KONSEP DASAR ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN

19 Lihat

MAKALAH STUDI DASAR MODERASI ISLAM “KONSEP DASAR ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN”

 

Dosen Pengampu Dr.Satrio.M.A

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Bela Vista Sari        25862073911

 

 

PROGRAM STUDI S1(PIAUD) PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI UNIVERSITAS SULTAN ABDDURAHMAN

2025

 

                   KATA PENGANTAR

 

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya diberi kekuatan dan Kesehatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah ini tepat waktu. Tidak lupa shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah SAW yang syafa’atnya kita nantikan kelak.

Makalah ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah. saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Studi Islam dan Moderasi Beragama bapak Dr.Satrio.M.A, berkat tugas yang diberikan ini, dapat menambah wawasan saya pribadi selaku penulis yang berkaitan dengan materi yang diberikan. Sebagai penyusun,

Penulisan makalah dapat diselesaikan karena saya mengambil dari Artikel dan Jurnal yang ada. Saya berharap makalah ini dapat menjadi referensi bagi pihak yang tertarik. Selain itu, saya juga berharap agar pembaca mendapatkan sudut  pandang baru setelah membaca makalah ini.

Saya menyadari makalah ini masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada bagian isi. Saya menerima segala bentuk kritik dan saran pembaca demi penyempurnaan makalah. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, saya memohon maaf.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhi

                                                                                                       Tanjungpinang, 24 September 2025

 

Penulis

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………….. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………… ii

BAB I  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………. 1

1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….. 4

1.3 Tujuan Makalah……………………………………………………… 4

BAB II PEMBAHASAN

 

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

     DAFTAR PUSTAKA

 

         BAB I

          PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Konsep berasal dari bahasa Inggris “concept” yang berarti “ide yang mendasari segala sesuatu objek”,dan “gagasan atau ide umum”. Kata tersebut juga berarti gambaran yang bersifat umum atau abstrak dari sesuatu. Dalam kamus Bahasa Indonesia, konsep diartikan dengan (1) rancangan atau buram surat tersebut. (2) Ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkrit (3) gambaran mental dari objek, proses ataupun yang ada diluar bahasa yang digunakan untuk memahami hal- hal lain

Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin adalah merupakan tafsir dari ayat 107 surat al- Ambiya (21) oleh Ahmad Mushthafa al-Maragy yang memiliki makna yakni tidaklah aku mengutus engkau Muhammad dengan al-Qur’an ini dan yang serupa dengan itu berupa syari’at dan hukum yang menjadi pedoman kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, melainkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat (Aziz, Febriyani, & Asshiddiqei, Muhammad Rifki, 2024; Aziz, Febriyani, Wismanto, et al., 2024).

Islam merupakan salah satu agama samawi yang sejak kelahirannya di Mekkah Arab Saudi sampai saat ini telah tersebar ke berbagai kawasan dan penjuru negara di dunia dengan komposisi populasi yang berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain seperti Indonesia. Kata agama dalam bahasa Arab disebut ad-din. Kata ad-din secara etimologi berarti ketaatan dan ketundukan terhadap sesuatu. Dalam al-Qur’an kata tersebut dipergunakan untuk arti-arti lain seperti agama, pembalasan, keputusan, kekuasaan, jalan, dan sebagainya. Adapun secara istilah kata ad-din berarti sesuatu yang dipeluk dan diyakini oleh manusia baik berupa hal-hal yang bersifat fisik maupun metafisik. Dalam istilah Islam, ad- din berarti al-taslim li Allah wa al-inaqiyad lah (penyerahan diri kepada Allah dan ketundukan kepada,Nya). Kata ad-din diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “agama”, dan dalam bahasa Inggris sebagai relegion. Meski penerjemhan itu tidak sepenuhnya benar dan tepat, tetapi tidaklah salah, karena dalam al-Qur’an dan bahasa Arab, Agama Yahudi, Kristen, dan agama lain yang bersifat polities pun disebut sebagai ad-din. Hanya saja terdapat perbedaan karakteristik antara Islam, dan agama lainnya, baik kelompok agama samawi maupun kelompok agama ardhi. (Abdillah, 2011: xi).

Islam yaitu sebagai agama rahmatan lil’alamin dan artinya suatu agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah Swt telah mengatur semua aspek kehidupan dalam Islam secara global, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an. Sumber hukum Islam lain yang bisa kita jumpai untuk pengaturan lebih lanjut, yaitu hadis nabi, ijma’ ulama, dan qiyas. Karena perkembangan manusia sangat cepat sehingga terkadang hukum tertinggal dibelakangnya. Maka dari itu, hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an, hadis, ijma’, qiyas yang sudah ada agar dapat diterapkan dalam situasi konkret saat ini dan harus dibutuhkan kemampuan serta keberanian setiap muslim untuk menggali secara lebih terperinci. Di Indonesia lembaga fatwa yang dikenal oleh ormas Islam seperti Bahsul Masail (Nahdlatul Ulama) dan Majelis Tarjih (Muhammadiyah) yaitu Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia

Menurut Nur Syam mengatakan bahwa gagasan Islam rahmatan li al- ‘ālamīn mengembangkan pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dialogis dan toleran, serta mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa kasih sayang. Pluralis dalam arti memiliki relasi tanpa memandang suku, bangsa, agama, ras ataupun titik lainnya yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Humanis dalam arti menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menghargai manusia sebagai manusia. Dialogis dalam arti semua persoalan yang muncul sebagai akibat interaksi sosial didiskusikan secara baik dan akomodatif terhadap beragam pemikiran. Dan toleran dalam arti memberi kesempatan kepada yang lain untuk melakukan sebagaimana yang diyakininya, dengan penuh rasa damai. Kaitannya dengan profil intelektual yang dihasilkan oleh institusi pendidikan agama Islam ke depan adalah bangunan Islam Indonesia yang berwajah menyelamatkan relasi antar manusia dan relasi antar manusia dengan alam, sebagai perwujudan Islam yang rahmatan li al-‘ālamīn yang dalam konteks Islam didunia pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya sedang mengahadapi persoalan yang berkebalikan dengan gagasan Islam rahmatan li al- ‘ālamīn seperti kekerasan, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme

Sementara H.M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya al-Mishbah menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan: Rasul adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi juga sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah Swt kepada beliau. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kami Tidak mengurus engkau untuk membawa rahmat tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam (Alhamida & Kusuma, Atik Devi, 2024; Azzahra & Azzahra, Mutia, 2024; Hasan et al., n.d.;Wismanto., Zuhri Tauhid., 2023). Kepribadian Rasulullah SAW yang demikian itu dijelaskan lebih lanjut dalam surat Ali Imran, (3) ayat 159 yang artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammmad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maaafkanlah mereka dan mohonkan ampun mereka dalam urusan itu(Dewanda et al., 2024; Faturrchman saleh, Fauzan mubarok, Muhammad Nabil Ayussi, wahyu rayan kenedi, 2024; Fitri et al., 2023; Sari et al., 2024).

Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” Dengan ayat ini, menurut H.M. Quraish Shihab, Allah sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad Saw. Hal ini sesuai pula dengan pernyataan belau” Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya. Beliau adalah rahmat yang dihadiahkan Allah pada seluruh alam. Islam adalah agama yang sempurna, karena Islam hadir sebagai pelengkap dari agama yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, Islam merupakan salah satu agama yang diridhoi Allah SWT (Dwi Ananda, Husnul Khotimah, Nadzani Pramudya Ibni, Rizka Nanda Utari, 2024; Fitri et al., 2023; Mahessa et al., 2024; Rahmasari et al., 2024; Rinaldho & Pratama, Robi Agus, 2024; Susanto & Lasmiadi, A. Muallif, Wismanto, 2023).

karena dalam Islam mengajarkan nilai-nilai kearifan, kebajikan, kesucian, kejujuran, keterbukaan, kerja keras, toleransi, serta kedamaian yang dapat diterima oleh masyarakat. Islam memiliki prinsip sebagai agama Rahmatan Lil’Alamin yang dapat didefinisikan sebagai agama yang mengatur tata kelola kehidupan manusia secara keseluruhan baik dengan Tuhan-Nya, antar sesama, dan antar makhluk hidup lainnya (Aryandika Firmansyah et al., 2024; Ramadhani et al., 2024; Wismanto Abu Hasan, 2018).

Prinsip Rahmatan Lil’AlaminAgama Islam mengajarkan tentang nilai-nilai kedamaian, kesejahteraan, dan ketenangan bagi seluruh umat di alam semesta. Akan tetapi, Islam Rahmatan Lil’Alamin datang bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi juga makhluk hidup lainnya sepertihewan, tumbuhan, dan lainnya, mereka mendapatkan rahmat dari pencipta-Nya serta diperuntukkan bagi seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini tanpa memandang perbedaan yag ada. Dalam Islam, manusia memiliki kedudukan tertinggi di muka bumi ini, oleh karena itu manusia disebut sebagai khalifah di muka bumi ini yang memiliki tugas menjaga, melindungi, dan melestarikan alam semesta tanpa merusaknya untuk mendapatkan kemaslahatan hidup diDunia Maupun di Akhirat nanti

Tuntunan Rahmatan Lil’Alamin Menegaskan kepada manusia di dalam kehidupan sehari-harinya, umat manusia dapat menerapakan prinsip Rahmatan Lil’Alamin dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan As Sunnah.Islam sebagai rahmatan lil alamin ini secara normatif dapat dipahami dari ajaran Islam yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan akhlak. Akidah ataukeimanan yang dimiliki manusia harus melahirkan tata rabbaniy (sebuah kehidupan yang sesuai dengan aturan Tuhan), tujuan hidup yang mulia, taqwa, tawakkal, ikhlas, ibadah. Aspek akidah ini, harus menumbuhkan sikap emansipasi,mengangkat harkat dan martabat manusia, penyadaran masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, harmoni dalam pluralisme

1.2    Rumusan Masalah
  1. Apa saja konsep dasar islam?
  2. Apa itu Aqidah,Syariah dan Akhlak ?
  3. Apa yang dimaksud Rahmatan Lil’alamin ?
  4. Prinsip-Prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin ?
  5. Apa saja Teladan Rahmat Nabi Muhammad SAW yang dapat kita

ambil?

  1. Bagaimana cara mengaplikasikan Rahmatan Lil’alamin dalam

Kehidupan Sehari-hari

1.3    Tujuan Makalah
  1. Untuk mengetahui Apa saja konsep dasar islam
  2. Untuk mengetahui Apa itu Aqidah,Syariah dan Akhlak
  3. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud Rahmatan Lil’alamin
  4. Untuk mengetahui Prinsip-Prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin
  5. Untuk mengetahui Teladan Rahmat Nabi Muhammad SAW yang dapat kita ambil
  6. Untuk mengetahui cara mengaplikasikan Rahmatan Lil’alamin dalam Kehidupan Sehari-hari

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1     Konsep  Dasar  Pendidikan  lslam

Dalam pendidikan Islam terdapat tiga konsep dasar pendidikan dalam Islam, yaitu Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib. Untuk lebih jelasnya ketiga konsep tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

2.1.1   Ta’lim

Kata ta’lim berasal dari kata dasar “allama” yang berarti mengajar, mengetahui.Pengajaran (ta’lim) lebih mengarah pada aspek kognitif, ta’lim mencakup aspek- aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik.Muhammad Rasyid Ridha mengartikan ta’lim dengan: “Proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”. Definisi ta’lim menurut Abdul Fattah Jalal, yaitu sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah, sehingga penyucian diri manusia ituberada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima Al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.Mengacu pada definisi ini, ta’lim berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi “tidak tahu” ke posisi “tahu”.

Dari pengertian diatas, ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik, sebagai upaya untuk mengembangkan, mendorong dan mengajak manusia lebih maju dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan karena seseorang dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, tetapi ia dibekali dengan berbagai potensi untuk mengembangkan keterampilannya tersebut agar dapat memahami ilmu serta memanfaatkannya dalam kehidupan.AlAsfahanimenyebutkan bahwa Ta’lim adalah pemberitahuan yang dilakukan dengan berulang-ulang dan sering, sehingga berbekas pada diri mu’allim, disamping itu, ta’lim adalah menggugah untuk mempersepsikan makna dalam pikiran, karenanya, sebagaimana dikemukakan jalal, dalam konteks ta’lim, apa yang dilakukan Rasulullah bukan  sekedar  membuat umat  islam  bisa  membaca  apa  yang tertulis, melainkan dapat membaca dengan renungan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan amanah.

2.1.2     Tarbiyah

Dalam bahasa Arab, kata Al-Tarbiyah memiliki tiga akar kebakaan, yaitu:

  1. Rabba, yarbu: yang memiliki makna tumbuh, bertambah, Rabbi, yarba: yang memiliki makna tumbuh dan menjadi besar atau dewasa.
  2. Rabba, yarubbu: yang memiliki makna memperbaiki, mengatur, mengurus dan mendidik, menguasai dan memimpin, menjaga dan memelihara.
  3. Menurut Musthafa Al-Ghalayani, at-tarbiyah adalah penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat- sifat bijak, baik cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya.
  4. Tarbiyah (pendidikan) merupakan transformasi pengetahuan dari satu generasi kegenerasi, atau dari orang tua kepada anaknya. Transformasi pengetahuan ini dilakukan dengan penuh keseriusan agar peserta didik memiliki sikap dan semangat yangtinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian yang luhur. Dengan terbentuknya individu seperti itu maka suatu pendidikan dapat terealisasikan tujuannya.Dalam pendidikan (tarbiyah) ini mencakup ranah kognitif, afektif, psikomotorik, ketiga ranah tersebut harus dimiliki peserta didik, agar apa yang jadi visi misi lembaga institusi tertentu bisa terwujud tujuan pendidikannya, untuk itu maka pendidik dalam mendidik harus memiliki rasa keseriusan,keikhlasan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Agar peserta didik menjadi sosok yang diharapkan dan bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga Masyarakat. Musthafa Al-Maraghi membagi aktivitas Al-Tarbiyah menjadi dua macam:
  5. Tarbiyah khalaqiyyah, yaitu Pendidikan yang terkait dengan pertumbuhan jasmani manusia agar data dijadikan sebagai sarana dalam pengembangan rohaninya.
  6. Tarbiyah diniyah tahdzibiyyah, Pendidikan yang terkait dengan pembinaan dan pengembangan akhlak dan agama manusia.1 Dalam pengertian tarbiyah ini menunjukkan bahwa pendidikan islam tidak sekedar menitik beratkan pada kebutuhan jasmani, tetapi diperlukan juga pengembangan kebutuhan psikis, sosial, etika dan agama untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pendidikan Islam yang dilakukan harus mencakup proses transformasi kebudayaan, nilai dan ilmu pengetahuan dan aktualisasi terhadap seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik, agar mencetak peserta didik ke arah insan kamil, yaitu insan sempurna yang tahu dan sadar akan diri dan lingkungan.

2.1.3   Ta’dib

Kata ta‟dib secara etimologis adalah bentuk masdar yang berasal dari kata “addaba”, yang artinya membuat makanan, melatih dengan akhlak yang baik, sopan santun, dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik.

Menurut Al-Naqaid, Al-Attas, ta‟dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan.

Dalam pengertian ta’dib di atas bahwasannya pendidikan dalam pespektif Islam adalah usaha agar orang mengenali dan mengetahui sesuatu sistem pengajaran tertentu. Seperti halnya dengan cara mengajar, dengan mengajar tersebut individumampu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, misalnya seorang pendidik memberikan teladan atau contoh yang baik agar ditiru, memberikan pujian, dan hadiah, mendidik dengan cara membiasakan, dengan adanya konsep ta’dib tersebut maka terbentuklah seorang Individu yang muslim dan berakhlak.

Pendidikan ini dalam sistem pendidikan dinilai sangat penting fungsinya, karena bagaimanapun sederhananya komunitas suatu masyarakat pasti membutuhkan atau memerlukan pendidikan ini terutama dalam pendidikan akhlak. Dari usaha pembinaan dan pengembangan ini diharapkan manusia mampu berperan sebagai pengabdi Allah dengan ketaatan yang optimal dalam setiap aktivitas kehidupannya, sehingga terbentuk akhlak yang mulia yang dimiliki serta mampu memberi manfaat bagi kehidupan alam dan lingkungannya.Jadi terwujudlah sosok manusia yang beriman dan beramal shaleh.

Dalam konsep ta’dib mengandung tiga unsur, yaitu : pengembangan iman, pengambangan ilmu, pengembangan amal.4 Hubungan antara ketiga sangat penting karena untuk tujuan pendidikan juga. Iman merupakan suatu pengakuan terhadap apa yang diciptakan Allah di dunia ini yang direalisasikan dengan ilmu, dan konsekuensinya adalah amal. Ilmu harus dilandasi dengan iman, dengan iman maka ilmu harus mampu membentuk amal karena ilmu itu harus diamalkan kepada orang yang belum mengetahuinya, dengan terealisasikannya unsur tersebut maka akan terwujudnya tujuan pendidikan.

Dalam sosok pribadi manusia beriman dan beramal shaleh tersebut dapat digambarkan bahwa mereka memiliki jati diri sebagai pengabdi Allah, serta ikut dalam berkreasi dan berinovasi guna kepentingan kesejahteraan hidup bersama. Atas dasar keimanan, mampu memelihara hubungan dengan Allah dan antara dirinya dengan sesama makhluk Allah, sedangkan realisasi dan keimanan itu terlihat dari kemampuan untuk senantiasa berkreasi dan berinovasi yang bernilai bagi kehidupan bersama.

Ta’dib sebagai upaya dalam pembentukan adab (tata krama), terbagi atas empat macam:

  • Ta’dib adab Al-Haqq, pendidikan tata krama spiritual dalam kebenaran, yang di dalamnya segala yang ada memiliki kebenaran dan dengannya segala sesuatu diciptakan
  • Ta’dib adab Al-Khidmah, pendidikan tata krama spiritual dalam
  • Ta’dib adab Al-Syari’ah, pendidikan tata krama yang tata caranya telah digariskan oleh Allah memalui wahyu.
  • Ta’dib adab Al-Shuhbah, pendidikan tata krama dalam persahabatan, berupa saling menghormati dan saling tolong menolong

Dari Penjelasan ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak alkarimah.

Kerangka dasar Pendidikan islam Pendidikan Islam merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain ke arah kebaikan agar dapat hidup baik. Mentaati semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah. Kesemuanya itu harus benar-benar dalam ruang lingkup peraturan Allah. Dengan demikian dasar dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan AS-Sunah. Walaupun demikian, kedua sumber utama tersebut hanya mengandung prinsipprinsip pokok saja, sehingga pendidikan Islam tatap terbuka terhadap unsur ijtihad dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah sebagai nilai utama. Dengan demikian dasar pendidikan Islam terdiri dari Al-Qur’an, Sunnah dan ijtihad.

2.2    Pengertian Rahmatan Lil alamin

Rahmatan berasal dari kata “rahmah” yang berarti kasih sayang, anugerah, dan kebaikan. Lil’Alamin: berarti seluruh alam, mencakup semua makhluk dan ciptaan Allah, tidak hanya manusia tetapi juga alam semesta secara keseluruhan. Rahmatan lil alamin adalah konsep dalam agama Islam yang menjelaskan bahwa Islam membawa kedamaian dan kasih sayang bagi manusia dan alam semesta. hal ini di tulis di dalam Al Qur’an An-nabiya ayat 107 yang berbunyi “Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa islam dilakukan secara benar maka akan mendatangkan rahmat, baik itu untuk orang islam maupun untuk seluruh alam. Rahmat merupakan karunia yang terbagi menjadi dua yaitu :

  • Rahmat rahma : Rahmat ini bersifat amma kulla syak, sehingga orang nonmuslim juga memiliki hak “rahman”.
  • Rahmat Rahim : Hak atas surga ada pada sifat rahimnya Allah Swt, maka yang mendapat kerahiman ini adalah orang mukminin.

Kata “islam sebagai Rahmatan Lil’Alamin” berarti Islam sebagai rahmat atau karunia bagi seluruh alam semesta, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh ciptaan Allah. Islam rahmatan lil alamin memiliki beberapa makna, diantaranya:

  1. Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan kasih sayang bagi manusia dan alam.
  2. Islam mengajarkan sikap toleran, moderat, saling menghargai, dan
  3. Islam mengajarkan untuk tidak diskriminatif, melindungi kaum yang lemah, dan memedulikan semua orang.
  4. Islam mengajarkan untuk bersikap ihsan terhadap semua makhluk, baik makhluk hidup maupun makhluk spiritual.
  5. Islam mengajarkan untuk tidak melakukan kekerasan, menghina, merendahkan, atau memberi label negatif.
  6. Islam mengajarkan untuk memaafkan, mendoakan, musyawarah, dan tawakka

 

2.2.1   Prinsip-Prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin

Islam sebagai rahmatan lil alamin memiliki prinsip-prinsip dasar yang menjadi ciri khas ajarannya dalam menyebarkan kasih sayang dan kedamaian ke seluruh dunia. Menurut pandangan para ulama, terdapat beberapa prinsip utama dalam konsep ini, antara lain:

  • Berperikemanusiaan (al-Insaniyah)

Prinsip kemanusiaan dalam Islam berarti bahwa ajaran-ajarannya selalu sejalan dengan kebutuhan dan sifat alami manusia. Setiap bentuk ibadah, hukum, perintah, dan larangan dalam syariat Islam dirancang agar sesuai dengan kemampuan serta kebutuhan manusia. Tidak ada ajaran yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan seluruh syariat Islam mengandung manfaat bagi kehidupan manusia. Syariat ini diberikan oleh Allah dengan hikmah dan tujuan, bukan tanpa makna atau manfaat. Sebagaimana firman Allah, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27).

  • Mendunia (al-alamiyah)

Makna mendunia atau global (al-alamiyah) menunjukkan bahwa syariah Islam bersifat universal, tidak terbatas oleh batas geografis, etnis, ras, bangsa, atau faktor iklim dan geopolitik tertentu. Syariah Islam berlaku untuk semua makhluk dan bagi siapa saja yang ingin mengikutinya. Tidak ada perbedaan dalam tujuan dan ajaran syariah antara di Arab dan di luar Arab. Keyakinan umat Islam terhadap syariah tetap sama di mana pun, bahwa ia berasal dari Allah dan untuk kesejahteraan seluruh alam. Pokok-pokok syariah (ushul) dijalankan tanpa perbedaan, kecuali pada aspek cabang dan rinciannya (furu’iyah), di manapun umat Islam berada di dunia. Hal ini berlaku pula dalam pelaksanaan ibadah, muamalah, hukum, serta nilai-nilai moral bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia.

  • Komprehensif (as-syumul)

Komprehensif atau as-syumul merujuk pada keseluruhan ajaran syariah Islam yang mencakup semua aspek kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Islam tidak mengakui adanya pembatasan atau pemisahan ajarannya dalam bidang tertentu, karena syariah Islam bersumber dari Allah SWT yang Maha Sempurna. Ajaran Islam berfungsi untuk mengatur dan membimbing kehidupan manusia di seluruh dimensi, baik duniawi maupun ukhrawi. Aspek yang paling utama adalah ibadah, yang berhubungan dengan akhirat, sedangkan muamalah mengatur interaksi antar manusia dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar. Inilah karakteristik syariah Islam yang bersifat komprehensif, mencakup hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama). Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3).

2.2.2    Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Rahmat

Nabi Muhammad SAW adalah contoh utama bagaimana islam menjadi rahmat bagi semua. Beliau merupakan sosok dengan sikap kasih sayang, pemaaf, serta perhatian terhadap sesama manusia, bahkan terhadap orang-orang yang memusuhinya. Di dalam kehidupan sehari-hari, beliau selalu menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dan saling tolong menolong. Beberapa contoh sikap Nabi Muhammad SAW yang mencerminkan Islam Rahmatan Lil Alamin:

  • Menunjukkan kasih sayang kepada seluruh umat, termasuk kepada mereka yang menyerangnya
  • Menjamin hidup bersama secara damai dengan umat agama lain
  • Menjamin keamanan dan kenyamanan bagi setiap orang, termasuk musuh yang ditaklukkannya
  • Menjaga sopan santun dalam berucap dan bertindak
  • Menjaga hubungan baik antarsesama manusia
  • Peduli dan menolong sesame

2.2.3    Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar Islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, umat islam perlu menerapkan beberapa prilaku dalam kehidupan sehari-hari:
  • Berperilaku baik dan
  • Menyebarkan perdamaian dan kasih
  • Membantu orang lain tanpa memandang
  • Menjaga kelestarian alam dan

 

BAB III

KESIMPULAN

3.1   Kesimpulan

Pendidikan Islam yang sejalan dengan konsep pendidikan menurut al-Qur’an terangkum dalam tiga konsep yaitu pendidikan tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Pendidikan dalam konsep tarbiyah lebih menerangkan pada manusia bahwa Allah memberikan pendidikan melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah Saw dan selanjutnya Rasul menyampaikan kepada para ulama, kemudian para ulama menyampaikan kepada manusia. Sedangkan pendidikan dalam konsep ta’lim merupakan proses tranfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan intelektualitas peserta didik. Kemudian ta’dib merupakan proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan akhlak peserta didik. Adapun kerangka dasar dari Pendidikan islam adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad

Dari hasil Pembahasan, dapat disimpulkan bahwa islam hadir sebagai agama yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan manfaat bagi semua makhluk di alam semesta, bukan hanya bagi umat Muslim saja. Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, toleransi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap keberagaman. Prinsip ini mendorong umat Islam untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan semua orang, menjaga lingkungan, dan menjadi contoh kebaikan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, membawa ajaran yang penuh kasih sayang, keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk, baik manusia, hewan, maupun alam. Ajaran ini mendorong terciptanya harmoni sosial, toleransi, serta hubungan yang baik dengan sesama manusia dan lingkungan, menjadikan Islam sebagai agama yang membawa kebaikan dan berkah untuk semua tanpa batasan

3.2    Saran

Kita Sebagai Makhluk Allah swt tetap harus berhubungan yang baik dengan sesama manusia dan lingkungan Sekitar kita,saya menyadari bahwa makalah saya masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kata sempurna saya akan memperbaiki makalah ini dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik dan saran yang membangun dari pembaca

 

DAFTAR PUSTAKA

Konsep Dasar Pendidikan Islam Fatihatun Nadliroh Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo, Indonesia

8b4cf39f-5d19-47d6-99be-eaed0b35f283.pdf

Program S, Pendidikan A, Islam S, Uisu quot;, Pematangsiantar J, Sangnawaluh Km. Konsep Dasar Pendidikan Dalam Islam: Ta’lim, Tarbiyah, Dan Ta’dib Firdaus Fauzi. https://staiuisu.ac.id/web/wp-content/uploads/2022/11/KONSEP-DASARPENDIDIKAN- DALAM-ISLAM.pdf

View of Konsep Dasar Pendidikan Dalam Islam: Ta’lim, Tarbiyah, Dan Ta’dib. Iaincurup.ac.id. Published 2024. Accessed September 13, 2024. https://studentjournal.iaincurup.ac.id/index.php/guau/article/view/363/334

Ardelia April Soneli1 , Nadiratul Salsabila2 , Tiara Amarsa3 , Olivia Dea Angraini4 , Wismanto5 , Fitria Mayasari6. Islam Sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Alhamida, A., & Kusuma, A. D. W. (2024). Analisis metode pendidikan Islam dalam sudut pandang Al-Qur’an. 5(2), 58–69.

Aryandika Firmansyah, M., Fathoni, M. Y., Wismanto, W., Bangun, D. H., & Nasution, M. H. (2024). Pandangan Islam dalam memaknai hakikat manusia. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam, 2(1), 88–103. https://doi.org/10.61132/jmpai.v2i1.63

Aziz, F. A., Febriyani, F., & Asshiddiqei, M. R. W. (2024). Analisis nilai-nilai dasar Keislaman sebagai agama rahmatan lilalamin. 758–766.

Aziz, F. A., Febriyani, F., Wismanto, W., & … (2024). Analisis nilai-nilai dasar Keislaman sebagai agama rahmatan lilalamin. MARAS: Jurnal …, 758–766. http://ejournal.lumbungpare.org/index.php/maras/article/view/271

Azzahra, I. N., & Azzahra, M. W. (2024). Analisis tentang konsep dasar pendidikan Islam (perspektif Al-Hadits). 5(2), 122–129.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *