URGENSI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DALAM PENDIDIKAN ISLAM

218 Lihat

URGENSI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Asna Andriani

IAIN Tulungagung, Jl. Mayor Soejadi Timur no. 46 Tulungagung asna.andriani@yahoo.com

 

 

ABSTRACT

Language is very important for everyone used to deliver information, ideas, and thought from a person to others. One of the oldest languages in this world is Arabic.  It  is  used in  oral and  written form  and  it contributes to the development of Islamic thought tradition in some Islamic texts such as Qur’an, Hadits, Tafsir, Fiqih,  Tasawuf,  etc. Therefore, it is very important for Moslems to learn Arabic language especially in the realm of Islamic education as to gain deep understanding about  the substances or contents (meaning sense) of the text. This article discusses about the important roles of Arabic in islamic education to increase the faith quality and good behavior of Moslems.

Kata Kunci: Pembelajaran Bahasa Arab, Pendidikan Islam.

 

Pendahuluan

Bahasa merupakan suatu kebutuhan dasar dan penting bagi manusia, karena bahasa adalah media penyampai ide, gagasan, dan pikiran manusia dalam bentuk ucapan atau tulisan dengan maksud agar dipahami oleh orang lain. Seiring dengan perjalanan waktu kehidupan manusia ragam bahasa pun semakin banyak, diantaranya bahasa Arab, Inggris, China, Spanyol, Korea, Jepang, dan lain-lain.

Diantara bahasa-bahasa dunia tersebut bahasa Arab menjadi bahasa tertua dan paling lama digunakan di dunia ini. Sejak al-Qur’an diturunkan dan  agama  Islam  semakin  berkembang,  penutur  bahasa Arab .Diantara bahasa-bahasa dunia tersebut bahasa Arab menjadi bahasa tertua dan paling lama digunakan di dunia ini. Sejak al-Qur’an diturunkan dan  agama  Islam  semakin  berkembang,  penutur  bahasa Arab  semakin bertambah hingga kini dituturkan oleh lebih dari 200.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara.   Alasan lainnya karena bahasa Arab adalah bahasa kitab suci dan tuntunan agama umat Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar signifikansinya  bagi  milyaran  muslim  sedunia,  baik  yang  berkebangsaan Arab maupun bukan Arab.

Bahasa Arab selain sebagai bahasa lisan, ia juga bahasa tulisan. Bahasa tulisan inilah yang telah membangun tradisi ilmiah di kalangan umat islam. Secara  historis  dapat  dibuktikan  melalui  karya-karya  fenomental  ulama- ulama di berbagai bidang; di bidang tafsir, hadits, fiqih, aqidah dan di bidang ilmu-ilmu  keislaman  yang  lainnya,  tertulis  dalam  bahasa Arab.  Karena sumber-sumber asli ajaran Islam dan ilmu- ilmu keislaman tertulis dalam bahasa Arab, maka sangatlah penting bagi umat islam terutama kalangan ilmuan  atau  akademisi  muslim  untuk  mempelajari  dan  memahami  serta menguasai bahasa Arab dalam pengembangan pendidikan Islam.

Selanjutnya  berangkat  dari  permasalahan  di  tersebut  penulis  ingin mencoba  membahas  lebih  dalam  mengenai  peran  penting  pembelajaran bahasa  Arab  dalam  pendidikan  Islam,  sehingga  diharapkan  dapat mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang sebenarnya, yakni meningkatkan kualitas iman dan amal shaleh untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang taat pada aturan-Nya.

 

Pengertian Bahasa Arab Dan Pembelajaran Bahasa Arab

Pengertian Bahasa Arab

Definisi  bahasa Arab  dapat  ditinjau  dari  sisi  bahasa  dan  istilah. Pengertian “Arab” secara bahasa adalah gurun sahara, atau tanah tandus yang di dalamnya tidak ada air dan pohon yang tumbuh di atasnya. sedangkan “bahasa”  adalah  alat  komunikasi  yang  digunakan  manusia  untuk  saling berinteraksi dan berhubungan dengan berbagai motivasi dan keperluan yang mereka miliki. Secara istilah bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan oleh sekelompok manusia yang berdomisili di atas Negeri Gurun.

Jazirah Arabiyah. Bahasa Arab merupakan bahasa Semitik dalam rumpun bahasa Afro-Asiatik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami yang telah dipergunakan di jazirah Arabia sejak berabad-abad. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Sekarang bahasa Arab ini di gunakan secara luas di bumi ini. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebaga bahasa pertama,  yang  mana  sebagian  besar  tinggal  di Timur Tengah  dan Afrika Utara. Bahasa Arab juga merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh al-Qur’an yakni “sesungguhnya kami telah menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab, supaya kalian bisa memahaminya” (QS. Az Zukhruf:3).

Mengenai munculnya bahasa pertama kali dalam bahasa Semit, para peneliti bahasa memiliki perbedaan pendapat, namun ada suatu teori yang paling kuat yang diyakini oleh para ahli bahasa Arab, diantaranya Abdul Wahid Wafi dan Emil Badi Ya’kub dan para orientalis adalah bahwa bahasa Arab adalah bahasa Semit dan merupakan bahasa yang paling dekat dengan bahasa Semit induk, karena bahasaArab paling banyak memiliki unsur-unsur yang terdapat dalam bahasa Semit dibanding dengan bahasa-bahasa Semit lainnya.1  Dalam  hal  ini Ahmad  Muhammad  Qaddur  menyatakan  bahwa terdapat persamaan ciri-ciri bahasa yang  dituturkan  oleh  orang  Samiyyah dengan bahasa Arab, di antaranya:

  1. Terdapat persamaan dari sudut fonetik, antara bahasa pertuturan

orang  Samiyyah  dengan  bahasa  Arab.  Hal  ini  karena bahasa Samiyyah  menekankan  bunyi  huruf  yang  keluar  dari  rongga tenggorokan seperti “ع   ,ح , غ,ء ,ھ”. Huruf-huruf ini juga terdapat dalam bahasa Arab.

  1. Bahasa Semit merujuk kepada asal perkataan3huruf.Sisteminijuga terdapat dalam bahasaArab yang menekankankatakerjaitudari3huruf. Bahasa Semit menekankan sistem infleksi sama ada dengan rafa, nas}ab dan jarr. Sistem infleksi ini juga banyak ditekankan dalam kaedah bahasa Arab.

Selanjutnya  pada  akhirnya  bahasa  Arab  tersebut  mengalami berbagai perubahan dan perkembangan sesuai dengan peradaban manusia. Perkembangan bahasa Arab sendiri terdiri dari beberapa periode, antara lain:

Periode jahiliah

Pada periode ini muncul nilai-nilai standarisasi pembentukan bahasa Arab fusha, dengan adanya beberapa kegiatan penting yang telah menjadi tradisi  masyarakat  Mekah.  Kegiatan  tersebut  berupa  festival  syair-syair Arab (mu’alaqah) yang diadakan di Pasar Ukaz, Majanah, ZulMajah. yang akhirnya  mendorong  tersiar  dan  meluasnya  bahasa Arab.  Pada  akhirnya kegiatan  tersebut  dapat  membentuk  standarisasi  bahasa Arab  fusha  dan kesusasteraannya.

 

Periode permulaan Islam

Turunnya Al-Qur’an dengan membawa kosakata baru dengan jumlah yang  sangat  banyak  menjadikan  bahasa Arab  sebagai  bahasa  yang  telah sempurna  baik  dalam  mufradat,  makna,  gramatikal  ilmu-ilmu  lainnya. Adanya perluasan wilaya-wilayah kekuasaan Islam sampai berdirinya Daulah Umayah. Setelah berkembang kekuasaan Islam, maka orang-orang Islam Arab pindah ke negeri baru, sampai mas Khulafa ar-Rasyidin.

Periode Bani Abbasiyah

Pemerintah Abbasiyah berkeyakinan bahwa kejayaan pemerintahan dapat bertahan bila bergantung kepada kemajuan agama Islam dan bahasa Arab.  Kemajuan  agama  Islam  dipertahnkan  dengan  cara  melaksanakan kegiatan  pembedahan Al-Qur’an  terhadap  cabang-cabang  disiplin  ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab  Baduwi  yang  bersifat  alamiah  tetap  dipertahankan  dan  dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putri Bani Abbas. Pada abad ke-4 Hijriah, bahasa Arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Bahasa Arab mulai dipelajari melalui buku- buku, sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas

Periode abad ke-5 Hijriah

Sesudah abad ke-5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan  administrasi  pemerintahan,  tetapi  hanya  menjadi  bahasa  agama.  Hal ini terjadi setelah dunia Arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non-Arab.  Bani  Saljuk  mendeklarasikan  bahasa  Persia  sebagai  bahasa resmi agama Islam di bagian timur. Turki Usmani yang menguasai dunia Arab  yang  lainnya  mendeklarasikan  bahwa  bahasa Turki  adalah  bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke-7 H bahasa Arab semakin terdesak.

Periode bahasa Arab di zaman baru

Bahasa Arab bangkit kembali dengan dilandasi adanya upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon. Upaya- upaya tersebut diantaranya:

  1. Bahasa Arab  sebagai  bahasa  pengantar  di  sekolah.  Perkuliahan disampaikan dengan bahasa Arab.
  2. Munculnya gerakan  menghidupkan  warisan  budaya  lama

menghidupkan  penggunaan  kosa-kata  asli  yang  berasal  dari bahasa fusha.

  1. Adanya gerakan  yang  telah  berhasil  mendorong  penerbit  dan percetakan  di  negara-negara Arab  untuk  mencetak  kembali buku-buku sastra Arab dari segala zaman dalam jumlah yang sangat besar dan berhasil pula menerbitkan buku-buku dan kamus bahasa Arab. Hingga saat ini bahasa arab merupakan salah satu bahasa terbesar di dunia. Menurut Philip K. Hitti bahasaArab kini telah menjadi alat komunikasi bagi seratus juta orang lebih. Maka wajarlah, bahasa Arab kini telah menjadi bahasa internasional.

 

Pembelajaran Bahasa Arab

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar baik lingkungan pendidikan formal maupun nonformal.3 Hal ini berarti bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik pada suatu lingkungan belajar tertentu dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang  relevan  dan  mengacu  pada  kurikulum  yang  berlaku.  Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi  dalam  berbagai  konteks  komunikasi.  Kemampuan  yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Sementara itu, dalam kurikulum

2004 untuk SMA dan MA disebutkan bahwa tujuan pemelajaran (proses, cara, perbuatan mempelajari) bahasa dan Sastra Arab secara umum meliputi (1)  siswa  menghargai  dan  membanggakan  Bahasa Arab  sebagai  bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Arab

dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan

 

3 Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis

Kompetensi (Jakarta: Balitbang Depdiknas. 2002), hlm. 1.

kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki  kemampuan  menggunakan  Bahasa Arab  untuk  meningkatkan kemampuan  intelektual,  kematangan  emosional,dan  kematangan  sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis),  (5)  siswa  mampu  menikmati  dan  memanfaatkan  karya  sastra untuk  mengembangkan  kepribadian,  memperluas  wawasan  kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Arab sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Arab.

 

Pengertian Pendidikan Islam dan Arah Tujuannya

Pengertian Pendidikan Islam

Untuk memberikan pengertian tentang pendidikan Islam, maka perlu diketahui asal kata tersebut. Kata”pendidikan”adalah terjemahan dari bahasa Arab, yakni Rabba-Yurabbi-Tarbiyyatan. Kata tersebut bermakna pendidikan, pengasuhan dan pemeliharaan.4 Sedangkan definisi Pendidikan Islam secara istilah adalah upaya untuk mengaktualkan sifat-sifat kesempurnaan yang telah  dianugerahkan  oleh Allah  SWT  kepada  manusia.  Upaya  tersebut dilaksanakan  tanpa  pamrih  semata-mata  beribadah  kepada Allah.5  Ahli lain  juga  menyebutkan  bahwa  pendidikan  agama  adalah  sebagai  proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertakwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas dan fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungannya dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat dan alam sekitarnya serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa (termasuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya).6

Para ahli pendidikan islam telah mencoba memformulasi pengertian pendidikan Islam, di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah: Al-Syaibany mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah proses mengubah  tingkah  laku  individu  peserta  didik  pada  kehidupan  pribadi, masyarakat  dan  alam  sekitarnya.  Proses  tersebut  dilakukan  dengan  cara pendidikan dan pengajaran sebagai sesuatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat. Muhammad Fadhil al-Jamaly mendefenisikan pendidikan Islam sebagai upaya pengembangan, mendorong serta  mengajak  peserta  didik  hidup  lebih  dinamis  dengan  berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurnah, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatanya. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil). Ahmad Tafsir mendefenisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

Dari batasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) agar dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologis atau gaya pandang  umat  islam  selama  hidup  di  dunia.  Berdasarkan  uraian  di  atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha  sadar  atau  kegiatan  yang  disengaja  dilakukan  untuk  membimbing sekaligus mengarahkan anak didik menuju terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika islam dengan tetap memelihara hubungan  baik  terhadap Allah  Swt  (hablumminallah)  sesama  manusia (hablumminannas), dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Sedangkan  dasar  pendidikan  Islam  sebagai  salah  satu  aspek  dari ajaran Islam adalah al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Arah dan Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan Islam identik dengan tujuan hidup seorang muslim. Bila pendidikan dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir  pada  tercapainya  tujuan  pendidikan.  Suatu  tujuan  yang  hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai- nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya, dengan kata lain perilaku lahiriah adalah  cermin  yang  memproyeksikan  nilai-nilai  ideal  memacu  di  dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan. Pendidikan Islam juga mempunyai tujuan yang sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Alquran. Ibnu Khaldun mengatakan sebagaimana dikatakan oleh Ramayulis bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan. Pertama tujuan keagamaan, maksudnya beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.8  Demikian  pula Abdullah  Fayad  menyatakan  bahwa  pendidikan Islam mengarah pada dua tujuan. Pertama, persiapan untuk hidup akhirat. Kedua, membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesan hidup di dunia.9  Semua rumusan tujuan yang dikemukakan di atas sesuai dengan nilai-nilai Islam. Selanjutnya  al-Gazali  berpendapat  bahwa  tujuan  pendidikan  Islam

yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah SWT dari kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat10. Selain dari pandangan yang dikemukakan oleh al-Gazali tentang tujuan pendidikan Islam. Al-Gazali  merumuskan  tujuan  umum  pendidikan  Islam  kedalam lima pokok: (1) Membentuk akhlak yang mulia. (2) Persiapan untuk dunia dan akhirat. (3) Persiapan untuk mencari rezki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatannya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan. (4) Menumbuhkan ruh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu. (5) Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezki. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pendidikan adalah salah satu faktor determinan dalam pendidikan pada umumnya. Secara khusus dalam pendidikan Islam, yang menjadi tujuan utama adalah terbentuknya akhlak yang mulia. Berbagai aspek yang harus dilihat dalam rangka penetapan dan pemantapan tujuan pendidikan tersebut termasuk pendidikan Islam. Aspek-aspek yang dimaksud adalah berkaitan dengan berbagai hal yang harus diperhatikan dalam hubungannya dengan subjek dan objek didik. Sebagai titik akhir yang ingin dicapai adalah kesempurnaan jiwa manusia. Kesempurnaan jiwa diasumsikan sebagai suatu capaian  yang  harus  diraih  oleh  segenap  usaha  manusia.  Oleh  karenanya perangkat  pendidikan  yang  direkayasa  senantiasa  mencerminkan  daya dukungnya terhadap tujuan itu. Dengan kondisi ideal seperti itu menurut para ahli pendidikan Islam, manusia harus diarahkan ke arah pencapaian kualitas tertentu yang dapat digunakannya dalam kehidupan ini. Berbagai penelitian yang telah dikemukakan untuk mengkaji sekitar tujuan umum pendidikan Islam yang bersumber dari kenyataan-kenyataan serta pemikiran- pemikiran yang berkembang sekitar pendidikan Islam.AR. Nahlawi, menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah:11 (1) meningkatkan kemampuan akal dan menumbuhkan pikiran, (2) menumbuhkan potensi-potensi bakat yang dibawa  sejak  lahir,  (3)  mengembangkan  potensi  generasi  muda,  dan  (4) menjaga keseimbangan potensi dan bakat manusia.Akal merupakan anugrah pemberian Tuhan yang dikhususkan kepada manusia sebagai jenis makhluk yang mengembang tugas berat dan mulia. Oleh karena pengembangan akal manusia harus menjadi prioritas dalam tujuan pendidikan. Dari berbagai macam tujuan pendidikan dikemukakan di atas kita dapat mengambil kesimpulan kepada dua macamkesimpulan yang prinsipil yaitu:

 

Tujuan Keagamaan

Yang dimaksud dengan tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap pribadi  orang  muslim  beramal  untuk   akhirat  atas  petunjuk  dan  ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran ajaran Islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap Tuhannya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunat dan yang fardhu bagi seorang mukallaf. Tujuan ini menurut pandangan pendidikan Islam dan para pendidik muslim mengandung esensi yang sangat penting dalam kaitannya dengan pembinaan kepribadian individual  diibaratkan  sebagai  anggota  masyarakat  yang  harus  hidup  di dalamnya  dengan  banyak  berbuat  dan  bekerja  untuk  membina  sebuah gedung  yang  kokoh  dan  kuat.  Di  sini  tampak  jelas  tentang  pentingnya tujuan  pendidikan  ini,  karena  sebenarnya  agama  itu  sendiri  mempunyai hubungan  yang  erat  dengan  berbagai  aspek  pendidikan  kejiwaan  dan pendidikan kebudayaan secara ilmiyah dan falsafiyah. Maka dari itu agama mengarahkan tujuannya pada pencapaian makrifat tentang kebenaran yang haq, yaitu Allah SWT. Di samping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas yakni suatu petunjuk jalan yang benar di mana setiap pribadi muslim mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia berjalan secara manusiawi.12 Dengan demikian agama sebenarnya memberikan berbagai topik pembahasan, di antaranya yang paling essensial ialah pembahasan dari sudut falsafah, misalnya agama berusaha.

memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tentang kehidupan di akhirat filsafat juga berusaha menganalisis problem-problemnya.

 

Tujuan Keduniaan

Tujuan ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang diarahklan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis) atau untuk  mempersiapkan  anak  menghadapi  kehidupan  masa  depan. Tujuan ini  diperkuat  oleh  aliran  paham  pragmatisme  yang  dipelopori  oleh  ahli filsafat John Dewey dan William Kilpatrick. Para ahli filsafat pendidikan pragmatisme lebih mengarahkan pendidikan anak kepada gerakan amaliah (keterampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan. Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan ruh (jiwa) manusia yang pada hakikatnya menjadi inti keberadaan manusia dalam  perjuangan  hidupnya  mencari  keridhaan Allah.  Dengan  demikian, maka  dapat  disimpulkan  bahwa  tujuan  pendidikan  Islam  pada  dasarnya memperoleh  tujuan  ideal  guna  mengantarkan  dan  mengarahkan  manusia dalam  upaya  memantapkan  dan  menjaga  kesucian  jiwanya.  Dapat  pula dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim seutuhnya adalah pribadi yang ideal menurut ajaran Islam yakni, meliputi aspek-aspek individual, sosial dan aspek intelektual. Semua aspek itu adalah sesuai dengan hakikatnya sebagai seorang muslim yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah SWT sesuai tuntunan al-Qur’an.

 

Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab dalam Pendidikan Islam

Pendidikan Islam dilihat dari segi kehidupan struktural umat manusia merupakan  salah  satu  alat  pembudayaan  manusia  itu  sendiri.

merupakan realisasi dari cita- cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah Swt, lahir dan batin, dunia dan akhirat berdasarkan al-Qur’an dan Hadits.

Karena sumber-sumber asli ajaran Islam yakni al-Qur’an, hadits dan ilmu- ilmu keislaman tertulis dalam bahasa Arab, maka sangatlah penting bagi  umat  islam  terutama  kalangan  ilmuannya  untuk  mempelajari  dan memahami serta menguasai bahasa Arab. Jika tidak sulit bagi kita untuk mengkaji Islam dari sumber aslinya yang berasal dari bahasa Arab. Oleh karena itu pembelajaran bahasaArab dalam Pendidikan Islam sangat penting, disebabkan: pertama, bahwa sumber asli ajaran Islam al-Quran dan Hadits ditulis  dalam  bahsa Arab,  kedua,  kitab-kitab  karya  ulama-ulama  besar yang mempengaruhi alur pemikiran umat Islam terutama di bidang tafsir, hadits,fiqih, aqidah, tasawuf ditulis dalam bahasa Arab, ketiga, kajian ilmu keislaman akan semakin berbobot jika mengambil rujukan dari bahasa Arab, keempat, realitas kekinian di kalangan sarjana muslim, terutama Indonesia semakin menipis dalam mengkaji ilmu keislaman yang berbasis bahasaArab.

Setelah Bahasa Arab dijadikan Allah SWT sebagai bahasa al-Qur’an, maka  terjadi  perkembangan  yang  luar  biasa  pada  bahasa  ini,  sehingga memunculkan  berbagai  peranan  penting  dalam  intraksi  kehidupan  umat manusia,  khususnya  dalam  pendidikan  Islam,  peranan-peranan  tersebut dapat diklasifikasi sebagai berikut: Pertama, bahasa Arab berperan sebagai bahasa wahyu, sehingga menjadi bahasa yang istimewa. Indikasinya Allah berkenan berbicara kepada umat manusia dengan bahasa Arab melalui al- Quran. Q.S. Yusuf ayat 2

“Sesungguhnya  kami  menurunkannya  berupa  Al  Quran  dengan

berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”.13

 

Kedua, peranan bahasaArab sebagai bahasa komunikasi umat manusia kepadaAllah SWT. Dalam agama Islam terdapat ibadah-ibadah tertentu yaitu sholat, zikir dan do’a yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Sholat  sebagai  medium  manusia  berkomunikasi  langsung  dengan Allah,

seluruh bacaan-bacaan di dalamnya memakai bahasaArab. Jadi agar mengerti dan memahami maksud didalamnya seseorang perlu mempelajari bahasa Arab.  Ketiga, bahasa Arab internasional. Bahasa Arab mempunyai peranan penting  dalam  dunia  internasional,  digunakan  dalam  dunia  pendidikan Islam maupun pendidikan non Islam, bahkan menjadi kajian di universitas- universitas besar duni, seperti Harvard university dan Oxford University. Di samping itu Bahasa Arab juga digunakan dalam forum beskala internasional lainnya seperti pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keempat peranan bahasa Arab dalam kajian Islam. Bahasa Arab digunakan dalam berbagai macam  kitab-kitab Tafsir,  Hadits, Tasawuf,  Fiqih,  Hukum  dan  lain-lain. Sehingga untuk memahaminya diperlukan penguasaan bahasa Arab secara komprehenship agar tidak menimbulkan pemahaman yang salah.

Demikian  bahasa  Arab  telah  menunjukkan  betapa  penting kedudukannya dalam berbagai aspek, baik sebagai bahasa wahyu, bahasa ibadah maupun bahasa komunikasi internasional.14  Sehingga mempelajari bahasa Arab merupakan salah satu kunci pokok untuk membuka pintu ilmu pengetahuan, baik agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Dalam bukunya yang fenomenal, History of The Arabs  Philip K. Hitti mengatakan bahwa padaAbad Pertengahan selama ratusan tahun bahasaArab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progresif di seluruh wilayah dunia yang beradab. Antara abad ke-9 dan ke-12, semakin banyak karya filsafat, kedokteran, sejarah, agama, astronomi, dan geografi ditulis dalam bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. Dari sinilah masa kegelapan Eropa pada abad pertengahan mulai terang dan melahirkan zaman pembaruan Eropa setelah mengambil dan memindahkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari kaum muslimin ke dunia Barat.

 

Penutup

Dari uraian di atas dapat disimpulkan urgensi pembelajaran Bahasa Arab dapat disimpulkan sebagai berikut: pembelajaran bahasa Arab dalam Pendidikan Islam sangat penting, disebabkan: pertama, bahwa sumber asli ajaran islam al-Quran dan Hadits ditulis dalam bahsaArab, kedua, kitab-kitab

karya ulama-ulama besar yang mempengaruhi alur pemikiran umat Islam terutama di bidang tafsir, hadits,fiqih, aqidah, tasawuf ditulis dalam bahasa Arab, ketiga, kajian ilmu keislaman akan semakin berbobot jika mengambil rujukan dari bahasa Arab, keempat, realitas kekinian di kalangan sarjana muslim, terutama Indonesia semakin menipis dalam mengkaji ilmu keislaman yang berbasis bahasa Arab.

Setelah Bahasa Arab dijadikan Allah SWT sebagai bahasa al-Qur’an, maka  terjadi  perkembangan  yang  luar  biasa  pada  bahasa  ini,  sehingga memunculkan  berbagai  peranan  penting  dalam  intraksi  kehidupan  umat manusia,  khususnya  dalam  pendidikan  Islam,  peranan-peranan  tersebut dapat diklasifikasi sebagai berikut: Pertama: bahasa Arab berperan sebagai bahasa  wahyu,  sehingga  menjadi  bahasa  yang  istimewa. Kedua  peranan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi umat manusia kepada Allah SWT. Ketiga,  bahasa Arab  internasional.  Keempat  peranan  bahasa Arab  dalam kajian  Islam.  Demikian  bahasa Arab  telah  menunjukkan  betapa  penting kedudukannya dalam berbagai aspek, baik sebagai bahasa wahyu, bahasa ibadah  maupun  bahasa  komunikasi  internasional.  Sehingga  mempelajari bahasa Arab merupakan salah satu kunci pokok untuk membuka pintu ilmu pengetahuan, baik agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan..

Setiap  agama  mempunyai  kitab  suci  yang  dijadikan  acuan  dalam bersikap dan bertindak, termasuk Islam yang menjadikan al-Qur’an dan al- Hadits sebagai pedoman hidup, oleh karena kedua sumber ajaran tersebut menggunakan bahasa Arab, maka pembelajaran bahasa Arab dirasa sangat penting sebagai penghantar untuk memahami secara tepat dan bijak tentang isi  ajaran  kedua  sumber  tersebut.  Sehingga  dengan  pembelajaran  bahasa Arab, diharapkan dapat memahami al-Qur’an, Hadits, dan  ilmu-ilmu yang mendukung  untuk  memahami  dan  menafsirkan  al-Qur’an  serta  Hadits tersebut dengan benar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ansori,  Fauzan,  Melawan  Konspirasi  JIL,  Jakarta:Pustaka  al-Furqan,

2003.

Ali, Daud, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1995.

Al-Jumbulati,Ali, Perbandingan Pendidikan Islam, Bandung: Rineka Cipta,

2013.

Anis, Ibrahim, Fi al-Lahaja>t al-‘Arabiyah, Mesir: Maktabah al-Anjlu, 1965. Arsyad, Azhar,  Bahasa  Arab  dan  Metode  Pengajarannya, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2003.

Bawani, Imam,  Cendikiawan Muslim dalam Perspektif  Pendidikan Islam, Surabaya: Bina Ilmu, 1991.

Chejne, Anwar  G.,   Bahasa Arab  dan  Peranannya  dalam  Sejarah,  terj.

Aliudin  Mahjudin,  Jakarta:  Pusat  Pembinaan  dan  Pengembangan

Bahasa, 1996.

Depertemen Agama RI, Al-Quran  dan Terjemahannya, Semarang: Thoha

Putra, 1989.

Hitti, Philip K., History of Arabs, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005.

Ibrah78.bahasaarab.blogspot.com.

Munawwir,  Ahmad  Warson,  Al-Munawwir:  Kamus  Arab-Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997.

Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis

Kompetensi, Jakarta: Balitbang Depdiknas, 2002. Ramayulius, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1994. Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Rosda, 2012

 

 

 

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *