PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Kausar Genteng Banyuwangi)

38 Lihat

Jurnal Al Bayan Vol.9, No.2,Bulan Desember Tahun 2107.ISSN 2086-9282. e-ISSN 2549-1229

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH 75
PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Kausar Genteng Banyuwangi)

Ro’fat Hizmatul Himmah, Muhammad Afif Amrulloh e-mail: afif.amrulloh@radenintan.ac.id
IAI Darussalam Banyuwangi,UIN Raden Intan Lampung

Abstract

Pesantren curriculum as a Mu’adalah between the curriculum at educational institutions using the book and the quality criteria that have been set out in a fair and open. Therefore, this study was conducted to find out an overview of the planning, implementation and evaluation of curriculum development of Arabic at pesantren Al C. This study uses qualitative research methods, descriptive data collection techniques in the form of observation, interview and documentation as well as the use of trainggulasi resources to check the validity of the data. Based on this study, it was found that the Arabic curriculum planning at the boarding school places emphasis on the achievement of language proficiency in the aspects of speaking and reading. This is because diplomas issued synchronised with the Middle East. The book, which provided the material for the study using the book the classic form of Jurumiyah and Imrity for the Nahwu lessons. The direct method of the form sorogan. As for the evaluation of the system using the midle of the semester and semester. Thus, this study is very important to realize service and organization of education boarding schools better through the development of the curriculum based on evaluation and the development needs of the community.
Keywords: Kurikulum, pesantren, mu’adalah

PENDAHULUAN
Pesantren mu’adalah merupakan
salah satu arah baru kemajuan model
pendidikan yang ada di pondok pesantren.
Mu’adalah yang secara harfiah berarti
penyetaraan juga merupakan bentuk
pengakuan dari pemerintah terhadap
keberadaan pondok pesantren secara
umum. Bentuk pengakuan pemerintah
tersebut adalah memberikan dorongan
dari berbagai segi implementasi
penyetaraan pondok pesantren tersebut
dengan pendidikan formal pada
umumnya, seperti pemberian standart isi,
pengelolaan bahkan pengakuan akan
eksistensi ijazah yang dikeluarkan pondok
pesantren tersebut.
Kurikulum pesantren mu’adalah
merupakan penyetaraan antara kurikulum
pada institusi pendidikan, baik pendidikan
di pesantren maupun di luar pesantren
dengan menggunakan kriteria baku dan
mutu/kualitas yang telah ditetapkan secara
adil dan terbuka. Selanjutnya hasil dari
mu’adalah tersebut dapat dijadikan dasar
dalam meningkatkan pelayanan dan
penyelenggaraan pendidikan di pondok
pesantren.
Dalam konteks ini, buku pedoman
pesantren mu’adalah yang diterbitkan

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
76
oleh Kementrian Agama pada tahun 2009
diungkapkan bahwa:
“Pondok pesantren mu’adalah yang terdapat
di Indonesia terbagi menjadi 2 (dua) bagian;
Pertama, pondok pesantren yang lembaga
pendidikannya dimu’adalahkan dengan
lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri
seperti Universitas al-Azhar Kairo Mesir,
Universitas Umm al-Qurra Arab Saudi
maupun dengan lembaga-lembaga non formal
keagamaan lainnya yang ada di Timur
Tengah, India, Yaman, Pakistan atau di Iran.
Pondok pesantren-pondok pesantren yang
mu’adalah dengan luar negeri tersebut hingga
saat ini belum terdata dengan baik karena
pada umumnya mereka langsung
berhubungan dengan lembaga-lembaga
pendidikan luar negeri tanpa ada koordinasi
dengan Depag RI maupun Departemen
Pendidikan Nasional. Kedua, pondok
pesantren mu’adalah yang disetarakan dengan
Madrasah Aliyah dalam pengelolaan Depag
RI dan yang disetarakan dengan SMA dalam
pengelolaan Diknas. Keduanya mendapatkan SK dari Dirjen terkait.”1 Berdasarkan hal itu, dapat
dipahami bahwa jenis pesantren
mu’adalah di Indonesia ada dua jenis,
yaitu pesantren mu’adalah yang
disetarakan ijazahnya setara dengan SMA
Al-Azhar dan bisa melanjutkan studi
pendidikan ke Universitas Al-Azhar
1 Choirul Fuad Yusuf, Pedoman Pesantren Mua’adalah, (Jakarta: Direktur jendral Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, 2009), hlm. 8
Mesir dan Universitas Umm al-Quro Arab
Saudi. Sedangkan jenis yang kedua yaitu,
pesantren mu’adalah yang ijazahnya di
setarakan dengan pengelolaan Madrasah
Aliyah di bawah pengelolaan Departemen
Agama ataupun pesantren mu’adalah
yang disetarakan dengan SMA yang
pengelolaannya di bawah Departemen
Pendidikan Nasional.
Seperti penelitian yang dilakukan
oleh Ismail Suardi Wekke yang berjudul
“Tradisi Pesantren dalam Konstruksi
Kurikulum bahasa Arab di Lembaga
Pendidikan Minoritas Muslim Papua
Barat” menyatakan bahwa pesantren
sebagai pilar tradisi yang mampu
memberikan kontribusi terhadap
masyarakat. Oleh karean itu, salah satu
instruksional yang utama untuk
melaksanakan pengajaran dan
pembelajaran yaitu dengan menggunakan kurikulum.2
Dalam penelitiannya yang lain,
Ismail Suardi Wekke juga melakukan
kajian terhadap penembangan kurikulum
yang berjudul “Pesantren dan
Pengembangan Kurikulum
Kewirausahaan, Kajuan Pesantren
Roudhatul Khuffadz Sorong Papua
Barat”. Penelitian tersebut mengkaji
2 Ismail Suardi Wekke.2014.Tradisi Pesantren dalam Konstruksi Kurikulum bahasa Arab di Lembaga Pendidikan Minoritas Muslim Papua Barat.Jurnal KARSA, Vol.22 No.1

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
77
tentang pengembangan kurikulum yang
dilakukan oleh pesantren Roudhatul
Khuffadz yaitu dengan beberapa kajian dan diskusi.3
Dari beberapa kajian pustaka,
belum banyak ditemukan kajian tentang
pengembangan bahasa Arab di pesantren
mu’adalah berkaitan dengan
pengembangan kurikulum, penulis hanya
menemukan kajian-kajian pada
manajemen kurikulum serta
implementasinya. Perbedaan dari kajian
sebelumnya kurikulum bahasa Arab di
pesantren itu membahas tentang
manajemen dan penyetaraan ijazah formal
sedangkan penelitian ini membahas
tentang penyetaraan ijazah yang bekerja
sama dengan Timur Tengah.

LANDASAN TEORI
Pengembangan Kurikulum Bahasa
Arab. Kurikulum bahasa Arab pada
dasarnya merupakan suatu fungsi
hubungan yang terjalin antara
keprihatinan pengajar dan faktor-faktor
lainnya yang terlibat dalam sistem-sistem
nilai pendidikan, teori dan praktek dalam
rancang bangun kurikulum, kearifan
pengalaman para pengajar dan motivasi
3 Ismail Suardi Wekke.2012.Pesantren dan Pengembangan Kurikulum Kewirausahaan; Kajian Pesantren Roudahtul Khuffadz Sorong Papua Barat.Jurnal INFERENSI, Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan.Vol.6,No.2 Desember 2012
para pembelajar. Untuk memahami
kurikulum bahasa Arab dalam setiap
konteks tertentu, maka kita perlu
berupaya memahami bagaimana semua
pengaruh yang beraneka ragam itu saling
berkaitan untuk memberikan suatu bentuk
tertentu bagi perencanaan dan
pelaksanaan proses pembelajaran.
Sebagaimana pengembangan
kurikulum yang lain, pengembangan
kurikulum bahasa Arab terdiri dari tiga
aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi, berikut adalah uraian
mengenai ketiga aspek pengembangan
bahasa Arab tersebut.
a. Perencanaan kurikulum bahasa
Arab
Setiap kegiatan pasti melalui
proses perencanaan, termasuk di
dalamnya pengembangan kurikulum
bahasa Arab. Perencanaan merupakan
suatu rangkaian proses kegiatan
menyiapkan keputusan mengenai apa
yang diharapkan terjadi (peristiwa,
keadaan, suasana, dan sebagainya) dan
apa yang akan dilakukan (revisi,inovasi, dan lain sebagainya).4
Merancang sebuah kurikulum
bahasa memerlukan adanya pertimbangan
terhadap beberapa hal, mulai dari tujuan
4 Udin Syaefudin Sa’id dan Abid Syamsudin Makmun, Perencanaan Pendidikan : Suatu pendekatan Komperhersif, (Bandung : PT Rosdakarya, 2007), hlm 3

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
78
linguistik dan materinya sampai pada
spesifikasi kegiatan pengajaran dengan teknik evaluasi.5
b.
Pelaksanaan Kurikulum Bahasa
Arab
Pelaksanaan kurikulum bahasa
Arab merupakan pelaksanaan progam
yang telah dikembangkan dalam tahap
sebelumnya, yaitu perencanaan.
Pelaksanan kurikulum bahasa Arab
menempatkan pengembangan kretivitas
siswa lebih dari penguasaan materi.
Dalam kaitannya ini, siswa di tempatkan
sebagai subyek dalam proses pembelajaran.6
Menurut Henri Guntur Tarigan,
Implementasi kurikulum bahasa Asing
meliputi dua hal : 1) implementasi
progam. Sebagai pemeran pengambilan
keputusannya adalah penulis bahan dan
latihan untuk mengajar yang
menghasilkan produk berupa materi dan
pelatihan pengajar. 2) implementasi kelas,
yang diperankan oleh pengajar dan
pembelajar dan menghasilkan prodal
5Syukur Ghazali, Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa: dengan Pendekatan Komunikatif-Interaktif (Bandung: PT Rafika Aditama, 2010), hlm 75 6 Rusman, Manajemen….,hlm 75
berupa kegiatan pengajar dan pembelajar.7
c.
Evaluasi Kurikulum Bahasa Arab
Dalam pengembangan kurikulum,
evaluasi merupakan salah satu komponen
penting dan tahap yang harus ditempuh
untuk mengetahui efektifitas kurikulum.
Hasil yang diperoleh dapat dijadikan
balikan (feed-back)dalam memperbaiki
dan menyempurnakan kurikulum.
Evaluasi kurikulum merupakan usaha
yang sulit dan kompleks, karena banyak
aspek yang harus dievaluasikan, banyak
orang yang terlibat, dan luasnya kurikulum yang diperhatikan.8
Evaluasi kurikulum secara
mendasar dapat dilakukan pada
komponen-komponen kurikulum. Hal ini
dapat dipahami dari pendapat S. Nasution
yang mengemukakan bahwa jika seorang
evalator mau melakukan evaluasi
kurikulum maka harus mengevaluasi
komponen-komponen kurikulum yang
meliputi : 1) tujuan kurikulum, 2)
pengalaman-pengalaman belajar untuk
mengembangkan pengetahuan sikap, dan
ketrampilan murid, 3) organisasi
pengalaman itu, hubungannya dengan
7Henri Guntur Tarigan, Dasar-dasar Kurikulum Bahasa (Bandung : Angkasa, 2009), hlm 27 8 Zainal Arifin, Konsep-konsep,…., hlm 93

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
79
pengalaman lain, 4) cara-cara mengevaluasi hasil belajar murid.9
Dari beberapa pengertian
menunjukan bahwa yang dimaksud
dengan evaluasi kurikulum bahasa Arab
adalah kegiatan yang teratur dan
berkelanjutan berdasarkan kelebihan dan
kekurangan dari fakta di lapangan yang
berupa prestasi belajar peserta didik.
Tujuannya adalah untuk mengetahui (1)
sejauh mana para pelaku di lapangan
sudah memahami dan menguasai
kurikulum lengkap dengan komponennya,
(2) sejauh mana efektifitas pelaksanaan
kurikulum, (3) sejauh mana efektifitas
penggunaan sarana dan prasarana, (4)
sejauh mana peserta didik telah mencapai
tujuan atau menguasai pengetahuan
ketrampilan, dan sikap yang diharapkan,
(5) adakah dampak pelaksanaan kurikulum baik positif atau negatif.1 0

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian lapangan (field research) dan
masuk pada kategori penelitian kualitatif.
Dari aspek pembahasannya, penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif kualitatif
yaitu suatu penelitian yang hanya
9S. Nasution, Asas-asas Kurikulum (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm 253 1 0 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm 237
melukiskan, memaparkan dan melaporkan
suatu keadaan, suatu obyek atau peristiwa dengan menarik suatu kesimpulan.1 1
Adapun sumber data dalam
penelitian ini adalah sumber data utama
dan sumber data tambahan yang berupa
dokumen-dokumen. Sumber data utama
(primer) meliputi: pengasuh pondok
pesantren Al-Kautsar dan Baitul Arqom,
koordinator kurikulum mu’adalah, dan
guru mu’adalah. Sumber data tambahan
(sekunder) seperti: kurikulum pesantren
mu’adalah pondok pesantren Al-Kautsar
dan Baitul Arqom, dokumentasi
kurikulum pesantren mu’adalah pondok
pesantren Al-Kautsar dan Baitul Arqom,
sejarah adanya kurikulum pesantren
mu’adalah pondok pesantren Al-Kautsar
dan Baitul Arqom.
Adapun teknik pengumpulan data
yang perlukan dalam penelitian ini,
penulis menggunakan observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Teknik analaisis data mencakup:1 2 reduksi data,
display data, dan penarikan
kesimpulan/verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1 1 Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Riset Sosial (Bandung: mandar Maju, 1999) hlm, 29 1 2 Moh. Nasir, Metode Penelitian(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 23

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
80
Pengembangan Kurikulum Bahasa
Arab di Pondok Pesantren Al-Kautsar
Banyuwangi
Sejarah pengembangan kurikulum
bahasa Arab Pondok Pesantren Al-
Kautsar pada awalnya berbentuk
pesantren salafiyah kemudian pada tahun
1996 pesantren Al-Kautsar
mengembangkan pesantren modern,
perubahan tersebut dikarenakan faktor
internal tujuannya agar menjadi ciri khas
dari pondok pesantern tersebut,
sebagaimana mengacu pada Pesantren
Modern Gontor, namun tidak
meninggalkan nuansa salafiyahnya.
Dalam kerangaka teoritis ada lima
prinsip dalam pengembangan kurikulum,
yaitu prinsip relevansi, prinsip
fleksibilitas, prinsip kontinuitas, prinsip
efisiensi, dan prinsip efektivitas. Salah
satu pengembangan kurikulum adalah
adanya perumusan rasional yang tertuang
dalam target dan tujuan. Rumusan
rasional itu tertuang pada bentuk
pertimbangan pencapaian target yaitu
sebagaimana yang terdapat pada
penyajian data pesantren Al-Kautsar
diantaranya adalah : pertama
merealisasikan target dari visi dan misi
yang terdapat dalam pesantren Al-Kautsar
yaitu menjadikan out-put santri yang
“muttafaqqih fiddin”, kedua adanya
jalinan kerjasama dengan luar negeri,
khususnya Yaman, Singapura, dan
Malaysia.
Dalam berbagai kesempatan
wawancara dapat dipahami bahwa
pengembangan kurikulum bahasa Arab
diperlukan proses perencanaan, kurikulum
sebagai upaya untuk memahami apakah
sudah sesuai antara kurikulum yang
diterapkan dengan yang sudah
direncanakan. Berikut dikemukakan
rangkaian perencanaan, pengembangan
kurikulum bahasa Arab dimaksud di
Pesantren Al-Kautsar Banyuwangi.
Perencanaan Pengembangan
Kurikulum Bahasa Arab
Berdasarkan hasil wawancara,
observasi dan dokumentasi, perencanaan
kurikulum bahasa Arab di Pesantren Al-
Kautsar berawal dari penetapan target
pembelajaran bahasa Arab, jadwal
pelajaran, metode dan sistem evaluasi.
Dalam proses perencanaan
kurikulum, pesantren Al-Kautsar
mengembangkan pedoman penetapan
bahan untuk kurikulum pendidikan yang
meliputi :
a.
Penetapan Tujuan
Target atau tujuan pembelajran bahasa
Arab yang pesantren Al-Kautsar
canangkan ada empat yaitu
kemampuan bahasa dalam hal qiro’ah,
muhadatsah, istima’, dan kemampuan

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
81
kitabah. Dari keempat kemampuan
pesantren hanya menekankan pada dua
kemampuan diantaranya pertama,
kemampuan membaca yang berorentasi
pada fahmul kutub, kedua, kemampuan
muhadatsah untuk membekali para
santri melanjutkan ke Negara Yaman
dan speaking membekali ke Singapura dan Malaysia.1 3
Setelah tujuan bahasa Arab
dirumuskan, kemudian melakukan
progam untuk mendukung ketercapaian
tujuan pembelajaran bahasa Arab
mulai dari jadwal pelajaran yang
berpihak pada tujuan pembelajaran
bahasa Arab, progam pendukung
sampai pada bentuk evaluasi. Tujuan
pembelajaran bahasa Arab di pesantren
Al-Kautsar ada empat target yaitu:
1.
Untuk kemampuan membaca
didukung dengan pembalajaran
nahwu shorof yang intensif,
didukung juga dengan kegiatan
diniyah yang pelajarannya
memakai kitab kuning klasik.
2.
Untuk kemampuan berbicara
diadakannya lingkungan bahasa,
yang setiap paginya santri
muhadatsah di halaman, santri
dilatih terus untuk berbicara
1 3 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid Iskandar, pada tanggal 16 Februari 2014
bahasa untuk mecapai target
kemampuan berbicara.
3.
Untuk kemampuan menulis santri
diajarkan pelajaran imla’ dan
insya’.
4.
Untuk kemampuan mendengar
pesantren menyediakan
laboratorium bahasa serta lingkungan bahasa.1 4
Penetapan keempat tujuan
pembelajaran bahasa Arab di Pesantren
Al-Kautsar memiliki pertimbangan aspek
empiris dan filosofis, sebagaimana yang
tertuang dalam kajian teori. Pertimbangan
itu diambil karena sebuah tuntutan dari
visi dan misi yang ada di pesantren Al-
Kautsar yaitu menciptakan santri yang
mutafaqqih fiddin. Pada aspek filosofis
dapat diterjemahkan bahwa penetapan
tujuan pembelajaran tersbut sebagai
jawaban atas keberhasilan santri dalam
melanjutkan belajar ke Negara Yaman.
Rumusan perencanaan tujuan kurikulum
Bahasa Arab ditetapkan pada tujuan
dalam bentuk kegiatan formal maupun
non formal.
b.
Identifikasi Materi
Untuk merealisasikan target,
pesantren mendesain materi dengan dua
kategori yaitu kategori materi inti dan
1 4 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid Iskandar, pada tanggal 16 Februari 2014

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
82
materi penunjang. Disamping itu juga
mempunyai kegiatan lain yang menunjang
ke arah pencapaian target. Untuk materi
inti bahasa Arab menggunakan kitab al-
muhawarah, kitab ini adalah kitab yang
melatih santri untuk berbicara bahasa
Arab, sementara pada pencapaian
kemahiran membaca bahasa Arab ada
pada pelajaran di waktu sekolah diniyyah.
Untuk materi penunjang yaitu nahwu,
muthola’ah, mahfudzot dan insya’. Dan
kegiatan penunjang yaitu lomba debat
bahasa serta penciptaan lingkungan bahasa.1 5
Berdasarkan hasil wawancara
dengan ustadz Ali Mansur dapat dipahami
bahwa perencanaan kurikulum bahasa
Arab di Pondok Pesantren Al-Kautsar
dimulai dari penyusunan jadwal pelajaran
serta merumuskan jumlah jam dalam
pertemuan, penentuan ustadz. Dalam
konteks jadwal pelajaran pihak pesantren
mencoba menyusun secara integral
mengenai kurikulum bahasa Arab artinya
merumuskan jadwal beserta jumlah jam
pertemuan mulai dari kelas I sampai kelas
VI berdasarkan tingkat kebutuhan. Dalam
data dokumentasi dapat diketahui bahwa
struktur kurikulum sudah memiliki
komponen tersendiri dalam materi bahasa
Arab yaitu Al-Imla’, Al-Insya’, Al-
1 5 Hasil wawancara dengan Ust. Ali Manshur, S.Fil.I, Kepala Pondok Pesantren al-Kautsar, pada
Muthola’ah, An-Nahwu, Ash-Shorof, Al-
Balaghoh, At-Tarjamah, Mahfudzot,
disamping itu juga ada materi dalam kitab
muhawarah yang semuanya
menggunakan bahasa Arab dan dalam
kelas formal juga terdapat pelajaran
bahasa Arab dari
Kementerian Agama (Departemen
Agama). Khusus untuk materi bahasa
Arab jumlah jam dalam satu tahun untuk
semua kelas berjumlah 159 jam bila
dibandingkan dengan materi-materi lain.1 6
Materi bahasa Arab di kelas
formal juga mengikuti kurikulum
Nasional, jadi terdapat buku LKS untuk
latihan para santri dan buku paket bahasa
Arab dari Depag. Selain itu, juga
terdapat materi penunjang dalam
pelajaran diniyah atau di pesantren itu
sendiri.
Kurikulum Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren Al-Kautsar sama
dengan kurikulum sekolah menengah
atas, hanya saja di Madrasah Aliyah Al-
Kautsar terdapat porsi lebih banyak
muatan pendidikan agama Islam yaitu
Fiqih, Aqidah Akhlak, al-Qur’an Hadits,
Bahasa Arab dan Sejarah Islam ,
sedangkan kurikulum khusus pondok
pesantren Nahwu, Shorof, Tahfizul
tanggal 18 Februari 2014

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
83
Qur’an, faroid, Balaghoh, Insya’, Falak,
Tafsir Qur’an, Al-Hadits, Kajian Kitab
Kuning.
Dalam pengembangan kurikulum
bahasa Arab di Pesantren Al-Kautsar
menggunakan landasan-landasan dan
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
berikut ini :
a)
Landasan Pengembangan Kurikulum
Pesantren Al-Kautsar
Sebagai sebuah inti dari
pendidikan, kurikulum memiliki pengaruh
terhadap seluruh aktifitas pendidikan.
Mengingat pentingnya kurikulum, maka
penyusunan kurikulum tidak dapat
dilakukan secara sembarangan.
Penyusunan pengembangan
kurikulum membutuhkan landasan yang
kuat, yang didasarkan dari hasil-hasil
pemikiran dan penelitian mendalam.
Penyusunan kurikulum yang tidak
didasarkan pada landasan yang kuat dapat
berakibat fatal terhadap kegagalan
pendidikan itu sendiri.
Pendidikan di pondok pesantren
mu’adalah mengikuti standard DEPAG
maupun DIKNAS, dan senantiasa
berusaha untuk mengembangkan diri,
memiliki beberapa landasan
pengembangan kurikulum yang didasari
sesuai dengan visi, misi, serta tujuan
1 6 Hasil waancara dengan Usatd Ali Mansur, S.Fil.I tanggal 18 Februari 2014
pesantren itu sendiri. Berikut ini
rinciannya sebagai berikut :
1)
Landasan Filosofis
Landasan Filosofis akan memberikan
susunan kurikulum yang mengandung
suatu kebenaran terutama kebenaran
di bidang nilai-nilai sebagai
pandangan hidup yang diyakini dari
suatu kebenaran. Hal tersebut karena
suatu kajian filsafat adalah system
nilai yang berkaitan dengan cara
hidup dan kehidupan, norma-norma
yang muncul dari individu
sekelompok masyarakat ataupun
bangsa yang dilatarbelakangi oleh
pengaruh agama, adat istiadat dan
konsep individu tentang pendidikan.
Di Pondok pesantren Al-Kautsar pola
pendidikan yang digunakan adalah full
day school, santri sekolah di Al-
Kautsar wajib berada di asrama.
Sehingga selama dua puluh empat
jam, Kiai beserta para guru senantiasa
membimbing, mengajar dan mendidik
santri-santrinya, baik dengan keteladanan dengan cara hidup.1 7
Selain itu mata pelajaran yang
diajarkan yang diharapkan bisa
membentuk kepribadian yang baik
dan bijaksana dalam tingkah lakunya
1 7 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid, Pengasuh Pesantren Al-Kautsar, pada tanggal 16 Februari 2014

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
84
adalah pendidikan akhlaq dengan
kitab bidayatul hidayah.
2)
Landasan Psikologi.
Dasar Psikologi terbagi kepada dua
macam yaitu pertama, psikologi
pelajar dan hakikat anak dapat dididik,
diajarkan dan diberikan sejumlah
materi dan pengetahuan. Kedua,
psikologi anak. Setiap anak
mempunyai kepentingan yakni untuk
mendapatkan situasi-situasi belajar
kepada anak untuk mengembangkan
bakatnya.
Di pondok pesantren Al-Kautsar
menggunakan sistem asrama, jadi
kebersamaan antara Kiai, guru dan
santri dapat berlangsung terus
menerus dan hubungan mereka
menjadi semakin luas. Dengan
keleluasaan ini dan frekuensi kontak
yang lebih intens, segala persoalan
segera akan mendapatkan perhatian
dan pemecahannya. Perjumpaan Kyai,
guru dan santri tidak hanya dibatasi
oleh jam-jam belajar di kelas. Kondisi
ini sangat baik bagi proses
pembentukan kepribadian santri.
Apabila kondisi seperti ini
dipergunakan secara efektif, maka
semakin besar peluang untuk dapat
mencapai tujuan akhir pendidikan.
3)
Landasan Sosial Budaya.
Landasan sosial budaya adalah
pentingnya aspek-aspek sosial dan
budaya yang berkembang di
masyarakat yang dijadikan acuan
pengembangan kurikulum. Hal ini
berangkat dari satu premis bahwa
pendidikan lahir dari, oleh, dan untuk
masyarakat dan budaya. Di sini ada
hubungan timbal balik yang harmonis
antara pendidikan, masyarakat dan
budaya.
Pondok pesantren Al-Kautsar tetap
konsisten pada peranannya sebagai
sebuah yayasan pendidikan yang
memberikan pelayanan sosial pada
masyarakat sekitar. Oleh karena itu
setiap lulusan pesantren Al-Kautsar
wajib melaksanakan pengabdian
selama tiga bulan untuk terjun kepada
masyarakat sekitar, setelah itu wajib
melaksanakan pengabdian mengajar kepada pesantren al-Kautsar.1 8
b)
Prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum bahasa Arab Pesantren Al-
Kautsar.
Prinsip-prinsip yang akan
digunakan dalam kegiatan kurikulum
bahasa Arab pada dasarnya merupakan
kaidah-kaidah atau hukum yang akan
menjiwai suatu kurikulum.

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
85
Pondok Pesantren Al-Kautsar
dalam pengembangan kurikulum bahasa
Arab menggunakan prinsip-prinsip
sebagai berikut :
1)
Prinsip berorientasi pada tujuan;
dimaksudkan agar perumusan
kurikulum lainnya serta semua
kegiatan pembelajaran didasarkan
dan mengacu pada tujuan yang akan
dicapai. Adapun tujuan kurikulum
bahasa Arab di Pondok Pesantren
Al-Kautsar adalah pada empat
pencapaian kemahiran.
2)
Prinsip relevansi; secara internal
bahwa kurikulum memiliki
relevansi diantara komponen-
komponen kurikulum (tujuan,
bahan, strategi, organisasi, dan
evaluasi). Sedangkan secara
eksternal bahwa komponen-
komponen tersebut memiliki
relevansi dengan tuntutan ilmu
pengetahuan dan teknologi
(relevansi epistomologis), tuntutan
dan potensi peserta didik (relevansi
psikologis) serta tuntutan dan
kebutuhan perkembangan
masyarakat (relevansi sosiologis).
Oleh karena itu, pesantren
menyusun kurikulum sesuai dengan
perkembangan zaman.
1 8 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid, Pengasuh Pesantren Al-Kautsar, pada tanggal 16
3)
Prinsip efektifitas; yakni
mengusahakan agar kegiatan
pengembangan kurikulum mencapai
tujuan. Pondok Pesantren Al-Kautsar
menerapkan sistem pendidikan yang
memberikan pengajaran dua puluh
empat jam dengan agenda yang
padat.
4)
Prinsip efisiensi; yakni
mengusahakan agar dalam
pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan waktu, biaya dan
sumber-sumber lain yang ada secara
optimal, cermat dan tepat, sehingga
hasilnya memadai. Tenaga pengajar
di Pondok Pesantren Al-Kautsar
kebanyakan adalah alumni dari
pesantren sendiri. Sehingga
pendaftaran guru dari luar pesantren
bisa dibatasi.
5)
Prinsip kontinuitas; yakni adanya
kesinambungan dalam kurikulum
baik secara vertikal maupun secara
horizontal. Pondok Pesantren Al-
Kautsar mengorganisasikan mata
pelajaran disusun secara
berkesinambungan dan sesuai dengan
silabus dan setiap guru wajib
membuat RPP. Serta terdapat kelas
khusus bagi santri untuk
mengantisipasi hetrogen lulusan
santri, terdapat matrukulasi 3 bulan
Februari 2014

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
86
untuk mendalami bahasa Arab dan
Inggris.
6)
Prinsip sinkronisasi; dimaksudkan
adanya sifat yang searah dan tujuan
dengan semua kegiatan yang
dilakukan oleh kurikulum. Mata
pelajaran formal dan non formal di
Pondok Pesantren Al-Kautsar saling
berkaitan atau dapat dikatakan bahwa
kitab yang dikaji dalam pendidikan
non formal dimaksudkan untuk
menunjang pendidikan non formal
seperti halnya kitab imrithi dalam
pengajian diniyyah akan menunjang
pelajaran nahwu dalam formalnya.
Dalam kegiatan muhadatsah santri
diberi sanksi agar tertib menjalankan
muhadtsah di lingkungan pesantren,
di sekolah maupun di kantin santri wajib menggunakan bahasa Asing.1 9
c)
Pemilihan Metode
Metode pembelajaran yang
digunakan oleh pesantren Al-Kautsar
tergolong unik, dimana pesantren
modern tapi masih menyelipkan
nuansa salafiyahnya dengan
menggunakan metode sorogan.
Metode sorogan di sini metode yang
guru membaca kitab kuning dan
santri memaknainya dengan bahasa
Jawa padahal santri diwajibkan
sehari-harinya menggunakan bahasa
Asing. Menurut peneliti ini
merupakan salah satu kekurangan
dalam pembiasaan santri dalam
berbahasa, memang ada kelebihan
tersendiri santri bisa mengetahui ilmu
alat dengan metode sorogan itu
sendiri. Kemudian metode langsung,
metode ini dalam pembelajaran juga
sering digunakan oleh para guru
bahasa Arab. Guru di Pesantren Al-
Kautsar menggunakan metode
langsung guna agar interaksi
langsung dengan para santri dan
santri juga bisa aktif dalam
pembelajaran.
d)
Evaluasi Pembelajaran
Sistem Evaluasi di Pondok
Pesantren Al-Kautsar menggunakan
ujian lisan dan tulis. Ujian lisan
berguna untuk menunjang
kemampuan berbahasa santri. Bagi
kelas 6 ada ujian praktek mengajar
dengan menggunakan bahasa arab
dan bahasa inggris sebagai bekal
untuk melatih mental sebagai
seorang pengajar. Ketika santri tidak
lulus evaluasi, akan ada ujian
susulan atau remidi. Kemudian bagi
1 9 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid, Pengasuh Pesantren Al-Kautsar, pada tanggal 16

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
87
kelas 6 setingkat kelas 3 MA,
dinyatakan lulus dengan adanya
pengabdian selama satu tahun, guna
melihat bagaimana bukti pengabdian
santri untuk pesantren.
Evaluasi pembelajaran di
pesantren Al-Kautsar ini mencakup
tiga ranah yaitu penilaian kognitif,
psikomotorik, dan afektif. Penilaian
kognigtif pada tes midle semester
dan semeter sedangkan penilaian
afektif pada keaktifan siswa ketika
berada di pesantren sedangkan
penilaian psikomotorik dilihat dari
pengabdian santri.
Untuk santri yang berminat
untuk melanjutkan ke timur tengah
diadakan kelas khusus, santri di
gembleng dalam berbicara bahasa
Arab.
Data santri yang melanjutkan ke Timur Tengah2 0 :
No Tahun Jumlah
santri
Universitas
1 2006 3 Al-Azhar
Cairo
2 2008 4 Al-Ahqof
Yaman dan
Kharoum
Februari 2014 2 0 Hasil wawancara dengan KH. Nur Hamid Iskandar, pada tanggal 16 Februari 2014
Sudan
3 2010 1 Al-Ahqof
yaman
4 2011 2 Al-Azhar
Cairo
5 2012 1 Al-Ahqof
Yaman
Sistem pendidikan di Pondok
Pesantren Modern Al-Kautsar adalah
mengikuti kurikulum Departemen
Pendidikan Agama dan kurikulum
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
serta kurikulum khusus Pondok Pesantren
Modern dengan bahasa pengantar bahasa
Arab atau bahasa Inggris yang mengacu
kepada terciptanya alumni (out put) yang
menguasai bahasa Arab dan bahasa
Inggris, baik aktif maupun pasif dan
mempunyai kemauan dan kemampuan
untuk mengajar (amaliyah al-tadris)
dengan bahasa Arab atau Inggris pada
anak didik tingkat dasar.
Di samping itu, juga di tambah
dengan pendidikan ketrampilan seperti
komputer, laboratorium bahasa,
kepramukaan, jam’iyatul qura’, praktek
ubudiyah praktis dan khitobah dengan
menggunakan tiga bahasa (pidato bahasa
Arab, Inggris dan Indonesia), cabang-
cabang olahraga, kesenian kaligrafi, letter

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
88
dan kegiatan-kegiatan ketrampilan lainnya.2 1
Perencanaan kurikulum bahasa
Arab di Pondok Pesantren Al-Kautsar
adalah dimulai dari penetepan tujuan
pembelajaran bahasa Arab, menyusun
matrei beserta jumlah jam, penetapan
metode pembelajaran, serta evaluasi
pembelajaran dilakukan 4 kali dalam
setahun midle semester, semester ganjil
dan genap. Pelaksanaan kurikulum bahasa
Arab di Pondok Pesantren Al-Kautsar
adalah penyusunan progam-progam dari
progam harian, mingguan, bulanan serta
tahunan, pelaksanaan kelas pada
Pesantren Al-Kautsar terdapat kelas
formal yang kurikulumnya mengikuti
Departemen Pendidikan Agama dan
kurikulum Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dan selanjutnya kelas
diniyah mengembangkan kurikulum
khusus pesantren.
Namun demikian, jika dilihat dari
pengembangan kurikulum yang
seharusnya dilakukan secara
berkelanjutan, maka praktek perencanaan
yang duilakukan di Pondok Pesantren Al-
Kautsar dirasa sangat kurang memadai,
maka dari itu perlu pengembangan
kurikulum yang harus
2 1 Hasil wawancara dengan Ustadzah Ayu Surga Wiyasari, L.c pada tanggal 13 Februari 2014
mempertimbangkan perkembangan zaman
dan tuntutan masyarakat. Semisal tuntutan
zaman sekarang yang mengedepankan
pentingnya skill selain pendalaman ilmu
keislaman di Pondok Pesantren, sehingga
lulusan pesantren bisa diandalkan
kemampuan agama dan bahasa Arab,
selain itu memiliki skill untuk kesiapan
hidup di tengah-tengah masyarakat yang
selalu berkembang dinamis. Seperti
halnya kedinamisan bahasa Arab yang
selalu terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.2 2

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil kajian ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa dalam pengembangan
kurikulum, salah langkah awal yang
dilakukan adalah perencanaan kurikulum.
Perencanaan ini dilakukan agar kurikulum
dapat terlaksana dengan baik dan sesuai
dengan harapan. Perencanaan
pengembangan kurikulum bahasa Arab
pada pesantren tersebut dimulai dari
penetapan tujuan pembelajaran bahasa
Arab, identifikasi materi, pemilihan
metode serta evaluasi pembelajaran.
Sehingga dengan demikian diharapkan
pondok pesantren mampu menjadi pusat
pembentukkan santri yang berdaya buga
2 2 ﺗﻐﻴﻴﺮ ﻓﻮﻧﻴﻤﺎﺕ ﺍﻟﻠﻐﺔ .6102.hollurmA fifA dammahuM ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﺠﺎﻭﻳﺔ . Jurnal Al Bayan; Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.Vol.8,No.2 Desember 2016

PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB PESANTREN MU’ADALAH
89
bagi masyarakat sekitar melalui
pengembangan kurikulum yang baik.
Oleh karena itu, masih diperlukan
penelitian berikutnya yang lebih
mendalam terkait pengembangan
kurikulum untuk terwujudnya
penyelenggaraan pendidikan di pondok
pesantren yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA ﺗﻐﻴﻴﺮ .6102.fifA dammahuM ,hollurmA ﻓﻮﻧﻴﻤﺎﺕ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﺠﺎﻭﻳﺔ . Jurnal Al Bayan; Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.Vol.8,No.2 Desember 2016 Ghazali, Syukur, Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa; dengan Pendekatan Komunikatif- Interaktif, Bandung, PT. Rafika Aditama, 2010. Hamalik, Oemar, Pengembangan Kurikulum, Bandung: Bandar Maju, 1999. Kartono, Kartini, Pengantar Metodelogi Riset Sosial, Bandung: Bandar Maju, 1999. Nasir, Moh, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003. S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2006. Sa’id, Udin Syaefullah dan Abin Syamsuddin, Perencanaan Pendidikan: Suatu Pendekatan Komprehensif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007. Tarigan, Henry Guntur, Dasar-dasar kurikulum Bahasa, Bandung: Angkasa, 2009. Yusuf, Choirul Fuad, Pedoman Pesantren Mua’adalah, Jakarta: Direktur jendral Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, 2009. Wekke, Ismail Suardi.2012.Pesantren dan
Pengembangan Kurikulum Kewirausahaan; Kajian Pesantren Roudahtul Khuffadz Sorong Papua Barat.Jurnal INFERENSI, Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan.Vol.6,No.2 Desember 2012
.2014.Tradisi Pesantren dalam Konstruksi Kurikulum bahasa Arab di Lembaga Pendidikan Minoritas Muslim Papua Barat.Jurnal KARSA, Vol.22,No.1. Juni 2014

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *