Berbagai Macam Puasa Sunnat, Hikmah dan Manfaat Puasa

617 Lihat

MAKALAH

Berbagai Macam Puasa Sunnat, Hikmah dan Manfaat Puasa

 

 

 

 

Oleh:

Tri Murdiono

Nim. 201608

 

Dosen:

SATRIO, MA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

STAIN SULTAN ABDURRAHMAN KEPULAUAN RIAU

TAHUN 2021

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita sehingg tugas karya tulis makalah ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW berserta para pengikutnya yang setia menemani hingga akhir zaman.

Tugas makalah yang diberi judul Berbagai Macam Puasa Sunnat, Hikmah dan Manfaat Puasa  ini adalah salah satu karya tulis yang terbentuk dari hasil kemandirian di mana tugas ini merupakan tugas fiqh ibadah.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada AlUstadz Satrio, MA selaku dosen kuliah Fiqh Ibadah serta berbagai pihak yang berbagi pengetahuannya dalam penyelesaian makalah ini.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurang spesifiknya informasi yang didapatkan penulis karena hanya mengandalkan pengamatan dilingkungan sekitar, dan media informasi internet sebagai bahan penyusunan makalah ini. Pada akhirnya makalah ini dapat diselsaikan meskipun masih terdapat banyak kekurang. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun, penulis harapkan dalam kemajuan dimasa mendatang. Harapan penulis semoga makalah ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Tanjungpinang, 28 Desember 2021

 

TRI MURDION

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam ajaran Islam, puasa mempunyai kedudukan yang tinggi, karena disamping sebagai ibadah wajib yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga mengandung banyak hikmah yang berkaitan dengan rohani dan jasmani. Hanyalah Allah yang mampu menghitung secara pasti berapa banyak fadlilah dan pahala puasa sunnah; dari sini, Allah berkenan menyandarkan ibadah puasa untuk diri-Nya sendiri, bukan yang lain; Allah berfirman (dalam hadits qudsi): Semua perbuatan manusia itu untuknya sendiri, kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalas cukup ibadah puasanya itu. Dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim: barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan memisahkan dirinya dari neraka sejauh 70 kharif (70 tahun jarak perjalanan)

Selain Ramadhan, bulan-bulan yang paling afdhal untuk melakukan puasa adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab; dan yang paling afdhal daripadanya adalah bulan Muharram, kemudian Rajab, kemudian Dzul Hijjah, kemudian Dzul Qa’dah dan barulah Sya’ban

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa Pengertian Puasa Sunnah ?
  3. Apa Pahala Dan Keutamaan Berpuasa ?
  4. Apasaja Macam-Macam Puasa Sunnah ?
  5. Bagaimana Ketentuan Melakukan Puasa Sunnah ?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Puasa Sunnah

Puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى  بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya”

  1. Pahala dan Keutamaan Berpuasa

Puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala yang mana Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang mengamalkannya,

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إلا الصِيَامَ. فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ. فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ وَلا يَجْهَلْ. فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ – مَرَّتَيْنِ –  وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ. لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ المِسْك. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ. وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata keji, dan janganlah berteriak-teriak, dan janganlah berperilaku dengan perilakunya orang-orang jahil, apabila seseorang mencelanya atau menzaliminya maka hendaknya ia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa (dua kali), demi Yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat dari wangi kesturi, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yakni ketika ia berbuka ia berbahagia dengan buka puasanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya ia berbahagia dengan puasanya.” (HR Bukhari, Muslim dan yang lainnya)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لا يَصُوْمُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ الله. إلا بَاعَدَ اللهُ، بِذَلِكَ اليَوْمِ، وَجْهَهُ عَنِ النَارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً

“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak perjalanan.” (HR. Bukhari Muslim dan yang lainnya).

Sebagaimana jenis ibadah lainnya maka puasa haruslah didasari niat yang benar yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata serta dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Secara Syar’i makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum dan jima’ serta segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” , Maka jika seseorang menahan diri dari makan dan minum tidak sebagaimana pengertian di atas atau menyelisihi dari apa yang menjadi tuntunan Rasulullah saw. maka tentu saja ini merupakan hal yang menyimpang dari syariat, termasuk perbuatan yang sia-sia dan bahkan bisa jadi mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala,

Penyimpangan yang bisa terjadi dalam berpuasa diantaranya:

  1. Berpuasa tidak dalam rangka beribadah kepada Allah.

Semisal seseorang yang berpuasa karena hendak mendapatkan bantuan dari jin/syaitan berupa sihir atau yang lainnya, atau bernadzar puasa kepada selain Allah,  maka perbuatan ini termasuk kesyirikan yang besar karena memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun seseorang yang berpuasa semata-mata karena alasan kesehatan, walaupun hal ini boleh-boleh saja akan tetapi ia keluar dari pengertian puasa yang syar’i sehingga tidaklah ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan puasa sebagaimana yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Menyelisihi tata cara Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, diantaranya:

Mengkhususkan tata cara tertentu yang tidak dituntunkan oleh Nabi saw., semisal puasa mutih (menyengaja menghindari makan daging atau yang lainnya), puasa sehari semalam tanpa tidur atau tanpa berbicara dengan menganggap hal ini memiliki keutamaan dan yang lainnya.

Mengkhususkan waktu tertentu yang tidak dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal mengkhususkan puasa pada hari  atau bulan tertentu tanpa dalil dari al-Qur’an dan sunnah, ataupun mengkhususkan jumlah hari yang tidak dikhususkan dalam syariat.

Maka seyogyanya kaum muslimin menahan diri dari beribadah tanda dasar ilmu atau tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim).

Maka berikut ini adalah beberapa jenis puasa yang dianjurkan di dalam Islam di luar puasa yang wajib (Puasa Ramadhan) berdasarkan dalil-dalil yang syar’i, semoga kita diberi kemudahan untuk mengamalkannya berdasarkan ilmu dan terhindar dari perkara-perkara yang menyelisihi syariat Allah subhanahu wa ta’ala sehingga kita dapat memperoleh berbagai keutamaan dari apa-apa yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Macam-macam Puasa Sunnah

Disamping puasa wajib di bulan Ramadhan, disyariatkan beberapa macam puasa sunat diluar Ramadhan, yaitu:

  1. Puasa enam hari bulan Syawal

Puasa ini disyariatkan berdasarkan hadits Nabi SAW berikut:

عن أبي أيوب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهرز (رواه مسلم)

Dari Abi Ayyub r.a., Rasulullah SAW bersabda:”bang siapa puasa pada bulan Ramadhan kemudian ia puasa pula enam hari pada bulan Syawal adalah seperti puasa sepanjang masa.” (HR. Muslim)

Para ahli memahami hadits tersebut dengan mengaitkannya kepada hadits yang menerangkan bahwa satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Jadi satu bulan (30 hari) berpuasa pada bulan Ramadhan sama nilainya dengan sepuluh bulan (300 hari) berpuasa di luar Ramadhan, dan enam hari berpuasa pada bulan Syawal sama nilainya dengan dua bulan (60 hari). Dengan demikian jadilah puasanya seperti 12 bulan (1 tahun)

  1. Puasa hari senin dan hari kamis, sebagaimana dianjurkan Nabi SAW melalui sabdanya:

عن عا ئشة رضي الله عنها كان النبي صلى الله عليه وسلم يتحر صيام الإثنين والخمس (زواه ابو داود)

dari Aisyah r.a., bahwa Nabi SAW memilih waktu puasa pada hari senin dan hari kamis. (HR. Abu Daud).

Pada hadits lain, hadits shahih yang menerangkan bahwa Nabi saw. mementingkan untuk melakukannya, sabdanya: Amal-amal perbuatan dilaporkan pada hari senin dan kamis, maka aku senang bila amalku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa; maksudnya dilaporkan kepada Allah.

Adapun dibawanya amal-amal tersebut oleh Malaikat, adalah satu kali  malam dan satu kali siang hari; dan tentang dibawanya pada bulan sya’ban adalah dibelokkan pada pengertian, dibawanya amal satu tahun secara keseluruhan. Puasa hari senin lebih Afdhal dari pada kamis, karena adanya kekhususan-kekhususan yang banyak dikemukakan oleh para Ulama

  1. Puasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak sedang haji, sedangkan bagi orang yang haji puasa itu tidak disunatkan, sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:

عن ابى قتادة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه من النار من يوم غرفة ( زواه مسلم )

Dari Abi Qatadah, Nabi SAW bersabda: tiadalah dari hari yang paling banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain hari ‘Arafah (HR. Muslim).

Hukum puasa ini sunnah muakad. Dosa yang dilebur adalah dosa-dosa kecil yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak-hak Adam, sebab dosa besar bisa dilebur hanya dengan bertaubat yang sah, sedangkan hak Adam terserah pada kerelaan yang bersangkutan sendiri. Jikalau tak punya dosa kecil maka kebajikan-kebajikannya akan ditambah.

  1. Puasa tiga hari setiap bulan (hari Bidl), yaitu pada hari 13, 14 dan 15. Tapi bila dilaksanakan pada selain hari-hari tersebut dipandang sah. Nabi SAW bersabda:

عن ابي ذر قال رسول لله صلى الله عليه وسلم يا أبا ذر إذا صمت من الشهر ثلاثة فثم ثلاثة عشرة وأربع عشرة وخمس عشرة (رواه أحمد والنسائى)

Dari Abi Zarr, Nabi SAW. Bersabda: “Hai Abu Zarr, apabila engkau hendak puasa tiga hari dalam sebulan, hendaklah engkau puasa pada hari ke 13, 14, dan 15.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

  1. Puasa hari ke-9 pada bulan Muharram (puasa Tasu’a), sebagaimana dijelaskan pada hadits:

عن ابن عباس رضي الله عنه لو بقيت على قابل لأصومنّ التسع والعاشر (زواه مسلم)

Dari Ibn Abbas, berkata:” Jika aku masih hidup sampai masa (bulan) depan, aku akan melaksanakan puasa pada hari yang ke-9 dan 10 (Muharram).”(HR. Muslim)

Dari keterangan ini, bagi orang yang tidak bepuasa tasu’a disunnahkan berpuasa pada tanggal 11-nya, bahkan telah berpuasa tanggal 9 sekalipun; tersebut didalam Al-Umm : tidaklah mengapa, bila berpuasa pada tanggal 10 nya juga.

  1. Puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram), sesuai dengan hadits Nabi berikut:

عن قتادة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوم يوم عشوراء يكفر سئة ماضية (رواه مسلم)

Dari Abi Qatadah, Rasulullah bersabda:”Puasa hari ‘Asyura itu menhapuskan dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Hukum puasa ini sunnah muakad. Diterangkan dalam haadits Muslim bisa melebur dosa selama 1 tahun yang telah lewat. Adapun hadits-hadits tentang bercelak mata, mandi, dan memakai harum-haruman di hari ‘Asyura adalah palsuan para pemalsu hadits[7]

  1. Puasa bulan Sya’ban. Dalam hal ini Nabi Bersabda:

عن عائشة رضي الله عنها قالت لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم أكثر من الشعبان (رواه الخمسة)

Dari Aisyah berkata:”Nabi tidak berpuasa lebih banyak selain dari pada bulan Sya’ban.” (HR. Al-Khamsah)

Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?

Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

 

Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban?

An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ”(Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Hikmah di Balik Puasa Sya’ban

  1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkalah manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban. Jadi beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.
  3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.

(Lihat Lathoif Al Ma’arif,  hal. 234-243)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya (terkabulnya) do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad

  1. Puasa berselang hari, yaitu puasa satu hari berbuka satu hari (Puasa Daud), sebagaimana hadits Nabi SAW:

عن عبد الله بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال أفضل الصيام صوم داود كان يصوم يوما ويفطر يوما (متفق عليه)

Dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Nabi SAW bersabda:”Puasa yang lebih adalah  puasa Nabi Daud, yaitu puasa satu hari dan buka puasa satu.” (HR. Muttafaaq ‘alaih)

  1. Puasa delapan hari bulan Dzulhijjah sebelum hari ‘Arafah (puasa Tarwiyah). Hukum puasa ini sunnah muakad. Puasa ini dianjurkan baik kepada orang yang sedang haji maupun yang bukan melaksanakan haji, karena dalam sebuah riwayat yang diterima dan hafshah diterangkan bahwa amal yang dilaksanakan 10 hari awal Dzulhijjah mempunyai keutamaan, termasuk kedalamnya amal ibadah puasa. (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
  2. Puasa pada bulan-bulan yang terhormat (al-asyhar al-hurum), yaiitu bulan Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال أفضل الصلاة بعد المكتوبة جوف الليل وأفضل الصيام بعد زمضان شهز الله المحترم (رواه مسلم)

Dari Abi Hurairah ra., sesungguhnya Nabi SAW bersabda:”Shalat yang paling baik setelah shalat yang diwajibkan adalah shalat ttengah malam dan puasa yang lebih baik setelah bulan Ramadhan ialah puasa pada bulan-bulan terhormat.” (HR. Muslim)

Menurut ahli fiqh Hanafiyah puasa yang dianjurkan itu ialah tiga setiap bulan tersebut, yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu Barangsiapa mengalami Talabbus (terkacaukan) dengan puasa sunnah atau shalat sunnah, maka diperbolehkan memotong di tengah jalan (tidak diteruskan sampai akhir); tidak boleh bila itu haji sunnah. Barangsiapa Talabbus dengan melakukan qadla wajib, maka tidak boleh memotong di tengah jalan

Haram melakukan puasa pada hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah), Idul Fitri, idul Adha, dan juga hari Syak bagi selain yang telah membiasakan puasa pada hari-hari tertentu misalnya senin kamis, hari syak yaitu tanggal 30 Sya’ban.

  1. Ketentuan Melakukan Puasa Sunnah

Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”

Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.

Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.” Beliau rahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Puasa mempunyai kedudukan yang tinggi, karena disamping sebagai ibadah wajib yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga mengandung banyak hikmah yang berkaitan dengan rohani dan jasmani. Hanyalah Allah yang mampu menghitung secara pasti berapa banyak fadlilah dan pahala puasa sunnah; dari sini, Allah berkenan menyandarkan ibadah puasa untuk diri-Nya sendiri, bukan yang lain. Puasa sunnah ada 11, yaitu:

  1. Puasa enam hari bulan Syawal
  2. Puasa hari senin dan hari kamis
  3. Puasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah)
  4. Puasa tiga hari setiap bulan (hari Bidl)
  5. Puasa hari ke-9 pada bulan Muharram (puasa Tasu’a)

 

  1. Puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram)
  2. Puasa bulan Sya’ban
  3. Puasa berselang hari, yaitu puasa satu hari berbuka satu hari (puasa Daud)
  4. Puasa delapan hari bulan Dzulhijjah sebelum hari ‘Arafah (puasa Tarwiyah)
  5. Puasa pada bulan-bulan yang terhormat (al-asyhar al-hurum)
  6. Saran

Kita sebagai seorang mukmin selain menunaikan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, kita seharusnya melaksanakan puasa-puasa sunnah sama seperti yany dikerjakan oleh Rosulullah, karena dalam puasa-puasa sunnah tersebut terdapat banyak sekali faidah-faidah/keutamaan-keutamaan jika kita dapat melaksanakannya. Maka dari itu kita selaku orang mukmin hendaknya berusaha untuk melaksanakan puasa-puasa sunnah tersebut

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya dan orang yang mendengarkannya. Tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, maka dari itu kamu akan menerima kritikan-kritikan atau saran-saran para pembaca maupun pendengar demi kesempurnaan makalah kami ini.

DAFTAR PUSTAKA

As’ad, Alliy, Tarjamah Fathul Mu’in jilid 2, Yogyakarta: Menara Kudus,  1979,

http://muslim.or.id/bahasan-utama-2/anjuran-puasa-syaban.html

http://www.jadipintar.com/2014/03/Pengertian-Puasa-Sunnah-Macam-dan-Ketentuannya.html

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita sehingg tugas karya tulis makalah ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW berserta para pengikutnya yang setia menemani hingga akhir zaman.

Tugas makalah yang diberi judul “pengertian Thaharah; Pengertian, Jenis DanMacamnya, Macam-Macam Najis Dan Cara Mensucikannya” ini adalah salah satu karya tulis yang terbentuk dari hasil kemandirian di mana tugas ini merupakan tugas fiqh ibadah.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada AlUstadz Satrio, MA selaku dosen kuliah Fiqh Ibadah serta berbagai pihak yang berbagi pengetahuannya dalam penyelesaian makalah ini.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurang spesifiknya informasi yang didapatkan penulis karena hanya mengandalkan pengamatan dilingkungan sekitar, dan media informasi internet sebagai bahan penyusunan makalah ini. Pada akhirnya makalah ini dapat diselsaikan meskipun masih terdapat banyak kekurang. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun, penulis harapkan dalam kemajuan dimasa mendatang. Harapan penulis semoga makalah ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Tanjungpinang, 14 OKTOBER 2021

 

TRI MURDION

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………. 2

  1. Latar Belakang ………………………………………………………………………….2
  2. Rumusan Masalah …………………………………………………………………..2

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………….4

  1. Pengertian Tharah ………………………………………………………………………. 4
  2. Pengertian Najis …………………………………………………… 7

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………………..9

  1. Simpulan……………………………………………………………………………………..9
  2. Saran…………………………………………………………………………………………..9

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………….10

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Ibadah kepada Allah SWT merupakan sarana utama untuk mencapai Ridho-Nya. Manusia diciptakan di muka bumi mengemban tugas untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 21 yang berbunyi :

“Hai Manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(QS Al-baqarah ayat 21). Pada prinsipnya Ibadah merupakan sari ajaran Islam yang berarti ketaatan diri secara sempurna pada kehendak Allah SWT. Dengan demikian, hal ini akan mewujudkan suatu sikap dan perbuatan dalam bentuk ibadah. Manusia yang telah menyatakandirinya sebagai muslim ditunutun tuks enantiasa melaksanakan ibadah sesuai dengan pertanda keikhlasan mengabdikan diri kepada Allah SWT. Dalam hal ini, manusia melaksanakan ibadah yang secara khusushanya ditunjukan untuk kepada Allah SWT, seperti sakit,puasa,zakat,dan haji. Sedangkan perbuatan yang termasuk ibadah namun tidak di tentukan secara jelas dalam syariat dinamakan ibadah ghairumahdlah,yaitu segala bentuk perbuatan yang ditunjukkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Oleh karena itu, sebagai manusia diharuskan untuk tunduk dan taat akan perintah-Nya serta mengikuti aturan yang telah di syariatkan. Untuk itulah pentingnya menanamkan dasar-dasar syariat Islam sertamengkajinya lebih mendetail .

  1. RumusanMasalah
  2. Apa yang dimaksud Tharah ?

2.Apa yang dimaksud dengan najis ?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Thaharah

Thaharah menurut bahasa artinya “bersih” Sedangkan menurut istilah syara’ thaharah adalah bersih dari hadas dan najis. Selain itu thaharah dapat juga diartikan mengerjakan pekerjaan yang membolehkan shalat, berupa wudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis. Thaharah menurut bahasa berarti bersuci. Menurut syara atau istilah adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan oleh syariat islam.

Thaharah atau bersuci adalah syarat wajib yang harus dilakukan dalam beberapa macam ibadah. Seperti dalam QS Al-Maidah  ayat : 6

[5:6] Hai orang – orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika sakit atau dalam perjalananatau kembali dari tempat buang air (kakus) atau meyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. Thaharah atau bersuci menurut pembagiannya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

Bersuci lahiriah

Beberapa contoh yang bersifat lahiriah adalah membersihkan diri, tempat tinggal, dan lingkungan dari segala bentuk kotoran, hadas dan najis. Membersihkan dari najis adalah membersihkan badan, pakaian, atau tempat yang didiami dari kotoran sampai hilang rasa, bau, dan warna. QS Al-Muddasir ayat : 4[74:4] dan pakaianmu bersihkanlah.

Bersuci batiniah

Bersuci batiniah adalah membersihkan jiwa dari kotoran batin berupa dosa dan perbuatan maksiat seperti iri, dengki, takabur dan lain lain. Cara membersihkannya dengan taubatan nashoha yaitu memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Thaharah secara umum. Dapat dilakukan dengan empat cara berikut.

1) Membersihkan lahir dari hadas, najis, dan kelebihan-kelebihan yang ada dalam badan.

2) Membersihkan anggota badan dari dosa-dosa.

3) Membersihkan hati dari akhlak tercela.

4) Membersihkan hati dari selain Allah.

Cara yang harus dipakai dalam membersihkan kotoran hadas dan najis tergantung kepada kuat dan lemahnya najis atau hadas pada tubuh seseorang. Bila najis atau hadas itu tergolong ringan atau kecil maka cukup dengan membersihkan dirinya dengan berwudhu. Tetapi jika hadas atau najis itu tergolong besar atau berat maka ia harus membersihkannya dengan cara mandi janabat, atau bahkan harus membersihkannya dengan tujuh kali dan satu di antaranya dengan debu. Kebersihan dan kesucian merupakan kunci penting untuk beribadah, karena kesucian atau kebersihan lahiriah merupakan wasilah (sarana) untuk meraih kesucian batin.

Hukum Thaharah

Dalil thaharah tertulis dalam Quran surat Al Baqarah ayat 222. Allah SWT berfirman menyukai orang-orang yang bertaubat dan bersuci

Arab: اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Latin: Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

Artinya: Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.

Selain itu, dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW, ” Allah tidak menerima sholat yang tidak disertai dengan bersuci.”

Macam-macam Thaharah

Pembagian thaharah ada dua, yakni bersuci dari hadats berupa melakukan wudhu, mandi, dan tayamum. Kemudian, bersuci dari najis berupa menghilangkan najis yang ada di badan, tempat dan pakaian.

Alat-alat Thaharah

Untuk melakukan thaharah, ada beberapa media yang bisa digunakan, yakni air, debu yang suci, dan batu untuk diinjak. Air sendiri, dari segi hukum dibagi menjadi lima, yaitu

 

-Air suci dan dapat mensucikan, seperti air sumur, air sungai, air hujan, dll

-Air yang dapat mensucikan tapi makruh hukumnya, seperti air yang dijemur di tempar logam bukan emas

-Air yang tidak dapat mensucikan, seperti air yang kurang dari dua kulah, air yang sifatnya berbah (air teh, air kopi, air berbau), dan air yang diperoleh dari mencuri.

 

  1. Najis

Najis menurut bahasa adalah sesuatu yang menjijikkan, sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang haram seperti perkara yang berwujud cair (darah, muntah muntahan dan nanah), setiap perkara yang keluar dari dubur dan qubul kecuali mani.

Najis : menurut bahasa berarti kotor, tidak bersih atau tidak suci. Sedangkan menurut istilah adalah kotoran yang seorang muslim wajib membersihkan diri dari dan mencuci apa-apa yang terkena najis.

Najis dan cara mensucikannya

Benda – benda yang termasuk najis ialah :

  1. Darah haid/nifas
  2. Air kencing dan madzi
  3. Kotoran
  4. Air liur anjing

Keterangan : dari benda –benda najis diatas adalah najis yang harus dibersihkan dari badan, pakaian, dan tempat ketika kita akan solat. Maka pengertian dari khomr dan daging babi tentu bukan najis seperti yang dimaksud secara syar’i.

Cara menghilangkan najis

Dibersihkan hingga hilang bau, rasa, dan warnanya. Bila telah diupayakan tetapi masih ada sedikit, tidaklah mengapa.

Untuk liur anjing, dibasuh 7 kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Pelaksanaannya:

  1. Dilakukan dengan tangan kiri.
  2. Tidak dengan menghadap kiblat.
  3. Menggunakan air.
  4. Boleh dan mencukupi dengan menggunakan 3 buah batu atau sesuatu yang lain. Pengertian 3 buah batu adalah tiga usapan, ini sudah mencukupi tidak menggunakan tiga batu, sebab maksud istinja’ ini adalah membersihkan kotoran atau najis.

Istinja’

Bersuci dari najis setelah membuang hajat besar atau hajat kecil.

Untuk melakukan kaifiat mencuci benda yang kena najis, terlebih dahulu akan diterangkan bahwa najis terbagi atas tiga bagian:

1) Najis mugallazah (tebal), yaitu najis anjing. Benda yang terkena najis ini hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali di antaranya hendaklah dibasuh dengan air yang dicampur dengan tanah.

2) Najis mukhaffafah (ringan), misalnya kencing anak Iaki-Iaki yang belum memakan makanan apa-apa selain susu ibu saja.2 Mencuci benda yang kena najis ini sudah memadai dengan memercikkan air pada benda itu, meskipun tidak mengalir. Adapun kencing anak perempuan yang belum memakan apa-apa selain ASI, kaifiat mencucinya hendaklah dibasuh sampai air mengalir di atas benda yang kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, sebagaimana mencuci kencing orang dewasa.

3) Najis Mutawassitah (pertengahan) yaitu najis yang lain daripada kedua macam yang diatas. Najis ini dibagi menjadi dua bagian:

  1. a) Najis hukmiah yaitu yang kita yakini adanya, tetapi tidak nyata zat, bau, rasa, dan warnanya, seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang kena itu.
  2. b) Najis ‘ainiyah, yaitu yang masih ada zat, warna, rasa, dan baunya, kecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dimaafkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Thaharah menurut bahasa artinya “bersih” Sedangkan menurut istilah syara’ thaharah adalah bersih dari hadas dan najis. Selain itu thaharah dapat juga diartikan mengerjakan pekerjaan yang membolehkan shalat, berupa wudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis. Thaharah menurut bahasa berarti bersuci. Menurut syara atau istilah adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan oleh syariat islam.

Thaharah atau bersuci adalah syarat wajib yang harus dilakukan dalam beberapa macam ibadah. Seperti dalam QS Al-Maidah  ayat : 6

Najis menurut bahasa adalah sesuatu yang menjijikkan, sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang haram seperti perkara yang berwujud cair (darah, muntah muntahan dan nanah), setiap perkara yang keluar dari dubur dan qubul kecuali mani.

Najis : menurut bahasa berarti kotor, tidak bersih atau tidak suci. Sedangkan menurut istilah adalah kotoran yang seorang muslim wajib membersihkan diri dari dan mencuci apa-apa yang terkena najis.

  1. Saran

Dalam makalah ini kami membahas tentang dampak penyalahgunaan iptek pada

kehidupan. Kami berharap pembaca tidak puas dengan makalah yang kami sajikan ini dan

berusaha mencari sumber lain yang berkaitan dengan materi ini demi kesempurnaan

pengetahuan dalam memahami.

 

DAFTAR PUSTAKA

1 H. Moch. Anwar, Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib, (Bandung: PT Alma’arif, 1987), hal. 9

2 Tasman, Skripsi “Studi Tentang Tingkat Pemahaman Pengalaman Thoharoh Bagi Siswa Kelas XI MAN Lampa Polman”, (Makassar: UIN Alauddin, 2010), hal. 22

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *