RAMADHAN DAN IBADAH SOSIAL OLEH SATRIO,M.A

316 Lihat

Pandangan Islam Tentang Ibadah Sosial Islam merupakan agama yang hadir sebagai rahmat bagi alam semesta  . Islam bersifat universal, mengatur segala aspek kehidupan manusia, terutama bagi umatnya yang beriman. Dalam setiap sendi kehidupan, Islam memberi guidens (arahan) yang signifikan agar kehidupan manusia selamat. Bagi umat Islam hukum Allah telah jelas. Al-Qur‟an dan Al Sunnah memiliki prioritas utama sebagai sumber rujukan bagi bangunan sistem kehidupan yang Islami. Islam menyediakan wacana atau khazanah yang begitu kaya atas pelbagai dimensi kehidupan manusia dalam beraktifitas, termasuk di dalamnya aktifitas sosial sehari-harinya. Sejak lahirnya belasan abad yang lalu, Islam memang telah tampil sebagai agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat; antara hubungan manusia dengan Tuhan; antara hubungan manusia dengan manusia; dan antara urusan ibadah dengan muamalah. Islam itu sempurna, artinya mencakupi kebutuhan manusia untuk semua persoalan hidupnya sehingga ajaran Islam akan meliputi tuntunan tentang cara berhubungan dengan Allah (ḥablum min Allah) dan cara berhubungan dengan manusia (ḫ ablum min alnâs).dan termasuk alam sekitarnya yang disebut dengan (hablum min al-„alâm). Demikian Allah berfirman dalam (Q.S. al-anbiyâ‟ [21]: (107) “Dan Tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

A.Keutamaan Ibadah Sosial Dan Pengaruhnya

  1. Keutamaan Ibadah Sosial Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual menjelaskan empat hal yang mengindikasikan bahwa ibadah sosial itu lebih utama daripada ibadah individual.

Pertama, Nabi mencontohkan dalam sabdanya, “Aku sedang salat dan aku ingin memanjangkannya, tetapi aku dengar tangisan bayi, aku pendekkan salatku, karena aku menyadari kecemasan ibunya dengan tangisan anaknya” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain juga Rasulullah mengingatkan para imam agar memperpendek salatnya bila di tengah jamaah ada orang yang sakit, orang lemah, orang tua, atau orang yang mempunyai keperluan. Dengan hadits ini bisa disimpulkan, bila ibadah individual bersamaan waktunya dengan urusan ibadah  , Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern Respond An Transformasi Nilai-Nilai Islam Menuju Masyarakat Madani,   sosial yang penting, maka ibadah individual boleh diperpendek atau ditangguhkan, walaupun bukan untuk ditinggalkan.

Kedua, ibadah yang mengandung aspek sosial kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat individual perseorangan. Karena itu, salat jamaah lebih tinggi nilainya daripada salat munfarid (sendirian) dua puluh tujuh derajat menurut riwayat yang sahih dalam hadits Bukhari, Muslim, dan ahli hadits yang lain.

Ketiga, bila ibadah individual dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ibadah sosial. Bila shaum (puasa) tidak mampu dilakukan, maka menunaikan fidyah, yaitu makanan bagi orang miskin harus dibayarkan. Bila suami istri bercampur siang hari di bulan Ramadhan atau istri dalam keadaan haid, tebusannya ialah memberi makan kepada orang miskin. Namun sebaliknya, bila orang tidak baik dalam urusan ibadah sosial, maka aspek ibadah individualnya tidak bisa menutupinya. Yang merampas hak orang lain tidak dapat menghapus dosanya dengan salat tahajud. Orang-orang yang melakukan kezaliman tidak hilang dosanya dengan hanya membaca zikir atau wirid seribu kali. Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial. “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan”, Dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”, demikian peringatan beliau. Sedangkan dalam Al-Quran, orangorang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat al-Mâʻûn).

Keempat, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal kebajikan dalam bidang sosial kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. Dalam hubungan ini, ditemukan pula hadits yang senada yaitu, “Orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa” (HR. Bukhari).Pada hadits yang lain, beliau juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Dan beliau juga bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami). Hadits-hadits tersebut menunjukkan dengan transparan bahwa amal-amal kebajikan yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti menyantuni kaum fakir miskin, mendamaikan pihak yang meringankan penderitaan orang lain, dan berusaha menuntut ilmu pengetahuan, mendapatkan ganjaran pahala yang lebih besar ketimbang ibadah-ibadah sunnah. Jadi dalam ajaran Islam, ibadah sosial memiliki nilai kemuliaan yang jauh lebih tinggi, besar, dan mulia ketimbang ibadah individual.   Pengaruh Ibadah Sosial Masyaratkat adalah gabungan dari kelompok individu yang terbentuk berdasarkan tatanan sosial tertentu. Ibadah dalam masyarakat mempunyai pengaruh yang cukup besar baik itu ibadah mahdhoh maupun ibadah ghairu mahdhoh. Dan ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam ternyata tidak saja mengandung nilai spiritual, tetapi juga mengandung nilai-nilai solidaritas dan kesejahteraan sosial umat Islam dan umat lainnya. Dalam ibadah mahdhah seperti halnya sholat yang biasanya dilakukan oleh masyarakat secara berjamaah, baik sholat harian yakni lima waktu, mingguan pada sholat jum‟at atau tahunan yakni sholat idul fitri dan idul adha. Semua itu mempunyai pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat.Dalam sholat berjamaah dapat membiasakan atau mendidik orang-orang mukmin untuk berjiwa merdeka, berjiwa sama rata sama rasa dan menumbuhkan jiwa persaudaraan. Manusia merasa sama dirinya dengan orang lain dalam menyembah Allah Swt, hilang dari mereka rasa angkuh dan takabur. Dan dapat melatih persatuan dalam hal tolong-menolong, dan member pengertian bahwa satu sama lain diibaratkan sama seperti tembok.

Islam dalam aktifitas ibadahnya juga sering mengadakan pertemuanpertemuan yang besar dan mengadakan usaha-usaha sosial, disyari‟atknnya hari raya kecil dan hari raya besar. Hari raya kecil, diletakan sesudah puasa hari raya besar diletakan sesudah selesai wukuf di arafah. Pada hari raya puasa   disyari‟atkannya zakat fitrah dan pada hari raya haji disyari‟atkannya kurban. Oleh sebab itu, dituntut bagi seluruh warga masyarakat agar keluar dan pergi untuk melaksanakan sholat „Id berjamaah. Dengan berkumpulnya mereka dalam satu tempat dan satu tujuan maka terjadilah persamaan dan kedamaian dalam lingkungan masyarakat. Begitu pula dalam ibadah sosial lainnya seperti halnya zakat, di dalam zakat juga ditemukan pengaruh yang begitu besar, baik bagi orang yang member maupun bagi orang yang menerima zakat. Bagi orang yang menerima zakat dapat memelihara dirinya dari kehinaan, kesusahan dan aib kemiskinan, serta memantapkan iman dalam hati dan memperkokoh dasar jihad dijalan Allah serta menegkan kemaslahaan umum. Para ibnu sabȋl dapat meneruskan perjalanannya dengan pertolongan zakat. Anak-anak yang terlantar dapat disantuni dalam tempat tertentu dengan baiaya yang dikumpulkam dari harta zakat.

Bahwa para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan dalam ibadah, iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan menimbulkan rasa solidaritas dalam kelompok masyarakat maupun perorangan, bahkan kadangkadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh. Dan rasa persaudaraan (solidaritas) itu dapat mengalahkan rasa kebangsaan. Maka dapat disimpulkan bahwa norma yang memberikan arahan dan makna bagi kehidupan masyarakat ialah agama, dan agama tidak terlepas dari ibadah dan aturan-aturannya. Masalah Agama juga tak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan masyarakat.

B.Aktualisasi Ibadah Sosial dalam Membentuk Masyarkat Madani.

Ibadah mengandung makna instrinsik sebagai pendekatan kepada Tuhan (taqarrub) juga mengandung makna instrumental, karena ini bisa dilihat sebagai usaha pendidikan pribadi dan kelompok (jama‟ah) kearah komitmen atau pengikatan batin kepada tingkah laku bermoral. Asumsinya, melalui ibadah, seseorang yang beriman memupuk dan menumbuhkan kesadaran individual dan kolektifnya akan tugas-tugas pribadi dan sosialnya untuk mewujudkan kehidupan bersama yang sebaik-baiknya di dunia. Akar kesadaran itu ialah keinsafan yang mendalam akan pertanggungjawaban semua pekerjaan kelak dihadapan Tuhan dalam pengadilan ilahi yang tak terelakkan, yang disitu seseorang hamba tampil mutlak hanya sebagai pribadi. Karena sifatnya yang amat pribadi (dalam hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya), ibadah dapat menjadi instrumen pendidikan moral dan etik yang amat mendalam dan efektif. Dalam alQur‟an dengan jelas diungkapkan harapan bahwa salah satu efek terpenting ibadah ialah tumbuhnya semacam solidaritas sosisal. Bahkan ditegaskan, ibadah bukan saja sia-sia dan tidak akan membawa kepada keselamatan, malahan terkutuk oleh Tuhan, sekiranya tidak melahirkan solidaritas sosial.70 Di antara pesan al-Qur‟an yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia adalah terciptanya kesejahteraan umat yang seimbang,

tidak menumbuhkan kecemburuan yang semakin menajam antara kaum kaya dan golongan miskin. Inilah pesan ajaran Islam yang pernah mendapat prioritas pembinaan umat ketika Nabi Muhammad Saw. Pertama kali membina masyarakat di sekitar kota Madinah Sebuah masyarakat yang serat dengan nilai dan moral, maju, beradab, serta sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Hubungan sosial antar komponen masyarakat madinah telah diatur secara formal, sebagaimana tergambar dalam perjanjian Madinah sebuah piagam yang menjadi konstitusi pertama dalam sejarah peradaban manusia (the first written constitution in the world).

Pertama, bahwa sesama muslim adalah satu umat, walau diantaranya berbeda suku.

Kedua, hubungan antar komunitas muslim dengan non muslim didasarkan pada prinsip “bertetangga baik”, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela orang yang teraniaya, serta saling mencintai dan menghormati kebebasan beragama. Ada dua nilai dasar yang tertuang dalam Piagam madinah yang menjadi dasar bagi pendirian sebuah Negara Madinah pada waktu itu. Pertama prinsip kesejahteraan dan keadilan. Kedua, inklusifisme atau keterbukaan.

Kedua prinsip itu lalu dijabarkan dalam beberapa bentuk nilai yang universal seperti konsistensi (I„tidal), keseimbangan (tawazun), moderat (tawasut), dan toleran (tasamuh). Menurut para ahli, masyarakat Madinah yang berperadaban itu dapat dibangun hanya setelah rasulullah Saw. Melakukan reformasi dan transformasi ke dalam (inner reformation and transformation) .Memahami Pesan Al-Qur‟an Kajian Tekstual Dan Kontektual  .indifidu yang berdimensi akidah, ibadah dan akhlak.

C.DIMENSI IBADAH SOSIAL DALAM PERSPEKTIF QUR‟AN SURAT AL-MÂʻÛN

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Qs. Al-M â„ûn [107]: 1-7) Berdasarkan kronologi turunnya, Surat al-Mâʻûn diterima Nabi Muhammad Saw ketika beliau masih bertempat tinggal di Mekah. Demikian pendapat banyak ulama. Ada juga yang berpendapat bahwa awal surat ini turun di Mekah sebelum Nabi Saw berhijrah, sedangkan akhirnya yang berbicara tentang orang-orang yang riya‟ (tidak ikhlas) dalam sholatnya turun di Madinah.80 Pendapat Al-Wahidi, mengutip Muqâtil dan al-Kalabi, mengatakan bahwa surat ini turun berkenaan dengan al-„Ash bin Wa`ili al-Suhami. Sementara itu Ibnu Juraij, masih kata al-Wahidi, mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Abu Sufyan ibn Harb yang biasa menyembelih unta setiap minggu. Suatu kali, setelah menyembelih, ia didatangi seorang anak yatim dan meminta sedikit dari 80 Quraish Shihab, Tafsîr Al-Misbâh; Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur`An,  dagingnya. Bukannya memberi, Abu Sufyan malah memukul anak yatim itu dengan tongkat. Ketika itulah turun surat al- Mâʻûnayat 1 sampai 3. 81 Terlepas dari perbedaan pendapat apakah surat ini makiyyah atau madaniyyah, yang jelas semua ayatnya merupakan satu-kesatuan yang utuh dan saling terkait (wahdah mutamasikah); semuanya mengacu ke satu arah tentang hakikat penting dan besar yang berhubungan langsung dengan persoalan iman dan kufur. Surat ini sedang memadukan dua aspek penting dalam keberagamaan: aspek akidah-keimanan dengan aspek kasih sayang kemanusiaan. Agama ini (Islam) bukan agama mazhahir wa thuqus (formalistik-ritualistik). Ibadah formal dan ketaatan ritual tidak dapat memenuhi tuntutan Islam selama tidak berlandaskan ikhlas dan ketulusan serta tidak melahirkan kesalehan di tataran sosial. Kesalehan sosial tercermin dalam perilaku yang mendatangkan kemaslahatan dan meningkatkan kualitas hidup sesama manusia.82 Meskipun surat ini secara keseluruhan merupakan satu kesatuan dengan arahan yang sama. yakni untuk menetapkan hakikat global dari hakikat-hakikat agama Islam, yang hampir-hampir membawa untuk berkecendrungan menganggapnya sebagai surat Madaniyyah secara keseluruhan. karena, tema yang dibahasnya adalah tema-tema al-Qur‟an madani yang secara garis besar membeberkan masalah nifak dan riya‟ yang belum terkenal dikalangan kaum muslimin Mekah. Akan tetapi, menerima riwayat yang mengatakannya sebagai surat Makkiyyah-Madaniyyah tidak menutup kemungkinan diturunkannya 81 Ali Bin Ahmad Al-Wahidî, Asbab Al-Nuzul,  . keempat ayat terahir di Madinah dan disambung dengan ketiga ayat pertama, karena adanya kesesuaian dan keserupaan temanya.83 Selain nama surat al- Mâʻûn juga memiliki nama-nama lain seperti adDȋ n, surat at-Takdzib, surat al-Yatim, surat Ara‟aita, surat Arra‟aita alladzi, dan yang paling populer adalah surat al- Mâʻûn. 84 Surat al- Mâʻûn yang terdiri dari 7 ayat pendek ini, berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, dimana terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial, atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana tergambar dalam ayat-ayatnya yang menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwa dan esensi dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya. Quraish Shihab, cenderung memahami kata al- Mâʻûn dalam arti sesuatu yang kecil dan dibutuhkan, sehingga dengan demikian ayat ini menggambarkan betapa kikir pelaku yang ditunjuk, yakni jangankan bantuan yang sifatnya besar, hal-hal yang kecilpun enggan.

Jadi, surat al- Mâʻûn, meski singkat menolak ibadah yang bersifat formal dan menilai bahwa menolong orang yang membutuhkan merupakan syari‟at iman, sebagaimana melaksanakan sholat 83 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an; Dibawah Naungan Al-Qur‟an Surah AlMa„Ârij-An-Nâs dengan sungguh-sungguh pula. karena kalau hal ini tidak dijelaskan berupa pertanyaan seperti ini, akan disangka orang bahwa mendusatakan agama ialah semata-mata karena menyatakan tidak mau percaya kepada agama Islam.91 Menurut Sayyid Quthb,92 mengapa ayat ini dimulai dengan pertanyaan, sebab diharapkan kepada setiap orang yang dapat berpikir, dan orang yang dapat mendengar pertanyaan ini, untuk mengetahui kemana arah isyarat ini dan kepada siapa ia tunjukkan? untuk mengetahui siapa gerangan orang yang mendustakan agama dan orang-orang yang ditetapkan oleh al-Qur`an sebagai pendusta agama.93 Pendapat Al-Marȃ hgi dalam tafsirnya,94 pertanyaan tersebut disederhanakan seperti berikut: “Apakah kamu melihat orang-orang yang suka mendustakan terhadap masalah-masalah agama yang gaib? Padahal semuanya sudah terdapat dalil-dalil yang jelas dan benar. Jika kamu tidak mengetahui orangorang yang mempunyai watak seperti itu, maka lihatlah ciri-ciri mereka sebagaimana yang dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya”.

1.Melatih Keikhlasan Dan Menjauhi Riya‟

“Orang-orang yang berbuat riya” Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat 4-7 turun berkenaan dengan kaum munafiqin yang mempertontonkan sholat kepada kaum mukminin (riya‟) dan meninggalkannya apabila tidak ada orang yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan ataupun pinjaman. Ayat 4-7 ini turun sebagai peringatan kepada orang-orang yang berbuat seperti itu. (diriwayatkan oleh Ibnul mundzir dari Tharif bin Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu Abbas)129 . Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan bagaimana ciri-ciri orang yang sholatnya hanya akan membawa celaka bagi pelakunya sendiri karena sholatnya tidak disertai kesadaran hatinya, maka diayat enam ini Allah melanjutkan firmanNya bahwa disamping orang-orang yang lalai dalam sholatnya dia jug riya‟. Bila dilihat orang melakukan sholat dengan khusyuk bila menyantuni anak yatim bermuka manis, bila memberi makan fakir miskin berpura-pura antusias, padahal semua itu hanya ingin dilihat dan dipujinya saja, bilamana tidak ada yang memujinya perbuatan kebajikan itu dikurangi dan bahkan tidak mau berbuat kebajikan hidupnya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pengertian riya‟ yang sebenarnya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi adalah mengharapkan keduniaan dengan kedok ibadah untuk mempertahankan

Sebagaimana kata yurâ„ûn terambil dari kata ra‟â yang berarti melihat. Dari akar kata yang sama lahir kata riya‟ yakni melakukan pekerjaanya sambil melihat manusia, sehingga jika tak ada yang melihatnya mereka tidak melakukannya. Dengan kata lain orang yang bersikap riya‟ adalah bila melakukan sesuatu selalu berusaha atau berkeinginan agar dilihat atau diperhatikan orang lain untuk mendapat pujian atau popularitas. Riya‟ adalah suatu sifat yang abstrak, keberadannya sulit atau bahkan mustahil untuk dideteksi orang lain. Bahkan orang yang besangkutan juga sering tidak menyadari akan keberadan sifat ini pada dirinya, lebih-lebih bila sedang asyik atau disibukan oleh kegiatan yang dilakukannya. Karena itulah setiap orang dianjurkan untuk memulai pekerjaannya dengan membaca basmalah, yang manfaatnya antara lain untuk menghindarkan diri dari sikap riya‟.Al-Qur‟an menyebutkan kembali kata yurâ‟ûn pada surat an-Nisâ‟: . Dan penyebutan itu hanya dihususkan pada dua tempat dalam al-Qur‟an yaitu surat al-Mâ„ûn dan surat an-Nisâ‟. Sebenarnya, penggunaan kata dasar ra‟â di ayat-ayat al-Qur‟an sendiri sangatlah banyak, tetapi maknanya bukan dalam konteks yurâ‟ûn. Tampaknya kata yurâ‟ûn digunakan al-Qur‟an khusus diletakan dengan orang-orang yang sholat, dan saat yang sama pula dikaitkan dengan manusia-manusia (memperlihatkan kepada manusia).

2.Menjauhi Sifat Kikir

Sifat kikir merupakan sifat pelit bin bakhil di larang dalam agama kita.Orang yang kikir akan merugi di akhirat.karna hartanya tak bisa membawa manfaag baginya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *