dagu, dan dari telinga kanan sampai telinga kiri. Sebab jika ada bagian muka yang tidak terbasuh maka Wudhunya tidak sah, oleh karena itulah ulama menganjurkan melebihkan dari batas muka tersebut.

  1. Membasuh tangan sampai siku

Rukun Wudhu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan sampai siku.dalam membasuh ini disyaratkan adanya air mengalir tidak hanya membuat tangan basah oleh air.

  1. Membasuh kepala

Membasuh kepala adalah rukun selanjutnya. Dalam membasuh kepala tidak disyaratkan seluruh bagian kepala terbasahi, akan tetapi cukup membasuh sebagian saja. Juga diperbolehkan membasahi rambutnya saja walaupun cuma satu rambut. Jika yang dibasuh tersebut hanya rambutnya saja maka adanya rambut yang dibasahi tidak keluar dari batas kepala.

  1. Membasuh kaki sampai mata kaki
  2. Mengurutkan basuhan/rukun sesuai urutan rukun diatas

Dalam mengerjakan berWudhu haruslah melakukan rukun sesuai urutan rukun diatas, jadi setelah membasuh muka secara betul barulah membasuh tangan, lalu setelah membasuh kepala, demikian selanjutnya sampai kaki.

Sunnah Wudhu

Selain dari rukun yang telah dijelaskan diatas, Wudhu juga memiliki kesunnahan-kesunnahan yang boleh dikerjakan demi kesempurnaan berWudhu, dan boleh juga tidak dilakukan.

Adapun sunnah Wudhu itu ada banyak diantaranya yaitu:

  1. Membaca basmalah

Sebelum melakukan Wudhu hendaklah diawali dengan membaca basmalah.

  1. Membersihkan mulut dengan cara bersiwak memakai kayu arok, atau menggosok gigi dengan sikat atau benda-benda kesat lainnya.
  2. Mencuci tangan. Sebelum kita melakukan Wudhu di sunnahkan mencuci tangan. Dalam mencuci tangan apabila kita yakin tangan kita bersih maka boleh tangan kita masukkan kedalam bak mandi, akan tetapi jika kita tidak yakin tangan kita bersih maka hendaklah jangan masukkan tangan kedalam bak mandi melainkan dengan cara mengguyurnya.
  3. Berkumur
  4. Intinsyaq (memasukkan air kedalam hidung lalu menyemprotkannya)
  5. Membasuh seluruh kepala

Salah satu dari sunnahnya Wudhu adalah membasahi seluruh kepala caranya adalah setelah tangan dibasahi lalu ibu jari kanan diletakkan di pelipis kanan dan ibu jari kiri diletakkan di pelipis kiris sedang jari kanan dan kiri dipertemukan pada ujung kepala bagian depan, setelah itu jari jari kita tarik kebagian belakang kepala.

  1. Membasuh telinga

Caranya dengan meletakkan ibu jari pada bagian luar bawah telinga dan meletakkan telunjuk pada bagian dalam telinga setelah memutarnya keatas sehingga ibu jari dan telunjuk bertemu.

  1. Membasuh tiga kali

Dalam membasuh anggota Wudhu disunnahkan membasuhnya tiga kali

  1. Mendahulukan anggata kanan

Anggota Wudhu yang memilki anggota kanan hendaklah ketika membasuh anggota yang kanan terlebih dahulu.

Batalnya Wudhu

Perkara atau sesuatu yangmembatalkan Wudhu adalah sebagai berikut:

  1. Keluar angin (kentut)
  2. Hilang akal
  3. Memegang kemaluan
  4. Memegang lubang
  5. Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan

TAYAMMUM

Tayammum merupakan salah satu cara untuk bersuci yang sifatnya adalah dlaruri dalam artian adanya tayammum adalah apabila bersuci dengan menggunakan atau alat bersuci yang utama yaitu air tidak ada atau tidak bisa karena adanya halangan maka bersucinya dengan cara tayammum. Tayammum menurut bahasa adalah “menuju”, sedang menurut istilah ahli fiqh Tayammum adalah menyampaikan atau mengusapkan debu yang suci ke muka dan kedua tangan sebagai ganti dari wudlu atau mandi atau pengganti membasuh anggauta dengan syarat-syarat husus.

Syarat Tayammum

Syarat dari adanya tayammum itu ada lima macam, yaitu:

  1. Adanya Uzur sebab bepergian atau karena sakit. Syarat dari diperbolehkannya tayammum adalah adanya uzur atau halangan yang menyebabkan tidak bisa menggunakan air. Halangan sakit yang menyebabkan diperbolekannya tayammum tentunya harus berdasarkan rekomendasi dari dokter yang ahli dimana jika dia menggunakan air akan menyebabkan kematian atau menyebabkan bertambah parah penyakitnya.
  2. Sudah masuk waktu salat. Tayammum sebagai alat bersuci pengganti tidak setiap waktu dan setiap saat dilakukan. Jika adanya tayammum dilakukan untuk salat maka adanya tayammum dilakukan setelah masuk waktu, jadi seumpama tayammum dilakukan karena mau salat zuhur tentulah tayammum tersebut dilakukan setelah masuk waktu zuhur. Tayammum tidak boleh dilakukan sebelum masuk waktu zuhur jika untuk salat zuhur.
  3. Setelah mencari Air. Apabila adanya tayammum itu bukan karena suatu penyakit akan tetapi karena tidak ada air, maka tayammum bisa dilakukan jika setelah mencari air kearah barat, timur, utara, dan selatan.
  4. Adanya Uzur/halangan menggunakan Air. Apabila adanya tayammum dilakukan karena adanya suatu penyakit yang menyebabkan tidak menggunakan air maka ketika tayammum harus dipastikan halangan atau penyakit yang membolehkan dia tayammum itu masih ada, misalnya pada pagi hari menurut dokter tidak boleh terkena air penyakitnya, maka ketika dia tayammum hendak salat zuhur harus yakin bahwa penyakit yang menghalanginya memakai air tersebut masih ada.
  5. Debu yang Suci. Debu yang digunakan untuk tayammum harus debu yang suci, kering dan belum pernah dipakai untuk bersuci dan tidak bercampurnajis.

Fardu Tayammum

Fardunya tayammum ada 4, yaitu:

  1. Niat
  2. Mengusap muka
  3. Mengusap kedua tangan
  4. Tartib

Sunnah Tayammum

Sunnah dari tayammum ada 3, yaitu:

  1. Membaca basmalah
  2. Mendahulukan anggota kanan
  3. Berturut-turut

MANDI BESAR

Mandi merupakan cara untuk membersihkan tubuh dari segala macam kotoran, baik kotoran yang menempel pada badan maupun kotoran atau hadas yang ada pada batin atau jiwa. Mandi dilakukan dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan, dan tidak dapat hanya dengan air yang hanya suci tapi tidak mensucikan, seperti air yang telah dipakai untuk bersuci atau air yang tercampur dengan benda suci lainnya. Mandi besar atau mandi wajib pun kerap disebut mandi junub. “Bismillahirahmanirahim Nawaitul Ghusla Liraf’il Hadatsil Akbar Minal Janabati Fardlon Lillahi Ta’ala.” Artinya: “Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta’ala.” Mandi junub adalah ritual yang wajib dilakukan jika terjadi beberapa hal, di antaranya keluar air mani, bertemunya dua kemaluan walau tidak keluar air mani, dan berhentinya darah haid dan nifas. Mandi junub didefinisikan dengan membasuhkan air ke seluruh badan dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadas besar. Hadas kecil dapat disucikan dengan berwudhu, sementara hadas besar wajib melakukan mandi junub. Tujuan mandi junub ini untuk membersihkan diri dari hadas kecil maupun hadas besar. Jika tidak melakukan mandi junub ini, tubuh dianggap masih najis dan belum bisa melakukan kewajiban ibadah seorang muslim. Ada beberapa tata cara mandi junub yang baik dan benar, di antaranya:

  1. Niat dan Doa Mandi Junub

Terdapat beberapa bacaan niat mandi junub sesuai dengan tujuan melakukannya, di antaranya:

  1. Niat dan Doa Secara Umum

Niat dan doa ini dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang dapat menghilangkan hadas besar.

Berikut niat dan doa secara umum:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf ‘il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aala

Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardu kerena Allah ta’ala.

  1. Niat dan Doa Setelah Haid

Haid atau menstruasi ini terjadi pada seorang wanita yang telah dewasa. Pada wanita dewasa, hal ini normal terjadi setiap bulannya hingga menopause. Selama haid, wanita dilarang melaksanakan sholat dan puasa. Melakukan mandi junub dapat dilakukan ketika masa haid telah berakhir agar kembali dapat beribadah.

Berikut niat dan doa setelah haid:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil haidil lillahi Ta’aala.

Artinya: Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta’ala.

  1. Niat dan Doa Setelah Nifas

Nifas adalah keluarnya darah dari rahim wanita karena melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas akan keluar kurang lebih selama 40 hari. Selama masa nifas, seorang wanita dilarang untuk sholat dan puasa.

Berikut niat dan doa setelah nifas:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’i hadatsin nifaasi lillahi Ta’aala.

Artinya: Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta’ala.

  1. Mencuci Kedua Tangan

Cuci tangan sampai 3 kali, hal ini bertujuan agar tangan bersih dari najis.

  1. Membersihkan Bagian Tubuh yang Dianggap kotor

Bagian tubuh yang dianggap kotor adalah bagian di sekitar kemaluan.

  1. Mencuci Kembali Tangan

Setelah membersihkan bagian yang kotor. Hal ini dapat dilakukan dengan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun.

  1. Berwudhu

Lakukan tata cara wudhu seperti biasa dilakukan sebelum melakukan sholat.

  1. Membasahi Kepala

Basahi atau siram kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga ke pangkal rambut.

  1. Memisah-misah Rambut

Memisah-misah rambut dengan cara menyela-nyela rambut menggunakan jari-jari tangan. Memisah-misah rambut wajib untuk dilakukan laki-laki dan sunah (mandub) bagi wanita. Hal ini dikarenakan terdapat dalam riwayat Ummu Salamah yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini perempuan yang sangat kuat jalinan rambut kepalanya, apakah aku boleh mengurainya ketika mandi junub? Maka Rasulullah menjawab, Jangan, sebetulnya cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu 3 kali guyuran.”

  1. Membasahi Seluruh Tubuh

Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi kanan dan dilanjutkan dengan sisi kiri.

Demikian tata cara untuk mandi junub yang dapat dilakukan. Melakukannya dengan benar, maka akan membersihkan diri dari hadas besar. Ibadah yang dilakukan juga dapat diterima oleh Allah SWT.

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Islam sangat memperhatikan umatnya agar senantiasa bersih dan suci, baik secara lahir (hissi) maupun batin (ma’nawi). Dalam konsep Islam, bersuci dikenal dengan istilah taharah. Secara bahasa, taharah artinya bersih dan suci dari kotoran atau najis, baik yang bersifat hissi (yang dapat terlihat), seperti kencing atau lainnya, dan najis yang bersifat ma’nawi (yang tidak kelihatan zatnya), seperti aib dan maksiat. Adapun menurut istilah, taharah artinya bersih dari najis, baik  najis haqiqi, yaitu kotoran maupun najis hukmi. Taharah amat penting dalam Islam. Baik taharah haqiqi, yaitu suci pakaian, badan, dan tempat shalat dari najis, maupun taharah hukmi, yaitu suci anggota wudhu dari hadas dan suci seluruh anggota lahir dari janabah (junub). Sebab, hal itu menjadi syarat sahnya shalat.

Dalam ilmu fiqih, thaharah dibahas dalam bagian ibadah. Sebagaimana dijelaskan Wahbah az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adilatuhu Jilid 1, para ahli fiqih mendahulukan pembahasan thaharah sebelum pembahasan sholat. Hal ini karena thaharah merupakan kunci dan syarat sahnya sholat. Thaharah mencakup wudhu, mandi, menghilangkan najis, tayamum, dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya. Pada dasarnya, thaharah dilakukan menggunakan air atau debu yang suci. Para ahli fiqih sepakat boleh bersuci dengan menggunakan air yang menyucikan atau air mutlak. Air mutlak adalah air yang tidak disertai dengan sifat apapun seperti air musta’mal (yang telah digunakan) atau disertai apapun seperti air mawar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid & Ahmad Saebani, Fiqh, Cet. I, ( Bandung: Pustaka Setia, 2009)

Burhanuddin, Fiqh Ibadah, ( Bandung : Pustaka Setia, 2001 )

Hassan, Pelajaran Shalat, ( Bandung: Diponegoro, 2005)

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *