Maqomat dan Ahwal

91 Lihat

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas mata kuliah AKHLAK TASAWUF tentang

MAQOMAT DAN AHWAL

Disusun oleh :

Favian meilano (201490)

Wulan sari (201492)

Dosen : Satrio,M.A

MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS TARBIYAH

DAN ILMU KEGURUAN STAIN SULTAN

ABDURAHMAN 2021

 

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul MAQOMAT DAN AHWAL ini tepat pada
waktunya.Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas DOSEN SATRIO pada bidang studi
AKHLAK TASAWUF . Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dosen
satrio yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuniSaya menyadari, makalah yang saya tulis
ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan saya nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.
riau ,03 maret 2021
Penulis
DAFTAR ISIHalaman

judul……………………………………………………………………………………………..

…..i

Kata

Pengantar………………………………………………………………………………………

…ii

Daftar

isi………………………………………………………………………………………………….

……iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar

belakang……………………………………………………………………………………1

B. Rumusan

masalah……………………………………………………………………………….1

C. Tujuan

pembahasan…………………………………………………………………………….1

BAB II PEMBAHASAN

A. MAQAMAT………………………………………………………………………………

…….2

B. AHWAL…………………………………………………………………………………..

…….3

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan…………………………………………………………………………………
….4
B.
Saran…………………………………………………………………………………………….
…4 Daftar
pustaka…………………………………………………………………………………….5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Maqamat dan ahwal adalah dua hal yang senantiasa dialami oleh orang
yang menjalani tasawuf sebelum sampai pada tujuan yang
di kehendaki. Yang pertama berupa keadaan, sedangkan yang kedua
berupa tahapan perjalanan. Keduanya dapat dibedakan namun sering
pula disamakan, bahkan dipertukarkan.
Pernyataan para sufi tentang kedua tema tersebut sangat beragam.
Keragaman itu terdapat dalam pengertian yang dirumuskan, jumlahnya,
pembagian urutannya, dan isyarat-isyarat yang diberikan tentang
keduanya. Dibalik keragaman ini, tentu terdapat jumlah segi-segi yang
mempertemukannya.
Keragaman pernyataan para sufi tentang maqamat dan ahwal dapat
dimengerti. Mereka memperkatakan dengan keduanya menurut kata
hati mereka, dengan berdasarkan pengalaman yang bersifat individual.
Pembicaraan tentang maqamat dan ahwal dalam tasawuf menjadi
berkembang dengan bertambahnya jumlah para sufi dari waktu ke
waktu.B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian maqamat dan macam-macamnya?

2. Bagaimana pengertian ahwal dan macam-macamnya?

3. Apa perbedaan, persamaan maqamat dan ahawal?

C. Tujuan Masalah

1. Mendeskripsikan pengertian maqamat dan macam-macamnya.

2. Mendeskripsikan pengertian ahwal dan macam-macamnya.

3. Mendeskripsikan perbedaan, persamaan maqamat dan ahwal?BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Maqamat dan Macam-macamnya

Secara bahasa, maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam yang

berarti pangkat atau derajat. Dalam bahasa inggris, maqamat disebut

dengan stages (tangga) atau stations (terminal).

Menurut istilah tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba

dihadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan,

mujahadah, latihan spiritual serta (berhubungan) yang tidak putus-

putusnya dengan Allah.

Jadi, maqamat adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus-

menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih

baik. Macam-macam maqamat dalam ilmu tasawuf:

1. Taubat

Taubat adalah memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan

yang telah dilakukan pada saat yang lampau dan berjanji dengan

sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa-dosa

tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan

oleh Allah.

Taubat memiliki beberapa tingkatan; pertama, taubat tingkat rendah
yang menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau angota-anggota
badan. Kedua, taubat tingkat menengah terhadap pangkal dosa-dosa
seperti taubat dari sifat dendam, sombong, iri, riya’, pamer dan lainnya.
Ketiga, taubat tertinggi merupakan taubat untuk berusaha menjauhkan
diri dari bujukan syetan dan kelalaian dari mengingat Allah. Adapun
syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika melakukan taubat, sebagai
berikut:
a. Meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan.
b. Menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan.
c. Bertekad untuk tidak mengulangi pebuatan maksiat yang telah
dilakukan.
2. Zuhud
Zuhud adalah sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa
ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan
kehidupan ukhrawi. Zuhud dibagi menjadi 3
tingkatan: Pertama (terendah), menjauhkan dunia agar terhindar dari
hukuman akhirat. Kedua (menengah), menjauhi dunia dengan
menimbang imbalan akhirat. Ketiga (tertinggi), mengucilkan dunia
bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta kepada Allah
semata.
3. Sabar
Secara bahasa, sabar berarti tabah hati. Secara istilah, sabar adalah
suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalampendirian.Dalam ajaran tasawuf sifat sabar dibagi menjadi 3 macam,
yaitu:
a. Sabar dalam beribadah kepada Allah.
b. Sabar dalam menjauhi larangan Allah.
c. Sabar dalam menerima cobaan dari Allah.
4. Wara’
Secara harfiah, wara’ berarti shaleh, menjauhkan diri dari perbuatan
dosa atau maksiat. Menurut pandangan sufi, wara’ adalah
meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik yang
menyangkut pakaian, makanan, maupun persoalan
lainnya.Wara’ dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Wara’ segi lahir yaitu tidak mempergunakan segala yang masih
diragukan dan meninggalkan kemewahan.
b. Wara’ batin yaitu tidak menempatkan atau mengisi hati kecuali
dengan mengingat Allah.
5. Faqr
Faqr adalah tidak menuntut banyak dan merasa cukup dengan apa yang
telah diterima dan dianugrahi oleh Allah, sehingga tidak mengharapkan
atau meminta suatu yang bukan haknya.
6. Tawakal
Secara harfiah, tawakal berarti menyerahkan diri. Secara umum,
tawakal adalah keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanyakepada Allah. Serta berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa

memiliki daya dan kekuatan. Tanda-tanda tawakal ada 3 yaitu:

a. Menyingkirkan sikap ketergantungan.

b. Menghilangkan bujukan yang berkaitan dengan tabiat.

c. Berpedoman pada kebenaran dalam mengikuti tabiat.

Tawakal dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu:

a. Kayakinan seseorang akan tanggungan dan pemeliharaan Allah

sama dengan keyakinannya terhadap orang kepercayaannya.

b. Derajat yang lebih tinggi dari pada derajat pertama, yang

memposisikan diri di hadapan Allah seperti posisi seorang bayi di

hadapan ibunya.

c. Derajat tertinggi, yaitu memposisikan diri di hadapan Allah ibarat

posisi mayat di hadapan orang yang memandikan.

7. Ridha (Rela)

Secara harfiah, ridha berarti rela, senang dan suka. Secara

umum, ridha adalah menerima dengan rasa puas terhadap apa yang

dianugerahkan Allah. Orang yang rela mampu menerima dan melihat

hikmah dan kebaikan dibalik cobaan yang diberikan Allah dan tidak

berburuk sangka terhadap ketentuannya. Ridha memiliki dua sudut

pandang yaitu:

a. Terarah kepada perbuatan Allah, yang dimana seorang hamba

merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya

segala sesuatub. Terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah
itu sendiri. Artinya seseorang harus merasa ridha dengan musibah yang
diberikan oleh Allah.
8. Mahabah
Mahabah berasal dari kata ahabah-yuhibu-mahabatan yang berarti
mencintai secara mendalam. Mahabah adalah cinta abadi kepada Allah
yang melebihi cinta kepada siapa pun dan apapun. Adapun tanda-tanda
cinta seorang terhadap Allah diantaranya yaitu:
a. Senang bertemu dengan kekasihnya (Allah) dengan cara saling
membuka rahasia dan saling melihat satu sama lain.
b. Melakukan segala hal yang disenangi kekasihnya (Allah).
c. Senantiasa berdzikir menyebut nama-Nya.
d. Merasa tenang dan damai ketika bermunajat kepada Allah dam
membaca kepada kitabnya.
9. Ma’rifat
Secara bahasa, ma’rifat berasal dari
kata arafah, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan
pengalaman.Menurut ulama, ma’rifat adalah kemampuan seorang
sufi untuk mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, yang membenarkan Allah
dengan keyakinan dan iman yang sejati dan dengan suka rela
melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan.
10. IstiqamahMenurut Kyai Achmad, Istiqamah berarti tekun, telaten, terus menerus,
dan tidak pernah bosan untuk mengamalkan apapun yang dapat
diamalkan. Contohnya: setiap selesai sholat maghrib Ayu selalu mengaji
B. Pengertian Ahwal dan Macam-macamnya
Dari segi bahasa, ahwal adalah bentuk jamak dari hal yang berarti sifat
dan keadaan sesuatu Menurut al-Gazali, hal adalah kedudukan atau
situasi kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang hamba
pada suatu waktu, baik sebagai buah dari amal shaleh yang mensucikan
jiwa. Adapun macam-macam ahwal dalam ilmu tasawuf, sebagai
berikut:
1. Muhasabah (mawas diri) dan Muraqabah (waspada)
Muhasabah (mawas diri) adalah sebagai upaya untuk meneliti diri
sendiri dengan cermat apakah segala perbuatannya dalam sehari-hari
telah sesuai atau bertentangan dengan ketentuan
Allah. Sedangkan Muraqabah (waspada) adalah meyakini bahwa Allah
mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati yang
membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah
2. Raja’ (berharap) dan Khauf (takut)
Raja’ adalah berharap atau perasaan hati yang senang karena menanti
sesuatu yang diinginkan atau disenangi Raja’ menuntut tiga perkara
yaitu:
a. Cinta pada apa yang diharapkannya.
b. Takut harapannya hilang.

c. Berusaha untuk mencapainyaMenurut ahli sufi, khauf adalah suatu
sikap mental merasa takut kepada Allah karena khawatir kurangnya
pengabdian. Orang yang selalu merasa takut, maka timbulah sikap
untuk selalu berusaha agar perilakunya tidak menyimpang dari yang
dikehendaki Allah dan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal
yang positif dan terpuji serta menjauhi perbuatan tercela. Berdasarkan
penyebabnya khauf dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Sesuatu yang ditakuti karena akibat yang ditimbulkan, seperti takut
mati sebelum taubat, ketidakmampuan memenuhi hak-hak Allah.
b. Sesuatu yang ditakuti karena zatnya, seperti takut pada mati dan
beratnya menghadapi kematian
2. Macam-macam Maqamat
Para sufi berbeda pendapat dalam jumlah atau banyaknya
tingkatan maqamat agar bisa sampai kepada Tuhan. Misalnya, menurut
Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya at-ta’aruf li mazhab ahl al-
tasawwuf berpendapat bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh
yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-
tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, dan al-ma’rifah.
Kemudian maqamat menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-
Luma’ menyebutkan bahwa maqamat itu jumlahnya ada enam yaitu al-
taubah, al-wara’, al-zuhud, al-faqr, al-tawakkal dan al-ridla. Sedangkan
Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mengatakanbahwasanya maqamat itu ada tujuh, yaitu al-taubah, al-shabr, al-
zuhud, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla.
Meskipun para sufi berbeda pendapat mengenai maqamat seperti yang
sudah disebutkan diatas, akan tetapi ada maqamat yang oleh para sufi
disepakati, yang jumlahnya ada tujuh. Tujuh maqamat tersebut ialah al-
taubah, al-zuhud, al wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-
ridlaa. Al Taubah
Kata Al-Taubah berasal dari bahasa Arab yaitu taba, yatubu, taubatan
yang memiliki arti kembali. Dalam Al Qur’an, banyak kita jumpai ayat
yang menganjurkan kepada manusia agar bertaubat
Setidaknya, ada empat alasan yang dapat dikemukakakan tentang
mengapa kita harus bertaubat. Pertama, manusia merupakan makhluk
yang sering berbuat dosa dan kesalahan, entah itu disengaja ataupun
tidak. Orang yang tidak pernah berbuat salah dan dosa bukanlah orang
baik. Namun, mereka yang mau menyadari kesalahan dan dosanya
dengan bertaubat serta berjanji tidak akan mengulanginya setelah itu
ialah orang baik. Perbuatan dosa yang kemudian tidak disertai dengan
bertaubat akan menghalangi seseorang untuk taat kepada
AllahKedua,kita yakin bahwa Allah Maha Pengampun terhadap hamba-
Nya. Tidak memandang dosa yang sebesar gunung, seluas lautan, atau
bahkan sampai tidak terhingga. Allah akan tetap menerima taubat
hamba-Nya, selagi belum terlambat.
Ketiga, dosa yang kita lakukan jika tidak dihapus dengan air mata
taubat justru akan menjadi noda hitam yang mengotori dan
menghalangi hati untuk memperoleh hidayah dan cahaya Tuhan. Imam
al Ghazali mengibaratkan hati manusia dengan cermin. Apabila cermin
itu terkena kotoran, maka tidak akan bisa untuk mengaca, terlebih

memantulkan cahaya. Demikian juga pada hati manusia, jika ia sering

digunakan untuk berbuat dosa dan maksiat, maka akan sulit untuk

menerima dan memantulkan cahaya TuhanKeempat, dari segi

psikologis, orang yang melakukan kesalahan atau dosa akn merasa

gelisah, tidak tenang, bahkan bisa mengalami keterbelakangan jiwa.

Maka dari itu, orang tersebut jika terus menerus membiarkan

perbuatan dosanya akan bedampak negatif bagi kesehatan

psikologisnya. Dengan cara taubat inilah orang akan lapang jiwanya.

BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Uraian di atas tadi dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Maqamat dalam tasawuf ialah jalan yang yang dilalui
oleh salik menuju kehadhirat Allah SWT. Perbedaan pendapat terjadi
dalam hal ini. Ada yang mengatakan jalan atau maqam yang harus
dilalui berjumlah tujuh. Namun juga ada yang mengatakan harus
melalui sepuluh tahap. Namun demikian, ada kesepakatan dari para
sufi mengenai tahapan yang harus dilalui. Jumlah maqam yang harus
dilalui ialah tujuh, yakni al-taubah, al-zuhud, al wara’, al-faqr, al-shabr,
al-tawakkal, dan al-ridla.
2. Ahwal atau hal sebagai bentuk keadaan jiwa dari para sufi juga
terjadi perbedaan pendapat. Tidak ada jumlah atau kesepakatan yang
pasti dalam hal ini. Sebab, ahwal adalah keadan jiwa dari
seseorang salik. Diantara ahwal tersebut
yakni khauf, tawaddu’, taqwa, ikhlas, syukur, dan mutmainnah.
B. Saran
Agar pembaca dapat mengetahui lebih jelas dan lebih luas tentang
pembahasan pada makalah kami, alangkah baiknya jika pembaca
mencoba membaca materi-materi Tasawuf yang terkait pambahasan
yang lebih banyak khususnya selain dari referensi kami. Misalkan,
Akhlak Tasawuf karya A. Khoiri, Akhlak Tasawuf karya M. Solihin dan R.
Anwar, Akhlak Tasawuf karya A. Mas’ud, dan sebagainya.C. Penutup
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan mengenai materi
tentang Maqamat dan Ahwal dalam Tasawuf. Tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya referensi atau rujukan yang kami peroleh. Kami berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami juga banyak
berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Sekian
penutup dari kami semoga dapat diterima dan kami mengucapkan
terima kasih.DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Media Zainul. 2010. Tasawuf Mendamaikan Dunia. – : Erlangga.
Kartanegara, Mulyadhi. 2012. Melayani Lubuk Tasawuf. – : Erlangga.
Solichin, Mohammad Muchlis. 2013.Akhlak & Tasawuf. Surabaya : Pena
Salsabila.
Solihin, M., Anwar, Rosihon. 2014. Ilmu Tasawuf. Bandung : Pustaka
Setia .
Amin, Samsul Munir. 2014.Ilmu Tasawuf. Jakarta : Amzah.
Nata, Abuddin. 2015. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta : PT
Rajawali Pers.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *