STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASAARAB AKTIF (KEMAHIRAN ISTIMA’ DAN TAKALLUM)

138 Lihat

STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASAARAB AKTIF
(KEMAHIRAN ISTIMA’ DAN TAKALLUM)

 

  1. Khalilullah, S.Ag. MA

 

Abstract

Strategy is one of important thing in teaching a language, moreover in teaching Arabic. The suitable strategy in teaching Arabic is based on the material and the condition of the students. Enjoyable or not the process of teaching and learning Arabic would determine the result expected of the teaching itself. If the beginning of the process of teaching and learning has already implemented active and joyful strategy, the students will be interested in the process of learning Arabic. Arabic active learning is focusing on creating various conditions in which it enables the students to utilize their time to study. The teacher in the concept of active learning will no longer as the main source who transfers knowledge to the students. Active learners place the teacher as a facilitator who creates conducive class to make the process of teaching and learning be better. In learning a language, the first skill that the students have is listening (istimak). The ability in listening means that the students are able to comprehend Arabic utterances correctly and well. After mastering this skill, there is a process again called takallum (speaking). Speaking ability in general is about two sides; the speaker and the listener.

Keywords : Strategy of active learning Arabic (Istimak and Takallum)

  1. Latar Belakang Masalah

Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur’an, bahasa komunikasi dan informasi umat Islam. Bahasa Arab juga merupakan kunci untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Dikatakan demikian, karena buku-buku berbagai macam ilmu pengetahuan pada zaman dahulu banyak ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab. Jadi, jika ingin menguasai ilmu dalam buku-buku tersebut, terlebih dahulu harus belajar Bahasa Arab.

Dalam fase perkembangannya, yakni pada tahun 1973, Bahasa Arab telah dijadikan sebagai Bahasa resmi dalam lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang sekaligus meningkatkan kedudukan Bahasa Arab itu sendiri. Karena itulah tidak berlebihan jika pembelajaran Bahasa Arab sekarang ini perlu mendapatkan penekanan dan perhatian seksama, mulai dari tingkat dasar sampai pada lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, umum maupun agama, untuk digalakkan dan diajarkan. Dalam pembelajarannya, tentunya harus disesuaikan dengan taraf kemampuan dan perkembangan siswa.

Dalam pelaksanaannya pemberian pembelajaran Bahasa Arab sekarang ini, tidak hanya diajarkan di pondok-pondok pesantren saja tetapi sudah dikembangkan dalam lembaga pendidikan formal. Namun, meskipun Bahasa Arab sudah masuk dalam mata pelajaran tersendiri di sekolah-sekolah, tidaklah mudah bagi siswa untuk menyerap, memahami, serta menguasai materi Bahasa Arab yang telah diajarkan. Banyak siswa yang merasa kesulitan dalam menyerap dan memahami, apalagi menguasai materi Bahasa Arab yang telah diajarkan oleh gurunya. Bahkan banyak di antara mereka yang menganggap Bahasa Arab sebagai momok yang menakutkan karena terlalu dibebani dengan sederet hafalan-hafalan teks berbahasa Arab. Hal ini merupakan tantangan yang segera harus diupayakan pemecahannya. Peranan guru sangatlah menentukan dalam pembelajaran Bahasa Arab tersebut.

Untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajarannya penting sekali akan adanya guru Bahasa Arab yang profesional yang benar-benar menguasai Bahasa Arab, baik tentang kaidah ketatabahasaan Arab maupun keterampilannya dalam berbahasa Arab. Selain itu, yang lebih utama untuk diperhatikan oleh guru adalah unsur kreatif dalam mengajarkan materi Bahasa Arab, yaitu dalam perencanaan serta penggunaan berbagai macam strategi pembelajaran Bahasa Arab yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan tentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi siswa. Itu semua ditujukan agar siswa benar-benar dapat menerima, memahami dan menguasai materi Bahasa Arab yang telah diajarkan, tanpa harus mengalami kejenuhan selama proses pembelajaran Bahasa Arab berlangsung.

Pembelajaran yang menarik berarti mempunyai unsur “menggelitik” bagi siswa untuk diikuti. Dengan begitu siswa mempunyai motivasi untuk terus mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang menyenangkan berarti pembelajaran yang cocok dengan suasana yang terjadi dalam diri siswa.

Menyenangkan atau tidaknya proses pembelajaran Bahasa Arab yang berlangsung akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran Bahasa Arab. Jika dari awal proses pembelajaran Bahasa Arab ini sudah diterapkan berbagai macam strategi pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, maka siswa akan termotivasi untuk belajar Bahasa Arab. Oleh karena itulah penentuan strategi yang tepat sangatlah penting untuk diperhatikan oleh para guru atau calon guru Bahasa Arab.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik akar permasalahan; 1) Strategi pembelajaran apa yang digunakan dalam pembelajaran Istima’ dan Takallum? 2) Strategi apa yang menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran Istima’ dan Takallum?

  1. Strategi Pembelajaran

Kata “strategi” dalam kamus Bahasa Indonesia mempunyai arti, antara lain: Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran Ilmu dan Seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam kondisi perang atau dalam kondisi yang menguntungkan Ilmu dan Seni mengembangkan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Tempat yang baik menurut siasat perang. Hilda Taba dalam Suprihadi Saputro dkk, menyatakan bahwa Strategi Pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih oleh guru dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas bagi siswa menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Slameto, Strategi adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan dan penggunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

Sedangkan pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang dalam Bahasa Yunani disebut instructus atau intruere yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pengertian ini lebih mengarah kepada guru sebagai pelaku perubahan.

Muhammad Surya memberikan pengertian pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pengertian ini lebih menekankan kepada murid (individu) sebagai perilaku perubahan.

Pengertian lain dirumuskan oleh Oemar Hamalik, bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran

Menyimak pengertian di atas maka strategi identik dengan teknik, siasat berperang, namun apabila digabungkan dengan kata pembelajaran (strategi pembelajaran) dapat dipahami sebagai suatu cara atau seperangkat cara atau jalan yang dilakukan dan ditempuh oleh seorang guru atau murid dalam melakukan upaya terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap.

Surya mengemukakan, ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu; Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku, prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri individu (walaupun tidak semua perubahan perilaku individu merupakan hasil pembelajaran). Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perubahan prilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan-perubahan itu meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung makna bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itulah pembelajaran akan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang ingin dicapai. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan. Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu, pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud strategi pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh individu (guru) terhadap individu yang lain (murid) dalam upaya terjadinya perubahan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara berkesinambungan.

  1. Pengertian Bahasa Arab

Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh setiap kelompok masyarakat. Setiap Bahasa biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya yang sejenis. Oleh karena itu wajar apabila manusia dalam komunitas tertentu tidak dapat mengetahui Bahasa dari komunitas yang lain. Meski demikian, pada lingkungannya yang sejenis, setiap orang dapat berkomunikasi secara baik. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya Bahasa adalah alat komunikasi antara individu dengan lingkungannya. Secara umum, Bahasa kemudian disimbolkan dengan lafal atau ujaran.

Musthafa Al-Ghulayaini mendefenisikan Bahasa adalah ucapan-ucapan yang digunakan setiap kaum untuk mengemukakan maksud mereka. Bahasa juga dapat diartikan sebagai sejumlah aturan dari berbagai kebiasaan ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi di antara individu dalam sebuah komunitas, dan digunakan dalam urusan kehidupan mereka. Muhammad al-Mubarok (dalam Abdul Mu’in) mendefenisikan Bahasa adalah alat yang unik yang dapat memindahkan sesuatu yang diterima oleh panca indera kepada hati. Jadi Bahasa adalah merupakan jembatan yang dapat menghubungkan antara kehidupan dengan pemikiran. Dari proses berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya tersebut kemudian setiap komunitas akan membentuk Bahasa atau logat mereka secara alamiah, sehingga kemudian dikenal adanya Bahasa-bahasa yang berbeda-beda pada setiap daerah baik dari segi logat, ucapan, maupun kosa kata yang digunakan.

Meski demikian, para ahli Bahasa mengelompokkan Bahasa-bahasa di dunia menjadi beberapa rumpun. Misalnya Max Muller, seperti dikutip Abdul Mu’in membagi Bahasa kepada tiga rumpun, yaitu Indo Eropa, Semit Hemit, dan Turania. Bahasa Arab termasuk dalam rumpun Bahasa Semit yang menjadi salah satu rumpun dari Bahasa Semit Hemit atau dalam istilah lain Homo Semitic atau dalam Bahasa Arab Al-Hamiyah Al-Samiyah. Bahasa lain yang termasuk Homo Semitic adalah Bahasa-Bahasa Semit; Bahasa Mesir kuno, Bahasa Berber, dan Bahasa-Bahasa Kusyitika.

Bahasa semit sendiri masih terbagi lagi ke dalam beberapa bahasa. Secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam kelompok Timur dan Barat. Bahasa Timur meliputi bahasa-bahasa Asyiria-Babilonia atau Akadiah, dan bahasa Barat meliputi Aramiyah, Kan’aniyah dan Arabiyah. Sementara itu Arabiyah juga terbagi lagi menjadi Arabiyah Selatan yang meliputi Ma’iniyah, Sabaiyah, Hadramiyah, Qathniyah dan Habsyiyah, serta Arabiyah Utara yang meliputi Arabiyah Bidah (Bahasa Safawiyah, Samudiyah dan Lihyaniyah) dan Arabiyah Baqiyah (Bahasa Tamim dan Hijaz).

Bahasa Arab yang sampai kepada kita pada saat ini adalah Bahasa Arab Baqiyah yang sebenarnya juga merupakan gabungan dari berbagai Bahasa. Sebagian besar berasal dari sebelah utara jazirah Arab, di samping berasal dari bagian selatan. Bahasa Arab tersebut kemudian dikenal dengan Bahasa Arab fusha, yaitu Bahasa Arab yang dipakai dalam penulisan al-Qur’an dan turas Arab secara keseluruhan, sebagai Bahasa yang digunakan dalam forum-forum resmi, dan untuk mengungkapkan pemikiran secara umum. Di samping Bahasa Arab fusha dikenal adanya Bahasa Arab ‘ammiyah, yaitu Bahasa Arab yang dipakai dalam keadaan biasa, yang berlaku di dalam percakapan sehari-hari.

Dalam beberapa pengertian lain disebutkan, antara lain yang dikemukakan oleh Musthafa Al-Ghulayain bahwa Bahasa Arab adalah kalimat yang disampaikan oleh orang Arab untuk menyampaikan maksud-maksud mereka. Menurut Fathi Yunus Bahasa Arab fusha merupakan unsur paling mendasar dalam membangun bangsa Arab. Dengan digunakannya Bahasa Arab sebagai Bahasa al-Qur’an dan al-Hadits, muncul kesan bahwa Bahasa Arab adalah Bahasanya umat Islam. Padahal tidak mesti yang berbahasa Arab itu adalah Islam, karena pada dasarnya Bahasa Arab tidak hanya milik umat Islam. Hanya saja, Bahasa tersebutlah yang dipilih Allah SWT untuk menurunkan al-Qur’an.

  1. Konsep Pembelajaran Aktif

Dalam proses belajar mengajar dikenal adanya istilah “pengajaran” dan “pembelajaran”. Dua istilah tersebut sering diidentikkan atau dianggap sama, meskipun secara filosofis memiliki perbedaan. Pengajaran lebih menekankan pada terjadinya proses mengajar, atau dengan kata lain, dalam pengajaran yang lebih aktif melakukan kegiatan adalah pengajarnya. Dengan demikian, apabila seorang pengajar sudah menyampaikan materi kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang ada, maka proses belajar-mengajar sudah dianggap selesai. Hal ini berbeda dengan ”pembelajaran” yang lebih menekankan pada upaya untuk mewujudkan terjadinya proses belajar dari siswa. Dalam hal ini yang lebih banyak melakukan aktifitas di kelas adalah para siswa. Dengan kata lain, pembelajaran lebih menunjukkan pada terjadinya belajar secara aktif.

Dewasa ini dua istilah tersebut masih digunakan, tetapi beberapa pakar pendidikan lebih memilih menggunakan istilah pembelajaran dengan pertimbangan tersebut. Dengan adanya perbedaan makna tersebut, maka secara tidak lansung proses pembelajaran dewasa ini sudah mengarah pada upaya pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif, para siswa melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka menggunakan otak mereka untuk mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan secara pribadi menarik hati. Seringkali, siswa tidak hanya terpaku ditempat-tempat duduk mereka, berpindah-pindah dan berpikir keras. Lebih tegas Silberman mengemukakan bahwa belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan-kumpulan strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak dari awal memalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.

Dalam pembelajaran aktif, fokus utamanya adalah menciptakan berbagai kondisi yang memungkinkan para siswa dapat menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk belajar. Para pengajar dalam konsep pembelajaran aktif tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu yang melakukan tugasnya untuk mentransfer ilmunya kepada siswa. Pembelajaran aktif menempatkan para pengajar sebagai seorang fasilitator, atau dinamisator yang bertugas untuk menciptakan kondisi di kelas agar kondusif untuk terjadinya proses belajar siswa.

Perlu disadari oleh semua pengajar bahwa siswa yang dihadapi di kelas mungkin saja memiliki karakteristik yang beragam baik dari segi kemampuan, tipe belajar, maupun yang lain. Dalam hal tipe belajar misalnya, dikenal adanya tiga macam tipe, yaitu auditory, visual dan kinestetik. Tipe auditory memiliki kekuatan belajar lewat pendengaran, sehingga untuk tipe ini siswa bisa belajar dengan mendengarkan ceramah, atau mendengarkan pelajaran yang disampaikan lewat radio, tape dan media-media lain yang bersuara. Tipe visual memiliki kekuatan pada penglihatannya, sehingga untuk belajar sesuatu tidak cukup dengan mendengarkan ceramah saja, melainkan harus melihatnya baik tulisannya maupun simbol atau visualisasi dari materi yang disampaikan. Tipe kinestetik memiliki kemampuan belajar yang harus melibatkan anggota tubuhnya, dengan bergerak atau beraktivitas tertentu seperti menulis, memperagakan dan sebagainya.

Belajar aktif pada dasarnya ingin mengakomodir semua tipe belajar siswa tersebut, sehingga masing-masing akan dapat belajar dengan baik. Proses belajar aktif juga didasarkan pada upayauntuk lebih memanusiakan manusia. Pembelajaran aktif mengakui bahwa setiap siswa memiliki kemampuan atau potensi untuk belajar. Dengan demikian yang diperlukan adalah bagaimana agar potensi untuk belajar tersebut dapat dieksploitasi semaksimal mungkin. Masing-masing siswa ditempatkan pada posisi yang sama, sejajar dan memiliki kesempatan yang sama dalam belajar.

  1. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab
  2. Strategi Pembelajaran Kemahiran Mendengar

Menyimak merupakan pengalaman belajar yang sangat penting bagi para siswa, karena itu seyogyanya mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para pengajar. Secara umum, keterampilan menyimak dimaksudkan sebagai kemampuan siswa untuk memahami bunyi/ujaran dalam BahasaArab dengan baik dan benar. Fathi Ali Yunus dkk, membagi kemampuan istima’ menjadi empat, yaitu; (1) memahami makna secara global, (2) menafsirkan kalimat yang didengar, (3) memberikan analisis terhadap kalimat yang didengar, dan (4) memahami dengan sepenuh hati dari apa yang didengar.

Empat macam keterampilan menyimak tersebut merupakan gradasi yang secara metodologis juga perlu dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Pada tahap awal yang perlu ditekankan adalah keterampilan menangkap maksud dari apa yang didengar secara global. Keterampilan yang pertama ini lebih rendah jika dibandingkan dengan keterampilan di atasnya, yaitu menafsirkan kalimat yang didengar. Pada tahap ini menyimak tidak sekedar untuk memahami maksud secara global, tetapi sudah mampu untuk menjelaskan kembali apa yang sudah didengar. Di atas kedua keterampilan tersebut adalah memberikan analisis terhadap kalimat yang didengar. Untuk dapat memberikan analisis, seorang pendengar harus mampu menyimak secara detail bunyi kalimat yang didengar, karena sebuah analisis harus didasarkan pada informasi yang menyeluruh dan pengetahuan yang dibutuhkan. Pada tahap yang paling tinggi, menyimak dimaksudkan untuk dapat memahami dengan sepenuh hati dari apa yang didengar. Apabila tingkat kemampuan mendengar sudah sampai pada tahap ini, maka seseorang dapat dikatakan memiliki keterampilan mendengar sangat baik.

Abdul Mu’in menyebutkan tiga keterampilan yang perlu diperhatikan dan dikembangkan dalam menyimak, yaitu; (1) kemampuan mengidentifikasi bunyi kata BahasaArab dengan tepat, (2) kemampuan menirukan apa yang telah didengar, dan (3) kemampuan memahami apa yang didengar. Shalah Abdul Majid memberikan penjelasan sekitar tujuan dari pembelajaran istima’ yang hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Yunus, yaitu menyimak untuk; (1) menirukan, (2) menghafalkan, (3) merangkum pokok-pokok pikirannya, dan (4) memahami isinya.

Dalam hal menyimak ini, yang dibutuhkan adalah keaslian Bahasayang didengar. Dengan demikian maka untuk mengembangkan keterampilan ini diperlukan natiq ashli (penutur asli) dengan penyampaian yang alami. Maksudnya adalah, untuk memberikan keterampilan menyimak yang sesungguhnya, maka yang didengarkan adalah Bahasa asli, termasuk dalam cara pengucapannya, intonasinya, aksentuasinya, koma dan titiknya, serta hal-hal lain yang semuanya itu tidak dibuat-buat.

Pada umumnya, pembelajaran istima’ disampaikan dengan menggunakan media audio. Hal ini dikarenakan untuk mendatangkan natiq ashli tidaklah mudah, sementara itu jika dilakukan oleh guru lansung yang notabene bukan orang Arab asli, biasanya ada perbedaan logat dengan Bahasa aslinya. Media audio yang biasa digunakan adalah tape recorder, CD dan laboratorium Bahasa. Hanya saja, jika dilihat dari pertimbangan efisiensi, maka tape recorder dan CD merupakan pilihan media yang cukup murah dan efektif digunakan. Dalam tulisan ini akan dijelas 3 macam strategi pembelajaran istima’ dengan menggunakan media audio tape recorder, CD dan laboratorium.

Kemampuan istima’ itu cukup beragam dan bertingkat-tingkat. Yang paling sederhana, istima’ dimaksudkan untuk memperdengarkan bunyi BahasaArab kepada siswa untuk ditirukan dan lafalkannya. Dalam pengembangan strategi ini lebih menitik beratkan pada aspek pemahaman dan pengungkapan kembali terhadap apa yang sudah didengarnya baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Di antara strategi yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran istima’ adalah:

  1. Strategi 1

Strategi ini bertujuan untuk melatih kemampuan mendengarkan bacaan dan memahami isi bacaannya secara global. Dalam strategi ini dibutuhkan adalah rekaman bacaan dan potongan-potongan teks yang terkait dengan isi bacaan tersebut untuk dibagikan kepada siswa. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Bagikan potongan-potongan teks yang dilengkapi dengan alternatif jawaban benar atau salah (B/S).
  2. Perdengarkan bacaan atau nash lewat kaset atau CD dan para siswa ditugaskan untuk menangkap isi bacaan secara umum.
  3. Setelah bacaan selesai, para siswa diminta membaca pernyataan-pernyataan yang telah dibagikan, kemudian memberikan jawaban benar atau salah terhadap pernyataan tersebut. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan isi bacaan yang didengar, berarti benar, jika tidak sesuai maka jawabannya salah.
  4. Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan jawabannya.
  5. Perdengarkan sekali lagi kaset tersebut agar masing-masing siswa dapat mencocokkan kembali jawaban yang telah ditulisnya.
  6. Berikanlah klarifikasi terhadap semua jawaban tersebut agar semua siswa mengetahui kebenaran dari jawaban mereka masing-masing.

  1. Strategi 2

Strategi ini lebih menekankan pada aspek kemampuan memahami isi bacaan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengiringi dalam setiap bacaan tersebut. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Perdengarkan nash yang sudah direkam dalam kaset ataupun CD.
  2. Mintalah semua siswa untuk mendengarkan dan mencatat hal-hal yang penting.
  3. Mintalah semua siswa untuk menjawab soal-soal yang disampaikan pada akhir bacaan tersebut. Jawaban dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan.
  4. Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan jawabannya.
  5. Berikanlah klarifikasi di akhir sesi terhadap jawaban siswa.

  1. Strategi 3

Strategi ini tidak hanya menitik beratkan pada aspek kemampuan memahami isi bacaan, tetapi juga kemampuan untuk mengungkapkan kembali apa yang sudah didengarnya dengan Bahasa sendiri. Langkah-langkah adalah:

  1. Perdengarkan nash yang sudah direkam dalam kaset atau CD.
  2. Tugaskan kepada setiap siswa untuk mencatat kata-katanya (keyword) sambil mendengarkan.
  3. Setelah selesai, para siswa diminta untuk mengungkapkan kembali isi bacaan tersebut dalam bentuk lisan atau tulisan.
  4. Mintalah setiap siswa untuk menyampaikan (mempresentasikan) hasilnya secara bergantian.
  5. Berikan klarifikasi terhadap hasil kerja siswa untuk memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa.

  1. Strategi Pembelajaran Kemahiran Berbicara

Berbicara merupakan aktivitas berbahasa yang sangat penting bagi anak-anak. Sementara itu orang dewasa, dan manusia pada umumnya menggunakan perkataan lebih banyak dibanding tulisan. Maksudnya adalah, bahwa pada umumnya manusia lebih banyak berbicara dibanding menulis, terutama untuk kebutuhan berkomunikasi.

Keterampilan berbicara pada dasarnya adalah menyangkut kemampuan berkomunikasi dua arah antara pembicara dengan pendengarnya. Kemampuan berbicara tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menyimak. Maka perkembangan kemampuan membaca akan terkait dengan perkembangan kemampuan siswa dalam mendengar dengan baik dan mengaitkan bunyi dengan kalimat-kalimat. Dengan demikian kemampuan berbicara harus didasari oleh; kemampuan mendengarkan (reseptif), kemampuan mengucapkan (produktif), dan pengetahuan (relative) kosa kata dan pola kalimat yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud/fikirannya.

Shalah Abdul Majid membagi keterampilan berbicara menjadi dua tingkatan, yaitu ucapan dan berbicara. “Ucapan” merupakan keterampilan yang tidak banyak membutuhkan pemikiran dan pengahayatan. Bentuk-bentuk dari ucapan ini dapat berupa mengulang apa yang diucapkan pengajar, membaca dengan keras, atau menghafalkan nash yang ditulis maupun yang didengar. Sedangkan “berbicara” merupakan keterampilan yang melibatkan minimal dua pihak, yaitu orang yang berbicara dan yang mendengar. Dengan demikian dalam keterampilan berbicara ini diperlukan keterlibatan fikiran dan perasaan sekaligus diperlukan keterampilan istima’ agar pembicaraan dapat berlansungan dengan lancar.

Dalam berbicara biasanya terdapat beberapa kesulitan, sehingga dalam pembelajarannya perlu mendapat perhatian. Agar dapat menyampaikan maksud dengan baik dalam berbicara, setidaknyaperlu melalui tiga tahapan, yaitu; (1) memikirkan dulu apa yang akan disampaikan dalam pembicaraan, (2) membahas materi yang akan dikembangkan dalam pemicaraan, dan (3) menentukan cara yang digunakan dalam berbicara agar dapat menyampaikan makna yang diinginkan.

Maharat al-Takallum sering juga disebut dengan istilah ta’bir. Meski demikian keduanya memiliki perbedaan penekanan, dimana takallum lebih menekankan kepada kemampuan lisan, sedangkan ta’bir disamping secara lisan juga dapat diwujudkan dalam bentuk tulisan. Meski demikian keduanya memiliki kesamaan secara mendasar, yaitu bersifat aktif untuk menyatakan apa yang ada dalam pikiran seseorang.

  1. Strategi 1

Strategi ini bertujuan untuk melatih siswa menceritakan apa yang dilihat dalam Bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Media yang digunakan dapat berupa gambar baik yang diproyeksikan maupun yang tidak diproyeksikan. Langkah-langkah adalah:

  1. Pilihlah sebuah gambar yang sesuai dengan tema yang diinginkan.
  2. Tunjukkan gambar tersebut kepada para siswa, misalnya dengan ditempel dipapan tulis.
  3. Mintalah siswa untuk menyebutkan nama benda-benda atau bagian-bagian yang ada dalam gambar tersebut dalam Bahasa Arab.
  4. Mintalah masing-masing siswa untuk menyusun sebuah kalimat dari gambar tersebut secara lisan.
  5. Mintalah masing-masing siswa untuk menyusun sebuah kalimat dari gambar tersebut secara tertulis.
  6. Mintalah masing-masing siswa untuk membacakan hasilnya.
  7. Berikan klarifikasi terhadap hasil pekerjaan para siswa tersebut.

  1. Strategi 2

Strategi ini sering disebut dengan strategi jigsaw (cafe-cafe). Strategi ini biasanya digunakan dengan tujuan untuk memahami isi sebuah bacaan secara utuh dengan cara membagi-baginya menjadi beberapa bagian kecil. Masing-masing siswa memiliki tugas untuk memahami sebagian isi bacaan tersebut, kemudian digabungkan menjadi satu. Dengan cara seperti ini diharapkan isi bacaan yang cukup panjang dapat dipahami secara cepat, di samping itu proses pemahaman akan semakin mendalam karena diulang berkali-kali. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Buatlah beberapa kelompok sesuai dengan jumlah topik Bahasan atau jumlah paragrap dari bacaan yang akan dipelajari.
  2. Bagikan naskah/bacaan pada kelompok-kelompok tersebut dengan masing-masing kelompok satu buah topik atau paragrap.
  3. Berilah waktu untuk membaca, memahami dan mengungkapkan kembali dalam kelompok masing-masing secara bergiliran.
  4. Setelah kerja kelompok ini selesai, buatlah kelompok kedua dengan jumlah kelompok sesuai dengan jumlah anggota kelompok yang pertama. Misalnya, jumlah anggota kelompok pertama 5 orang, maka jumlah kelompok kedua juga 5 kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok akan disebar dan bergabung dengan anggota dari kelompok yang lain.
  5. Mintalah masing-masing siswa dalam setiap kelompok untuk mengungkapkan kembali apa yang sudah dipahami dari kelompok yang pertama. Dengan demikian masing-masing kelompok akan memiliki pemahaman dari 5 topik atau paragrap yang berbeda.
  6. Mintalah masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasilnya secara utuh. Pada saat ini masing-masing siswa sudah memahami seluruh isi bacaan atau topik yang ditetapkan.
  7. Berikan klarifikasi di akhir presentasi agar pemahaman terhadap isi bacaan atau topik-topik tersebut tidak keliru.

  1. Strategi 3

Strategi ini sering disebut dengan Small Group Presentation. Dalam strategi ini kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok akan melakukan tugas yang diberikan pengajar, kemudian hasilnya dipresentasikan di kelas. Strategi ini biasanya digunakan untuk lebih mengaktifkan semua siswa sehingga masing-masing siswa akan merasakan pengalaman belajar yang sama. Dengan cara ini diharapkan pengetahuan dan keterampilan siswa dapat merata. Sebagai contoh, dalam pembelajaran Bahasa Arab dengan materi ta’aruf, akan membutuhkan waktu yang sangat banyak jika praktik dilakukan satu-persatu di depan kelas, tetapi jika menggunakan strategi ini penggunaan waktu akan dapat diefisienkan. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Tentukan topik yang akan dipelajari, misalnya ta’aruf tentang identitas diri atau menjelaskan tentang hal tertentu.
  2. Ajaklah seluruh siswa untuk terlebih dahulu menentukan dan menyepakati unsur-unsur atau hal-hal apa saja yang harus disampaikan oleh siswa. Misalnya dalam materi ta’aruf yang harus diungkapkan adalah; nama, umur, alamat, hobi, cita-cita dan seterusnya.
  3. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok kecil, misalnya 2 sampai 5 orang.
  4. Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan ta’aruf dalam kelompoknya secara bergantian.
  5. Setelah proses dalam kelompok selesai, mintalah masing-masing siswa atau beberapa siswa yang mewakili kelompok tersebut untuk menyampaikan hasilnya (berta’aruf) di depan kelas.
  6. Berikan klarifikasi terhadap hasil yang dipresentasikan oleh masing-masing siswa.

  1. Strategi 4

Strategi ini biasa disebut dengan strategi Gallery Session/Poster Session. Penggunaan strategi ini diantaranya ditujukan untuk melatih kemampuan siswa dalam memahami isi sebuah bacaan kemudian mampu untuk memvisualisasikannya dalam bentuk gambar. Dari gambar tersebut diharapkan semua siswa dapat menghafal isi bacaan secara lebih mudah dan ingatan siswa terhadap isi bacaan secara lebih mudah dan ingatan siswa terhadap isi bacaan tersebut dapat bertahan lebih lama. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Tentukan topik-topik bahasan dan bacaan yang akan dipelajari.
  2. Bagilah siswa dalam beberapa kelompok kemudian masing-masing kelompok diberi teks/bacaan dengan topik yang berbeda.
  3. Mintalah seluruh siswa dalam masing-masing kelompok untuk membaca dan memahami teks tersebut bersama-sama.
  4. Mintalah masing-masing kelompok untuk menuangkan isi bacaan tersebut dalam bentuk gambar (visualisasi). Dalam hal ini, bentuk dan unsur-unsur yang ada dalam gambar diharapkan dapat mewakili pokok-pokok pikiran yang ada dalam bacaan tersebut.
  5. Mintalah masing-masing kelompok untuk menempelkan gambarnya pada galeri yang telah disediakan. Jika papan galeri tidak tersedia, dapat juga ditempelkan di papan pengumuman atau di dinding sekolah baik di dalam maupun di luar kelas.
  6. Mintalah masing-masing kelompok untuk menunjuk seorang penjaga pada galeri. Tugas dari penjaga galeri iniadalah memberikan penjelasan kepada para pengunjung yang mempertanyakan isi atau maksud dari gambar yang dipamerkan.
  7. Mintalah semua mahasiswa (yang tidak bertugas sebagai penjaga galeri) untuk berkeliling kemasing-masing galeri dan bertanya kepada masing-masing penjaga tentang gambar yang dipajang dengan Bahasa Arab.
  8. Setiap penjaga harus menjelaskan maksud dari gambar tersebut dalam Bahasa Arab.
  9. Setelah waktu yang ditentukan habis, mintalah semua siswa untuk kembali ke kelas.
  10. Berikan komentar dan klarifikasi terhadap keseluruhan proses yang telah dilakukan, termasuk isi dari masing-masing bacaan yang telah dipelajari.

Di samping beberapa strategi tersebut, pembelajaran kalam juga dapat dikembangkan secara kreatif dan lebih banyak mengaktifkan siswa dengan menggunakan berbagai media dan permainan Bahasa. Bentuk-bentuk permainan Bahasa tersebut akan dijelaskan dalam pembahasan media pembelajaran Bahasa Arab.

  1. Kesimpulan

Pembelajaran aktif menuntut siswa menjadi terlibat dalam proses belajar masing-masing, secara sederhana belajar dengan menerapkan apa yang dipelajari. Pembelajaran aktif berorientasi pada proses bukan hasil. Apa yang dipelajari sebagaimana proses keaktifan adalah sama pentingnya dengan fakta yang merupakan hasil dari aktifitas itu. Melalui proses individual secara aktif maka akan dapat menginternalisasikan informasi yang memungkinkan untuk memikul tanggungjawab dari keputusannya masing-masing.

Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri, baik dalam bentuk interaksi antara siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut.

Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh individu (guru) terhadap individu yang lain (murid) dalamupaya terjadinya perubahan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara berkesinambungan. Ketika seorang guru bisa meramu strategi dalam mengajar maka siswa akan bisa belajar dengan variatif, siswa yang tipe belajarnya audio, visual dan kinestetikakan terakomodir ketika strategi pembelajarannya itu diramu dengan baik. Ketika itu tipe belajar siswa itu sudah terpenuhi maka mereka akan merasakan nuansa yang berbeda dalam belajar, dan tujuan pembelajaran tentunya akan mudah dicapai.

Dari sekian banyak strategi pembelajaran yang dipaparkan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Strategi pembelajaran kemahiran mendengar adalah strategi yang pertama sebagaimana tercantum dalam makalah ini. Strategi pertama ini sudah mengakomodir seluruh tipe siswa dalam belajar.
  2. Strategi pembelajaran kemahiran berbicara adalah strategi yang kedua yang diberinama strategi jigsaw. Dalam strategi ini seluruh siswa terlibat dalam memahami isi dari pembicaraan. Di samping itu proses pemahaman akan semakin mendalam karena diulang berkali-kali.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mu’in, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia (Telaah terhadap Fonetik dan Morfologi), Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru. 2004.

Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Uhamka Press, 2003.

Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2004.

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Silberman, Mel, Active Learning: Strategi Pembelajaran Aktif, Penterjemah: Sarjuli, dkk, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001.

Slameto, Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester. Jakarta: Bumi Aksara. 1991.

Suprihadi Saputro dkk, Strategi Pembelajaran, Bahan Sajian Program Pendidikan Akta Mengajar. Malang : Universitas Negeri Malang. 2002.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *