Keutamaan Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Oleh Satrio,M.A Dosen STAIN SAR Kepri

202 Lihat

TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU :

Umur Umat ini Pendek, Karena itu, Pahala Puasa Syawal Sama Seperti Setahun Penuh

Ada yang bertanya, Apa benar begitu? Jika kita puasa ramadhan kemudian ditambah dengan puasa 6 hari bulan syawal (nyawalan), sama seperti puasa selama setahun penuh full. Bagaimana bisa?

Ya memang seperti itu. Toh memang hadits Nabi bunyinya seperti itu, bahwa orang yang puasa ramadhan kemudian ditambah puasa 6 hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa selama setahun penuh. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohihnya no. 1984 pada bab “kesunahan puasa 6 hari syawal” ini ialah hadits yang dejatnya sudah mencapai derajat shohih lidzatihi, dan tidak ada ulama satu pun yang mengkritik keshohihaan hadits tersebut. Jadi tidak ada alasan kita untuk tidak menerima hadits ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa 6 hari di bulan syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahu penuh” (HR Muslim)

Banyaknya pahala yang diterima atau dihasilakn dari ibadahnya seorang muslim itu sejatinya adalah anugerah Allah s.w.t. untuk umat Nabi Muhammad s.a.w. yang memang tidak diberikan kepada umat terdahulu. Beberapa keistimewaan yang Allah s.w.t.

berikan kepada umat Muhammad s.a.w., diantaranya; seperti dijadikannya bumi ini masjid untuk kita ummat Nabi Muhammad, maka dimana pun waktu sholat itu datang, kita boleh sholat diatas tanah manapun, asalkan itu suci. Dan keistimewaan yang lain ialah, digandakannya amal ummat Muhammad s.a.w. menjadi sepuluh kali lipat.

Ini yang dijelaskan oleh Allah s.w.t. dalam firman-Nya, surat Al-An’am ayat 160:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Siapa yang melakukan kebaikan, maka baginya (ganjaran) 10 kali kebaikan. Dan siapa yang melakukan kejahatan, ia tidak akan diganjar kecuali dengan yang semisal. Dan mereka tidak ada didzalimi”.

Dan juga dikuatkan oleh Hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رَحِيمٌ، مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا، كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، إِلَى سَبْعِ مِائَةٍ، إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ،

“sesungguhnya tuhan kalian yang maha tinggi dan mulia adalah (juga) dzat yang penyayang. Siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan tapi ia belum melaksanakannya, maka baginya satu

kebaikan sempurna. Dan jika ia berniat kemudian melakukannnya, maka baginya sepuluh kebaikan bahkan sampai 700 kali lipatnya atau bahkan berlipat-lipat. ………..” (HR Bukhori, No. 6010. Dan Muslim, No. 187)

Jadi puasa kita yang telah kita lakukan selama sebulan itu, selama 30 hari (ada juga yang 29 hari) itu digandakan menjadi sepuluh kali lipat. Hitungan jadi seperti ini, 30 X 10 = 300 hari. Berarti selama Ramadhan kemarin kita telah menjalankan puasa selama 300 hari, pahalanya.

Ditambah dengan puasa syawal yang 6 hari. 6 hari X 10 = 60 hari. Jadi puasa ramadhan ditambah dengan puasa 6 hari syawal berarti 300 hari + 60 hari = 360 hari, ini adalah jumlah hari dalam setahun. Jadi benar apa yang disebutkan oleh Nabi s.a.w. tentang puasa syawal, hadiahnya sama seperti puasa setahun penuh.

Ini juga yang disebutkan oleh Nabi s.a.w. dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Darimi dari sabahat Tsauban r.a.,

وَعَنْ ثَوْبَانَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَال: قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَسِتَّةُ أَيَّامٍ بَعْدَهُنَّ بِشَهْرَيْنِ، فَذَلِكَ تَمَامُ سَنَةٍ

Dari Tsauban r.a., beliau berkata, Nabi s.a.w. bersabda: puasa sebulan Ramadhan itu sama dengan puasa 10 bulan. Dan 6 hari syawal Dan 6 hari syawal.

 Bayangkan betapa nikmatnya menjadi Ummat Nabi Muhammad s.a.w. Jaminan hidup sampai setahun kita tidak dapat, tapi pahala puasa selama setahun sudah bisa kita dapatkan. Jangankan selama setahun, untuk bisa hidup sampai besok pun tidak ada yang menjamin. Tapi Allah dengan kemurahan-Nya memberikan kita pahala yang barang kali tidak bisa diukur sama rata dengan umur kita.

Mungkin ini juga disebabkan karena kita; umat Nabi Muhammad s.a.w. tidak punya kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki umat-umat terdahulu; yakni umur Panjang. Nabi-nabi terdahulu diberikan umur Panjang oleh Allah s.w.t. dan begitu juga umatnya. Tapi dalam hal ibadah, ganjarannya berimbang.

Sedang umat Nabi s.a.w. adalah umat yang paling pendek umurnya. Bahkan dalam sabdanya, Nabi s.a.w. pernah menyebut bahwa umur umatnya itu antara 60 sampai 70 tahun. Dan Nabi Muhammad s.a.w. sendiri wafat di umur 62 tahun sekian bulan.

Nah karena umurnya memang yang pendek-pendek inilah, di lain sisi umat nabi Muhammad diberi keunggulan yang juga merupakan rahmat serta anugerah Allah s.w.t.; yakni amal sedikit pahalanya banyak. Salah satu hikmahnya untuk menandingi dosa yang diperbuat. Bayangkan jika ganjaran pahala dan dosa hanya semisalnya saja, duh rasanya sulit meraih maqam selamat di akhirat,

berkat timbangan dosa selalu melebih timbangan pahala. Beruntungnya kita menjadi umat Muhammad, dosa yang dikerjakan setiap hari, atau mungkin berbulan-bulan bisa dihapuskan dengan wudhu yang baik. Dengan puasa di hari-hari tertentu yang dianjurkan. Dengan shalat jumat ke jumat. Begitu murah rahmah Allah s.w.t. untuk kita.

Bacaan al-Qur’an kita itu ternyata diganjar bukan per-bacaan, bukan juga per-surat. Justru ganjaran itu -sebagaimana sabda Nabi s.a.w.- ada di setiap huruf yang kita baca. Dan setiap huruf, diganjar oleh Allah s.w.t. dengan 1 sampai 10 kebaikan. Jadi kalau kita membaca alif lam min saja yang semua itu 3 huruf; berarti kita telah mengumpulkan 30 kebaikan sekaligus. Enak ya.

Ada lagi shalat Isya berjmaah. Kata Nabi s.a.w. dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dan ini masyhur sekali, bahwa orang yang shalat isya berjmaah, maka ia sama seperti menghidupkan setengah malam dengan ibadah. Dan siapa yang shalat subuh berjemaah, maka ia telah menghidupkan malam sepenuhnya. Jadi tidur kita yang mungkin jauh dari kata “cantik” itu tetap mengalir pahala kepada kita sebab shalat Isya yang kita kerjakan sebelumnya secara berjamaah. Lebih lagi jika ditammbah shalat subuh berjamaah.

Sungguh sangat mulia umat ini di hadapan Allah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *